Showing posts with label Materi Kuliah. Show all posts
Showing posts with label Materi Kuliah. Show all posts

Sunday, March 15, 2015

Kajian Tentang Falsafah Cinta

ilustrasi/internet

FALSAFAH CINTA

Dalam buku The Art of Loving, atau Seni Mencinta, Erich Fromm menulis bahwa para manusia modern sesungguhnya adalah orang-orang yang menderita. Penderitaan tersebut diakibatkan karena kehausan mereka untuk dicintai oleh orang lain.

Mereka berusaha keras melakukan apa saja agar dapat dicintai. Anak-anak muda akhirnya terjerumus ke dalam pergaulan bebas karena mereka ingin dicintai dan diterima oleh kawan-kawan sebayanya. Para istri berjuang untuk menguruskan tubuh mereka agar dicintai oleh para suami mereka. Para politisi tidak segan-segan berdusta dan menipu orang agar dicintai oleh para pemilih dan pengikut mereka.

Yang dilakukan oleh manusia modern adalah upaya untuk dicintai, bukannya upaya untuk mencintai. Dalam dunia modern, kita menemukan bahwa semakin keras manusia berusaha untuk dicintai, semakin sering pula mereka gagal dan dikecewakan.

Adalah sangat sulit untuk memperoleh kecintaan seluruh manusia. Kecintaan semacam ini adalah tujuan yang takkan pernah bisa dicapai karena selalu saja ada orang yang membenci orang yang lain. Manusia selalu dikelilingi oleh dua jenis orang; yang mencintai dan yang membenci dirinya.

Oleh sebab itu, manusia modern mengalami gangguan psikologis karena kegagalan untuk dicintai. Buku The Art of Loving mengisahkan para istri yang akhirnya harus mengisi malam-malam mereka dengan tangisan dan penderitaan karena tak kunjung memperoleh cinta suami mereka. Pada satu bagian dalam buku itu, Fromm menulis: "Mungkin sudah waktunya kita beritahu mereka untuk belajar mencintai."

Di dalam buku lain yang berjudul The Mismeasures of Women, atau Kesalah-ukuran Perempuan. Buku ini bercerita bahwa sepanjang sejarah, kecantikan wanita itu diukur bukan oleh wanita itu sendiri, melainkan oleh kaum lelaki. Pernah pada satu masa, yang disebut sebagai wanita jelita adalah perempuan yang bertubuh gemuk. Lukisan-lukisan di zaman Renaissans menggambarkan wanita-wanita telanjang dengan berbagai gumpalan lemak di tubuh mereka.

Pada zaman itu, perempuan berusaha menggemukkan tubuhnya dengan obat-obatan, yang terkadang amat berbahaya, agar dianggap rupawan dan dicintai lawan jenisnya. Lalu datanglah satu masa ketika seorang perempuan disebut cantik bila tubuhnya kurus kering. Dunia kecantikan internasional pernah mengenal seorang model ternama yang disebut dengan Miss Twiggy, Nona Ranting.

Perempuan cantik adalah mereka yang bertubuh seperti ranting kayu, tinggi dan langsing. Seluruh perempuan di dunia kemudian berlomba-lomba menguruskan tubuhnya dengan menahan nafsu makan dan melaparkan diri. Mereka melakukan puasa yang khusus dijalankan untuk memperoleh kecintaan lelaki; mereka menyebutnya diet.

Jika target kita dalam hidup ialah untuk memperoleh kecintaan sesama manusia, kita akan selalu menemui kekecewaan. Hal ini disebabkan karena kecintaan makhluk itu bersifat sangat sementara atau temporer. Dalam Manthiq Al-Thayr, atau Musyawarah Para Burung, Fariduddin Attar berkisah tentang kelompok para burung yang tengah mencari imam mereka.

Burung-burung itu memilih Hudhud sebagai pemimpin karena ia dianggap burung yang paling kaya akan pengalaman. Hudhudlah yang menjadi penyampai pesan dari Nabi Sulaiman kepada Ratu Bilqis dan Hudhud pulalah yang menjadi utusan Nabi Nuh untuk mencari sebidang daratan kering ketika sebagian dunia yang lain dilanda air bah.

Meskipun seluruh burung meminta Hudhud menjadi pemimpin mereka, Hudhud tetap berkeberatan. Ia malah berkata, "Sesungguhnya pemimpin kalian berada di Bukit Kaf, namanya Simurgh. Ke sanalah kalian pergi menuju." Hudhud lalu menggambarkan keindahan Simurgh sedemikian rupa sehingga para burung yang lain jatuh cinta.

Para burung pun memohon agar Hudhud mau mengantarkan mereka ke hadapan Simurgh. Namun sebelum mengajak mereka ikut serta, Hudhud terlebih dahulu menceritakan beratnya perjalanan yang harus ditempuh untuk menuju Simurgh. Setelah mendengar betapa sukarnya jalan yang akan dilalui, sebagian besar burung mengurungkan niatnya.

Burung Bulbul mengajukan keberatannya, "Aku mencintai Simurgh dan ingin menjumpainya, namun sekarang ini cintaku telah terpatri kepada setangkai bunga mawar. Jika kupikirkan tentang kelopak mawar yang merekah, kurasa aku tak perlu lagi berpikir akan Simurgh. Cukuplah bagiku keindahan mawar itu. Kuyakin sepenuhnya mawar itu akan selalu megembangkan putik-putik sarinya karena kecintaannya jua kepadaku. Aku tak bisa hidup bila harus meninggalkannya. Aku tak mau hidup bila tak dapat lagi memandang rekahan mawar itu."

Lalu Hudhud berkata, "Ketahuilah, kecintaan kamu terhadap mawar itu adalah kecintaan yang palsu. Janganlah engkau terpesona akan keindahan lahiriah. Mawar hanya merekah di musim semi. Begitu tiba musim gugur, mawar akan menggugurkan kelopaknya. Ia akan menertawakan cintamu...."

Melalui kisah ini, Fariduddin Attar mengajarkan bahwa sesungguhnya kecintaan makhluk itu adalah sementara. Seseorang  yang berusaha keras untuk meraih cinta kekasihnya, akhirnya akan menemukan bahwa cinta kekasihnya itu datang dan pergi. Kekasuhnya tak mencintai ia untuk sepanjang masa. Ada masa ketika cintanya berkurang atau bahkan hilang sama sekali. Demikian pula sebaliknya. Kecintaan manusia takkan pernah ada yang abadi.

Menurut Erich Fromm, para mubaligh pun adalah manusia-manusia modern yang tertipu. Mereka berusaha keras mencari kecintaan dari sesama manusia. Boleh jadi, mereka berhasil mendapatkan cinta tersebut. Tetapi keberhasilan itu hanyalah sementara. Dalam khazanah tabligh Indonesia, selalu ada mubaligh populer yang muncul ke permukaan dan memperoleh cinta dari jutaan umat. Namun sedikit demi sedikit, ia akan tenggelam dan ditinggalkan oleh umatnya. Kita tak akan pernah bisa dicintai secara terus menerus oleh sesama manusia.

Demikian pula halnya dengan para artis; mereka berusaha untuk mendapatkan cinta fans mereka. Mereka mengatur tingkah laku dan penampilan agar sesuai dengan selera pasar. Tetapi pada akhirnya, mereka pun akan mendapatkan kekecewaan yang mendalam ketika para fans beralih untuk mencintai artis lain yang lebih muda dan lebih cantik. Penderitaan manusia modern diakibatkan oleh keinginan untuk dicintai sesama manusia. Akibatnya, kita akan dirundung oleh kekecewaan demi kekecewaan.

Sebagaimana dikatakan oleh Erick Fromm, yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan penyakit itu adalah dengan belajar mencintai. Kebahagiaan hidup kita tergantung kepada apa yang kita cintai. Kebahagiaan tak dapat diperoleh dengan dicintai. Akan tetapi di dalam wacana pengetahuan modern, kita menemukan sedikit sekali ada literatur yang berisi pelajaran untuk mencintai.

Buku-buku mutakhir mengajarkan kita akan kiat-kiat untuk dicintai. Datanglah ke sebuah toko buku, Anda akan menemukan banyak sekali buku yang ditulis yang berisi tentang kiat-kiat agar dicintai oleh lawan jenis, atasan, atau rekan-rekan di tempat kerja.

Selama ini kita diajari bahwa proses mencintai itu bukanlah proses pembelajaran, melainkan proses "kecelakaan". Kita mengenal istilah "jatuh cinta" atau fall in love, bukannya "belajar mencinta" atau learn to love. Disebut "jatuh" karena kita menganggap mencintai sebagai suatu kecelakaan yang tidak direncanakan sebelumnya.

DEFINISI CINTA
Sudah sekian banyak orang yang telah menafsirkan tentang cinta. Ada yang kemudian mencoba menggambarkan bahwa cinta adalah misteri yang memesonakan, ada juga yang mengartikan cinta sebagai persahabatan seperti yang disampaikan oleh sahrul khan dalam film kuch-kuch hotahe. Dari banyaknya penafsiran-penafsiran tersebut, ini kemudian tidak memberikan efek pada cinta itu sendiri. Karena oleh orang-orang yang dibakar api cinta, kata-kata tidak mempunyai makna.

CINTA SEBAGAI MEDIATOR KESEIMBANGAN
Cinta juga terkadang dimaknai sebagai sebuah mediator terjadinya keseimbangan alam. Hakikatnya bahwa seluruh eksistensi di alam raya ini selalu dalam posisi atau memiliki sifat berpasang-pasangan. Jika ada laki-laki maka harus ada perempuan, jika ada salah mesti ada yang benar, jika ada yang kaya mesti ada yang miskin, ada yang kalah harus ada yang menang, demikian seterusnya.

Mengapa? Sebab hal ini dimaksudkan agar roda kehidupan didunia berjalan, maka kosmos memerlukan perubahan terus-menerus. Pergantian siang dan malam, dari kutub positif ke kutub negatif, perang dan damai, musim semi dan gugur.

Didalam khazanah ilmu cina kuno kita kenal dengan konsep Yin dan Yang atau pertarungan antara  dua kekuatan. Keduanya adalah merupakan dualitas inheren dalam ciptaan-Nya. Sebab, Allah SWT mencipta dua kesatuan yang saling inheren, yakni ada subjek dan objek.

Sedangkan di dalam Islam itu sendiri kita kenal dengan konsep Jamal dan Jalal atau manifestasi dari kelembutan dan keperkasaan Tuhan, akan tetapi keduanya bersifat komplementer atau saling melengkapi.

Untuk menciptakan keharmonisan antara Yin dan Yang maupun Jamal dan Jalal itu sendiri maka dibutuhkanlah mediator. Dan bagi saya mediator itu adalah Cinta itu sendiri. Dan untuk sampai pada hakikat Cinta itu sendiri maka kita mesti menghilangkan ego atau keakuan kita.

CINTA ILAHI (TAUHID)
Untuk mampu mencintai, kita harus mulai belajar dari mencintai makhluk Allah; dengan mencintai pasangan kita, anak-anak kita, ataupun kendaraan kita. Itulah pelajaran mencintai tahap dasar, pelajaran cinta dalam tingkatan yang paling awal. Cinta semacam itu adalah cinta yang dimiliki oleh anak-anak kecil. Mereka selalu mencintai hal-hal yang bersifat kongkrit atau lahiriah.

