Showing posts with label Features. Show all posts
Showing posts with label Features. Show all posts

Saturday, February 27, 2016

Mengenal Sekilas Tari Pajaga LiLi

Sampul Media Duta. 

Pesan Kebersamaan, Dipakai untuk Suka Cita


Masyarakat Tana Luwu, memiliki banyak budaya, salah satunya adalah tari pajaga lili. Tari ini tengah diperjuangkan untuk mendapat pengakuan nasional sebagai budaya Tana Luwu.

Laporan: Ilham Syam

Kedatuan Luwu, merupakan salah satu kerajaan tertua di nusantara. Sebuah kerajaan yang dulunya memiliki wilayah Toraja dan Luwu Raya (Sulawesi Selatan), Kolaka (Sulawesi Tenggara), dan sampai Poso (Sulawesi Tengah).

Wilayah asal sureq terpanjang dunia, I La Galigo, ini punya banyak budaya. Kerajaan yang membawahi 12 anak suku dan memiliki 9 bahasa ini, juga sangat kental dengan budaya tiap-tiap suku atau wilayah. Budaya yang masih sering ditampilkan dalam kegiatan-kegiatan di Tana Luwu ini adalah tari jaga lili.

Dari penuturan Maddika Bua, Andi Syaifuddin Kaddiraja, tari pajaga lili pada hakekatnya adalah tarian milik rakyat. Tarian ini dimainkan oleh pemuda dan pemudi.

Tarian yang sudah berabad-abad ini juga merupakan salah satu tarian tertua di Tana Luwu. Tarian ini sudah ada sejak era Sawerigading.

"Tari pajaga lili ini sudah ada sejak era Sarewigading. Tari pajaga lili berarti milik masyarakat. Tari pajaga lili biasa dimainkan rakyat biasa. Tarian ini ditarikan rakyat Luwu, baik ketika sebelum berperang, sesudah kembali dari perang, dan pada acara pesta panen," jelas Amddika Bua.

Menurutnya, tarian ini dipersembahkan untuk rakyat. Tarian ini digunakan untuk penyambutan dan senda gurau para pemuda dan rakyat Luwu pada zaman lampau.

Mantan anggota DPRD Luwu ini menjelaskan, tarian jaga lili ini hanya berkonsep satu lantai, dengan bentuk melingkar yang gerakannya dimulai dari kanan ke kiri. Gerakan tarian jaga lili ini terkonsep dari gerakan alam, yang memilki makna ajakan kebersamaan.

"Konsep gerakan tarian pajaga lili ini lahir dari gerakan alam. Makna keseluruhan tarian ini adalah ajakan untuk besatu," ungkap Andi Syaifuddin.

Maddika Bua juga menjelaskan, tarian pajaga lili ini masuk dalam tarian hiburan. Jadi tarian ini semata-mata hanya untuk hiburan rakyat Luwu pada masanya.

"Tarian pajaga lili ini tersebar di beberapa wilayah di Tana Luwu, seperti Rongkong, Bastem, Pamona, Ulusalu, dan Padoe. Tarian pajaga lili ini di setiap daerah, memiliki prinsip yang sama. Cuma yang membedakan karakter wilayah masing-masing," jelasnya. (rmd/il/up)


read more...

Tuesday, November 11, 2014

Catatan Perjalanan Direktur Malindo di Sulbar (4-selesai); Jokowi akan Kirim 2.000 Orang ke Malindo


Catatan Perjalanan Direktur Malindo di Sulbar (4-selesai)
Jokowi akan Kirim 2.000 Orang ke Malindo

Program agroindustri pangan yang dikembangkan di Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) mendapat perhatian Presiden Jokowi. Lembaga Pengembangan Teknologi Tepat Guna (LPTTG) Masyarakat Lokal Indonesia (Malindo), sebagai mitra Pemprov Sulbar dalam pengembangan tersebut, dipercaya untuk mengembangkan program agroindustri pangan ini di Indonesia.

Laporan: Abd Rauf

Sebagai tindak lanjut dari hasil ekspose, Presiden Jokowi usai mendengar penjelasan Direktur Malindo H Sakaruddin, langsung memerintahkan menterinya untuk merespon tawaran pengembangan program tersebut.
Salah satu bentuk respon tersebut, adalah akan mengirim sekitar 2.000 orang, utamanya dari kalangan masyarakat yang tergolong miskin, dari 10 kabupaten/kota se Indonesia untuk dilatih agroindustri pangan di LPTTG Malindo, Luwu Utara.
Selain itu,
"Pak Presiden berjanji akan mengirim 2.000 orang dari 10 kabupaten/kota se Indonesia, ke Malindo. Ini sebagai salah satu inovasi kompensasi subsidi BBM. Mereka akan mengirim atas nama kementerian," ujar Sakaruddin.
Selain itu, presiden juga telah memerintahkan kementerian teknis terkait, untuk mendukung pemasaran produk agroindustri pangan ini, sampai pada pasar ekspor.
Untuk saat ini, produk Sulbar, telah dieskpor ke beberapa negara, seperti ke China, Malaysia, dan Afganistan, dalam bentuk tortila setengah jadi. Harganya antara 6-10 dolar per kg.
"Khusus di Sulbar, telah ada 800 orang telah dilatih di Malindo, menyusul 1.500 orang nanti. Gubernur telah membuat rakyat terharu. Kita ingin secara nasional merasakan ini," tandas kandidat bupati Lutra ini. (**)
read more...

Monday, November 10, 2014

Catatan Perjalanan Direktur Malindo di Sulbar (3); Presiden Tertarik, Sakaruddin Dipanggil ke Rapat Kabinet


Letihnya 7 jam menunggu untuk 7 menit bertemu Presiden Jokowi terbayar dengan respon yang diperlihatkan presiden. Ekspose Direktur LPTTG Malindo, H Sakaruddin, berhasil membuat Presiden Jokowi tertarik. Salah satu bukti ketertarikannya, setelah eskpose, Presiden Jokowi langsung memanggil Sakaruddin untuk hadir di rapat kabinet kerja di Jakarta nanti.

Laporan : Abd Rauf

Mendengar penjelasan Sakaruddin terkait program Agroindustri Pangan (AIP) di Sulawesi Barat (Sulbar), Presiden Jokowi terlihat manggut-manggut. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu tampak tertarik dengan konsep yang ditawarkan Sakaruddin.
Setelah mendengar penjelasan program AIP di Sulbar dan beberapa daerah yang telah bekerjasama dengan Lembaga Pengembangan Teknologi Tepat Guna (LPTTG) Masyarakat Lokal Indonesia (Malindo) yang berkedudukan di Luwu Utara, Sulsel, Presiden Jokowi langsung memanggil Sakaruddin untuk hadir di rapat kabinet di Jakarta.
"Saya kira ini bagus sekali. Saya tunggu di rapat kabinet kerja di Jakarta nanti," ujar Jokowi, usai ekspose, kepada Sakaruddin, Kamis 6 November 2014, di ruang VVIP Bandara Mamuju.
Sakaruddin mengaku, sangat puas dengan respon Presiden Jokowi. Ia mengaku akan berusaha untuk memanfaatkan kesempatan itu, guna daerah yang telah menjadi mitra Malindo selama ini, utamanya Pemprov Sulbar.
Kandidat Bupati Luwu Utara yang disebut-sebut kuat ini, mengaku, jika alasan dirinya diundang untuk eskpose di Sulbar karana Malindo sudah 11 tahun bergerak di bidang agroindustri di bidang pangan.
Selain itu, Sakaruddin menjelaskan, saat ini Sulbar telah mempunyai produk agroindustri, yang diberi nama Tortila To Mandar, yang dibuat dari bahan baku, jagung, rumput laut, ikan, kelapa, dan pisang (Jaripas).
"Lima macam bahan baku ini sangat mudah didapati. Dengan program ini, telah mampu menyerap tenaga kerja sekitar 15 ribu orang, yang terdiri dari penghasil bahan baku, pengrajin, dan pedagang," tandasnya. (*/bersambung)
read more...

Sunday, November 09, 2014

Catatan Perjalanan Direktur Malindo di Sulbar (2); Ekspose 7 Menit, Hasilkan Rp7 M



Setelah protokoler kepresiden memberikan waktu 10 menit untuk ekspose Progam Agroindustri Pangan di depan Presiden Jokowi, Direktur Malindo H Sakaruddin merasa lega dan bertekad memanfaatkan waktu sebaik mungkin.

