Tuesday, September 17, 2013

Kunker Arjuna-Markus Nari ke Rampi (4-selesai); Masalah Hukum Diselesaikan Secara Adat

Rombongan Arjuna dan Markus Nari saat tiba di Bandara Rampi, Luwu Utara, Senin 9 September 2013.

Kunker Arjuna-Markus Nari ke Rampi (4-Selesai)
Masalah Hukum Diselesaikan Secara Adat 

Di Kecamatan Rampi, Kabupaten Luwu Utara, semua masalah yang berbau hukum nyaris tidak lanjut ke kantor Polisi hingga ke Pengadilan Negeri. Itu karena setiap masalah yang berbau hukum dapat diselesaikan secara adat.

LAPORAN: Abd Rauf

Jika ada masalah warga setempat langsung melapor kepada ketua adat yang disebut Tokey Tongko. Tokey yang akan memutuskan masalah dan memberikan sanksi.
Tentu berbeda dengan masyarakat kota, setiap ada masalah, pengaduannya ke polisi atau jaksa. "Saya minta kepada ketua adat (Pak Tokey) agar mempertahankan adat dan kebiasaan kita di sini. Saya senang jika semua permasalahan yang ada di masyarakat bisa diselesaikan diselesai secara kekeluargaan. Di sini, hampir tidak ada permasalahan yang diselesaikan di pengadilan. Ini perlu dipertahankan," pinta Bupati Lutra, Arifin Junaidi (Arjuna), saat berkunjung ke Rampi Senin 9 September 2013 lalu.
Menurut pengakuan masyarakat di sana, seperti yang diutarakan Camat Rampi, Yan Imbo, jika ada masalah maka akan diselesaikan dengan musawarah secara kekeluargaan di rumah adat, yang disebut Tambi Ada'. "Dulu ada namanya Tambi Ada, sekarang sudah tidak ada. Tinggal miniatur yang dibangun di depan rumah para pemangku adat. Di rumah adat itulah, diselesaikan setiap masalah. Sekarang ini ada baruga desa yang dibangun sebagai tempat penyelesaian masalah," ujar Yan Imbo, camat putra asli Rampi.
Saat pesta pernikahan, menurut masyarakat setempat, di Desa Onodowa, jika ingin menikah, maka harus menunggu sampai beberapa pasang. Sebab pesta pernikahan digelar di baruga. Tidak boleh masyarakat pesta di rumah masing-masing. Harus digelar di baruga.
Pada kunjungan kerja Arjuna dan Markus Nari, masyarakat  mengukuhkan keduanya menjadi keluarga kehormatan Rampi. Arjuna dan Markus dihadiahi masing-masing satu ekor ayam jantang berwarna putih. Sebagai simbol putihnya hati masyarakat Rampi menerima kedatangannya.
Juga diberikan bakul, sebagai simbol lembah Rampi, tempat bermukim masyarakat. Beras sebagai simbol masyarakat secara umum. Telur tiga biji sebagai simbol pemerintah, adat, dan agama. Pengukuhan secara adat sebagai keluarga kehormatan Rampi itu dilakukan di Baruga Pohintuwo, Desa Onondowa, Rampi.
Kekeluargaan itu pun sangat terlihat setelah usai acara. Masyarakat dan pejabat serta pemangku adat menyatu melakukan goyang dero, atau ma'dero, di baruga sampai larut malam, yang diselimuti angin malam yang dingin, dinginnya menusuk hingga ke tulang.
Saat hendak pulang, Selasa 10 September 2013, pesawat yang dijadwalkan tiba ke bandara Rampi sekitar pukul 10.00 wita, malah sampai pukul 14.00 wita baru tiba.
"Jadwalnya memang tidak ada ke Rampi kalau hari Selasa. Sehingga pesawat harus terbang sesuai jadwal dulu sebelum ke sini," jelas petugas bandara.
Saat pulang, jika rombongan Arjuna dan Markus Nari ke Rampi harus menempuh 50 menit, kini saat pulang tidak sampai 20 menit sudah sampai ke Masamba. Itu karena cuaca yang berbeda saat terbang ke Rampi. Kini cuaca sudah cerah. (*)
read more...

Monday, September 16, 2013

Kunker Arjuna-Markus Nari ke Rampi (3); Lapisan Tanahnya Mengandung Emas

Nampak mesin pendulang emas yang dimiliki masyarakat Rampi. Mesin sederhana ini digunakan sebagai alat bantu pencarian emas.
Kunker Arjuna-Markus Nari ke Rampi (3)
Lapisan Tanahnya Mengandung Emas

Selain bercocok tanam, masyarakat Rampi meluangkan waktunya untuk pergi mendulang emas. Besar kemungkinan daerah terpencil ini memiliki banyak ketersediaan emas yann dapat menjadi basis penghasil emas di Luwu Utara.