Kita harus mengembangkan kepribadian kita ke tingkat yang lebih baik agar kita tak hanya terjebak untuk mencintai hal-hal yang kongkrit saja. Di saat itulah kita dapat menempuh pelajaran yang lebih tinggi.

Selanjutnya kita harus berusaha untuk mencintai hal-hal yang lebih abstrak. Sebuah hadis yang amat kita kenal meriwayatkan sabda Nabi Muhammad saw, "Cintailah Allah atas segala anugerah-Nya kepadamu, cintailah aku atas kecintaan Allah kepadaku, dan cintailah keluargaku atas kecintaanku kepada mereka."

Dalam hadis ini Rasulullah saw menurunkan tiga kecintaan; kepada Allah swt, Rasulullah swt, dan ahlul bait Nabi. Rasulullah saw juga ingin mengajarkan kepada kita untuk meninggalkan kecintaan kepada hal-hal kongkrit dan menuju kecintaan kepaa hal yang abstrak.

Dalam Ihya Ulumuddin, Al-Ghazali menyatakan adalah sebuah kebohongan besar bila seseorang mencintai sesuatu tetapi ia tidak memiliki kecintaan kepada sesuatu yang lain yang berkaitan dengannya.

Al-Ghazali menulis; "Bohonglah orang yang mengaku mencintai Allah swt. tetapi ia tidak mencintai Rasul-Nya; bohonglah orang yang mengaku mencintai Rasul-Nya tetapi ia tidak mencintai kaum fuqara dan masakin; dan bohonglah orang yang mengaku mencintai surga tetapi ia tidak mau menaati Allah swt." Semua itu pada hakikatnya mengajarkan kita untuk mencintai hal-hal yang bersifat abstrak.

Nilai tasawuf yang paling penting adalah kecintaan kepada Allah swt. Mulailah kita belajar mencintai Allah dengan mencintai Rasul-Nya dan belajar mencintai Rasul-Nya dengan mencintai ahlul bait Nabi. Bila kita ingin berhasil mencintai ahlul bait Nabi, belajarlah dengan mencintai kaum fuqara dan masakin.

Jika kita telah mampu belajar mencintai Allah swt, Rasul-Nya, ahlul bait, serta kaum fuqara dan masakin, maka hal itu telah cukup menjadi bekal bagi kita, dibandingkan dengan seluruh dunia dan segala isinya.

Referensi lain
Dalam Al-Quran, tidak ada kata “membenci” tapi yang ada adalah kata “tidak mencintai”. Sebelum kata yuhibbu, diawali dulu dengan kata ‘la’. Innallaha layuhibbu (sesungguhnya Allah tidak mencintai). Yang tidak dicintai Tuhan kadang-kadang merupakan orang atau perbuatan.

Pertama, mu’tadin, orang-orang yang melakukan sesuatu dengan melewati batas. Dalam Al-Quran disebutkan, “Perangilah orang yang memerangi kamu. Janganlah kamu melewati batas. Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang yang melewati batas.” (QS. Al-Baqarah: 190).

Dalam perintah perang pun, kita tidak boleh melakukan hal-hal yang melewati batas. Di dalam peperangan islam, misalnya, kita tidak boleh menyerang atau mengejar musuh yang sudah lari, merusak tanaman, mengganggu perempuan, atau mengganggu orang-orang yang sedang beribadat, dsb.

Kedua, dalam Al-Quran, di antara orang-orang yang tidak dicintai Allah adalah orang yang berbuat kerusakan (kafir yang berkhianat), orang-orang yang berbuat zalim, orang-orang yang sombong, para pengkhianat, para pembuat kerusakan, orang-orang yang berlebihan. Apa saja yang berlebihan? Tidak dicintai oleh Allah. Ayat ini berkenaan dengan perintah makan dan minum: Makan dan minumlah kamu, tapi jangan berlebih-lebihan karena Allah tidak suka kepada orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-A’raf: 31)

Jalaluddin Rumi bercerita tentang orang yang dalam hidupnya hanya mengejar makanan saja. Rumi menggambarkan dengan bagus dengan mengatakan, “Orang itu hanya taat kepada satu perintah Tuhan, yaitu: Makan dan minumlah kamu. Tapi ia tidak menaati kalimat yang berikutnya.”

Dalam Al-Quran, ada cerita bahwa suara yang paling jelek di hadapan Allah adalah suara keledai. Sesungguhnya suara yang paling jelek adalah suara keledai. (QS. Lukman: 19) Menurut Rumi, yang dimaksud dengan paling jelek suaranya bukanlah yang paling keras suaranya. Ketika Allah menciptakan seluruh makhluk dan ruh ditiupkan ke dalam diri mereka, semuanya hidup.

Kalimat pertama yang mereka ucapkan adalah memuji Allah swt, bertasbih kepada-Nya. Tapi ketika semua bertasbih, keledai tidak bertasbih. Dia diam saja. Suatu saat ketika seluruh binatang diam, keledai itu berteriak. Orang-orang bertanya, “Mengapa keledai itu?” Ternyata keledai itu berteriak karena lapar. Kata Rumi, “Suara yang paling jelek di sisi Allah adalah orang yang hanya bersuara ketika perutnya lapar, atau ia hanya bersuara ketika membela kepentingan dirinya saja.”

Dalam kebiasaan kita pun, orang-orang akan bersuara keras hanya ketika membela kepentingan dirinya saja tapi ketika berbicara tentang kepentingan bangsa, suaranya jadi melemah, bahkan tidak bunyi sama sekali. Itulah orang yang berbicara keras dan buruk.

Hadis Tentang Cinta Ilahi
Nabi saw telah menjadikan kecintaan sebagai syarat iman. Seseorang bertanya kepada Rasulullah saw saw, “Ya Rasulallah, apa iman itu?” Rasulullah saw menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih kamu cintai daripada apa pun selain keduanya.”

Dalam hadis yang lain, yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dari Anas bin Malik: Tidak beriman kamu sebelum Allah dan Rasul-Nya lebih kamu cintai dari siapa pun selain mereka.

Kemudian dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, “Tidak beriman kamu sebelum aku (Rasulullah) lebih dicintai dari keluarganya, hartanya, dan seluruh umat manusia.”

Semua hadis di atas menjelaskan ayat Al-Quran, surat Al-Taubah ayat 24: Katakanlah jika orang tua, anak-anak, saudara, istri-istri, dan kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kalian takutkan kerugiannya, dan rumah yang kalian tinggali, lebih kalian cintai daripada Allah dan rasul-Nya, dan dari berjihad di jalan-Nya, maka bersiap-siaplah mereka menerima azab dari Allah.


Dalam hadis lain, Rasulullah saw memerintahkan kita untuk mencintai Allah, “Cintailah Allah atas anugerah-Nya kepada kalian dan cintailah aku atas kecintaan Allah kepadaku.” Al-Ghazali tidak melanjutkan hadis ini. Dalam lanjutan hadis itu, Rasulullah berkata, “Dan cintailah keluargaku karena kecintaan aku kepada mereka.”

Sumber cinta yang pertama adalah Allah, kemudian kita mencintai siapa saja yang dicintai Allah, termasuk rasul-Nya, dan mencintai apa yang dicintai oleh pencinta Allah, termasuk ahlul baitnya. Karena itu, doa yang biasa kita baca adalah: “Ya Allah, aku mohonkan kepada-Mu cinta-Mu dan mencintai orang-orang yang mencintai-Mu, dan mencintai setiap amal yang membawa kami ke dekat-Mu.

Rasulullah saw bersabda: Kalau kita mencintai saudara kita, ungkaplah kecintaan itu. Kalau bapak mencintai anak, ungkaplah kecintaan itu kepada anak-anaknya, jangan disembunyikan. Karena kecintaan itu menimbulkan berkah. Ada seorang anak yang menderita sepanjang hidupnya, karena ia mengira bapaknya tidak mencintainya.

Suatu saat ketika bapaknya sekarat di rumah sakit, menghembuskan napasnya yang terakhir, anak itu tidak datang juga karena ia tahu bapaknya tidak menyukainya. Ibunya bercerita bahwa sebelum meninggal dunia, bapaknya mengatakan bahwa ia sangat mencintai anaknya dan bangga akan anaknya. Anak itu menjerit keras karena selama ini ia membenci bapaknya dengan dugaan bahwa bapaknya tidak mencintainya. Padahal di saat-saat terakhir, bapaknya mengungkapkan bahwa ia cinta anaknya.

Kita dianjurkan jika kita mencintai seseorang, kita harus mengungkapkan kecintaan itu. Dan itu menyenangkan. Kita bahagiakan orang lain dengan kecintaan kita. Kalau kita sembunyikan, orang lain tidak akan tahu dan ia tidak akan bahagia karena kecintaan kita. Suatu saat, saya pernah melakukan umrah. Seorang supir taksi yang baik mengantarkan saya ke tempat kelompok keturunan sahabat anshar.

Mereka adalah para petani miskin yang tinggal di perkebunan kurma. Kami datang ke sana dan salat bersama di masjid yang sangat sederhana. Pemimpin kelompok itu bernama Al-Anshari. Waktu masuk ke tempat itu, saya diperkenalkan sebagai tamu dari Indonesia. Saya bercerita tentang islam di Indonesia. Dia memegangi kepala saya dan mencium dahi saya. Dia berkata, “Aku mencintaimu.” Saya senang sekali dan terkesan dengan kecupannya di dahi saya.

Ada seseorang datang kepada Nabi saw dan berkata, “Ya Rasulallah, aku mencintaimu.” Lalu Nabi berkata, “Kalau begitu, bersiaplah untuk miskin.” Ia lalu berkata, “Aku juga mencintai Allah.” Nabi berkata, “Kalau begitu, bersiaplah untuk mendapat ujian.” Dalam sebuah buku sufi, Essential Sufism, disebutkan bahwa orang-orang modern sangat sulit untuk bisa mencintai dengan tulus karena kecintaan yang tulus membawa resiko yang banyak.

Resiko yang pertama adalah keterlibatan seluruh kepribadian kita. Sementara orang modern inginnya mandiri, bebas, independen, tidak mau meleburkan diri, dan tidak mau melibatkan diri terlalu banyak. Akhirnya mereka tidak berhasil mencintai siapa pun, kecuali dirinya sendiri.

Salah satu resiko besar dari kecintaan adalah hilangnya ego dan keakuan kita. Rasulullah saw berkata, “Siap-siaplah menghadapi kemiskinan dan ujian.”

Suatu hari Rasulullah saw melihat Mash’ab bin Umair datang dan memakai pakaian yang lusuh dan compang-camping. Dahulu Mash’ab adalah anak orang kaya raya di Mekkah. Wajahnya tampan. Di antara sahabat Nabi ada yang terkenal karena ketampanannya, Mash’ab bin Umair, Al-Syammas. Pada waktu muda, orang tua Mash’ab sering menghiasinya dengan pakaian yang indah.

Namun, ketika ia sudah masuk Islam, ia mendatangi majlis Nabi saw. Rasulullah saw lalu berkata, “Lihatlah orang itu yang telah Allah sinari hatinya. Dahulu aku pernah melihat dia beserta kedua orang tuanya. Mereka memberinya makanan enak, minuman nikmat, dan pakaian bagus. Kemudian kecintaannya kepada Allah dan rasul-Nya membawa ia kepada keadaan sekarang ini.” (***)

read more...