Laporan: Abd Rauf

Bertemu dengan presiden terbilang sangat susah. Harus sabar menunggu dan menyesuaikan jadwal presiden yang sangat padat.
Rombongan Malindo, yang mendapat waktu bertemu khusus Presiden Jokowi, harus menunggu sekitar 7 jam.
Mulai dari Kamis 6 November pagi, sekira pukul 08:00 wita, tiba di tempat ekspose, ruang VVIP Bandara Mamuju, menunggu sampai sekira pukul 15:00 wita, baru bisa bertemu dengan presiden.
Waktu menunggu 7 jam hanya untuk waktu 7 menit bertemu untuk ekspose program agroindustri pangan di Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar).
Namun waktu 7 menit tersebut berhasil dimanfaatkan Sakaruddin untuk meyakinkan Presiden Jokowi, bahwa program agroindustri tersebut benar-benar bagus dan meyakinkan untuk mengembangkan daerah, serta menyejahterahkan masyarakatnya.
Setelah mendengar presentase Sakaruddin, yang juga merupakan tim pakar Pemprov Sulbar, Presiden Jokowi langsung membantu sekitar alat unit finishing agroindustri sebanyak 20 paket seharga Rp350 juta per paket.
Waktu 7 menit tersebut berhasil mendapatkan bantuan sekitar Rp7 miliar untuk Pemprov Sulbar, yang akan diberikan lewat APBN.
"Dengan adanya bantuan tersebut, maka akan bisa meningkatkan produksi Tortila To Mandar, yang merupakan program agroindustri pangan Pemprov Sulbar. Dengan demikian, maka akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, karena dengan adanya alat tersebut, maka bisa menaikkan nilai tambah dari bahan baku diatas 200 persen," ujar Sakaruddin. (*/bersambung)
read more...

Saturday, November 08, 2014

Catatan Perjalanan Direktur Malindo di Sulbar (1); Hampir Batal, Akhirnya Diberi Waktu Ekspose 10 Menit


Lelahnya perjalanan sekitar 10 jam dari Palopo ke Mamuju, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) dengan mengendarai Toyota Alphard, terbayar setelah bertemu khusus dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Laporan: Abd Rauf

Selasa 4 November 2014, sekira pukul 16:00 wita, rombongan berangkat dari Palopo menuju ke Mamuju. Dengan lanju kendaraan diatas 100 km/jam, rombongan Lembaga Pelatihan Teknologi Tepa Guna (LPTTG) Malindo, tiba Rabu 5 November 2014, sekira pukul 01:00 wita.
Rombongan tiba dan langsung menginap di Hotel Srikandi, tempat yang memang disiapkan khusus Gubernur Sulbar, Drs Anwar Adnan Saleh, untuk rombongan Malindo.
Direktur LPTTG Malindo, H Sakaruddin, dipanggil khusus ke Mamuju, untuk melakukan ekspose di depan Presiden Jokowi, pada kunjungan kerjanya ke Mamuju, Kamis 6 November 2014.
Sakaruddin diminta ekspose oleh Gubernur Sulbar, karena selain telah menjadi mitra Pemprov Sulbar, Sakaruddin juga sebagai tim pakar Pemprov Sulbar.
Ekspose ini terkait Program Pengembangan Agroindustri Pangan di Sulbar. "Kita diterima di Sulbar karena, dari lima daerah di Indonesia yang mengembangkan agroindustri, Sulbar salah satu provinsi yang mengandalkan agroindustri pangan, dan termasuk daerah paling eksis di Indonesia di bidang agro Industri," ujar Sakaruddin.
Sesuai jadwal yang disampaikan Gubernur Sulbar, Sakaruddin akan ekspose Rabu 5 November malam, namun karena kunjungan presiden molor sampai Kamis 6 November, maka jadwal ekspose pun harus molor.
Agenda ekspose di depan Presiden Jokowi ini hampir batal. Pasalnya, pihak protokoler keprisedenan mengaku waktu presiden sangat sedikit di Sulbar. Hanya meninjau tiga titik, setelah itu langsung terbang ke Kendari.
Kamis pagi, presiden bersama menteri dan rombongan tiba di Mamuju dengan memakai pesawat kepresidenan. Sorenya, langsung beranjak ke Kendari dengan agenda blusukannya.
Karena padatnya, protokoler mengaku presiden tidak cukup waktu untuk mendengarkan ekspose soal agroindustri pangan tersebut. Atas perjuangan dan karena keinginan gubernur Sulbar, maka akhirnya diberi waktu 10 menit bertemu, di ruang VVIP Bandara Mamuju, sebelum beranjak ke Kendari.
Kalau sebelum berangkat ke Mamuju dijanji bisa bicara 15 menit di depan presiden, namun pada kenyataannya, hanya diberi waktu 10 menit. Itupun saat ekspose, berlangsung hanya sekira 7 menit. Namun waktu bicara 7 menit tersebut berhasil dimanfaatkan dengan baik oleh Sakaruddin. (*/bersambung)
read more...

Tuesday, October 14, 2014

Konflik Dipicu Penegakan Hukum yang Lemah; Prof Lauddin: Pelaku Harus Ditangkap dan Diadili

Prof Lauddin Marsuni
Konflik Antar Warga di Lutra Dipicu Penegakan Hukum yang Lemah
* Prof Lauddin: Pelaku Harus Ditangkap dan Diadili

Bentrok antar warga di dua kampung, yaitu Kopi-kopi dan Karangkarangan, di Kecamatan Bonebone Kabupaten Luwu Utara, Sabtu 11 Oktober 2014 malam, mengakibatkan sedikitnya 17 rumah dibakar, kandang ternak, dan juga mobil. Diantaranya yang terbakar tersebut adalah rumah mantan Ketua DPRD Kabupaten Luwu Utara.

Melihat hal tersebut, Pakar Hukum Tata Negara Universitas Andi Djemma (Unanda) Palopo, yang juga tokoh asal Luwu Utara, Prof Dr H Lauddin Marsuni SH MH, mengungkapkan, bentrok antar warga di Kabupaten Luwu Utara, sudah dapat dikatakan sebagai kegiatan rutin, atau peristiwa biasa.

"Terlepas dari apa yang menjadi penyebab bentrok antar warga tersebut, saya selaku pakar hukum menilai bahwa, suatu perbuatan yang berulang, baik bentuk, berulang sifat, dan berulang akibat hukumnya, adalah perbuatan pidana, dan penegak hukum, terutama kepolisian wajib bertindak tegas," tandasnya, melalui rilisnya, Minggu 12 Oktober 2014.

Ketegasan aparat keamanan ini dimaksudkan agar pelaku bentrok antar warga tersebut, tidak mengulangi perbuatannya, dan orang lain tidak melakukan perbuatan serupa. Selanjutnya, dimaksudkan agar warga di sekitar lokasi kejadian bentrok antar warga terlindungi, terayomi, dan terlayani kepentingan hukumnya, yakni ketertiban, keamanan, dan kenyamanan beraktivitas.

"Penegakan hukum bagi pelaku bentrok antar warga adalah merupakan pembelajaran bagi masyarakat dalam kerangka menghargai dan menghormati hak asasi manusia, hak privat warga dan hak sipil warga negara," jelasnya.

Bentrok antar warga yang berulang, kata dia, walau lokasi atau tempat yang berbeda, baik dalam kabupaten yang sama, dan dalam provinsi yang sama, dapat dianggap sebagai kegagalan oleh penyelenggara kekuasaan negara, yaitu pemerintah daerah dan kepolisian.

"Perdamaian yang ditempuh oleh kepolisian atas pelaku bentrok antar warga, sesungguhnya suatu cara penegakan hukum yang melanggar hukum," tegasnya.

Dijelaskannya, pelanggaran hukum yang dimaksud adalah, kerugian yang timbul akibat bentrokan bukan hanya menimpa pelaku bentrok, akan terapi masyarakat luas, sedangkan perdamaian hanya diikuti oleh para pelaku bentrokan.

"Selanjutnya, pelanggaran hukum yang lain, adalah bentrokan antar warga yang menimbulkan kerugian harta benda, hilang nyawa seseorang, dan hilang ketenteraman masyarakat adalah perbuatan atau tindak pidana umum, bukan delik aduan, sehingga penyelesaiannya harus ditempuh melalui proses hukum, atau proses peradilan, caranya pelaku ditangkap, pelaku ditahan, pelaku diadili, dan pelaku dipenjarakan," tandas Direktur Lauddin Institut ini.

Menurutnya, karena pemerintah daerah dan kepolisian gagal dalam memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat, itu juga berarti bahwa kepolisian melanggar undang-undang tentang kepolisian.

"Bagi masyarakat yang mengalami kerugian, baik kerugian material maupun kerugian inmateril (rasa aman), dapat mengajukan tuntutan ganti kerugian kepada pemerintah daerah dan atau kepolisian, melalui upaya hukum yang dikenal dengan istilah 'callssic action," imbuhnya.