Laporan: Abd Rauf

Emas itu terdapat di lapisan tanah di wilayah Rampi. Masyarakat melakukan pencarian dengan mempergunakan alat-alat yang sederhana dan apa adanya. "Sepertinya masyarakat tidak begitu sulit mendapatkan emas, hanya saja teknik dan cara pencarian masih sangat sederhana," kata Bupati Luwu Utara, Arifin Junaidi (Arjuna) ketika berada di wilayah tersebut pekan lalu.
Untuk mendapatkan emas pada kedalaman tertentu, otomatis tidak akan terjangkau dengan kondisi peralatan yang sangat sederhana, berbeda jika pencarian dilakukan dengan menggunakan teknologi akan lebih mudah.
Masyarakat berharap agar pemerintah daerah sebaiknya melakukan survey lokasi sebagai kegiatan awal yang diperlukan untuk mengetahui jumlah ketersediaan emas, posisi atau letak emas, dan kedalaman emas dari permukaan tanah di Rampi, karena siapa tahu wilayah Rampi merupakan daerah penghasil emas.
Menurut masyarakat Rampi, tanah di sekeliling kampung mengandung emas. Bukit yang menjulang juga banyak mengandung emas. "Masyarakat disini mendulang emas dengan memakai mesin dinamo. Satu karung tanah yang diambil dari bukit bisa menghasilkan 2 gram emas," kata sejumlah warga.
Rampi yang sangat terpencil mendapat julukan surga kecil dengan hamparan hutan masih perawan atau belum terjamah. Sangat cocok dengan para pecinta alam dan petualang sang pencari tantangan.
Masyarakat Rampi sangat senang dengan kedatangan rombongan Bupati Luwu Utara, Arifin Junaidi bersama Anggota DPR RI dari Fraksi Golkar, Markus Nari.
Kampung ini, Markus Nari menyebutnya sebagai sorga kecil. Karena keramahan dan keindahan alamnya, membuat mata terpesona dan perasaan tenang.
Selain mendulang, masyarakat bercocok tanam kakao, dan kopi. Untuk padi, mereka menanam bukan untuk dijual, namun lebih pada konsumsi sehari-hari. Hasil dari kesuburan tanah Rampi, lebih banyak lari ke luar provinsi.
Kampung ini juga belum ada signal untuk komunikasi handphone, sehingga transformasi budaya masih kurang. Hanya ada televisi yang menggunakan antene parabola. Namun untungnya, masyarakat sudah menikmati listrik. "Yang kami sangat butuhkan di sini adalah akses jalan dan sarana alat komunikasi hanphone. Untuk itu, kami meminta kepada pemerintah untuk bisa mengusahakan agar kita di sini bisa menikmatinya juga," ujar Camat Rampi, Yan Imbo.
Mendengar permintaan warganya, bupati berjanji akan lebih memperhatikan kebutuhan masyarakatnya. "Mengenai sarana telekomunikasi HP, kami akan usahakan bisa sampai disini dengan menggandeng Telkomsel. Akses jalan, Insya Allah, pasti akan ada dialokasikan dana setiap tahunnya untuk perbaikan jalan, sedikit demi sedikit, karena kemampuan anggaran kita terbatas," ujarnya.
Sementara itu Markus Nari juga berjanji akan memperjuangkan di pusat untuk pengalokasikan APBN guna perbaikan jalan menuju Kecamatan Rampi. (*)
read more...

Sunday, September 15, 2013

Catatan Perjalanan Kunker Arjuna-Markus Nari ke Rampi (2); Baju Adat Kulit Beringin Dibarter Kerbau

KAIN TRADISIONAL. Tampak kain hasil kerajinan yang dibuat dari kulit pohon beringin. 


Catatan Perjalanan Kunker Arjuna-Markus Nari ke Rampi (2)
Baju Adat Kulit Beringin Dibarter Kerbau

MESKI wilayah terpencil, namun Kecamatan Rampi, Luwu Utara memiliki penduduk sekitar 3.000 jiwa, dengan wajib pilih hingga 2.000 orang. Sebagai masyarakat adat tentunya berbeda dengan wilayah lainnya.