Saturday, October 23, 2010

Kebutuhan Aktivitas Manusia


-ilsutrasi/net-

SISTEM TUBUH YANG BERPERAN DALAM KEBUTUHAN AKTIVITAS
    1. Tulang
    Tulang merupakan organ yang memiliki berbagai fungsi, yaitu fungsi mekanis untuk membentuk rangka dan tempat melekatnya berbagai otot, fungsi sebagai tempat penyimpanan mineral khususnya kalsium dan fosfor yang bisa dilepaskan setup saat susuai kebutuhan, fungsi tempat sumsum tulang dalam membentuk sel darah, dan fungsi pelindung organ-organ dalam.
    Terdapa tiga jenis tulang, yaitu tulang pipih seperti tulang kepala dan pelvis, tulang kuboid seperti tulang vertebrata dan tulang tarsalia, dan tulang panjang seperti tulang femur dan fibia. Tulang panjang umumnya berbentuk lebar pada kedua ujung dan menyempit di tengah. Bagian ujung tulang panjang dilapisi kartilago dan secara anatomis terdiri dari epifisis, metafisis, dan diafisis. Epifisis dan metafisis terdapat pada kedua ujung tulang dan terpisah dan lebih elastic pada masa anak-anak serta akan menyatu pada masa dewasa.
    1. Otot dan Tendom
    Otot memiliki kemampuan berkontraksi yang memungkinkan tubuh bergerak sesuai dengan keinginan. Otot memiliki origo dan insersi tulang, serta dihubungkan dengan tulang melalui tendon yang bersangkutan, sehingga diperlukan penyambungan atau jahitan agar dapat berfungsi kembali.
    1. Ligamen
    Ligamen merupakan bagian yang menghubungkan tulang dengan tulang. Ligamen pada lutut merupakan struktur penjaga stabilitas, oleh karena itu jika terputus akan mengakibatkan ketidakstabilan.
    1. Sistem Saraf
    Sistem saraf terdiri atas sistem saraf pusat (otak dan modula spinalis) dan sistem saraf tepi (percabangan dari sistem saraf pusat). Setiap saraf memiliki somatic dan otonom. Bagian soamtis memiliki fungsi sensorik dan motorik. Terjadinya kerusakan pada sistem saraf pusat seperti pada fraktur tulang belakang dapat menyebabkan kelemahan secara umum, sedangkan kerusakan saraf tepi dapat mengakibatkan terganggunya daerah yang diinervisi, dan kerusakan pada saraf radial akan mengakibatkan drop hand atau gangguan sensorik pada daerah radial tangan.

    1. Sendi
    Sendi merupakan tempat dua atau lebih ujung tulang bertemu. Sendi membuat segmentasi dari rangka tubuh dan memungkinkan gerakan antar segemen dan berbagai derajat pertumbuhan tulang. Terdapat beberapa jenis sendi, misalnya sendi synovial yang merupakan sendi kedua ujung tulang berhadapan dilapisi oleh kartilago artikuler, ruang sendinya tertutup kapsul sendi dan berisi cairan synovial. Selain itu, terdapat pula sendi bahu, sendi panggul, lutut, dan jenis sendi lain sepertii sindesmosis, sinkondrosis dan simpisis.
  1. KEBUTUHAN MOBILITAS DAN IMOBILITAS
  2. Kebutuhan Mobilitas
    1. Pengertian Mobilitas
      Mobitas atau mobilisasi merupakan kemampuan individu untuk bergerak secara bebas, mudah dan teratur dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan aktivitas guna mempertahankan kesehatannya.
    2. Jenis Mobilitas
      1. Mobilitas Penuh, merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak secara penuh dan bebas sehingga dapat melakukan interaksi social dan menjalankan peran sehari-hari. Mobilitas penuh ini merupakan fungsi saraf motorik volunteer dan sensorik untuk dapat mengontrol seluruh area tubuh seseorang.
      2. Mobilitas sebagian, merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak secara bebas karena dipengaruhi oleh gangguan saraf motorik dan sensorik pada area tubuhnya. Hal ini dapat dijumpai pada kasus cidera atau patah tulang dengan pemasangan traksi. Pasien paraplegi dapat mengalamai moblitas sebagian pada ekstremitas bawah karena kehilangan control motorik dan sensorik.
      Mobilitas sebagian ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
      1. Mobilitas sebagian temporer, merupakan kemampuan individu untuk bergerak dengan batasan yang sifatnya sementara. Hal tersebut dapat disebabkan oleh trauma reversible pada sistem musculoskeletal, contohnya adanya dislokasi sendi dan tulang.
      2. Mobilitas sebagian permanen, merupakan kemampuan individu untuk bergerak dengan batasan yang sifatnya menetap. Hal tersebut disebabkan oleh rusaknya sistem saraf yang reversible. Contohnya terjadinya hemiplegia karena stroke, paraplegi karena cidera tulang belakang, poliomyelitis karena terganggunya sistem saraf motorik dan sensorik.


  1. Faktor yang Mempengaruhi Mobilitas
Mobilitas seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa factor, diantaranya:
  1. Gaya Hidup. Perubahan gaya hidup dapat mempengaruhi mobilitas seseorang karena berdampak pada kebiasaan atau perilaku sehiari-hari.
  2. Proses Penyakit/Cidera. Hal dapat mempengaruhi mobilitas karena dapat berpengaruh pada fungsi sistem tubuh. Seperti, orang yang menderita fraktur femur akan mengalami keterbatasan pergerakan dalam ekstremitas bagian bawah.
  3. Kebudayaan. Sebagai contoh, orang yang memiliki budaya sering berjalan jauh memiliki kemampuan mobiltas yang kuat. Begitu juga sebagliknya, ada orang yang mengalami gangguan mobilitas (sakit) karena adat dan budaya yang dilarang untuk beraktivitas.
  4. Tingkat Energi. Untuk melakukan mobilitas diperlukan energy yang cukup.
  5. Usia dan Status Perkembangan. Terdapat kemampuan mobilitas pada tingkat usia yang berbeda.

  1. Kebutuhan Imobilitas
    1. Pengertian Imobilitas
      Imobilitas atau imobilisasi merupakan keadaan dimana seseorang tidak dapat bergerak secara bebas karena kondisi yang mengganggu pergerakan (aktivitas), misalnya mengalami trauma tulang belakang, cidera otak berat disertai fraktur pada ekstremitas, dan sebagainya.

    2. Jenis Imobilitas
      1. Imobiltas fisik, merupakan pembatasan untuk bergerak secara fisik dengan tujuan mencegah terjadinya gangguan komplikasi pergerakan, seperti pada pasien hemiplegia yang tidak mampu mempertahankan tekanan di daerah paralisis sehingga tidak dapat mengubah posisi tubuhnya untuk mengubah tekanan.
      2. Imobilitas intelektual, merupakan keadaan dimana mengalami keterbatasan berpikir, seperti pada pasien yang mengalami gangguan otak akibat suatu penyakit.
      3. Imobilitas emosional, yakni keadaan ketika mengalami pembatasan secara emosional karena adanya perubahan secara tiba-tiba dalam menyesuaikan diri. Seperti keadaan stress berat karena diamputasi ketika mengalami kehilangan bagian anggota tubuh atau kehilangan sesuatu yang paling dicintai.
      4. Imobilitas sosial, yakni keadaan seseorang yang mengalami hambatan dalam berinteraksi karena keadaan penyakitnya sehingga dapat mempengaruhi perannya dalam kehidupan sosial.



    3. Perubahan Sistem Tubuh Akibat Imobilitas
      Dampak dari imobilitas dalam tubuh dapat mepengaruhi sistem tubuh. Seperti perubahan pada metabolism tubuh, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, gangguan dalam kebutuhan nutrisi, gangguan fugsi gastrointestinal, perubahan sistem pernafasan, perubahan kardiovaskuler, perubahan sistem musculoskeletal, perubahan kulit, perubahan eliminasi (buang air besar dan kecil), dan perubahan perilaku.
      1. Perubahan Metabolisme
        Secara umum imobilitas dapat mengganggu metabolisme secara normal. Mengingat imobilitas dapat menyebabkan turunnya kecepatan metabolism dalam tubuh. Hal tersebut dapat dijumpai pada menurunnya Basal Metabolisme Rate (BMR) yang menyebabkan berkurangnya energy untuk perbaikan sel-sel tubuh. Sehingga dapat mempengaruhi oksigensi sel. Perubahan metabolism imobilitas dapat mengakibatkan proses anabolisme menurun dan katabolisme meningkat. Keadaan ini dapat meningkatkan resiko gangguan metabolisme. Proses imobilitas dapat juga menyebabkan penurunan ekskresi urine dan peningkatan nitrogen. Hal tersebut dapat ditemukan pada pasien yang mengalami immobilitas pada hari kelima dan keenam. Beberpa dampak dan perubahan metabolisme diantaranya, pengurangan jumlah metabolisme, antropi kelenjar dan katabolisme protein, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, demineralisasi tulang, gangguan dalam mengubah zat gizi, dan gangguang gastrointestinal.
      2. Ketidakseimbangan Cairan dan Elektrolit
        Terjadinya ketidakseimbangan cairan dan elektrolit sebagai dampak dari imobilitas akan mengakibatkan persediaan protein menurun dan konsentrasi protein serum berkurang, sehingga dapat mengganggu kebutuhan cairan tubuh. Di samping itu, berkurangnya perpindahan cairan dari intravaskuler ke interstisial dapat menyebabkan edema sehingga terjadi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. Imobilitas juga dapat mengakibatkan demineralisasi tulang akibat menurunnya aktivitas otot. Sedangkan meningkatnya demineralisasi tulang dapat mengakibatkan reabsorbsi kalium.
      3. Gangguan Pengubahan Zat Gizi
        Terjadinya gangguan zat gizi yang disebabkan oleh menurunnya pemasukan protein dan kalori dapat mengkibatkan pengubahan zat-zat makanan pada tingkat sel menurun. Dimana sel tidak lagi menerima glukosa, asam amino, lemak, dan oksigen dalam jumlah yang cukup untuk melaksanakan aktivitas metabolisme.


