Sunday, September 13, 2009

Muhammad Dalam Kitab Suci Dunia

Muhammad in World Scriptures terbit pertama kali dalam bahasa Urdu empat tahun yang lalu. Sebagai buku pertama dari yang sejenis ini, yang berisi nubuatan tentang kedatangan Nabi Suci dalam bermacam-macam Kitab Suci di dunia ini, yang memberikan ramalan dalam kata-kata aslinya dari Kitab-kitab Suci tersebut, buku ini telah memperoleh sambutan yang hangat di tangan publik yang mengenal bahasa Urdu. Hal ini menimbulkan permintaan kepada kami dari banyak sahabat agar edisi bahasa Inggris untuk buku yang sama segera diterbitkan. Jilid yang hadir dalam bahasa Inggris ini adalah untuk permintaan yang mendesak itu. Untuk lingkungan tertentu yang di atas kemampuan saya, terjemahan tak dapat saya lakukan sebagaimana seharusnya. Begitu pula adanya salah cetak. Dengan semua kendala ini, adalah suatu anugerah yang patut dipujikan atas perhatian para pembaca. Ini adalah suatu penelitian besar dan sebisa-bisanya orisinal. Buku ini saya persembahkan sedemikian rupa ke hadapan para pembaca, dengan permohonan pada waktu yang sama semoga Tuhan mau membukakan hati kaum non-Muslim agar menerima kebesaran dari Nabi Suci
read more...

What Every Christian & Jew Should Know; TENTANG SANG PENCIPTA, KITAB SUCI & NABI-NABI

"WHAT EVERY CHRISTIAN & JEW SHOULD KNOW"
TENTANG SANG PENCIPTA, KITAB SUCI & NABI-NABI
Oleh PROFESOR DAVID BENJAMIN KELDANI B.D.



Berikut akan disajikan sejumlah artikel yang ditulis oleh Profesor David Benjamin Keldani B.D. seorang mantan Uskup Katholik dari Uramiah, Kaldea. Dalam artikel ini Profesor Benjamin mencoba untuk membuktikan bahwa semua ramalan atau nubuah dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru tentang akan datangnya Al Masih itu sebenarnyalah hanya menunjuk kepada SATU ORANG yaitu NABI MUHAMMAD saw. Uraian Profesor Benjamin yang adalah mantan seorang archbishop Katholik berdasarkan peninjauan yang sangat mendalam atas Kitab Injil yang beliau kuasai, dengan di sana sini beliau mengutip beberapa ayat dari Al Qur'an.

Penterjemah yakin artikel ini penting bukan saja untuk ummat Kristen dan Yahudi agar dapat terbuka hatinya melihat kebenaran sejati atau yang seharusnya, tetapi juga untuk ummat Islam sendiri karena dengan memahami semua yang diuraikan beliau dalam artikel ini, tahulah kita bahwa kita sesungguhnya bisa "mengimami" Kitab Injil yang ada sekarang ini dengan cara yang sangat berlainan dengan ummat Kristen mengimaminya. Dari yang diuraikan oleh Profesor Benjamin kita menjadi tahu bahwa di dalam Injil itu, walaupun semuanya ditulis oleh orang-orang yang bukan murid langsung dari Nabi Isa a.s. dan ditulisnyapun sekian puluh tahun sesudah wafatnya Nabi Isa a.s. di samping di dalamnya dijumpai banyak pertentangan antara ayat-ayatnya, terdapat banyak "kebenaran Islami" yang tampaknya hanya bisa difahami dengan benar oleh orang seperti mantan uskup ini. Semoga saja banyak ummat Kristen dan Yahudi yang bisa memiliki kearifan seperti mantan uskup Keldani ini. Sungguh suatu anugerah Allah yang tidak terkira bahwa mantan uskup ini telah diberi izin oleh Allah untuk membuka tabir misteri yang begitu banyak di dalam Injil. Dengan demikian memberi petunjuk kepada kita betapa benarnya firman Allah yang turun pertama kali dan memerintahkan kita untuk "Iqra'" atau "membaca" dengan akal fikiran sehat yang kritis dan yang selalu harus dikembalikan kepada Prima Causa sehingga kita bisa insya Allah mendapatkan pengetahuan yang benar. Dengan selalu "membaca" itu insya Allah hati kita akan dibuka oleh Allah untuk mengetahui dan menerima kebenaran yang sesungguhnya. Bukankah berulang kali dalam Al Qur'an yang mulia ummat Islam diperintahkan untuk "ta'qilun" - "tafakkur" - pergunakan akal sehat kita -dsb.!