Laporan: Abd Rauf

Ciri khas masyarakat adat Rampi, dimana baju yang terbuat dari kulit pohon beringin dihargai dengan seekor kerbau. "Untuk satu pasang biasanya dibarter dengan satu ekor kerbau, atau jika dirupiahkan sekitar Rp10 juta," kata masyarakat Rampi.
Baju ini memiliki motif dan ciri khas tersendiri. Untuk mendapatkan satu meter kain persegi, dibutuhkan waktu sekitar dua pekan untuk pembuatannya. Harga produksinya pun sekitar Rp250 ribu untuk satu meter itu.
"Bahan baku kulit pohon beringin biasanya kami ambil di hutan. Untuk sampai ke kampung, butuh tenaga dan biaya. Sehingga, biayanya sekitar Rp250 ribu," ujar salah satu pengrajin, Herlina Sinta, yang berusaha mempertahankan kerajinan pembuatan kain sejak ratusan tahun ini.
Jika kain itu sudah utuh menjadi sepasang baju dan celana, harganya sudah sampai sekitar Rp10 juta. Atau masyarakat di sana yang tidak punya uang, biasanya baju itu dibarter dengan satu ekor kerbau. Pembuatan baju itu pun membutuhkan waktu yang tak singkat, butuh waktu sekitar dua bulan.
Untuk membuat kain dari kulit pohon beringin itu, para pengrajin menggunakan bebatuan semacam keramik yang telah berumur ratusan tahun. Sudah ada alatnya sejak satu abad silam. Mulanya, kulit yang baru datang ditumbuk dan dimasak.
Menumbuk atau memukul-mukul pakai batu dibutuhkan kesabaran para pengrajinnya. Sudah ada beberapa macam batu yang digunakan. Batu yang irisannya agak kasar digunakan untuk kain yang masih kasar, sedangkan kain yang sudah lebih lembut, digunakan batu yang irisannya lebih halus. Begitu seterusnya, hingga kain itu menjadi halus sesuai selera.
Untuk membuat ukiran di kain yang telah jadi, digunakan getah kayu. Untuk pilihan warna, diambil dari getah kayu yang sesuai dengan warna yang diinginkan. Namun kebanyakan dari baju itu memiliki corak berwarna merah ketua-tuaan.
Di sana juga masih ada baju yang diklaim telah berumur ratusan tahun. Baju itu, menurut masyarakat setempat, dulu dipakai oleh permaisuri raja, atau istri Tokey Tongko (sebutan untuk ketua adat Rampi, red).
Namun sayangnya, kerajinan kain ini sudah mulai ditinggalkan masyarakat di sana. Hampir tidak ada lagi yang berminat mempertahankan warisan nenek moyangnya. "Di sini masyarakat tidak banyak yang mau mempertahankan kerajinan ini. Sehingga saya berusaha membuat kain ini untuk mempertahankan adat dan warisan nenek moyang kami di sini," ujar Herlina.
Anggota DPR RI dari Fraksi Golkar, Markus Nari, yang melihat langsung kerajinan khas itu menyatakan tertarik. Untuk itu, Markus menawarkan untuk membawa ke Jekarta untuk dipamerkan nanti. "Ini sangat bagus. Perlu ditonjolkan nilai seninya yang khas. Ini perlu dipromosi agar pemerintah pusat dan masyarakat luas mengenal ini. Sebab ini termasuk khas dari Rampi. Mengenai persoalan ongkos pembuatan dan sampai ke Jakarta, nanti saya yang tanggung semua," ujarnya, saat meninjau langsung pembuatan kain khas tersebut. (*)
read more...

Saturday, September 14, 2013

Catatan Perjalanan Kunker Arjuna-Markus Nari di Rampi (1); Adatnya Masih Kental, Ongkos Ojek Rp1,5 Juta

DISAMBUT. Anggota DPR RI, Markus Nari dan Bupati Luwu Utara, Arifin Junaidi saat berkumpul dengan tokoh masyarakat Rampi yang masih kental dengan adat dan budayanya.

Catatan Perjalanan Kunker Arjuna-Markus Nari di Rampi (1)
Adatnya Masih Kental, Ongkos Ojek Rp1,5 Juta 

Menuju Kecamatan Rampi, Kabupaten Luwu Utara (Lutra), Provinsi Sulsel, butuh waktu tiga hari dan dana yang tidak sedikit. Jarak antara Rampi-Masamba, ibu kota Lutra, sebenarnya hanya berjarak sekitar 80 kilo meter (km), namun karena akses jalannya yang buruk sehingga menelan waktu tiga hari untuk tiba di wilayah terpencil tersebut. Itu hanya bisa menggunakan kendaraan roda dua dan jasa ojek.

Laporan: Abd Rauf

Akses jalan darat sangat mengerikan, karena yang dilalui hanya setapak, jika tergelincir sedikit langsung masuk jurang. Belum lagi tanjakan yang begitu tajam membuat hati berdebar-debar.
Sepeda motor jika tidak ditarik dengan tali, maka tidak akan bisa melewati tanjakan.
Jika masyarakat Rampi hendak ke Masamba, harus berombongan dengan maksud bisa saling membantu di perjalanan, begitupun sebaliknya jika warga luar ingin ke Rampi juga berombongan.
Di sepanjang jalan, tersedia pondok-pondik kecil tempat istirahat jika malam tiba. Masyarakat sengaja membuatnya. Jika capek, maka istirahat untuk menikmati bekal yang memang sejak pergi telah dipersiapkan.
Jika menggunakan jasa ojek pulang pergi harus membayar Rp1,5 juta dengan jarak tempuh paling cepat satu hari penuh. Dan juga harus menyiapkan bekal makan di perjalanan.
Namun demikian, saat ini pemerintah daerah telah menyiapkan Bandara sebagai alternatif transportasi bagi masyarakat Rampi. Jarak tempu lewat udara, kalau cuaca bagus, hanya berkisar 20 menit dari Bandara Masamba. Tersedia pesawat Susi Air.
Seperti yang dilakukan Bupati Lutra, Drs H Arifin Junaidi MM, bersama Anggota DPR RI, Dr Ir Markus Nari MSi, ke Kecamatan Rampi, Lutra. Mereka  memilih lewat udara. Namun perjalanan lewat udara pada awal pekan ini, Senin 9 September lalu,  Masamba-Rampi sempat dilanda cuaca buruk.
Perjalanan yang seharusnya ditempuh dengan waktu 20 menit, terpaksa harus ditempuh 50 menit karena dilanda cuaca buruk. Jarak pandang hanya 5 km. Berangkat sekitar pukul 07.40 wita sampai sekitar 08.30 wita.
Hampir semua penumpang pesawat Susi Air sempat tegang, bahkan ada yang sudah pucat karena khawatir akan terjadi yang sesuatu yang membahayakan. Pesawat sempat memutar-mutar untuk mencari jalan untuk menghindari kabut tebal. Penerbangan yang dipimpin pilot Jose itu sempat terbang sampai wilayah Sulawesi Tengah. Dari udara terlihat wilayah Sulteng.
Namun akhirnya, pesawat itu mendarat dengan selamat di bandara. Ketegangan dalam perjalanan menuju Rampi ini seakan terbayar lunas setelah sampai di Rampi dengan sambutan hangat masyarakat.
Rombongan Bupati Lutra dan Anggota DPR RI disambut dengan tari tradisional. Ditambah dengan sambutan hangat masyarakat dan pelajar mulai SD, SMP, sampai SMA se kecamatan Rampi. Jejeran itu begitu panjang, mulai dari bandara sampai di halaman Mess Pekab Lutra yang akan diresmikan.
Arjuna, sapaan akrab Arifin Junaidi, bersama Markus Nari, datang ke Rampi untuk meresmikan Mess Pemkab Lutra di sana, juga dirangkaikan dengan peresmian rabat beton untuk tahun anggaran 2012 lalu sejauh 10 km.
Rampi masih memiliki adat yang terbilang kental. Hampir semua permasalahan diselesaikan secara adat. Nyaris tidak ada masalah yang sampai ke pengadilan. "Saya berharap, para tokoh adat dan agama bisa mempertahankan hal ini. Pak Tokey (sebutan untuk tokoh adat Rampi, red) harus mempertahankan kebiasaan ini. Persaudaraan di sini masih sangat luar biasa. Untuk itu, jangan biarkan karena suku, agama, dan kepentingan apa pun itu memecahkan persaudaraan masyarakat di sini," pesan Arjuna, saat memberikan sambutannya pada peresmian Mess Pemkab di Rampi. (*)
read more...