      4. Gangguan Fungsi Gastrointestinal Imobilitas
        Imobilitas dapat menyebabkan gangguan fungsi gastrointestinal. Hal ini desebabkan imobilitas dapat menurunkan hasil makanan yang dicerna, sehingga penurunan jumlah masukan yang cukup dapat menyebabkan keluhan. Seperti perut kembung, mual dan nyeri lambung yang dapat menyebabkan gangguan proses eliminasi.
      5. Perubahan Sistem Pernafasan
        Akibat imobilitas, kadar hemoglobin menurun, ekspansi paru menurun, dan terjadinya lemah otot yang dapat menyebabkan proses metabolisme terganggu. Terjadinya penurunan kadar hemoglobin dapat menyebabkan penurunan aliran oksigen dari alveoli ke jaringan, sehingga menyebabkan anemia.
      6. Perubahan Kardiovaskuler
        Perubahan sistem ini akibat imobilitas antara lain dapat berupa hipotensi ortostatik, meningkatnya kerja jantung dan terjadinya pembentukan trombus. Terjadinya hipotensi ortostatik dapat disebakab menurunnya kemampuan saraf otonom, pada posisi yang tetap dan lama, refleks neurovaskuler akan menurun dan menyebabkan vasokonstriksi, kemudian darah terkumpul pada vena bagian bawah sehingga aliran darah ke sistem sirkulasi terhambat.
        Meningkatnya kerja jantung dapat disebabkan imobilitas dengan posisi horizontal. Dalam keadaan normal, darahyang terkumpul pada ekstremitas bawah bergerak dan meningkatkan aliran vena kembali ke jantung dan akhirnya jantung akan meningkatkan kerjanya. Terjadinya trombus juga diakibatkan meningkatnya vena statis yang merupakan hasil penurunan kontraksi muscular sehingga meningkatkan arus balik vena.
      7. Perubahan Sistem Muskuloskeletal
  • Gangguan Muskular. Yakni menurunnya massa otot sebagai dampak imobilitas secara langsung. Hal ini ditandai dengan menurunnya stabilitas. Berkurangnya massa otot dapat menyebabkan atropi pada otot. Seperti, otot betis yang telah dirawat lebih dari enam minggu ukurannya akan lebih kecil dan menunjukkan tanda lemah dan lesu.
  • Gangguan Skeletal. Misalnya, akan mudah terjadi kontraktur sendi dan osteoporosis. Kontraktur merupakan kondisi yang abnormal dengan kriteria adanya fleksi dan fiksasi yang disebabkan atropi dan memendeknya otot. Kontraktur dapat menyebabkan sendi dalam kedudukan yang tidak berfungsi. Osteoporosis terjadi akibat reabsorbsi tulang semakin besar, sehingga menyebabkan jumlah kalsium ke dalam darah menurun dan jumlah kalsium yang di keluarkan melalui urine semakin besar.

  1. Perubahan Sistem Integumen
    Hal ini terjadi berupa penurunan elastisitas kulit karena menurunnya sirkulasi darah akibat imobilitas dan terjadinya isakemia serta nekrosis jaringan superficial dengan adanya luka decubitus sebagai akibat tekanan kulit yang kuat dan srikulasi yang menurun ke jaringan.
  2. Perubahan Eliminasi
    Misalnya penurunan jumlah urine yang mungkin disebabkan kurangnya asupan dan penurunan curah jantung, sehingga aliran darah renal dan urine berkurang.
  3. Perubahan Perilaku
    Perubahan perilaku sebagai akibat imobilitas antara lain, timbulnya rasa bermusuhan, bingung, cemas, emosional tinggi, depresi, perubaha siklus tidur dan menurunnya koping mekanisme.
  1. ASUHAN KEPERAWATAN PADA MASALAH POSTUR TUBUH

  2. Pengkajian Keperawatan
    Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengkaji postur tubuh, di antaranya:
    1. Postur tubuh yang benar pada saat berbaring, duduk dan berdiri.
      1. Posisi Berdiri
        Pengkajian posisi berdiri dilakukan dengan cara menganjurkan pasien pada posisi berdiri, kepala tegak, dan mata menghadap lurus ke depan. Bila diamati dari belakang, bahu dan pinggul harus lurus dan sejajar. Amati vertebrata kolumna, apabila dari arah samping kepala tegak dan lurus dan tulang belakang diluruskan bentuknya seperti huruf S. vertebrata servikal melengkung ke depan dan vertebrata lumbal melengkung ke depan, kaki ditempatkan sedikit terpisah untuk mencapai dasar dari topangan dan ibu jari menunjuk ke depan, dan apabila diamati dari depan berada pada garis tengah vertikal. Apabila posisi tidak sesuai dengan posisi berdiri yang benar, maka dapat diidentifikasi adanya gangguan otot/tulang.
      2. Posisi Duduk
        Kepala pasien harus tegak lurus dengan leher dan vertebrata kolumna. Kemudian berat badan bertumpu pada glutea dan paha. Paha sejajar dan datar pada bagian horizontal kedua telapak kaki menapak di lantai, dan dengan jarak 2-4 cm perlu dipertahankan antara tepi tempat duduk dengan lutut dan lengan pasien. Pasien yang dalam keadaan abnormal akan mengalami kelemahan otot atau paralisis otot, serta adanya perubahan sensasi (kerusakan saraf).

      3. Posisi Berbaring
        Letakkan pasien dengan posisi latera, semua bantal dan penyokong posisi dipindahkan dari tempat tidur. Kemudian tubuh ditopang dengan kasur yang cukup dan vertebrata harus lurus dengan alas yang ada. Apabila dijumpai kelainan pada pasien, maka terdapat proses penurunan sensasi atau gangguan sirkulasi serta adanya kelemahan.
    2. Perubahan dalam tumbuh kembang, identifikasi adanya trauma, kerusakan otot atau saraf dan kemungkinan factor yang menyebabkan postur tubuh yang buruk.

  3. Diagnosis Keperawatan
    1. Nyeri yang berhubungan dengan posis duduk, berdiri dan berbaring yang salah akibat pemakaian gips pada daerah ekstremitas, dan lain-lain.
    2. Gangguan mobilitas berhubungan dengan drop foot lutut akibat kontraktur.
    3. Resiko cidera berhubungan dengan gangguan keseimbangan yang disertai kelemahan otot.

  4. Perencanaan dan Pelaksanaan Keperawatan
    1. Pertahankan postur tubuh yang tepat dengan pengaturan posisi yang tepat.
    2. Perbaiki postur tubuh pada tingkat optimal dengan melatih duduk, berdiri dan tidur secara optimal.
    3. Kurangi cidera akibat postur tubuh yang tidak tepat dengan membantu pasien melakukan aktivitas sehari-hari.
    4. Kurangi beban otot dengan cara meletakkan alat dengan dekat dengan pasien dan bantu kegiatan yang menimbulkan beban berat.
    5. Cegah komplikasi akibat postur tubuh yang tidak tepat.

  5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi yang diharapkan dari hasil tindakan keperawatan untuk mengatasi gangguan postur tubuh adalah tidak terjadi erubahan atau kesalahan dalam postur tubuh, dan pasien mampuberaktivitas dengan mudah serta tidak merasakan kelemahan.
read more...

Thursday, June 03, 2010

Perilaku Organisasi; Teori Motivasi dan Teknik Memotivasi


Manager yang berhasil adalah yang mampu menggerakkan bawahannya dengan menciptakan motivasi yang tepat bagi bawahannya
PEMBAGIAN TEORI MOTIVASI
TEORI ISI (Content Theory)
1. Teori Hirarki Kebutuhan ( A. Maslow)
2. Teori E-R-G ( Clayton Alderfer)
3. Teori Tiga Motif Sosial (D. McClelland)
4. Teori Dua Faktor (Frederick Herzberg)
TEORI PROSES ( Process Theory)
1. Equity Theory (S. Adams)
2. Expectancy Theory ( Victor Vroom)
3. Goal Setting Theory (Edwin Locke)
4. Reinforcement Theory ( B.F. Skinner)

Hierarchy of Needs Theory (Abraham Maslow; 1935)
Kebutuhan Manusia :
Physiological
Safety & Security
Social (Belongingness & Love)
Esteem
Self Actualization


ERG THEORY (Clayton Alderfer)
E (Existence)
R (Relatedness)
G (Growth)
Mekanisme Kebutuhan :
Frustration – Regression
Satisfaction - Progression

Trichotomy of Needs (David McClelland)
Achievement Motive (nAch): Motif untuk berprestasi
Affiliation Motive (nAff): Motif untuk bersahabat.
Power Motive (nPow) : Motif untuk berkuasa
Two Factor Theory (Frederick Herzberg)
Hygiene Factors Motivators
No
Dissatisfaction Dissatisfaction Satisfaction
---------------------------!----------------------------
Gaji Achievement
Rasa Aman Recognition
Status Responsibility
Kondisi Ling. Kerja Challenging Work
Hub.d/ Atasan,Rekan Advancement,Involvement
PERBANDINGAN EMPAT TEORI ISI
Maslow Alderfer McClelland Herzberg

Basic Existence
Security Hygiene
Social Relatedness nAff
Esteem Growth nAch Motivator
Self Act. nPow
KEBUTUHAN & INSTRUMEN ORGANISASI (I)
Physiological - Gaji
- Breakfast / Luch Program
- Rumah Dinas
Safety - Benefits plans
- Pensiun
- Gaji
Social - Coffee Breaks - Team Work
- Tim Olah Raga - Gaji
- Piknik Bersama
KEBUTUHAN & INTRUMEN ORGANISASI (II)
Esteem - Otonomi
- Tanggungjawab
- Gaji (as symbol of status)
Achievement - Tantangan dlm pekerjaan
- Gaji
Power - Leadership Positions
- Otoritas
Self Actualization – Challenge & Otonomi
EQUITY THEORY (Social Comparison Theory)
Pada dasarnya manusia menyenangi perlakuan yang adil / sebanding

Ind.Rewards Others Reward
Ind. Input Others Input
Felt Negatif / Positif

Motivates
BENTUK OUTCOME & INPUT
REWARDS : - Gaji
- Status / Jabatan
- Penilaian / Penghargaan
INPUT : - Pendidikan
- Pengalaman
- Umur
- Jenis kelamin
- Usaha / Produktivitas

EXPECTANCY THEORY (Victor Vroom)
Besar kecilnya usaha kerja yang akan diperlihatkan oleh seseorang, tergantung pada bagaimana orang tersebut memandang kemungkinan keberhasilan dari tingkah lakunya itu dalam mencapai tujuan yang diinginkan
Ind. Ind. Org. Ind.
Effort Performance Rewards Goals
M = E x I x V
GOAL SETTING THEORY (Edwin Locke)
Kuat lemahnya tingkah laku manusia ditentukan oleh sifat tujuan yang hendak dicapai.
Kecenderungan manusia untuk berjuang lebih keras mencapai suatu tujuan, apabila tujuan itu jelas, dipahami dan bermanfaat.
Makin kabur atau makin sulit dipahami suatu tujuan, akan makin besar keenganan untuk bertingkah laku.
REINFORCEMENT THEORY (Thorndike & B.F. Skinner)
Teori ini didasarkan atas “hukum pengaruh”
Tingkah laku dengan konsekuensi positif cenderung untuk diulang, sementara tingkah laku dengan konsekuensi negatif cenderung untuk tidak diulang.
Rangsangan Respon Konsekuensi

IMPLIKASI BAGI MANAJER
Recognize Individual Differences
Match People to Jobs
Use Goals
Ensure that goals are perceived as attainable
Individualized Rewards
Link Rewards to Performance
Check the System for Equity
Don’t Ignore Money
TEKNIK MEMOTIVASI (PENDEKATAN PEKERJA)
1. Pendekatan Tadisional ( “Be Strong”)
2. Pendekatan Human Relations (Be Good)
3. “Implicit Bargaining”
4. Kompetisi
5. Motivasi Internal
PENDEKATAN TRADISIONAL
Berangkat dari “TEORI X” Mc Gregor :
1. Orang itu tidak suka bekerja, malas dan sedapat mungkin menghindarinya.
2. Orang itu tidak jujur, tidak mau bertanggung jawab, dan lebih suka “cari selamat”
3. Orang itu tidak kreatif, ambisinya rendah, tidak mementingkan pekerjaan tetapi apa yang dia peroleh.
TEKNIK MEMOTIVASI “BE STRONG”
Pemaksaan
Pengawasan secara ketat.
Perilaku pekerja diarahkan dengan insentif dan ancaman hukuman
Tugas dibuat dalam operasi-operasi yang sederhana dan mudah dipelajari.