Pusat studi hukum konstitusi, pusat studi hukum dan pemerintahan atau Lembaga Bantuan Hukum Fakultas Hukum Universitas Andi Djemma Palopo, secara institusi dituntut untuk memberikan bantuan, dukungan dan pendampingan kepada warga masyarakat di Tana Luwu, dalam rangka mencari keadilan, terutama bagi warga masyarakat yang mengalami kerugian akibat bentrok antar warga tersebut.

"Selaku tokoh masyarakat dan pakar hukum, saya menghimbau kepada pemerintah daerah dan kepolisian, agar tidak segan minta bantuan kepada TNI dalam rangka memberantas, dan mengakhiri bentrok antar warga. Kedua, aparat kepolisian diminta untuk menangkap, menahan dan melakukan proses hukum bagi pelaku bentrok antar warga tersebut.

"Kepada pihak kejaksaan, kiranya bisa pro aktif membangun komunikasi dengan penyidik kepolisian untuk melakukan penuntutan bagi pelaku bentrokan. Bagi lembaga peradilan dan hakim, kiranya dapat bersinerga dengan kepolisian dan kejaksaan untuk memberikan sanksi kepada pelaku bentrok antar warga, yang setimpal dengan kerugian masyarakat," harapnya.

Bagi tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, lanjut Lauddin, kiranya dapat membantu penegak hukum untuk mengungkap latar belakang terjadinya bentrok antar warg, mengungkap identitas pelaku bentrok antar warga, dan mendukung penegakan hukum oleh penegak hukum.
"Kata kuncinya adalah, tangkap, tahan, adili, dan penjarakan pelaku bentrokan yang telah menimbulkan kerugian bagi masyarakat umum," tegas mantan rektor Unanda Palopo ini. (*)

read more...

Sunday, October 12, 2014

Tawaran Solusi Konflik Antar Kelompok di Lutra; Polisi Harus Tegas, Ini Bukti Kegagalan Bupati

* Legislator Hanura Prihatin Konflik Antar Kelompok
Polisi Harus Tegas, Bukti Kegagalan Bupati

Wahyuddin M Nur

Konflik antar warga di wilayah Luwu Raya, khususnya di Luwu Utara (Lutra), kian hari kian memprihatinkan. Ada sedikitnya 14 titik yang sering bentrok. Hampir setiap hari terjadi tawuran atau konflik antar kelompok. Konflik antar warga ini sudah berlangsung lama. Namun belakangan ini, semakin marak terjadi dan memprihatinkan. Namun sayangnya, belum ada solusi yang dapat meredam konflik tersebut.
Melihat kondisi tersebut, yang saat ini terus membara di sejumlah titik di Luwu Utara, anggota DPRD Provinsi Sulsel, Wahyuddin M Nur, mengaku prihatin dengan masalah yang ada di daerah pemilihannya (dapil).
Ia mengaku, hal ini harus mendapat perhatian serius dari semua kalangan, khususnya dari pihak aparat keamanan dan pemerintah kabupaten (Pemkab) Lutra.
Menurutnya, solusi yang paling sakti untuk meredam konflik adalah ketegasan penegak hukum dalam menjalankan proses hukum yang ada.
"Polisi harus tegas dalam menjalankan proses hukum kepada semua pelaku bentrok atau tawuran. Jangan melihat siapa dia. Meski dia keluarga pejabat atau siapapun itu, harus ditindak tegas. Harus menjalani proses hukum sampai ke pengadilan," ujarnya.
Sebab, lanjut legislator Partai Hanura ini, jika ini diproses sesuai dengan hukum tanpa ada kenal kompromi, maka konflik ini akan terkikis. Sebab para pelakunya sudah diamankan.
"Saat ini, kalau Kapolres mengaku telah melakukan tindakan tegas dengan perintah tembak ditempat, pertanyaan sekarang adalah sudah berapa pelaku bentrok ini diproses hukum sampai ke pengadilan," tandasnya.
Mantan anggota DPRD Palopo ini mengaku, jika semua pelaku bentrok ini, terutama para provokatornya, harusnya ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Sebab ini tidak boleh dibiarkan terus terjadi. Bentrok ini berdampak kepada aktifitas masyarakat menjadi terganggu, utamanya jika tawuran terjadi di jalan poros.
Ini berdampak besar bukan hanya terhadap perekonomian, tapi punya efek domino atau multiplier effect.
Untuk itu, lanjut ketua DPC Partai Hanura Palopo ini, bagi Pemkab Lutra harus memberikan perhatian serius. Maraknya konflik antar kelompok yang berujung tawuran ini, juga menjadi bukti Pemkab, utamanya bupati, gagal memimpin daerahnya. Sebab tidak mampu memberikan kedamaian dan ketentraman kepada masyarakatnya.
"Saya rasa, ini adalah bagian dari kegagalan bupati. Jadi saya berpendapat, jika hal ini terus menerus berlanjut, bupati tidak pantas lagi maju di Pilkada Lutra selanjutnya," tandasnya.
Mengenai penyebab dari maraknya bentrok antar kelompok ini, Wahyuddin mengaku jika hal itu belum jelas. Masih samar. Masih perlu pengkajian untuk mencari masalah utamanya.
"Masih perlu kita kaji, apakah karena persoalan banyaknya pemuda yang menganggur, atau karena masalah miras, dan atau sebab lain," ujarnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Kapolres Lutra, AKBP Hery Marwanto SH, mengaku telah melakukan berbagai upaya untuk meredam konflik di Lutra. Namun hingga kini belum juga redam. Menurutnya, hal ini sudah menjadi culture masyarakat. Sehingga sangat sulit diberantas.
Sementara Bupati Lutra Arifin Junaidi, pernah menegaskan jika camat dan lurah yang daerahnya tak bisa meredam konflik, diancam akan dicopot dari jabatannya. Sementara bagi kades akan ditinjau ulang. Ia juga sudah merasa gerah akan maraknya bentrok di wilayahnya. Arjuna juga telah meminta kepada polisi agar pelaku bentrok ditembak ditempat saja.
Diantara konflik di Luwu Utara adalah antara, warga Desa Pongko, Luwu dengan warga Desa Pompaniki, Lutra. Desa Buangi/Tarue dengan Warga Trapedo Jaya/Salulaiya, di Kecamatan Sabbang.
Antara Warga Desa Salulemo/Padang dengan Warga Desa Baebunta/Kariango, di Kecamatan Baebunta. Dan masih banyak lagi titik atau lokasi bentrok yang sering terjadi. (*)
read more...

Saturday, October 11, 2014

Upaya Meredam Konflik Antar Kampung di Lutra; Berbagai Cara Telah Dilakukan, Kapolres Perintahkan Tembak Ditempat

* Upaya Meredam Konflik Antar Kampung
Berbagai Cara Telah Dilakukan, Kapolres Perintahkan Tembak Ditempat



Kapolres Lutra, AKBP Hery Marwanto

Konflik antar kampung dan antar kelompok pemuda di Luwu Utara bagai benang kusut yang sulit terurai. Konflik seakan menjadi kebutuhan di beberapa titik di Luwu Utara. Hampir setiap saat, terjadi tawuran antar kelompok pemuda terdengar. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meredam konflik. Namun sampai saat ini masih tetap saja terjadi.

Liputan: Abd Rauf

Kapolres Luwu Utara, AKBP Hery Marwanto SH, saat ditemui di Mapolres Palopo, Senin 22 September 2014, menceritakan upayanya dalam meredam konflik antar kelompok pemuda di Lutra.
Ia mengaku, pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk meredam konflik. Namun karena menurutnya, hal itu sudah menjadi culture atau telah mebudaya, maka hal itu sangatlah sulit untuk diredam.
"Kalau mau diceritakan, upaya kami untuk meredam konflik antar warga di Lutra, sudah sangat banyak. Berbagai upaya telah kami lakukan. Mulai dari melakukan tudang sipulung atau mabbulo sibatang, sampai pada merangkul tokoh adat dan tokoh pemuda," ujarnya.
Saat ini, kata dia, pihaknya telah membuatkan surat pernyataan warga atau para orangtua di wilayah yang sering terjadi bentrok, tentang kesiapannya bersama-sama meredam konflik. Jika tidak, maka siap ditindak tegas.
"Pasca penandatanganan surat pernyataan itu, tetap saja terjadi bentrok. Namun saat itu, kami langsung memburu mereka. Sebab perintah saya, jika perlu, silahkan tembak pelaku bentrok. Dengan catatan harus sesuai dengan protap. Pelaku yang diburu tersebut sampai saat ini belum kembali," kata dia.
Kalau persoalan penindakan pelaku, sudah ada beberapa pelaku yang telah ditindak. Namun demikian, pihaknya mengaku, dalam penegakan hukum, jika masih bisa diselesaikan di tingkat desa, masih mau damai dengan aturan yang di desa, hukum adat, maka masih diserahkan penyelesainnya kepada para pemangku di desa.
"Kalau memang sudah tidak bisa diselesaikan, baru bawa ke kami untuk diproses secara hukum. Namun bagi pelaku bentrok, saat ini akan kami tindak tegas. Tindak tegas itu sudah berarti bisa tembak ditempat, atau penindakan tegas lainnya," tandasnya.
Hery mengaku, persoalan bentrok di Lutra tersebut sudah seperti membudaya. Sehingga berbagai upaya yang dilakukannya masih tetap belum mampan. "Makanya, kalau ada yang mendesak saya untuk menyelesaikan bentrok, saya maunya berikan kami solusi bagaimana mengatasi konflik ini. Sebab berbagai upaya telah kami lakukan, namun belum juga mampan," ujarnya. (*)
read more...