Sunday, September 01, 2013

Black Motor Community (BMC) Palopo; Ketat Rekrut Anggota dan Disiplin Berlalu Lintas

Tampak anggota BMC Palopo saat foto bersama. Juga saat berbagi dengan anak panti asuhan.

Black Motor Community (BMC) Palopo
Ketat Rekrut Anggota dan Disiplin Berlalu Lintas

KOMUNITAS motor yang satu ini tidak ingin merekrut sembarang orang menjadi anggota komunitasnya. Club motor ini terbilang ketat dalam perekrutan anggota. Salah satu yang tidak boleh sama sekali masuk dalam club ini adalah anak sekolah.

Laporan: Abd Rauf

Anak sekolah dalam komunitas ini tidak ingin direkrut menjadi anggota, karena komunitas ini tidak ingin anggotanya mengabaikan pendidikan, lantaran lebih mengepentingkan komunitasnya.
Sebab terkadang, anak sekolah yang sudah terlanjur cinta dengan komunitasnya, biasanya lebih memilih tidak masuk sekolah untuk mengikuti kegiatan komunitas. Inilah salah satu bentuk kepedulian pendidikan kepada anak bangsa. "Inilah salah satu alasan mengapa kami tidak ingin anak yang masih sekolah bergabung dalam komunitas kami," ujar Ketua BMC Palopo, Jheck, saat ditemui di kediamannya, Jumat 30 Agustus 2013.
Dikatakannya, selain karena ditakutkan sekolahnya terbengkalai, juga karena mereka terkadang belum cukup umur. "Kita hanya boleh menerima orang yang sudah cukup umur 18 tahun ke atas. Jadi anak-anak tidak boleh masuk dalam anggota kami. Sebab anak-anak tidak dibolehkan mengendarai motor sendiri," tandas Jheck.
Jheck juga mengungkapkan, anggota juga harus memiliki SIM dan STNK serta peralatan motornya harus lengkap. Seperti speedometer, spion, dan peralatan lain yang menjadi standar aturan berlalu lintas. "Kami tidak ingin anggota kami melanggar. Kami selalu tekankan tertib berlalu lintas," tandasnya. (*)

Aktif di Kegiatan Sosial
BMC bukan hanya sekedar melakukan touring semata. Namun mereka senantiasa melakukan aksi kegiatan sosial. Seperti berbagi dengan panti asuhan, bantu masyarakat yang terkena bencara.
Ketua BMC Palopo, Jheck, mengungkapkan, kegiatan sosial yang baru-baru ini dilakukannya adalah berbagi ta'jil atau jajanan buka puasa dengan anak panti asuhan Al-Annur Rampoang, Palopo. "Kita berusaha untuk melakukan kegiatan sosial di tengah kesibukan kami masing-masing. Salah satu yang kami lakukan pada bulan suci Ramadan yang lalu adalah berbagi dengan panti asuhan," ujarnya, Jumat kemarin.
Selain itu, kegiatan touring yang pernah dilakukannya baru sampai ke Sulawesi Tenggara. "Kalau saya pribadi hanya baru sampai pada Sulawesi Tenggara untuk touring bersama teman-teman BMC Sorowako," tandasnya. (*)
read more...

Sunday, August 25, 2013

Pappekang Community Luwu Raya; Perjuangkan Wisata Bahari

PAPPEKANG. Tampak anggota komunitas Pappekang sedang memperlihatkan ikan hasil tangkapannya.
 Pappekang Community Luwu Raya
Perjuangkan Wisata Bahari 

KOMUNITAS pemancing yang menamakan diri, Pappekang Community, punya cita-cita besar nan mulia. Mereka mengimpikan kesejahteraan masyarakat pesisir bisa terus meningkat.