PENDEKATAN HUMAN RELATIONS
Berangkat dari “TEORI Y” Mc Gregor :
1. Orang itu rajin dan suka bekerja keras.
2. Orang itu jujur dan bertanggung jawab.
3. Orang itu kreatif, inovatif dan memiliki ambisi yang tinggi untuk berprestasi.


TEKNIK MEMOTIVASI “BE GOOD”
Otonomi
Tanggungjawab.
Keterlibatan
Pemberdayaan
Kesempatan untuk berkembang
Meaningful & Challenging Works
IMPLICIT BARGAINING
Berangkat dari kesadaran adanya kelemahan dan kelebihan dari kedua pendekatan sebelumnya.
Merupakan kombinasi pendekatan tradisional dan pendekatan human relations.
Dalam pendekatan ini selain adanya aturan formal menyangkut pekerja juga adanya perjanjian yang tidak tertulis antara pekerja dan pihak pimpinan mengenai hal-hal apa yang menjadi tugas dan yang harus dikerjakan oleh pekerja.
KOMPETISI
Asumsi dari pendekatan ini sederhana saja, yaitu bahwasanya dengan menciptakan situasi persaingan diharapkan motivasi kerja akan bertambah besar.
Dalam menciptakan situasi persaingan digunakan Insentif.
Insentif : Faktor-faktor eksternal yang oleh individu dipandang dapat memenuhi atau memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang dirasakannya.
MOTIVASI INTERNAL
Self-Motivation, Self-Management
Dalam pendekatan ini motivasi pekerja diupayakan bangkit dari dalam diri pekerja sendiri (Kesadaran).
Pendekatan ini relatif lebih sulit, namun lebih effektif jika mampu dilakukan.
Proses pembelajaran dan Effektivitas peran atasan sangat menentukan keberhasilan pendekatan ini.
TEKNIK MEMOTIVASI (PENDEKATAN PEKERJAAN)
Job Enlargement
Job Rotation
Job Enrichment
Goal Setting
Job Engineering
Sociotechnical Approach
JOB ENLARGEMENT
Pendekatan ini berangkat dari asumsi bahwa waktu siklus yang pendek, dan pekerjaan yang monoton akan membuat pekerja cepat merasa bosan, yang akan berakibat pada rendahnya produktivitas.
Treatmentnya : Horizontal Job Loading (Quantity)
Semakin banyak kegiatan yang harus dilakukan akan memperpanjang waktu siklus, akan menghindari cepat munculnya rasa bosan.
JOB ROTATION
Pendekatan inipun bertujuan untuk menghindari tumbuhnya rasa bosan dalam diri pekerja.
Cara yang ditempuh adalah melakukan perputaran (rotasi) kerja.
Teknik memotivasi ini terkait dengan pengelolaan fungsi SDM yaitu Placement / Kebijakan Karir.
JOB ENRICHMENT
Berbeda dengan pendekatan “Job Enlargement”.
Treatmentnya : Vertical Job Loading
Yang ditambahkan unsur kualitas dari isi pekerjaan.
Isi pekerjaan adalah unsur-unsur “Motivator” yang dikemukakan oleh HERZBERG.
GOAL SETTING
Pendekatan ini berangkat dari asumsi bahwa motivasi kerja akan meningkat bilamana apa yang menjadi sasaran kerjanya jelas.
Motivasi akan lebih meningkat lagi, bilamana dalam penetapan sasaran kerja ini para karyawan turut dilibatkan.
Dua faktor penting : Challenging Work & Involvement.
JOB ENGINEERING
Dasar dari pendekatan ini adalah memperhatikan faktor-faktor teknis pelaksanaan pekerjaan.
Termasuk disini adalah memperhatikan :
- teknik tata cara / metoda kerja
- desain peralatan kerja
- kondisi fisik lingkungan kerja
SOCIOTECHNICAL APPROACH
Dasar dari pendekatan ini adalah melihat organisasi sebagai suatu sistem yang terdiri dari komponen sosial dan teknologik.
Pendekatan ini memperhatikan interface antara sistem teknologik dan sistem sosial.

FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN MEMOTIVASI
Effektivitas Teknik yang digunakan
Karakteristik Bawahan
Situasi
Atribut Manajer :
- Position Power
- Personal Power
- Critical Skills

(Dirangkum dari meteri-materi pelatihan)
read more...

Pengaruh Komunikasi Massa Terhadap Masyarakat dan Budaya


Teori Agenda Setting (Shaw dan McCombs)
Teori Kultivasi (Cultivation theory)
Spiral of Silence (Spiral keheningan)

Teori Agenda Setting (Shaw dan McCombs)
Asumsi:
Media mengatakan kepada kita apa yang penting dan apa yang tidak
media menyusun prioritas topik dan topik ini mempengaruhi perhatian audience, topik mana yang dianggap lebih penting dari topik lainnya.
menyusun agenda pemberitaan media akan memberikan efek (fungsi belajar )pada audience meskipun hanya sampai pada tataran kognitif.
Contoh agenda setting
agenda kampanye yang ditetapkan media
Pentingnya isu yang diangkat oleh partai
Penekanan yang diberikan terhadap isu

Perubahan kognisi audience
Audience memilih kandidat partai yang kompeten menangani isu yang diangkat media.

kesimpulan
Dasar pemikiran agenda setting :
diantara berbagai topik yang di muat media massa, topik yang mendapat lebih banyak perhatian dari media akan menjadi lebih akrab bagi pembacanya dan akan dianggap penting dalam suatu periode waktu tertentu, dan akan terjadi sebaliknya bagi topik yang kurang mendapat perhatian media
Teori Kultivasi (Cultivation theory) George Gerbner
Asumsi dasar
Televisi merupakan media yang unik dengan karakter TV yang bersifat verpasive, acessible, dan coherent
Semakin banyak seseorang menghabiskan waktu untuk menonton televisi, semakin kuat kecenderungan orang menyamakan realitas televisi dengan realitas sosial
;
Asumsi dasar
Light viewers (penonton ringan) cenderung menggunakan jenis media dan sumber informasi yang lebih bervariasi. Sementara Heavy viewers (penonton berat) cenderung mengandalkan televisi sebagai sumber informasi mereka
Terpaan pesan televisi yang terus menerus menyebabkan pesan tersebut diterima khalayak sebagai pandangan konsensus masyarakat
Asumsi dasar
Televisi membentuk mainstreaming (penyeragaman) dan resonance (penguatan) karna pengaruh pesan media tertanam dalam persepsi
Perkembangan teknologi baru memperkuat pengaruh televisi.
Spiral of Silence (Spiral keheningan)
sebagian besar individu mencoba menghindari isolasi, dalam pengertian sendirian mempertahankan kepercayaan atau sikap tertentu.
seseorang memperhatikan lingkungannya dalam rangka mempelajari pandangan-pandangan mana yang semakin kuat dan yang mana yang semakin tidak populer
Proses spiral diawali dari kecendrungan seseoirang mengemukakan pendapat dan orang lain diam dan meningkatkan kemampanan pendapat sebagai pendapat umum
Sumber kekuatan kemampanan dalam spiral if silence
Persepsi individu : opini
Media massa :karna media memberikan pandangan dominan pada waktu tertentu
Dukungan orang lain dalam lingkungannya
Media membentuk persepsi terhadap pendapat mayoritas berhubungan dengan pengungkapan pendapat pribadi, kecendrungan dalam isi media dan pendapat jurnalis akan menghasilkan spiral of silence
Audience Dan Pengaruhnya Terhadap Komunikasi Massa
Uses and Gratifications
kegunaan isi media untuk memperoleh gratifikasi atau penemuan kebutuhan.
Tingkah laku audiens secara garis besarnya dianggap sebagai kebutuhan-kebutuhan dan kepentingan-kepentingan individu
Kategori gratification berasal dari penggunaan media



pendekatan uses and gratification menyajikan alternatif lain dalam memandang hubungan antara isi media dengan audiens, dan dalam pengkategorian isi media – menurut “fungsi”




Asumsi dasar

The audience active and its media use goal oriented
Initiative linking need gratification to a specific medium choice with audience member
Media compete with other sources for need satisfaction
People have enough self-awareness of their media use, interest, and motives to be able to provide researchers with an accurate picture of that use
Value judgments of media content can only be assessed by audience
Audience yang aktif
Utility (menggunakan media karena tugas )
Intentionality ( prioritas pada penyebab menggunakan media)
Selectivity ( mengggunakan media kalau medianya menarik)
Imperviousness to influence(mengkonstruksi makan isi mediayang mempengaruhi cara berpikirnya
Aktivity konsumen media (pemahaman)
Activeness: yang menjadikan media hanya untuk mengisi kekosongan
hal utama yang mendorong munculnya pendekatan “uses”
McQuail (1979):
Oposisi terhadap pandangan deterministis tentang efek media.
keinginan untuk lepas dari debat yang berkepanjangan tentang selera media massa
hubungan antara isi media dengan audiens, dan dalam pengkategorian isi media – menurut “fungsi” dan bukan menurut “tingkat selera”.

Riset Uses dan gratifikasi
Herzog (1944) yang membahas pencarian dan perolehan gratifikasi oleh pendengar-pendengar opera di radio
Suchman (1942) tentang motif mendengarkan musik klasik di radio.
Barelson (1949) tentang hal apa yang dianggap hilang oleh pembaca surat kabar di New York ketika terjadi pemogokan surat kabar.
Katz dan Gurevith (1977) menggunakan riset uses and gratification untuk menjelaskan persamaan dan perbedaan berbagai media dilihat dari fungsi dan karakteristik-karakteristik lainnya
Brown (1976) penggunaan televisi oleh anak-anak, memperlihatkan pentingnya media itu dalam sifatnya yang multi fungsio dan kemampuannya memberikan kepuasan yang bervariasi kepada sebagian besar anak-anak,
Fungsi uses and gratification
dirancang untuk menggambarkan proses penerimaan dalam komunikasi massa dan menjelaskan penggunaan media oleh individu atau kelompok.
Tugas !!!! Buat Small Research tentang Fenomena komunikasi massa (TV, Radio,Majalah,Surat Kabar) Analisis dengan teori komunikasi massa

(Dirangkum dari Perkuliahan Komunkasi ANTAR Budaya Jurusan Jurnalistik UIN Alauddin Makassar)

read more...

Pikiran Sebagai Isi Pesan Komunikasi


Introduction
Komunikasi = Penyampaian pesan dari komunikator ke komunikan.
Pesan komunikasi terdiri atas: Isi pesan (content of the message), dan lambang (symbol).
Isi pesan adalah pikiran, lambang adalah bahasa.
Bahasa melekat pada pikiran oleh karena itu tidak dapat dilepaskan dari pikiran
1. Intensitas Berpikir
Fungsi berpikir: meliputi “wissen” (mengetahui), dan “verstehen” (mengerti secara mendalam).