Friday, October 10, 2014

Tawaran Solusi Atasi Bentrok Antar Kelompok di Lutra; Prof Lauddin: Polisi Harus Tegas

* Tawaran Solusi Atasi Bentrok Antar Kelompok di Lutra

Prof Dr H Lauddin Marsuni SH MH

Prof Lauddin: Polisi Harus Tegas

Konflik yang berujung bentrokan fisik antar kelompok pemuda di Luwu Utara (Lutra) selalu terjadi. Hampir setiap pekan ada bentrok antar kelompok pemuda di dua kampung di beberapa kampung.
Penyebab bentrok atau tawuran tersebut juga masih tidak jelas. Beragam spekulasi yang timbul setelah kejadian. Namun seringkali pemicu dari konflik ini sebenarnya hanyalah hal sepele.
Tokoh masyarakat asal Lutra, yang juga guru besar hukum tata negara Universitas Andi Djemma (Unanda) Palopo, Prof Dr H Lauddin Marsuni MH, menawarkan salah satu solusinya untuk mengatasi tawuran antar kelompok yang sering terjadi.
Menurutnya, solusi yang paling manjur adalah ketegasan dari aparat kepolisian dalam menindak semua yang terlibat dalam setiap peristiwa bentrok tersebut.
"Saya kira, ketegasan polisi yang bisa menjadi solusi utama. Penegakan hukum harus dijalankan. Tangkap dan penjarakan tokoh atau provokator yang terlibat. Jika ini dilakukan, maka akan takut masyarakat lain untuk berulah seperti itu lagi," tandasnya.
Mantan rektor Unanda ini mengungkapkan, jika semua yang ditemukan terlibat diproses sesuai dengan hukum yang ada, maka yang lain akan berfikir. "Apalagi kalau ada pelajar atau mahasiswa yang terlibat, maka mereka akan berfikir seribu kali, karena masa depannya akan berantakan jika sudah dipidana," ujarnya.
Calon anggota BPK RI ini mengambil pelajaran dari kasus yang pernah terjadi awal terbentuknya Kota Palopo. Ia mengungkapkan, jika dulu banyak terjadi bentrok di sejumlah tempat di Palopo. Namun setelah yang terlibat ditindak tegas, maka berangsur pulih.
"Kalau memang ada ditangkap dan ada yang ingin membebaskan, bisa saja. Tapi harus ada yang menjadi jaminan dan bertanggungjawab untuk membina mereka agar jangan sampai terlibat lagi," sebutnya.
Untuk pemerintah, pendiri Lauddin Institute ini menawarkan solusi agar pemerintah memberikan sosialisasi kepada masyarakat. Selain itu, pemerintah harus memberikan pelatihan kepada para pemuda yang ada untuk diberikan kesibukan yang bermanfaat.
"Mereka ini kebanyakan adalah orang yang pekerjaannya tidak jelas. Berikan mereka pelatihan. Masukkan mereka ke balai pelatihan. Jika mereka pintar merakit papporo, latih dia merakit mesin. Sehingga ini bisa bermanfaat. Arahkan yang produktif," sarannya.
Dikatakannya, kalau hanya perjanjian perdamaian di atas kertas, maka kertas akan habis dipakai, namun bentrok tetap akan terjadi. "Jadi kalau menurut saya, harus memang pemerintah memberikan pembinaan khusus kepada para pemuda yang diketahui selalu telibat. Sebab jika hanya surat perdamaian, maka akan habis kertas dipakai. Tidak ada gunanya. Perlu memang menjadi perhatian serius pemerintah," katanya.
Ia mengatakan, jika bentrok ini sebenarnya hanya faktor kenakalan remaja. Minuman keras atau semacamnya, atau obat daftar, bisa menjadi pemicu. Sebab ini rata-rata malam kejadiannya. Untuk itu, pemerintah harus mengawasi hal ini.
Sebelumnya, Kapolres Lutra, AKBP Hery Marwanto, menegaskan jika pihaknya tidak akan lagi mentolerir siapapun pelaku yang terlibat, maka akan ditindak tegas. "Kami tidak lagi akan mentolerir siapapun yang tertangkap dan terindikasi kuat terlibat dalam perkelahian kelompok ini," tegas Kapolres. (*)
read more...

Sunday, July 06, 2014

Toko Raja Oleh-oleh Palopo; Panen Saat Musim Mudik

Toko Raja Oleh-oleh Palopo

Oleh-oleh sepertinya menjadi menu wajib bagi setiap orang yang akan mudik. Hal inilah membuat toko yang menyediakan oleh-oleh khas Palopo panen pembeli saat musim mudik tiba. Seperti Toko Raja Oleh-oleh yang ada di Jalan Rambutan Kota Palopo.

Laporan: Resky Nur Amaliah Muchlis

Toko oleh-oleh yang terletak tepat di depan perwakilan PO Bintang Prima dan beberapa kantor perwakilan bus angkutan kota dalam provinsi ini menyiapkan beragam oleh-oleh khas Palopo. Mulai dari bagea, souvenir, sampai baju yang berciri khas Palopo dan Tana Luwu.
"Keuntungan penjualan dari oleh-oleh khas ini akan sangat terasa saat musim mudik tiba. Banyak orang yang mau pulang kampung, pasti membawa oleh-oleh untuk keluarganya. Salah satu yang paling banyak laku adalah kue khas Palopo yang terbuat dari sagu, yakni bagea," ujar owner Raja Oleh-oleh Palopo, Jumat 4 Juli 2014.
Untuk awal bulan suci Ramadan ini, omset penjualan toko oleh-oleh ini cenderung berkurang dibandingkan dua pekan lalu, saat menjelang Ramadan tiba. Hal itu dikarenakan masyarakat jarang bepergian, sebab saat ini dalam suasana bulan Ramadan.
"Diperkirakan nanti akan kembali ramai saat hendak lebaran tiba," tandasnya.
Ia mengungkapkan, omset yang didapatkan pada hari pertama Ramadan cenderung berkurang dari dua pekan menjelang Ramadan.
"Berbeda saat awal dua pekan menjelang Ramadan, masyarakat berbondong-bondong bepergian, sehingga mereka membeli kenang-kenangan atau oleh-oleh khas Palopo," ujarnya.
Ditambahkannya, barang-barang banyak diminati masyarakat pada dua pekan menjelang Ramadan, ialah oleh-oleh khas Palopo, berupa bagea', roti, dan baju kaos khas Palopo, utamanya yang bertuliskan Palopo Kota Idaman.
Pada awal berdirinya Toko Raja Oleh-oleh ini sekitar dua tahun lalu, sampai waktu menjelang bulan Ramadan lalu, sangat banyak diminati masyarakat yang ingin mudik, disebabkan terdapat beberapa makanan dan baju yang sulit mereka dapatkan di daerah lain.
Keberhasilannya membangun Toko Raja Oleh-oleh ini juga ditunjang dengan pelatihan kewirausahaan yang telah diikutinya di Bandung sekitar tiga pekan lalu. Sehingga pelatihan itu membuat keterampilan dan kemampuan pemilik toko menjadi lebih berkembang dari sebelumnya.
"Saya mengucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada bapak Wali Kota Palopo dan Kadis Koperindag atas kepercayaannya memberikan pelatihan demi pengembangan usaha yang dimiliknya," ujarnya. (*)
read more...

Friday, July 04, 2014

Melirik Pedagang Buah Musiman di Bulan Ramadan; Disuplai dari Luar, Raih Keuntungan Lumayan

Penjual buah di PNP

Seperti tahun-tahun sebelumnya, bulan suci Ramadan selalu diramaikan oleh para pedagang musiman. Mereka menjamur di sekitaran pasar dan pinggir jalan yang ramai dilewati masyarakat. Keutungan para pedagang ini pun termasuk menggiurkan.