Laporan: Abd Rauf

Salah satu yang menjadi konsep peningkatan kesejahteraan masyarakat nelayan adalah, dengan peningkatan wisata bahari, khususnya di Luwu Raya ini. Untuk itu, mereka komitmen memperjuangkan peningkatan wisata bahari.
Ketua Armada Induk Pappekang Community, Kaharuddin, mengungkapkan, salah satu target jangka panjang yang ingin dicapainya dalam komunitasnya adalah, ingin melihat wisata bahari di Luwu Raya ini bisa menjadi kunjungan wisata dari luar daerah.
"Kalau nanti ada objek wisata bahari yang bisa memikat orang luar masuk, maka dengan sendirinya masyarakat pesisir menikmati dampak ekonominya. Masyarakat bisa membuat perahu dan kemudian menyewakannya bagi mereka yang datang. Itu saya kira secara otomatis bisa mendorong kesejahteraan mereka," jelasnya, saat ditemui sekretariatnya, Jalan Pemuda Kota Palopo, Jumat 23 Agustus 2013.
Kahar punya konsep. Ia mengatakan sebaiknya ada satu wilayah yang memang dikelola secara profesional oleh pemerintah mengenai tempat pemancingan. Sehingga, jika itu dikelola dengan baik, maka orang luar akan datang dan otomatis bisa menambah pendapatan masyarakat pesisir.
"Kami telah beberapa kali melakukan pertemuan dengan anggota komunitas kami untuk membicarakan mengenai konsep ini. Kami juga telah menawarkan konsep ini kepada Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Palopo. Kami berusaha memperjuangkan ini. Namun ini target jangka panjang kami," tandasnya, disaksikan Pembina Pappekang Community, Rustam. (*)


Mancing Jadi Ajang Silaturahim
BAGI komunitas yang baru dideklarasikan pada 1 Januari 2013 ini, aktifitas memancing menjadi ajang silaturahim bagi sesama anggota komunitas. Mereka senang tour ke laut untuk memancing. Bisa sepekan sekali, atau sebulan sekali.
Ketua Armada Induk Pappekang Community, Kaharuddin, mengungkapkan, Pappekang Community ini adalah semacam paguyuban yang memang sebagai ajang silaturahim, yang memang kebetulan punya kesenangan atau hobby yang sama, yakni memancing.
Kata 'pappekang' sendiri diambilnya dengan maksud sebagai bahasa lokal yang dicoba diangkatnya. Dan dipadukan kata 'community', sebagai bahasa international. "Kami hanya mencoba ingin mengangkat sedikit kearifan lokal dengan nama itu," ujar Kahar.
Dalam komunitas ini, terbagi dalam beberapa armada, atau dalam organisasi disebut cabang. Sampai saat ini, sudah sampai armada 6. Namun armada induk tetap mengkoordinir semuanya.
"Terbentuknya komunitas ini, sebenarnya berawal dari pertemuan beberapa orang yang punya satu hobby atau kesenangan, yakni memancing. Setelah beberapa kali bertemu, kami kemudian membentuk komunitas dan merumuskan beberapa target dan tujuan yang ingin kami capai. Terbentuknya ini sudah ada beberapa tahun. Namun, nanti pada tahun baru, 1 Januari 2013 lalu, kami secara resmi mendeklarasikan terbentuknya komunitas ini," terangnya. (*)
read more...

Saturday, June 15, 2013

Palopo Art Photography (Party); Promosikan Keindahan Palopo Lewat Poto

Salah satu latihan memotret para anggota komunitas Party.
Komunitas Palopo Art Photography (Party)
Promosikan Keindahan Palopo Lewat Poto

Banyak cara memperkenalkan potensi dan keindahan daerah ke luar. Salah satunya lewat kelihaian membingkai keindahan dalam tangkapan kamera. Seperti yang dilakukan komunitas photography yang menamakan diri sebagai Palopo Art Photography atau yang disingkat dengan Party.

Laporan: Abd Rauf

Komunitas ini berdiri sejak 2011 silam dan diresmikan langsung Wakil Walikota Palopo, Ir Rahmat Masri Bandaso MSi. Komunitas ini hadir untuk memperkanalkan atau mempromosikan keindahan Kota Palopo ke daerah luar.

Berangkat dari hobby memotret, komunitas ini kemudian berkembang menjadi sebuah komunitas yang memiliki tujuan yang jelas terhadap eksistensinya di kota berjuluk idaman ini.

Pada awalnya, mereka hanya berlima. Namun sampai saat ini, anggota yang aktif sudah sampai 30 orang lebih. Mereka aktif hunting memotret keindahan Palopo. Hampir seluruh sudut kota, tak lepas dari bidikan kamera mereka.

Ketua Party, Wawan, mengatakan, dalam mengambil gambar, anggota dari komunitas ini memang mengedepankan aspek seni. Sesuai dengan namanya, arts photography, komunitas ini membingkai keindahan Palopo lewat kamera.

"Kita memang rutin hunting tempat-tempat yang bisa menjadi potensi wisata Palopo. Kami berharap, orang luar Palopo bisa menikmati keindahan kota ini lewat photo-photo kami," katanya, Jumat 14 Juni 2013.