Berpikir mengenai realitas sosial terdiri atas: Berpikir secara horizontal (sensitivo rasional), dan secara vertical (metarasional)
2. Sistematika Berpikir (Berdasarkan dr. Marseto Donoseputro)
Berpikir Deduktif (Deductive thinking), berasal dari Plato, Aristoteles. Dari satu rumus umum dapat ditarik berbagai kesimpulan.
Berpikir Induktif (Inductive Thinking), menarik suatu kesimpulan umum dari berbagai data atau kejadian yang ada disekitarya.
Berpikir Memecahkan Masalah: (Problem Solving Thinking), prosesnya secara chronologis sbb: Analysis, Synthesis, Evaluation, Selection.
2. Sistematika Berpikir 2 (Berdasarkan dr. Marseto Donoseputro) 2
Berpikir Kausatif (Causative Thinking) emphasizes the shaping of future events and achievements instead of waiting for destiny to decide them (G. Terry Principles of Management)
Berpikir Kreatif (Creative Thinking) : Kesanggupan seseorang menciptakan suatu ide baru yang berfaedah; Perpaduan antara science and imagination
Berpikir Filsafati (Philosophical Thinking), Perenungan, meragukan, mengajukan pertanyaan untuk mengusahakan kejelasan, keruntutan, dan keadaan memadainya pengetahuan untuk pemahaman.
3. Pertimbangan Nilai
Sebelum Komunikasi berlangsung terjadi proses internalisasi (Pembatinan), (implicit/explicit).
Dalam filsafat ada 3 nilai yang menjadi bahasan (etika, logika, estetika).
Dalam komunikasi istilah objective/ subjective.
Objective descriptive (tanpa pertimbangan nilai, tetapi dengan pertimbangan factual)
Subjective (sarat nilai)
Pengertian Nilai
Nilai = pandangan, cita-cita, adat kebiasaan, dll. yang menimbulkan tanggapan emosional bagi seseorang atau masyarakat.
R.Pramono, Nilai= penghargaan (appreciation) dan perhatian yang disertai pertimbangan2 yang layak oleh subjek terhadap suatu obyek.
Nilai = bersifat empiris, contextual, dan situational, eg. Dalam peristiwa komunikasi
Kenneth Anderson “Introduction to Communication Theory and Practices” Value is a special kind of attitude which is so general and so pervasive that is relevant to a large number of issues, responses, activities)
Nilai = kekuatan central yang membimbing/memandu perilaku seseorang, cenderung berlaku abadi.
Pengertian Nilai 2
Keith Davis, “Human Behavior at Work” (Nilai ekonomi dan nilai manusiawi)
Nilai ekonomi (allocative), spt alokasi sumber
Nilai Manusiawi (incremental), timbul sendiri, meningkat, tercipta dalam diri atau kelompok.
Lihat persamaan/perbedaan uang dan gagasan. (Davis)
Ciri Nilai (Charles F. Andrain “Political life and Social Change)
Amat umum dan abstrak
Conseptual, tidak konkrit
Menunjukkan dimensi keharusan
Menunjukkan perbedaan antara nilai pribadi dan nilai sosial,
Menunjukkan ketidak ajegan (kadang menimbulkan konflict sosial)
Bersifat mapan
Dalam komunikasi (Lambang biasa bersifat denotative dan connotative)
Nilai Logika,Etika, dan Estetika dalam Komunikasi
Logika
Deals with the study of the principles and methods of correct reasoning.
Logis = seleksi antara fakta dan opini, disusun menjadi kesatuan yang utuh, tidak kontradiktif antara satu dan yang lain.
M. Sommer, “Logika” bicara atau menulis dengan tepat memperhitungkan hukum Grammatika; berpikir tepat, memperhitungkan hukum Logika
Sommer “Logika”
Ilmu Pengetahuan = keseluruhan dari hal-hal yang diketahui dan dibuktikan dengan prinssip-prinsip (ilmu)
Karya-karya akal budi (pemikiran, putusan dan pengertian) sebagai objek material
Memiliki aturan-aturan sebagai obyek formal (hukum-hukum yang mengatur akal budi) untuk menunjukkan kebenaran.

Contoh Hubungan Pemikiran,putusan, dan pengertian dg Logika
Ilmu Pengetahuan patut di sukai
Filsafat adalah Ilmu Pengetahuan
Jadi Filsafat patut disukai

Setiap manusia adalah adil
Judas adalah manusia
Jadi Judas adalah adil

Ilmu Pengetahuan patut disukai
Filsafat adalah ilmu pengetahuan
Jadi Yudas Menjadi penghianat

Pemikiran yang sahih
Putusan-putusan harus benar
Ada hubungan antara putusan yang satu dengan putusan yang lain, memungkinkan kesimpulan yang tepat
Forma dan materi Pemikiran
Format pemikiran = logika memandang pemikiran dari segi ketepatan (bentuk Pemikiran) Logika formal
Materi pemikiran = memandang pemikiran hanya dari segi benar atau tidak. (Bahan Pemikiran) Logika material
Pemikiran Francis Bacon (dalam Novum Organum)
The idols of the cave, Katak dalam tempurung, akibat pemikiran yang sempit.
The Idols of the tribe, kesesatan akibat merasa hanya bagian dari suku tertentu.
The idols of the forum, kesalahan disebabkan kurangnya penguasaan bahasa.
The idols of the market place, kesalahan karena terlalu tegar mengidentifikasikan dirinya pada adat istiadat dan norma-norma sosial.
Etika
Estetika
KOMUNIKASI SEBAGAI PROSES INTERAKSI SIMBOLIK
TELAAH FILSAFATI TERHADAP TEKNOLOGI MEDIA
MAZHAB FRANKFURT VS MAZHAB CHICAGO.

Oleh: Muh. Nadjib
(Dirangkum dari Perkuliahan Teori Komunkasi Jurusan Jurnalistik UIN Alauddin Makassar)

read more...

Friday, December 04, 2009

Nama Organisasi Wartawan dan Organisasi Perusahaan Pers Indonesia


Nama organisasi wartawan dan organisasi perusahaan pers Indonesia:
  1. Aliansi Jurnalis Independen (AJI)-Abdul Manan
  2. Aliansi Wartawan Independen (AWI)-Alex Sutejo
  3. Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI)-Uni Z Lubis
  4. Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia (AWDI)-OK. Syahyan Budiwahyu
  5. Asosiasi Wartawan Kota (AWK)-Dasmir Ali Malayoe
  6. Federasi Serikat Pewarta-Masfendi
  7. Gabungan Wartawan Indonesia (GWI)-Fowa’a Hia
  8. Himpunan Penulis dan Wartawan Indonesia (HIPWI)-RE Hermawan S
  9. Himpunan Insan Pers Seluruh Indonesia (HIPSI)-Syahril
  10. Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI)-Bekti Nugroho
  11. Ikatan Jurnalis Penegak Harkat dan Martabat Bangsa (IJAB HAMBA)-Boyke M. Nainggolan
  12. Ikatan Pers dan Penulis Indonesia (IPPI)-Kasmarios SmHk
  13. Kesatuan Wartawan Demokrasi Indonesia (KEWADI)-M. Suprapto
  14. Komite Wartawan Reformasi Indonesia (KWRI)-Sakata Barus
  15. Komite Wartawan Indonesia (KWI)-Herman Sanggam
  16. Komite Nasional Wartawan Indonesia (KOMNAS-WI)-A.M. Syarifuddin
  17. Komite Wartawan Pelacak Profesional Indonesia (KOWAPPI)-Hans Max Kawengian
  18. Korp Wartawan Republik Indonesia (KOWRI)-Hasnul Amar
  19. Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI)-Ismed hasan Potro
  20. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)-Wina Armada Sukardi
  21. Persatuan Wartawan Pelacak Indonesia (PEWARPI)-Andi A. Mallarangan
  22. Persatuan Wartawan Reaksi Cepat Pelacak Kasus (PWRCPK)-Jaja Suparja Ramli
  23. Persatuan Wartawan Independen Reformasi Indonesia (PWIRI)-Ramses Ramona S.
  24. Perkumpulan Jurnalis Nasrani Indonesia (PJNI)-Ev. Robinson Togap Siagian-
  25. Persatuan Wartawan Nasional Indonesia (PWNI)-Rusli
  26. Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Pusat- Mahtum Mastoem
  27. Serikat Pers Reformasi Nasional (SEPERNAS)-Laode Hazirun
  28. Serikat Wartawan Indonesia (SWI)-Daniel Chandra
  29. Serikat Wartawan Independen Indonesia (SWII)-Gunarso Kusumodiningrat.
read more...

Tuesday, December 01, 2009

Sejarah Jurnalistik


Sejarah Jurnalistik
(Materi Kuliah “Pengantar Ilmu Jurnalistik” Jurusan KPI UIN SGD Bandung)

Oleh ASM. ROMLI

Berbagai literatur tentang sejarah jurnalistik senantiasa merujuk pada “Acta Diurna” pada zaman Romawi Kuno masa pemerintahan kaisar Julius Caesar (100-44 SM).

“Acta Diurna”, yakni papan pengumuman (sejenis majalah dinding atau papan informasi sekarang), diyakini sebagai produk jurnalistik pertama; pers, media massa, atau surat kabar harian pertama di dunia. Julius Caesar pun disebut sebagai “Bapak Pers Dunia”.

Sebenarnya, Caesar hanya meneruskan dan mengembangkan tradisi yang muncul pada permulaan berdirinya kerajaan Romawi. Saat itu, atas peritah Raja Imam Agung, segala kejadian penting dicatat pada “Annals”, yakni papan tulis yang digantungkan di serambi rumah. Catatan pada papan tulis itu merupakan pemberitahuan bagi setiap orang yang lewat dan memerlukannya.

Saat berkuasa, Julius Caesar memerintahkan agar hasil sidang dan kegiatan para anggota senat setiap hari diumumkan pada “Acta Diurna”. Demikian pula berita tentang kejadian sehari-hari, peraturan-peraturan penting, serta apa yang perlu disampaikan dan diketahui rakyatnya. Papan pengumuman itu ditempelkan atau dipasang di pusat kota yang disebut “Forum Romanum” (Stadion Romawi) untuk diketahui oleh umum.

Berita di “Acta Diurna” kemudian disebarluaskan. Saat itulah muncul para “Diurnarii”, yakni orang-orang yang bekerja membuat catatan-catatan tentang hasil rapat senat dari papan “Acta Diurna” itu setiap hari, untuk para tuan tanah dan para hartawan.

Dari kata “Acta Diurna” inilah secara harfiah kata jurnalistik berasal yakni kata “Diurnal” dalam Bahasa Latin berarti “harian” atau “setiap hari.” Diadopsi ke dalam bahasa Prancis menjadi “Du Jour” dan bahasa Inggris “Journal” yang berarti “hari”, “catatan harian”, atau “laporan”. Dari kata “Diurnarii” muncul kata “Diurnalis” dan “Journalist” (wartawan).

Dalam sejarah Islam, cikal bakal jurnalistik yang pertama kali di dunia adalah pada zaman Nabi Nuh. Saat banjir besar melanda kaumnya, Nabi Nuh berada di dalam kapal beserta sanak keluarga, para pengikut yang saleh, dan segala macam hewan.