Laporan: Resky Nur Amalia Muchlis

Para pedagang ini tampak terlihat menghiasi sekitaran Pusat Niaga Palopo (PNP), Pasar Tradisional Andi Tadda, dan di pinggir jalan. Dagangan pun beragam yang ditawarkan. Seperti macam-macam buah, jualan takjil, dan pakaian muslim.
Khusus untuk penjual buah musiman, yang banyak adalah buah kelapa, kurma, dan pepaya. Semua buah ini kebanyakan didatangkan dari luar Kota Palopo. Untuk kelapa muda, banyak didatangkan dari Padangsappa, untuk buah pepaya ada yang didatangkan dari Belopa. Sementara untuk kurma, diambil dari Pulau Jawa.
Beragam buah ini dijajakan untuk digunakan masyarakat santapan saat berbuka puasa. Para pedagang ini muncul saat bulan Ramadan.
Salah seorang pedagang buah kelapa yang mangkal di Jalan Mangga, Samsuddin, Rabu 2 Juli 2014, mengatakan, buah kelapan yang dia dagangkan diambil dari Padangsappa. Setiap harinya laku sekitar 60 buah per hari.
Samsuddin menambahkan, buah kelapanya itu dijual seharga Rp5 ribu per biji, dan keuntungan yang diraih pun termasuk menggiukan, sampai sekitar Rp70 ribu per hari.
Sementara seorang pedagang kurma, Umi, mengatakan, kurma dagangannya disuplai dari Pulau Jawa, dengan dijual seharga Rp50 ribu per kilonya. "Kalau masalah keuntungan, yah lumayan," ujarnya.
Pedagang musiman lainnya, yang menjual buah pepaya, Murni, yang menjajakan dagannya di Jalan Mangga, mengatakan, buah pepaya miliknya berasal dari Kota Belopa. "Lumayan per hari laku sekitar 5-10 biji perhari. Keuntungannya bisa sampai Rp50 ribu," tandasnya. (*)
read more...

Friday, June 13, 2014

Mengintip Kelihaian Sepesialis Curnik Tangakapan Kapolres; Berbekal 'Baca-baca', Sudah 3 Kali Kabur dari Sel

Sudarmin

Mengintip Kelihaian Sepesialis Curnik Tangakapan Kapolres
Berbekal 'Baca-baca', Sudah 3 Kali Kabur dari Sel

Pelaku tindak pidana kejahatan selalu akrab dengan baca-baca alias ilmu sihir, yang dipercaya mampu membantu dalam menjalankan aksi kejahatannya. Namun seperti apa kesaktian pelaku spesialis pencurian barang elekronik (curnik), Sudarmin, yang ditangkap langsung Kapolres Palopo? Berikut pengakuan pelaku.

Laporan: Rahmat Pratama

Bagi spesialis curnik ini, tak ada artinya kunci atau gembok bagi dia. Pelaku yang mengaku berasal dari Bone ini, mempunyai 'baca-baca' pembuka gembok dan ilmu menghilang. Berbekal itulah, dia sudah tiga kali berhasil kabur dari dalam sel tahanan polisi.
Satu kali di Bulukumba, di Masamba, dan di sel Polsek Wara Utara. Dia kabur tanpa diketahui polisi yang jaga saat itu. Namun sayangnya, dia tak mampu menghilang saat beraksi di rumah warga di Jalan Durian Kota Palopo. Sehingga dia dikejar Kapolres dan berhasil dibekuk. Saat ini dia mendapat penjagaan ekstra ketat dari polisi, karena ditakutkan kembali 'cili' dari sel tahanan Mapolres Palopo.
Sesaat setelah ditangkap, 'baca-baca' Sudarmin terbukti saat disuruh melepas borgol di tangannya. Saat diminta membuktikan ilmu gaibnya, dia hanya meniup tiga kali borgol yang dipakaikan, seketika itu borgol yang dikenakannya lepas.
Dari pengakuannya, dia melarikan diri dari sel saat ada polisi penjaga sel yang sudah tidak dia sukai kelakuannya. Saat polisi yang tak disuka itulah, dia melarikan diri. Dia sengaja agar polisi ini mendapat hukuman dari atasannya.
Dari hasil keterangan yang dihimpun Palopo Pos, Sudarmin melarikan diri ketika sudah larut malam. Saat para tahanan tengah tertidur pulas. Sehingga Sudarmin bisa melancarkan ilmu sihirnya tanpa diketahui orang lain, karena apabila ilmu sihir Sudarmin diketahui orang lain, maka ilmu sihirnya tidak akan jadi.
Begitupun jika ada orang yang sering iseng terhadapnya, dan dia tersinggung, dia akan kabur. Pelaku ini juga dikenal sebagai sosok pendiam dan tidak menyukai keramaian.
Untuk diketahui, Selasa 10 Juni 2014, sekira pukul 05:30 wita di Jalan Durian Kota Palopo, Sudarmin tertangkap Kapolres Palopo, AKBP M Guntur SIK, yang saat itu ingin kembali melancarkan aksi pencurian di sebuah rumah di Jalan Durian.
Karena merasa kaget ketika memasuki rumah tersebut, lantaran ilmu sihir yang digunakan Sudarmin memiliki pantangan. Rumah tersebut ada pantangan dari ilmu sihirnya. Diduga rumah tersebut telah dipasangi 'baca-baca' penjaga rumah, sehingga Sudarmin ketahuan saat ingin melancarkan aksinya. (*)
read more...

Tuesday, September 17, 2013

Kunker Arjuna-Markus Nari ke Rampi (4-selesai); Masalah Hukum Diselesaikan Secara Adat

Rombongan Arjuna dan Markus Nari saat tiba di Bandara Rampi, Luwu Utara, Senin 9 September 2013.

Kunker Arjuna-Markus Nari ke Rampi (4-Selesai)
Masalah Hukum Diselesaikan Secara Adat 

Di Kecamatan Rampi, Kabupaten Luwu Utara, semua masalah yang berbau hukum nyaris tidak lanjut ke kantor Polisi hingga ke Pengadilan Negeri. Itu karena setiap masalah yang berbau hukum dapat diselesaikan secara adat.

LAPORAN: Abd Rauf

Jika ada masalah warga setempat langsung melapor kepada ketua adat yang disebut Tokey Tongko. Tokey yang akan memutuskan masalah dan memberikan sanksi.
Tentu berbeda dengan masyarakat kota, setiap ada masalah, pengaduannya ke polisi atau jaksa. "Saya minta kepada ketua adat (Pak Tokey) agar mempertahankan adat dan kebiasaan kita di sini. Saya senang jika semua permasalahan yang ada di masyarakat bisa diselesaikan diselesai secara kekeluargaan. Di sini, hampir tidak ada permasalahan yang diselesaikan di pengadilan. Ini perlu dipertahankan," pinta Bupati Lutra, Arifin Junaidi (Arjuna), saat berkunjung ke Rampi Senin 9 September 2013 lalu.
Menurut pengakuan masyarakat di sana, seperti yang diutarakan Camat Rampi, Yan Imbo, jika ada masalah maka akan diselesaikan dengan musawarah secara kekeluargaan di rumah adat, yang disebut Tambi Ada'. "Dulu ada namanya Tambi Ada, sekarang sudah tidak ada. Tinggal miniatur yang dibangun di depan rumah para pemangku adat. Di rumah adat itulah, diselesaikan setiap masalah. Sekarang ini ada baruga desa yang dibangun sebagai tempat penyelesaian masalah," ujar Yan Imbo, camat putra asli Rampi.
Saat pesta pernikahan, menurut masyarakat setempat, di Desa Onodowa, jika ingin menikah, maka harus menunggu sampai beberapa pasang. Sebab pesta pernikahan digelar di baruga. Tidak boleh masyarakat pesta di rumah masing-masing. Harus digelar di baruga.
Pada kunjungan kerja Arjuna dan Markus Nari, masyarakat  mengukuhkan keduanya menjadi keluarga kehormatan Rampi. Arjuna dan Markus dihadiahi masing-masing satu ekor ayam jantang berwarna putih. Sebagai simbol putihnya hati masyarakat Rampi menerima kedatangannya.
Juga diberikan bakul, sebagai simbol lembah Rampi, tempat bermukim masyarakat. Beras sebagai simbol masyarakat secara umum. Telur tiga biji sebagai simbol pemerintah, adat, dan agama. Pengukuhan secara adat sebagai keluarga kehormatan Rampi itu dilakukan di Baruga Pohintuwo, Desa Onondowa, Rampi.
Kekeluargaan itu pun sangat terlihat setelah usai acara. Masyarakat dan pejabat serta pemangku adat menyatu melakukan goyang dero, atau ma'dero, di baruga sampai larut malam, yang diselimuti angin malam yang dingin, dinginnya menusuk hingga ke tulang.
Saat hendak pulang, Selasa 10 September 2013, pesawat yang dijadwalkan tiba ke bandara Rampi sekitar pukul 10.00 wita, malah sampai pukul 14.00 wita baru tiba.
"Jadwalnya memang tidak ada ke Rampi kalau hari Selasa. Sehingga pesawat harus terbang sesuai jadwal dulu sebelum ke sini," jelas petugas bandara.
Saat pulang, jika rombongan Arjuna dan Markus Nari ke Rampi harus menempuh 50 menit, kini saat pulang tidak sampai 20 menit sudah sampai ke Masamba. Itu karena cuaca yang berbeda saat terbang ke Rampi. Kini cuaca sudah cerah. (*)
read more...