Untuk meningkatkan kemampuan keterampilan dan naluri berfoto anggota komunitas, mereka selalu sharing bagaimana menghasilkan gambar yang baik dan indah dipandang mata. "Kami selalu ngumpul tiap hari Minggu untuk hunting bersama, dan juga saling berbagi pengetahuan, sharing, mengenai cara mengambil gambar yang baik dan indah," kata Wawan.

Biarkan photo berbicara. Biarkan orang menikmati keindahan Palopo lewat karya anak muda berbakat Palopo. Selamat berkarya! (*)

29 Juni, Gelar Hunting Akbar se Sulsel

Salah satu event yang ingin digelar komunitas Palopo Art Photography atau Party ini adalah hunting akbar yang akan diikuti para photographer se Sulsel.

Kegiatan itu bertajuk 'Beauty Ness of Palopo' yang akan diselenggarakan di Kawasan Wisata Alam Pantai Labombo Kota Palopo.

Bendahara Party, Mark mengatakan, kegiatan itu bertujuan untuk mencari gambar cantik dan menarik di Pantai Labombo pada khususnya. Dengan foto itu, harapannya orang bisa tertarik untuk mengunjungi objek wisata yang ada di kota berjuluk idaman ini.

"Dalam waktu dekat ini, salah satu yang menjadi agenda kami adalah membuat kegiatan hunting akbar se Sulsel di Pantai Labombo," katanya, Jumat 14 Juni 2013.

Selain kegiatan itu, komunitas ini juga sering melakukan aksi sosial, yakni dengan melakukan anjang sana dan bakti sosial. "Kita bukan foto saja, kegiatan kami juga banyak yang berbau sosial. Kita selalu ingin berbagi sesuatu dengan sesama," katanya. (*)
read more...

Saturday, June 01, 2013

Komunitas Danger Dancer Palopo; Jadi Ajang Sharing Music

Komunitas Danger Dancer Palopo saat menggelar acara festival musik tahun lalu. Mereka rutin menggelar acara semacam ini untuk menggairahkan band indie.

* Komunitas Danger Dancer Palopo
Jadi Ajang Sharing Music

BANYAK cara untuk mengasah kemampuan bermusik seseorang. Salah satunya adalah dengan membentuk sebuah perkumpulan atau komunitas. Seperti yang dilakukan komunitas Danger Dancer Palopo ini. Mereka membentuk komunitas ini sebagai ajang sharing music.

Laporan: Abd Rauf

DANGER Dancer Palopo bukanglah komunitas dancer. Namun komunitas ini adalah perkumpulan para fans Danger Rangers, sebuah band asal Bandung yang bergenre music electronic pop.

Komunitas ini lebih akrab dengan sapaan D'ReF, singkatan dari Danger Ranger Family. Dalam komunitas ini, ada beberapa grup band indie yang tergabung di
dalamnya. Dari sanalah, mereka saling berbagi dan mengasah kemampuan bermusic saat berkumpul.

Ketua Danger Dancer Palopo, Fahmi saat bertandang ke Palopo Pos, mengungkapkan, salah satu tujuan terbentuknya komunitas ini, untuk sharing music guna belajar dan mengasah kemampuan antar anggota.

"Sejak terbentuknya komunitas ini, 9 Januari 2010 silam, kita berusaha untuk membina persaudaraan dan terus menghidupkan band-band indie di kota ini. Salah satu cara kami adalah dengan membuat semacam ivent atau festival band indie se Luwu Raya," katanya, Jumat 31 Mei 2013.

Selain masalah music, lanjut dia, pihaknya juga senantiasa melakukan kegiatan-kegiatan sosial untuk membantu mereka yang membutuhkan. "Saat bulan puasa, kita juga menggelar sahur on the road. Kita mendatangi panti asuhan di kota ini. Dan juga beberapa kegiatan sosial lainnya yang telah kami lakukan," kata Fahmi. (*)

29 Juni, Gelar Festival Music

UNTUK menggairahkan band indie di Luwu Raya ini, komunitas ini menggelar festival music se Luwu Raya yang bertajuk 'Luwu Raya Music Fest' pada 29 Juni 2013 mendatang. Acara ini akan digelar di Gedung Kesenian Kota Palopo.

Rangkaian acara itu, akan ada band competition atau festival band, clothing expo, dan skateboarding yang bekerjasama dengan komunitas Palopo Street Skateboarding (PASS).

"Festival musik ini nantinya akan diramaikan dengan band dari Makassar dan daerah lain. Kita juga usahakan band indie bisa hidup dan bergairah di Luwu Raya ini," kata Ketua Danger Dancer Palopo, Fahmi.

Kegiatan semacam ini, kata dia, sudah yang ke empat kalinya diadakan. "Ini adalah salah satu cara kami untuk mengasah kemampuan bersama dalam bermusic. Juga bisa membantu agar band indie lebih bergairah lagi," ujarnya, yang didampingi beberapa rekannya, seperti Bobi, Muflih, Anto, dan Gusni. (*)
read more...

Saturday, May 18, 2013

Magician Community Palopo; Perkenalkan Sulap sebagai Seni, Bukan Ilmu Hitam

Aksi pesulap yang menamakan diri Magician Community Palopo saat acara di kawasan wisata alam Pantai Labombo beberapa waktu lalu.