Untuk mengetahui apakah air bah sudah surut, Nabi Nuh mengutus seekor burung dara ke luar kapal untuk memantau keadaan air dan kemungkinan adanya makanan. Sang burung dara hanya melihat daun dan ranting pohon zaitun yang tampak muncul ke permukaan air. Ranting itu pun dipatuk dan dibawanya pulang ke kapal. Nabi Nuh pun berkesimpulan air bah sudah mulai surut. Kabar itu pun disampaikan kepada seluruh penumpang kapal.

Atas dasar fakta tersebut, Nabi Nuh dianggap sebagai pencari berita dan penyiar kabar (wartawan) pertama kali di dunia. Kapal Nabi Nuh pun disebut sebagai kantor berita pertama di dunia.

Masa Perkembangan
Kegiatan penyebaran informasi melalui tulis-menulis makin meluas pada masa peradaban Mesir, ketika masyarakatnya menemukan tehnik pembuatan kertas dari serat tumbuhan yang bernama “Phapyrus”.

Pada abad 8 M., tepatnya tahun 911 M, di Cina muncul surat kabar cetak pertama dengan nama “King Pau” atau Tching-pao, artinya "Kabar dari Istana". Tahun 1351 M, Kaisar Quang Soo mengedarkan surat kabar itu secara teratur seminggu sekali.

Penyebaran informasi tertulis maju sangat pesat sejak mesin cetak ditemukan oleh Johan Guttenberg pada 1450. Koran cetakan yang berbentuk seperti sekarang ini muncul pertama kalinya pada 1457 di Nurenberg, Jerman. Salah satu peristiwa besar yang pertama kali diberitakan secara luas di suratkabar adalah pengumuman hasil ekspedisi Christoper Columbus ke Benua Amerika pada 1493.

Pelopor surat kabar sebagai media berita pertama yang bernama “Gazetta” lahir di Venesia, Italia, tahun 1536 M. Saat itu Republik Venesia sedang perang melawan Sultan Sulaiman. Pada awalnya surat kabar ini ditulis tangan dan para pedagang penukar uang di Rialto menulisnya dan menjualnya dengan murah, tapi kemudian surat kabar ini dicetak.

Surat kabar cetak yang pertama kali terbit teratur setiap hari adalah Oxford Gazzete di Inggris tahun 1665 M. Surat kabar ini kemudian berganti nama menjadi London Gazzette dan ketika Henry Muddiman menjadi editornya untuk pertama sekali dia telah menggunakan istilah “Newspaper”.

Di Amerika Serikat ilmu persuratkabaran mulai berkembang sejak tahun 1690 M dengan istilah “Journalism”. Saat itu terbit surat kabar dalam bentuk yang modern, Publick Occurences Both Foreign and Domestick, di Boston yang dimotori oleh Benjamin Harris.

Pada Abad ke-17, di Inggris kaum bangsawan umumnya memiliki penulis-penulis yang membuat berita untuk kepentingan sang bangsawan. Para penulis itu membutuhkan suplai berita. Organisasi pemasok berita (sindikat wartawan atau penulis) bermunculan bersama maraknya jumlah koran yang diterbitkan. Pada saat yang sama koran-koran eksperimental, yang bukan berasal dari kaum bangsawan, mulai pula diterbitkan pada Abad ke-17 itu, terutama di Prancis.

Pada abad ke-17 pula, John Milton memimpin perjuangan kebebasan menyatakan pendapat di Inggris yang terkenal dengan Areopagitica, A Defence of Unlicenced Printing. Sejak saat itu jurnalistik bukan saja menyiarkan berita (to inform), tetapi juga mempengaruhi pemerintah dan masyarakat (to influence).

Di Universitas Bazel, Swiss jurnalistik untuk pertama kali dikaji secara akademis oleh Karl Bucher (1847 – 1930) dan Max Weber (1864 – 1920) dengan nama Zeitungskunde tahun 1884 M. Sedangkan di Amerika mulai dibuka School of Journalism di Columbia University pada tahun 1912 M/1913 M dengan penggagasnya bernama Joseph Pulitzer (1847 - 1911).

Pada Abad ke-18, jurnalisme lebih merupakan bisnis dan alat politik ketimbang sebuah profesi. Komentar-komentar tentang politik, misalnya, sudah bermunculan pada masa ini. Demikian pula ketrampilan desain/perwajahan mulai berkembang dengan kian majunya teknik percetakan.

Pada abad ini juga perkembangan jurnalisme mulai diwarnai perjuangan panjang kebebasan pers antara wartawan dan penguasa. Pers Amerika dan Eropa berhasil menyingkirkan batu-batu sandungan sensorsip pada akhir Abad ke-18 dan memasuki era jurnalisme modern seperti yang kita kenal sekarang.

Perceraian antara jurnalisme dan politik terjadi pada sekitar 1825-an, sehingga wajah jurnalisme sendiri menjadi lebih jelas: independen dan berwibawa. Sejumlah jurnalis yang muncul pada abad itu bahkan lebih berpengaruh ketimbang tokoh-tokoh politik atau pemerintahan. Jadilah jurnalisme sebagai bentuk profesi yang mandiri dan cabang bisnis baru.

Pada pertengahan 1800-an mulai berkembang organisasi kantor berita yang berfungsi mengumpulkan berbagai berita dan tulisan untuk didistribusikan ke berbagai penerbit surat kabar dan majalah. Kantor berita pelopor yang masih beroperasi hingga kini antara lain Associated Press (AS), Reuters (Inggris), dan Agence-France Presse (Prancis).

Tahun 1800-an juga ditandai dengan munculnya istilah Yellow Journalism (jurnalisme kuning), sebuah istilah untuk “pertempuran headline” antara dua koran besar di Kota New York. Satu dimiliki oleh Joseph Pulitzer dan satu lagi dimiliki oleh William Randolph Hearst.

Ciri khas “jurnalisme kuning” adalah pemberitaannya yang bombastis, sensasional, dan pemuatan judul utama yang menarik perhatian publik. Tujuannya hanya satu: meningkatkan penjualan! Namun, jurnalisme kuning tidak bertahan lama, seiring dengan munculnya kesadaran jurnalisme sebagai profesi.

Sebagai catatan, surat kabar generasi pertama di AS awalnya memang partisan, serta dengan mudah menyerang politisi dan presiden, tanpa pemberitaan yang objektif dan berimbang. Namun, para wartawannya kemudian memiliki kesadaran bahwa berita yang mereka tulis untuk publik haruslah memiliki pertanggungjawaban sosial.

Kesadaran akan jurnalisme yang profesional mendorong para wartawan untuk membentuk organisasi profesi mereka sendiri. Organisasi profesi wartawan pertama kali didirikan di Inggris pada 1883, yang diikuti oleh wartawan di negara-negara lain pada masa berikutnya. Kursus-kursus jurnalisme pun mulai banyak diselenggarakan di berbagai universitas, yang kemudian melahirkan konsep-konsep seperti pemberitaan yang tidak bias dan dapat dipertanggungjawabkan, sebagai standar kualitas bagi jurnalisme profesional.

Teknologi Informasi
Kegiatan jurnalisme terkait erat dengan perkembangan teknologi publikasi dan informasi. Pada masa antara tahun 1880-1900, terdapat berbagai kemajuan dalam publikasi jurnalistik. Yang paling menonjol adalah mulai digunakannya mesin cetak cepat, sehingga deadline penulisan berita bisa ditunda hingga malam hari dan mulai munculnya foto di surat kabar.

Pada 1893 untuk pertama kalinya surat-surat kabar di AS menggunakan tinta warna untuk komik dan beberapa bagian di koran edisi Minggu. Pada 1899 mulai digunakan teknologi merekam ke dalam pita, walaupun belum banyak digunakan oleh kalangan jurnalis saat itu.

Pada 1920-an, surat kabar dan majalah mendapatkan pesaing baru dalam pemberitaan, dengan maraknya radio berita. Namun demikian, media cetak tidak sampai kehilangan pembacanya, karena berita yang disiarkan radio lebih singkat dan sifatnya sekilas. Baru pada 1950-an perhatian masyarakat sedikit teralihkan dengan munculnya televisi.

Perkembangan teknologi komputer yang sangat pesat pada era 1970-1980 juga ikut mengubah cara dan proses produksi berita. Selain deadline bisa diundur sepanjang mungkin, proses cetak, copy cetak yang bisa dilakukan secara massif, perwajahan, hingga iklan, dan marketing mengalami perubahan sangat besar dengan penggunaan komputer di industri media massa.

Memasuki era 1990-an, penggunaan teknologi komputer tidak terbatas di ruang redaksi saja. Semakin canggihnya teknologi komputer notebook yang sudah dilengkapi modem dan teknologi wireless, serta akses pengiriman berita teks, foto, dan video melalui internet atau via satelit, telah memudahkan wartawan yang meliput di medan paling sulit sekalipun.

Selain itu, pada era ini juga muncul media jurnalistik multimedia. Perusahaan-perusahaan media raksasa sudah merambah berbagai segmen pasar dan pembaca berita. Tidak hanya bisnis media cetak, radio, dan televisi yang mereka jalankan, tapi juga dunia internet, dengan space iklan yang tak kalah luasnya.

Setiap pengusaha media dan kantor berita juga dituntut untuk juga memiliki media internet ini agar tidak kalah bersaing dan demi menyebarluaskan beritanya ke berbagai kalangan. Setiap media cetak atau elektronik ternama pasti memiliki situs berita di internet, yang updating datanya bisa dalam hitungan menit. Ada juga yang masih menyajikan edisi internetnya sama persis dengan edisi cetak.

Sedangkan pada tahun 2000-an muncul situs-situs pribadi yang juga memuat laporan jurnalistik pemiliknya. Istilah untuk situs pribadi ini adalah weblog dan sering disingkat menjadi blog saja.

Memang tidak semua blog berisikan laporan jurnalistik. Tapi banyak yang memang berisi laporan jurnalistik bermutu. Senior Editor Online Journalism Review, J.D Lasica pernah menulis bahwa blog merupakan salah satu bentuk jurnalisme dan bisa dijadikan sumber untuk berita.*

Referensi:
1. Assegaff, 1982, Jurnalistik Masa Kini: Pengantar Ke Praktek Kewartawanan, Jakarta, Ghalia Indonesia.
2. Muis, A. 1999, Jurnalistik Hukum Komunikasi Massa, Jakarta: PT. Dharu Annutama.
3. Kasman, Suf. 2004, Jurnalisme Universal: Menelusuri Prinsip-Prinsip Da’wah Bi Al-Qalam dalam Al-Qur’an, Jakarta, Penerbit Teraju
4. Romli, Asep Syamsul M. 2005, Jurnalistik Terapan: Pedoman Kewartawanan dan Kepenulisan, Bandung, Batic Press
5. Suhandang, Kustadi. 2004, Pengantar Jurnalistik: Seputar Organisasi, Produk, dan Kode Etik. Bandung, Penerbit Nuansa.
6. Sumadiria, AS Haris. 2005, Jurnalistik Indonesia: Menulis Berita dan Feature Panduan Praktis Jurnalis Profesional, Bandung, Simbiosa Rekatama Media.*

read more...