Monday, September 16, 2013

Kunker Arjuna-Markus Nari ke Rampi (3); Lapisan Tanahnya Mengandung Emas

Nampak mesin pendulang emas yang dimiliki masyarakat Rampi. Mesin sederhana ini digunakan sebagai alat bantu pencarian emas.
Kunker Arjuna-Markus Nari ke Rampi (3)
Lapisan Tanahnya Mengandung Emas

Selain bercocok tanam, masyarakat Rampi meluangkan waktunya untuk pergi mendulang emas. Besar kemungkinan daerah terpencil ini memiliki banyak ketersediaan emas yann dapat menjadi basis penghasil emas di Luwu Utara.

Laporan: Abd Rauf

Emas itu terdapat di lapisan tanah di wilayah Rampi. Masyarakat melakukan pencarian dengan mempergunakan alat-alat yang sederhana dan apa adanya. "Sepertinya masyarakat tidak begitu sulit mendapatkan emas, hanya saja teknik dan cara pencarian masih sangat sederhana," kata Bupati Luwu Utara, Arifin Junaidi (Arjuna) ketika berada di wilayah tersebut pekan lalu.
Untuk mendapatkan emas pada kedalaman tertentu, otomatis tidak akan terjangkau dengan kondisi peralatan yang sangat sederhana, berbeda jika pencarian dilakukan dengan menggunakan teknologi akan lebih mudah.
Masyarakat berharap agar pemerintah daerah sebaiknya melakukan survey lokasi sebagai kegiatan awal yang diperlukan untuk mengetahui jumlah ketersediaan emas, posisi atau letak emas, dan kedalaman emas dari permukaan tanah di Rampi, karena siapa tahu wilayah Rampi merupakan daerah penghasil emas.
Menurut masyarakat Rampi, tanah di sekeliling kampung mengandung emas. Bukit yang menjulang juga banyak mengandung emas. "Masyarakat disini mendulang emas dengan memakai mesin dinamo. Satu karung tanah yang diambil dari bukit bisa menghasilkan 2 gram emas," kata sejumlah warga.
Rampi yang sangat terpencil mendapat julukan surga kecil dengan hamparan hutan masih perawan atau belum terjamah. Sangat cocok dengan para pecinta alam dan petualang sang pencari tantangan.
Masyarakat Rampi sangat senang dengan kedatangan rombongan Bupati Luwu Utara, Arifin Junaidi bersama Anggota DPR RI dari Fraksi Golkar, Markus Nari.
Kampung ini, Markus Nari menyebutnya sebagai sorga kecil. Karena keramahan dan keindahan alamnya, membuat mata terpesona dan perasaan tenang.
Selain mendulang, masyarakat bercocok tanam kakao, dan kopi. Untuk padi, mereka menanam bukan untuk dijual, namun lebih pada konsumsi sehari-hari. Hasil dari kesuburan tanah Rampi, lebih banyak lari ke luar provinsi.
Kampung ini juga belum ada signal untuk komunikasi handphone, sehingga transformasi budaya masih kurang. Hanya ada televisi yang menggunakan antene parabola. Namun untungnya, masyarakat sudah menikmati listrik. "Yang kami sangat butuhkan di sini adalah akses jalan dan sarana alat komunikasi hanphone. Untuk itu, kami meminta kepada pemerintah untuk bisa mengusahakan agar kita di sini bisa menikmatinya juga," ujar Camat Rampi, Yan Imbo.
Mendengar permintaan warganya, bupati berjanji akan lebih memperhatikan kebutuhan masyarakatnya. "Mengenai sarana telekomunikasi HP, kami akan usahakan bisa sampai disini dengan menggandeng Telkomsel. Akses jalan, Insya Allah, pasti akan ada dialokasikan dana setiap tahunnya untuk perbaikan jalan, sedikit demi sedikit, karena kemampuan anggaran kita terbatas," ujarnya.
Sementara itu Markus Nari juga berjanji akan memperjuangkan di pusat untuk pengalokasikan APBN guna perbaikan jalan menuju Kecamatan Rampi. (*)
read more...

Sunday, September 15, 2013

Catatan Perjalanan Kunker Arjuna-Markus Nari ke Rampi (2); Baju Adat Kulit Beringin Dibarter Kerbau

KAIN TRADISIONAL. Tampak kain hasil kerajinan yang dibuat dari kulit pohon beringin. 


Catatan Perjalanan Kunker Arjuna-Markus Nari ke Rampi (2)
Baju Adat Kulit Beringin Dibarter Kerbau

MESKI wilayah terpencil, namun Kecamatan Rampi, Luwu Utara memiliki penduduk sekitar 3.000 jiwa, dengan wajib pilih hingga 2.000 orang. Sebagai masyarakat adat tentunya berbeda dengan wilayah lainnya.

Laporan: Abd Rauf

Ciri khas masyarakat adat Rampi, dimana baju yang terbuat dari kulit pohon beringin dihargai dengan seekor kerbau. "Untuk satu pasang biasanya dibarter dengan satu ekor kerbau, atau jika dirupiahkan sekitar Rp10 juta," kata masyarakat Rampi.
Baju ini memiliki motif dan ciri khas tersendiri. Untuk mendapatkan satu meter kain persegi, dibutuhkan waktu sekitar dua pekan untuk pembuatannya. Harga produksinya pun sekitar Rp250 ribu untuk satu meter itu.
"Bahan baku kulit pohon beringin biasanya kami ambil di hutan. Untuk sampai ke kampung, butuh tenaga dan biaya. Sehingga, biayanya sekitar Rp250 ribu," ujar salah satu pengrajin, Herlina Sinta, yang berusaha mempertahankan kerajinan pembuatan kain sejak ratusan tahun ini.
Jika kain itu sudah utuh menjadi sepasang baju dan celana, harganya sudah sampai sekitar Rp10 juta. Atau masyarakat di sana yang tidak punya uang, biasanya baju itu dibarter dengan satu ekor kerbau. Pembuatan baju itu pun membutuhkan waktu yang tak singkat, butuh waktu sekitar dua bulan.
Untuk membuat kain dari kulit pohon beringin itu, para pengrajin menggunakan bebatuan semacam keramik yang telah berumur ratusan tahun. Sudah ada alatnya sejak satu abad silam. Mulanya, kulit yang baru datang ditumbuk dan dimasak.
Menumbuk atau memukul-mukul pakai batu dibutuhkan kesabaran para pengrajinnya. Sudah ada beberapa macam batu yang digunakan. Batu yang irisannya agak kasar digunakan untuk kain yang masih kasar, sedangkan kain yang sudah lebih lembut, digunakan batu yang irisannya lebih halus. Begitu seterusnya, hingga kain itu menjadi halus sesuai selera.
Untuk membuat ukiran di kain yang telah jadi, digunakan getah kayu. Untuk pilihan warna, diambil dari getah kayu yang sesuai dengan warna yang diinginkan. Namun kebanyakan dari baju itu memiliki corak berwarna merah ketua-tuaan.
Di sana juga masih ada baju yang diklaim telah berumur ratusan tahun. Baju itu, menurut masyarakat setempat, dulu dipakai oleh permaisuri raja, atau istri Tokey Tongko (sebutan untuk ketua adat Rampi, red).
Namun sayangnya, kerajinan kain ini sudah mulai ditinggalkan masyarakat di sana. Hampir tidak ada lagi yang berminat mempertahankan warisan nenek moyangnya. "Di sini masyarakat tidak banyak yang mau mempertahankan kerajinan ini. Sehingga saya berusaha membuat kain ini untuk mempertahankan adat dan warisan nenek moyang kami di sini," ujar Herlina.
Anggota DPR RI dari Fraksi Golkar, Markus Nari, yang melihat langsung kerajinan khas itu menyatakan tertarik. Untuk itu, Markus menawarkan untuk membawa ke Jekarta untuk dipamerkan nanti. "Ini sangat bagus. Perlu ditonjolkan nilai seninya yang khas. Ini perlu dipromosi agar pemerintah pusat dan masyarakat luas mengenal ini. Sebab ini termasuk khas dari Rampi. Mengenai persoalan ongkos pembuatan dan sampai ke Jakarta, nanti saya yang tanggung semua," ujarnya, saat meninjau langsung pembuatan kain khas tersebut. (*)
read more...