* Magician Community Palopo
Perkenalkan Sulap sebagai Seni, Bukan Ilmu Hitam

Bagi masyarakat awam, sulap dianggapnya sebagai sihir atau sesuatu yang berbau mistik. Namun pada kenyataannya, sulap hanyalah seni permainan kelihaian tangan, teknik manipulasi, atau hal lain yang bisa dijelaskan cara kerjanya. Hal itulah yang ingin dijelaskan komunitas sulap yang menamkan dirinya Magician Community.

LAPORAN: Abd Rauf

Sulap merupakan suatu seni pertunjukkan yang banyak diminati masyarakat di dunia, terkhusus di Indonesia. Karena pada penyajiannya sulap dapat membuat kagum, heran, dan terhibur akan rahasia dibalik penyajiannya. Sulap merupakan suatu gabungan dari berbagai seni yang ada, misalnya seni tari, seni musik, seni rupa, dan sebagainya.

Hal itulah yang menjadi misi dari Magician Community Palopo ini. Menurut Ketuanya, Ricky D Javu, sulap merupakan penerapan dari gabungan berbagai disiplin ilmu yang ada. Misalnya ilmu fisika, ilmu biologi, ilmu kimia, ilmu psikologi, dan lain-lain. "Seni Sulap bukanlah suatu keterampilan yang berbau mistik atau supranatural, karena setiap trik sulap dapat dijelaskan dengan logis," ujarnya, Jumat 17 Mei 2013.

Dikatakannya, sulap semata-mata hanyalah permainan kelihaian tangan, manipulasi, hasil kerja dari suatu perlengkapan atau peralatan, maupun efek yang timbul dari suatu reaksi kimia yang telah dilatih sebaik mungkin oleh pesulap sebelum dipertunjukkan kepada orang lain. "Olehnya itu, sulap dapat dipelajari semua orang, asalkan orang tersebut mau berlatih dengan baik. Makanya, sulap bukan mistik atau supranatural," tandas Ricky.

Ricky menyebutkan, sulap agak sulit untuk mengetahui kapan pertama kali ada di dunia. Namun, ada benda peninggalan sejarah yang berasal dari zaman Mesir kuno, yaitu lembaran papyrus yang berisi tentang hal-hal berkaitan dengan sulap.

"Di lembaran tersebut tertulis pada sekitar 2700 tahun SM, menceritakan suatu kisah yang terjadi pada sekitar 2600 tahun sebelum Masehi. Seseorang pesulap bernama Dedy, dia pesulap Mesir di panggil untuk menghibur Raja Cheops. Disitu dia menunjukkan sebuah trick yang sangat mengagumkan, ia memotong kepala seekor hewan dan mengembalikannya dalam keadaan hidup," jelasnya.

Di abad ke-18, lanjutnya, sulap menjadi suatu pertunjukan yang sangat popular. Isaac Fawkes merupakan seorang yang berjasa dalam membangkitkan minat dan mempulerkan sulap di Inggris. Dia bermain pada suatu pekan raya yang besar dan menarik kumpulan banyak orang untuk melihat trick -tricknya yang menakjubkan, banyak yang percaya bahwa prinsip dari alat-alatnya yang spektakuler tersebut telah melampaui jamannya pada saat itu.

"Seperti yang disebutkan dalam wikipedia, salah satu dari sulapnya yang ajaib adalah sebuah pohon apel yang tumbuh dan mekar bahkan menghasilkan buah dalam waktu hanya kurang dari satu menit. Dia menjadi sangat terkenal dan menjadi kaya raya hingga kematiannya," terang Ricky. (*)

Tutup Mata Naik Motor Keliling Palopo

Komunitas sulap ini beraliran mentalism. Namun Magician Community ini bukan hanya mahir sulap aliran mentalis, tapi aliran ilusi dan trik juga mampu.

Sebagai pesulap, komunitas ini sudah pengalaman dalam berbagai pertunjukan. Bahkan mereka bukan hanya sering tampil di Palopo dan Luwu Raya ini pada umunya, mereka juga telah beberapa kali tampil pada acara-acara di Makassar dan bahkan Jakarta.

Ketua Magician Community Palopo, Ricky D Jafu, mengungkapkan, sebagai pesulap, dia memiliki aksi andalan. Bahkan ia mengaku menerima tantangan untuk menyetir sendiri motor keliling Kota Palopo dengan mata tertutup alias ditutup matanya. "Aksi andalan saya yang lain adalah bisa memprediksi hasil pertandingan piala dunia atau pertandingan lainnya," katanya.

Dikatakannya juga, komunitas ini telah lahir tiga tahun silam. Anggotanya sudah sampai 16 orang. Namun mereka sudah jarang bertemu karena kesibukan mereka masing-masing. "Kita sudah ada 16 orang. Saat ini yang selalu kami bersama tinggal tiga orang. 14 orang lainnya sudah jarang bertemu karena kesibukan masing-masing," ujarnya.

Ricky juga mengungkapkan, untuk lebih memperkenalkan dan menyebarkan keterampilan sulap ini, pihaknya berencana untuk membuat pelatihan sulap. "Kita juga berencana untuk membuat pelatihan sulap dalam waktu dekat ini. Jadi bagi yang berminat, silahkan persiapkan diri untuk ikut nanti. Sulap ini adalah seni, siapa pun pasti bisa kalau tekun belajar. Informasinya nanti akan kami sebarkan spanduk dan alat peraga lainnya," tandasnya.