Wahana Komunikasi Massa

-ilsutrasi/net
Wahana komunikasi massa atau media massa bisa di kelompokkan ke dalam dua jenis yaitu: media massa elektronik dan media massa cetak.
1. Media massa elektronik, yaitu media massa yang menyajikan informasi dengan cara mengirimkan informasi melalui peralatan elektronik. Contohnya adalah Radio, televisi dan internet.
2. Media massa cetak, yaitu segala bentuk media massa yang menyajikan informasi dengan cara mencetak informasi tersebut diatas kertas. Contohnya adalah Koran, tabloit dan majalah.
Berikut adalah gambaran mengenai beberapa wahana komunikasi massa di indonesia. Secara berturut-turut akan dibahas gambaran umum tentang Radio, Televisi dan Media cetak.
a. Radio
Radio merupakan media massa yang memiliki peran penting di indonesia; sebab, radio mampu menjangkau masyarakat pedesaan di berbagai pelosok di negeri ini. Baik pemerintah kolonial maupun pemerintah pasca-kemerdekaan menempatkan radio sebagai media utama dalam melakukan komunikasi massa.
Radio adalah satu satunya media yang memiliki kemampuan untuk menyampaikan isi kandungan programnya secara langsung di hadapan pendengar. Begitu suara di pancarkan, telinga pendengar langsung menangkap dan mencermatinya.
b. Televisi
Selain radio, Televisi (TV) juga memainkan peran penting sebagai sarana informasi masyarakat. Akan tetapi TV mempunyai bebverapa kelemahan di antranya mata pemirsa harus terpaku di layar, dan ketika muncul Gambar dalam urutan yang cepat, otak pemirsa harus menunggu citraan ia yang muncul pada layar..
c. Media cetak
Ada beberapa macam media cetak diantarannya yaitu surat kabar, majalah, tabloit dan lain-lain. Surat kabar merupakan media massa cetak yang paling banyak di baca warga masyarakat di bandingkan media cetak lainnya. Media cetak ini juga mempunyai kelemahan juga di antaranya, yaitu pembaca terlebih dahulu mencerna gambar pada media cetak, kemudian pembaca harus mencerna huruf-huruf yang tertera di halaman media tersebut, sehingga ada tahapan sebelum pengertian di proses oleh otak pembaca

read more...

Pengaruh Budaya Terhadap Lingkungan Kerja

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Perubahan situasi dunia, organisasi menghadapi berbagai tantangan bisa mengadopsi budaya organisasi yang tidak hanya fleksibel tapi juga harus sensitif terhadap perebedaan budaya. Perkembangan jumlah, variasi, kedudukan dan peran organisasi dalam proses transformasi masyarakat menimbulkan beberapa pertanyaan mendasar, apakah budaya yang menjadi landasan sosial tetap mampu berfungsi sebagai kerangka acuan dalam transformasi masyarakat dan membawa manfaat untuk perubahan yang diinginkan.
Semua organisasi mempunyai satu budaya yang bergantung pada kekuatannya. Budaya dapat mempunyai pengaruh yang bermakna pada sikap dan perilaku anggota-anggota organisasi (Robbins : 1996). Orang mulai belajar untuk bergantung dan menaruh harapan pada budaya. Budaya dianggap mampu memberikan stabilitas dan jaminan bagi mereka, karena mereka dapat memahami hal-hal yang sedang terjadi dalam masyarakat mereka dan mengetahui cara menanggapinya. Ada dua perubahan yang dapat dialami orang-orang. Pertama diantaranya perpindahan dari satu tempat ke tempat lain dengan budaya yang lain pula. Kedua adalah perubahan dalam lingkungan mereka sekarang dan belajar menyesuaikan diri dengan kedua situasi itu untuk menghindari kemungkinan timbulnya konsekuensi negatif (Davis & Newstron : 1985).
B. RUMUSAN MASALAH
1. Untuk memahami sejauh mana pengaruh buadaya, lebih dulu memahami pengertiannya?
2. Apa pengaruh budaya dalam lingkungan kerja?
C. TUJUAN
1. Secara teoritis, diharapkan mampu memahami sejauh mana pengaruh budaya terhadap lingkungan kerja.
2. Secara praktis, diharapkan mampu dijadikan acuan dasar dalam menciptakan lingkungan yang kondusif.

BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN BUDAYA
Budaya secara harfiah berasal dari Bahasa Latin yaitu Colere yang memiliki arti mengerjakan tanah, mengolah, memelihara ladang (menurutSoerjanto Poespowardojo 1993). Menurut The American Herritage Dictionary mengartikan kebudayaan adalah sebagai suatu keseluruhan dari pola perilaku yang dikirimkan melalui kehidupan sosial, seniagama, kelembagaan, dan semua hasil kerja dan pemikiran manusia dari suatu kelompok manusia.
Menurut Koentjaraningrat budaya adalah keseluruhan sistem gagasan tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan miliki diri manusia dengan cara belajar.
Budaya Kerja adalah suatu falsafah dengan didasari pandangan hidup sebagai nilai-nilai yang menjadi sifat, kebiasaan dan juga pendorong yang dibudayakan dalam suatu kelompok dan tercermin dalam sikap menjadi perilaku, cita-cita, pendapat, pandangan serta tindakan yang terwujud sebagai kerja. (Sumber : Drs. Gering Supriyadi,MM dan Drs. Tri Guno, LLM )
Budaya kerja memiliki tujuan untuk mengubah sikap dan juga perilaku SDM yang ada agar dapat meningkatkan produktivitas kerja untuk menghadapi berbagai tantangan di masa yang akan datang. Manfaat dari penerapan Budaya Kerja yang baik :
1. Meningkatkan jiwa gotong royong
2. Meningkatkan kebersamaan
3. Saling terbuka satu sama lain
4. Meningkatkan jiwa kekeluargaan
5. Meningkatkan rasa kekeluargaan
6. Membangun komunikasi yang lebih baik
7. Meningkatkan produktivitas kerja
8. Tanggap dengan perkembangan dunia luar, dll.
B. PENGARUH BUDAYA
Sekolah merupakan sebuah organisasi yang tidak bisa lepas dari budaya yang diciptakannya. Sekolah yang berprestasi merupakan dambaan setiap komponen masyarakat, dan menaruh perhatian besar terhadap kuantitas dan kualitas output sekolah yang dihasilkan. Dalam kondisi seperti ini jelas sulit diharapkan untuk mewujudkan sekolah berprestasi, banyak masalah yang diidentifikasi oleh Mukhtar dkk (2003) yang harus dihadapi oleh organisasi sekolah. Pertama adalah guru, dalam hal ini yang memiliki kecerdasan dan intelegensi, emosional spiritual, dan moral dalam mendidik, akan menghadapi kendala dalam melaksanakan tugasnya disebabkan karena kurangnya perhatian sekolah terhadap kesejahteraan guru. Kedua kurangnya fasilitas pengajaran yang mendukung guru melakukan inovasi pada aktivitas pembelajarannya. Ketiga, kurangnya kejelasan tugas-tugas yang diemban, atau mungkin terlalu banyaknya tugas yang diberikan kepadanya, sementara tenaga yang tersedia sangatlah terbatas. Keempat, adalah biaya. Kelima adalah kurang tersedianya sarana fasilitas pendukung seperti tenaga administrasi, laboratorium dan perpustakaan.
Berkaitan dengan terwujudnya sekolah berprestasi, hal itu tidak terlepas dari kinerja guru yang berada di organisasi sekolah tersebut. Kinerja guru pada dasarnya terfokus pada perilaku guru di dalam pekerjaannya. Sedangkan perihal efektivitas kerja guru dapat dilihat sejauh mana kinerja tersebut dapat memberikan pengaruh kepada anak didik. Secara spesifik tujuan kinerja juga mengharuskan para guru membuat keputusan khusus dimana tujuan pembelajaran dinyatakan dengan jelas dalam bnetuk tingkah laku yang kemudian ditransfer kepada peserta didik.
Pada konteks guru sebagai anggota organisasi sekolah akan lebih mudah mencapai efektivitas kerja yang tinggi jika ia mempunyai perilaku dan komitmen. Menyadari bahwa dirinya tidak hanya sebagai anggota dari organisasi sekolah tetapi juga paham terhadap tujuan organsiasi sekolah tersebut. Dengan demikian seorang guru akan dapat memahami sasaran dan kebijaksanaan organisasi yang pada akhirnya dapat berbuat dan bekerja sepenuhnya untuk keberhasilan organisasi sekolah. Apabila seorang individu dapat memahami sasaran dan kebijaksanaan organisasi, dengan kata lain pengembangan budaya organisasi diharapkan dapat menimbulkan komitmen guru untuk tujuan dimaksud.
Peran budaya organisasi sekolah adalah untuk menjaga dan memelihara komitmen sehingga kelangsungan mekanisme dan fungsi yang telah disepakati oleh organisasi dapat merealisasikan tujuan-tujuannya. Budaya organisasi yang kuat akan mempengaruhi setiap perilaku. Hal itu tidak hanya membawa dampak pada keuntungan organisasi sekolah secara umum, namun juga akan berdampak pada perkembangan kemampuan dan efektivitas kerja guru itu sendiri. Nilai-nilai budaya yang ditanamkan pimpinan akan mampu meningkatkan kemauan, kesetiaan, dan kebanggaan serta lebih jauh menciptkaan efektivitas kerja.



BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Sebagai budaya ternyata sangat mempengaruhi lingkungan kerja yang baik. Sehingga perlu perbikan budaya dalam lingkungan.
2. Budaya disisi lain berkembang secara beriringan dengan lingkungan yang kondusif dalam wilayah kerja yang lebih baik.

B. SARAN-SARAN
Apa yang baru anda dapatkan dari makalah ini bukanlah suatu hal yang bisa memberi banyak manfaat selama anda hanya berpedoman pada satu literatur saja. Jadi, untuk mengembangkan potensi anda dalam mengetahui dan memahami suatu disiplin ilmu maka fungsikanlah otak anda dan berpikirlah untuk menemukan apa yang ingin anda ketahui. Dan jangan pernah merasa puas dengan apa yang anda dapatkan telah dapatkan.






REFERENSI

Michigan: Perubahan sosial dan pembangunan. Penerbit Hecca Pub., 20005.

Internet: diambil tanggal 4 November 2009 pada pukul 14.55 Wita. http://Www.Ilmiahpertanian.Blogspot.Com/

Internet: diambil tanggal 4 November 2009 pada pukul 14.55 Wita. http://www.ilmiahekonomi.blogspot.com/

Internet: diambil tanggal 4 November 2009 pada pukul 14.55 Wita. http://www.tesis-ilmiah.blogspot.com/

Internet: diambil tanggal 4 November 2009 pada pukul 14.55 Wita. http://www.tesis-ilmiah.com/

Internet: diambil tanggal 4 November 2009 pada pukul 14.55 Wita. http://www.ilmiahmanajemen.blogspot.com/

Internet: diambil tanggal 4 November 2009 pada pukul 14.55 Wita. http://homework-uin.blogspot.com/2009/07/prinsip-dan-konteks-komunikasi-dalam-al.html

Internet: diambil tanggal 4 November 2009 pada pukul 14.55 Wita. http://www.pdf-search-engine.com/makalah-sosial-budaya-pdf.html
read more...