Saturday, September 14, 2013

Catatan Perjalanan Kunker Arjuna-Markus Nari di Rampi (1); Adatnya Masih Kental, Ongkos Ojek Rp1,5 Juta

DISAMBUT. Anggota DPR RI, Markus Nari dan Bupati Luwu Utara, Arifin Junaidi saat berkumpul dengan tokoh masyarakat Rampi yang masih kental dengan adat dan budayanya.

Catatan Perjalanan Kunker Arjuna-Markus Nari di Rampi (1)
Adatnya Masih Kental, Ongkos Ojek Rp1,5 Juta 

Menuju Kecamatan Rampi, Kabupaten Luwu Utara (Lutra), Provinsi Sulsel, butuh waktu tiga hari dan dana yang tidak sedikit. Jarak antara Rampi-Masamba, ibu kota Lutra, sebenarnya hanya berjarak sekitar 80 kilo meter (km), namun karena akses jalannya yang buruk sehingga menelan waktu tiga hari untuk tiba di wilayah terpencil tersebut. Itu hanya bisa menggunakan kendaraan roda dua dan jasa ojek.

Laporan: Abd Rauf

Akses jalan darat sangat mengerikan, karena yang dilalui hanya setapak, jika tergelincir sedikit langsung masuk jurang. Belum lagi tanjakan yang begitu tajam membuat hati berdebar-debar.
Sepeda motor jika tidak ditarik dengan tali, maka tidak akan bisa melewati tanjakan.
Jika masyarakat Rampi hendak ke Masamba, harus berombongan dengan maksud bisa saling membantu di perjalanan, begitupun sebaliknya jika warga luar ingin ke Rampi juga berombongan.
Di sepanjang jalan, tersedia pondok-pondik kecil tempat istirahat jika malam tiba. Masyarakat sengaja membuatnya. Jika capek, maka istirahat untuk menikmati bekal yang memang sejak pergi telah dipersiapkan.
Jika menggunakan jasa ojek pulang pergi harus membayar Rp1,5 juta dengan jarak tempuh paling cepat satu hari penuh. Dan juga harus menyiapkan bekal makan di perjalanan.
Namun demikian, saat ini pemerintah daerah telah menyiapkan Bandara sebagai alternatif transportasi bagi masyarakat Rampi. Jarak tempu lewat udara, kalau cuaca bagus, hanya berkisar 20 menit dari Bandara Masamba. Tersedia pesawat Susi Air.
Seperti yang dilakukan Bupati Lutra, Drs H Arifin Junaidi MM, bersama Anggota DPR RI, Dr Ir Markus Nari MSi, ke Kecamatan Rampi, Lutra. Mereka  memilih lewat udara. Namun perjalanan lewat udara pada awal pekan ini, Senin 9 September lalu,  Masamba-Rampi sempat dilanda cuaca buruk.
Perjalanan yang seharusnya ditempuh dengan waktu 20 menit, terpaksa harus ditempuh 50 menit karena dilanda cuaca buruk. Jarak pandang hanya 5 km. Berangkat sekitar pukul 07.40 wita sampai sekitar 08.30 wita.
Hampir semua penumpang pesawat Susi Air sempat tegang, bahkan ada yang sudah pucat karena khawatir akan terjadi yang sesuatu yang membahayakan. Pesawat sempat memutar-mutar untuk mencari jalan untuk menghindari kabut tebal. Penerbangan yang dipimpin pilot Jose itu sempat terbang sampai wilayah Sulawesi Tengah. Dari udara terlihat wilayah Sulteng.
Namun akhirnya, pesawat itu mendarat dengan selamat di bandara. Ketegangan dalam perjalanan menuju Rampi ini seakan terbayar lunas setelah sampai di Rampi dengan sambutan hangat masyarakat.
Rombongan Bupati Lutra dan Anggota DPR RI disambut dengan tari tradisional. Ditambah dengan sambutan hangat masyarakat dan pelajar mulai SD, SMP, sampai SMA se kecamatan Rampi. Jejeran itu begitu panjang, mulai dari bandara sampai di halaman Mess Pekab Lutra yang akan diresmikan.
Arjuna, sapaan akrab Arifin Junaidi, bersama Markus Nari, datang ke Rampi untuk meresmikan Mess Pemkab Lutra di sana, juga dirangkaikan dengan peresmian rabat beton untuk tahun anggaran 2012 lalu sejauh 10 km.
Rampi masih memiliki adat yang terbilang kental. Hampir semua permasalahan diselesaikan secara adat. Nyaris tidak ada masalah yang sampai ke pengadilan. "Saya berharap, para tokoh adat dan agama bisa mempertahankan hal ini. Pak Tokey (sebutan untuk tokoh adat Rampi, red) harus mempertahankan kebiasaan ini. Persaudaraan di sini masih sangat luar biasa. Untuk itu, jangan biarkan karena suku, agama, dan kepentingan apa pun itu memecahkan persaudaraan masyarakat di sini," pesan Arjuna, saat memberikan sambutannya pada peresmian Mess Pemkab di Rampi. (*)
read more...

Sunday, February 10, 2013

Shio Ular Air, Tahun Hati-hati



* Peringatan Tahun Baru Imlek 2564

Berdasarkan penanggalan imlek, Sabtu 9 Februari 2013 masehi, tepatnya pukul 23.00 Wita malam nanti, akan terjadi pergantian tahun. Dari tahun 2563 menjadi 2564. Setiap tahun dikenal yang namanya shio. Tahun ini memiliki shio naga air, dan akan berganti tahun dengan shio ular air malam nanti. Seperti apa arti shio ular di kalangan umat Buddha atau kepercayaan China keturunan?

Laporan: Abd Rauf

Menurut Ketua Yayasan Budhi Bakti Palopo, Benny Wijaya, memaknai tahun yang sebentar lagi akan berganti ini sebagai tahun hati-hati. Umat manusia diharapkan memperbanyak ibadah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebab tahun besok memilik shio ular air, atau yang dikenal tahun ular.

"Makna dari tahun ular ini adalah kita harus berhati-hati dalam bertindak dan bertingkah laku. Perbanyak ibadah dan mengingat kepada Tuhan," katanya, saat ditemui Palopo Pos, Jumat 8 Februari 2013.

Shio ular air tahun besok dan shio naga air tahun ini, menurut Benny, maknanya hampir sama. "Tahun lalu Jakarta banjir sebelum masuk pergantian tahun. Tahun ini juga Jakarta Banjir baru-baru ini menjelang pergantian tahun," katanya.

Tahun baru Imlek jatuh bertepatan dengan tanggal 10 Februari 2013 penanggalan masehi ini akan diperingati dengan cukup sederhana. Keluarga umat Budha dan keturunan Cina di Palopo ini, memperingati tahun baru imlek ini dengan ibadahan saja di Vihara.

"Kita tidak memperingati dengan meriah dan pertunjukan barongsai. Kita hanya ibadah menyambut tahun baru imlek. Dua pekan kemudian, hanya akan ada kegiatan donor darah," kata Benny.

Lalu bagaimana hubungannya antara bisnis dengan tahun ular ini? Persoalan bisnis, kata Benny, itu adalah persoalan rejeki dari setiap orang. "Saya juga kurang paham dengan hubungannya dengan bisnis. Tapi menurut saya, itu persoalan rejeki kita masing-masing," ujarnya.

Untuk diketahui, penanggalan Imlek ini pertama kali dimulai pada 2637 SM, pada masa pemerintahan Kaisar Oet Tee atau Huang Ti (2698 - 2598 SM). Imlek ini merupakan penanggalan yang berdasarkan perhitungan bulan (lunar) yang berasal dari dialek Hokkian Selatan. Sehingga dapat dikatakan tahun baru Imlek berarti tahun baru menurut penanggalan bulan.

Makna dari tahun baru Imlek ini juga dapat dilihat dari setiap ucapan selamat tahun baru seperti guo nian hao (selamat menjalani tahun baru), gon he xin xi (hormat bahagia menyambut tahun baru), gong xi fa cai (hormat bahagai berlimpah rezeki). (*/sms)

* Harian Pagi Palopo Pos, Edisi Sabtu 9 Februari 2013
visit: http://www.palopopos.co.id/?vi=detail&nid=60430

read more...

Thursday, December 20, 2012

Disarankan RMU Dikelola Perusda

* Dari Kunjungan Kerja DPRD Palopo di Sidrap

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Palopo bertandang ke Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). Itu guna melakukan konsultasi mengenai pengelolaan mesin rice milling unit (RMU), bersama Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispernak) dan Kepala Badan Ketahanan Pangan Kota Palopo, Rabu 19 Desember 2012 kemarin.