Untuk diketahui, dalam sulap ada beberapa aliran, diantaranya aliran mentalism. Aliran ini adalah kemahiran kekuatan spesial untuk dapat memprediksi, menemukan, mengubah, menggerakkan, dan sebagainya, suatu benda, sering kali berdasarkan prinsip matematika, fisika, kimia, psikologis dan dapat dijelaskan secara logis. (*)
read more...

Saturday, May 11, 2013

Komunitas Linux LagaligOS (Lagaligo Open Source); Perkenalkan Linux Pada Masyarakat

Para anggota komunitas Linux LagaligOS Palopo saat melakukan kegiatan sosialisasi Linux.

* Komunitas Linux LagaligOS (Lagaligo Open Source)
Perkenalkan Linux Pada Masyarakat

Sistem operasi komputer yang dikenal masyarakat saat ini kebanyakan hanya Windows. Masyarakat tak banyak yang kenal dengan Linux. Sebab itulah, komunitas yang menamakan dirinya Komunitas Linux Lagaligo Open Source (LagaligOS) Kota Palopo hadir untuk memperkenalkan Open Source (OS) Linux kepada masyarakat.

LAPORAN: Abd Rauf

OS Linux adalah sistem operasi komputer seperti layaknya Windows. Namun keunggulan dari Linux ini karena dia software-nya gratis alias free dan juga bebas dari virus serta pengoperasiannya lebih ringan dari Windows. Itu berbeda dengan Windows yang harus mengoceh kantong sampai jutaan rupiah untuk mendapatkan software asli Windows.

Ketua Komunitas Linux LagaligOS Kota Palopo, Ramlan SKom MSi, mengungkapkan, kehadiran komunitas ini untuk memperkenalkan dan memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya kepada para pelajar dan pemuda yang senang dengan dunia komputer

"Salah satu visi kita adalah menjadikan panduan belajar bersama dan saling bertukar pendapat membantu segala kesulitan yang ada di program di Linux secara bersama-sama. Kita ingin menjadikan OS Linux ini dapat dikenal di setiap kalangan masyarakat Palopo, terutama pelajar dan pemuda," terangnya, saat ditemui di basecamp LagaligOS, di Jalan Yusuf Arief nomor 21 Kota Palopo, Jumat 10 Mei 2013.

Ramlan juga menjelaskan, Komunitas Linux LagaligOS Palopo ini dibentuk pada tahun 2010 sialm. Menurutnya, pengenalan Linux ini akan lebih cepat menyebar jika dasarnya dilakukan di komunitas. Hal ini berbeda jika dilakukan di organisasi atau kelompok. "Di dalam komuniras itu, ada rasa kekeluargaan. Sehingga akan lebih cepat menyentuh. Juga karena kebanyakan anak muda suka ngumpul, pengenalan seperti ini bisa jauh lebih optimal," sebutnya.

Hal lain yang mendasari pembentukan LagaligOS ini juga karena belum adanya perkumpulan seperti ini yang mewadahi secara khusus pengguna dan orang-orang yang ingin belajar Linux di Palopo. Pada awalnya LagaligOS hanya ajakan untuk menggunakan Linux lewat jejaring sosial di Facebook.

"Nama LagaligOS sendiri sengaja tidak dibuat berkesan mewah/high class. Mudah dilafalkan juga singkatannya gak maksa. Alami saja dan terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar dan berbagi tentang Linux. LagaligOS ini kami pilih karena terinspirasi dari karya cerita terpanjang di dunia dari Tana Luwu ini, yang saat ini aslinya tersimpan di Belanda," ujarnya. (*)

Gencar Lakukan Sosialisasi

Salah satu upaya Komunitas Linux LagaligOS Palopo untuk terus berjuang untuk mengenalkan kepada masyarakat adalah gencar melakukan sosialisasi kepada sekolah-sekolah untuk menciptakan kecintaan pelajar kepada Linux.

Ketua LagaligOS Palopo, Ramlan mengungkapkan, sampai saat ini, sudah ada beberapa kegiatan yang telah dilakukannya untuk memperkenalkan Linux ini kepada masyarakat Palopo. Seperti sosialisasi Free Open Source Software (FOSS), workshop atau seminar Linux, edukasi pengenalan Linux atau open source di sekolah dan kampus-kampus, serta pihaknya mendukung penuh migrasi FOSS di Lingkup Pemerintah Kota Palopo.

"Salah satu yang menjadi tujuan kami nanti, Pemkot Palopo ini bisa berpindah dari sistem operasi Windows ke Linux nanti. Sebab Linux ini jauh lebih baik dan murah serta bebas dari virus," tandasnya.

Dikatakannya juga, Linux adalah sarana untuk belajar dan menimbulkan rasa keingintahuan yang besar. Namun sampai saat ini, LagaligOS baru tahap mengenalkan pada orang-orang, terutama pelajar.

"Target kami paling tidak, setelah kenal Linux, jika nanti dihadapkan dengan teknologi itu tidak kaget dan tau tempat bertanya. Apalagi pemerintah dan instansi-instansi sudah banyak yang menggunakan Linux sebagai penyokong kerjanya," katanya. (*)
read more...