Laporan: Abdul Rauf

Sidrap yang merupakan daerah penyandang pangan terbesar di Sulsel ini, menjadi pilihan untuk dilakukan konsultasi mengenai penggunaan mesin RMU. Sebab, menurut Kepala Dinas Pertanian Sidrap, Samuel K, dari data 2011, mesin penggiling yang ada di sana telah mencapai sebanyak 324 unit. Masing-masing 40 unit mesin skala besar, 209 unit skala menengah, dan 75 unit mesin RMU, atau yang termasuk dalam skala kecil.

Persoalan pengelolaan mesin RMU, Sidrap sudah tidak dipertanyakan lagi. Namun di sana tak satu pun unit penggiling padi itu milik pemerintah. Semuanya milik swasta. Bahkan, Samuel juga mengaku, kalau bantuan mesin RMU yang sama diberikan kepadanya, tahun 2008 silam, belum juga dioperasikan. "Masih banyak alat yang kurang, jadi masih membutuhkan suntikan dana APBD, sehingga kami belum operasikan itu," kata Samuel.

Rombongan yang dipimpin Ketua Komisi III DPRD Kota Palopo, Alfri Jamil SE MSi, itu mengungkapkan kalau kunjungan itu bertujuan untuk berbagi ilmu dan pengalaman mengenai pengelolaah mesin RMU.

Wakil Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Sidrap, Rauf Ambo Dalle mengatakan, sebaiknya mesin RMU itu dikelola Perusahaan Daerah (Perusda). Sehingga, akan dapat menyumbang banyak PAD jika dikelola Perusda. "Kemudian, produksinya itu dijadikan beras kepala, dan dijual ke luar daerah. Sehingga, PAD langsung masuk ke kas daerah," katanya, yang juga mengaku kalau dirinya berasal dari Bastem, saat menerima kedatangan rombongan DPRD Kota Palopo.

Anggota DPRD Sidrap lainnya, H Hamka SP, mengatakan kalau dikelola pihak ketiga, maka akan banyak masalah. Kalau memang mau, jangan ditarget terlalu tinggi. Sehingga mereka bisa bernafas lega. "Tapi saya kira, Perusda itu penting. Sebab jika dikelola dengan baik, maka dapat menyumbang PAD yang cukup besar," katanya, yang juga mengaku kalau dirinya beristri gadis Palopo.

Dikatakannya juga, kalau gabah yang digiling di Sidrap, ada juga berasal dari Luwu, seperti Padang Sappa dan Walmas. Selain itu, pengusaha di sana juga bahkan mengambil gabah sampai ke Masamba dan Kendari. "Biasanya, gabah dari sana kita ambil, tapi kalau sudah digiling, sekitar satu atau dua bulan kemudian, kami mengirim lagi beras yang telah digiling di sini. Sebab di sana memang berasnya cepat habis. Beras kami ini banyak beredar di Pasar Sentral Palopo, Belopa, dan Padang Sappa," ujar Hamka.

Dalam kesempatan itu, hadir Kadispernak Kota Palopo Drs Abdullah MP serta dua orang Kabidnya, Kepala Badan Ketahanan Pangan Kota Palopo Hasanuddin, Ketua Komisi III, Alfri Jamil serta Anggota Komisi III, H Henry Ghalib, Dahri Suli, dan Rudy Sukarny. (*)

http://www.palopopos.co.id/?vi=detail&nid=58262
read more...

Thursday, December 13, 2012

Berharap Jadi Anak yang Berguna Bagi Sesama


* Melirik Kelahiran Anak Pada Tanggal Cantik, 12-12-12

Kelahiran seorang anak, bagi orangtua pasti merupakan hal yang sangat membahagiakan. Tapi kebahagian itu akan berbeda, dan jauh akan lebih menggembirakan jika anaknya lahir pada tanggal yang dianggap cantik dan unik ini. Tanggal 12 bulan 12 dan tahun 2012 (12-12-12).

Laporan: Abd Rauf

Fenomena ini, bagi sebagian orang, Rabu 12 Desember kemarin sangat dinantikan. Bahkan ada orang yang sengaja menunggu sampai Pukul 12.00 tanggal 12, bulan 12, dan tahun 2012 untuk melakukan ritual pernikahan dan acara lainnya. Bahkan, ada yang sengaja menunggu anaknya lahir pada tanggal unik kemarin.

Mereka sengaja memberi obat memperlambat lahir dan menunggu pukul 12.00 waktu setempat untuk dilakukan operasi sesar, dan jadilah anaknya lahir pada pukul 12.00 tanggal 12 bulan 12 dan tahun 2012 (12-12-12-12).

Nah salah satu bayi beruntung yang lahir di tanggal cantik itu di RS Ibu dan Anak St Madyang Kota Palopo, sekira pukul 9.00 Wita, yang sempat ditemui Palopo Pos, ayah dari sang bayi itu menyatakan perasaan bahagianya saat bayi yang berjenis kelamin laki-laki lahir pada tanggal cantik itu. "Ada perasaan bahagia bercampur haru yang saya rasakan. Apalagi bayi ini merupakan anak pertama kami," kata sang ayah, Muh Angga Wasita.

Bapak yang berumur 29 tahun ini berharap, agar anaknya yang pertama ini bisa menjadi anak yang berguna bagi sesama. "Saya hanya berharap, mau jadi apa saja bisa, yang penting dapat berguna bagi sesama, agama, bangsa, dan negara," ujarnya, yang merupakan warga Amassangan, Desa Pao, Kecamatan Malangke Barat, Luwu Utara.

Bayi yang lahir hasil pernikahannya dengan Ani Akan Lotong itu diberinya nama Muhammad Hafidz Azzikra. Orangtua dari sang bayi mungil itu adalah keduanya guru di SMAN 1 Malangke Barat. Angga menceritakan, dirinya yang menikah pada 30 Juni 2011 lalu, baru dianugrahi anak sekarang.

"Kelahiran bayi itu sebenarnya bidan yang pernah memeriksanya telah memperkirakannya pada tanggal ini. Dan perkiraan bidan tersebut terbukti. Meski tadi (kemarin, red) kelahiran bayi saya lewat operasi sesar. Sebab dokter mengatakan tidak bisa melahirkan normal karena ibunya lagi menderita hipertensi, tekanan darah tinggi. Berat bayi saya 2,8 kilogram. Alhamdulillah sehat," katanya. (*)

Palopo Pos, Edisi 13 Desember 2012
read more...

Monday, November 26, 2012

Banyak Masyarakat Alami Masalah Tulang


*Dari Bhakti Sosial RS Bintang Laut Palopo

MASYARAKAT Kota Palopo ternyata sangat banyak yang mengalami masalah tulang. Pada umumnya, mereka mengalami tulang keropos. Wah!!

LIPUTAN: Abdul Rauf

HAL itu terlihat banyaknya masyarakat yang sangat antusias melakukan pemeriksaan tulang pada bhakti sosial pengobatan murah Rumah Sakit (RS) Bintang Laut Kota Palopo dalam rangka HUT ke-41 yang jatuh Kamis 29 November 2012 mendatang.
Pemeriksaan tulang dimulai pada Minggu 25 November 2012, mulai pukul 10.00 Wita hingga 16.00 Wita, di halaman RS Bintang Laut Palopo.
Kepala Rekam Medik RS Bintang Laut Palopo, dr Luisa, mengatakan pada umumnya, masyarakat lebih banyak memeriksakan tulang. "Banyak peminat pemeriksaan tulang. Umumnya mereka mengalami tulang keropos. Itu disebabkan pola konsumsi gizi yang tidak seimbang, dan pola hidup kurang bagus. Seperti kurang olahraga, merokok, dan sebagainya," katanya, Minggu 25 November.
Dalam bakti sosial pengobatan murah itu, masyarakat terlihat sangat antusias mengikuti pengobatan murah tersebut. Terutama pemeriksaan tulang. Jumlahnya bahkan mencapai ribuan peserta pasien yang memadati pelataran rumah sakit tersebut.
Bakti sosial itu melayani paket pemeriksaan dokter umum dan ahli. Diantaranya, ahli penyakit dalam dr Risna Rajab SpPD, ahli anak dr Rasdianah SPA, ahli kulit dr Selis Friska SpKK, ahli bedah dr Mesak Sule SpB, dan melibatkan 7 dokter umum. Seperti dr Dany, dr Silvia, dr Sherly, dr Husna, dr Jeni, dan dr Liza.
dr Luisa menjelaskan, pengobatan murah itu meliputi pemeriksaan dan pengobatan, pembagian makanan sehat, dan pemeriksaan tulang dengan bone scan. "Pengobatan Rp10.000 per pasien, sudah dapat pemeriksaan dan pengobatan gratis oleh dokter ahli dan umum, juga mendapat makanan sehat, dan juga pemeriksaan tulang. Itu sebagai wujud kepedulian kami kepada masyarakat Palopo pada HUT ke-41 tahun RS Bintang Laut," kuncinya. (*)

Palopo Pos edisi 27 November 2012. http://palopopos.co.id/
read more...