Download Ebooknya
read more...

Analisis framing


Bermula dari Pertanyaaan.

* Hari ini terjadi demonstrasi para buruh di Surabaya yang menuntut kenaikan gaji.Tapi media malah sibuk meliput masalah kunjungan Presiden SBY ke Korea Selatan dan Vietnam

* Pada waktu terjadi kebakaran di Makassar, tapi media-media lokal lebih sibuk meliput kunjungan Jusuf Kalla kebeberapa daerah dalam rangka kampanye pilpres?

* Kenapa acara indonesian idol di liput besar-besaran, sementara kemiskinan warga Papua tidak pernah diberitakan oleh media?

* Kenapa satu peristiwa diberitakan sementara peristiwa yang lain diberitakan? Kenapa sisi yang ini dibicaraka sementarasisi yang itusama sekali tidak dibahas? Semua pertanyaan itu mengarah kepada pentingya melihat framing atau bingkai dalampemberitaan media

Dalam analisis framing yang ditekankan adalah bagaimana berita dibingkai? sisi mana yang ditekankan dan sisi mana yang hendak dilupakan analisis framing dapat digambarkan sebagai analisis untuk mengetahui bagaimana realitas (peristiwa, paktor, kelompok, atau apa saja) dibingkai oleh media.pembingkaian tersebut melalui proses yang disebut kontruksi. Disini, realitas sosial dimaknai dan dikontruksi dengan makna tertentu.

Dalam ranah penelitian media, analisis framing masuk dalam pradikma kontruksionis. Pandangan ini dipengaruhi oleh berger dan luckman.

Media bukanlah satu saluran yang bebas memberitakan sesuatu apa adanya.mediajustru bersipat subyektip dan cenderung mengkonstruksi realitas. Analisis framing bertijuan untuk mengetahui bagaimana realitas dikonstruksi oleh media.dengan cara dan teknik peristiwa itu ditekankan dan ditonjolkan. Apakah dalam berita itu ada bagian yang dihilangkan, lupuk,atau sengaja disembunyikan dalam pemberitaan.

Analisis framing adalah metode untuk melihat cara bercerita(histori telling)media atas suatu peristiwa. Cara bercerita itu tergambar pada ’cara melihat’temadak realitas yang dijadikan berita. Sebagai suatu metode, analis framing banyak mendapat pengaruh dari sosiologi dan pisiologi.dan sosiologi, terutama sumbangan pemikiran dari peterberger dan erfing goffman. Dari psikologi adalah sumbangan dari teori yang berhubungan deng skema dan kognisi,dalam ranah penelitia media, analisis framing masuk dalam pradikma konstruksionis. Pandangan ini dipengaruhi oleh berger dan lukman.

Media dan berita dilihat dari para dogma konstruksionis. Fakta peristiwa adalah hasil konstruksi realitas itu bersifat subjektif. Realitas hadir karena konsep subjektif wartawan. Realitas hadir sudut pandang tertera dari wartawan.


----------------------------

M. Yusran darmawan

Disampaikan pada perkuliaan
Di Universitas Islam Negrei (UIN) Alauddin Makassar 2 Juni 2009



read more...

Pengaruh Iklan Politik di Televisi Pada Pilpres 2009 Terhadap Perilaku Pemilih di Makassar


BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Menjelang pemilihan presiden dan wakil presiden pada 8 juli, 2009. Media massa adalah salah satu wahana yang berperang penting didalam menyampaikan orasi polik para calon. Khususnya, media elektronik adalah media yang paling banyak diminati masyarakat, sebagai sumber sebuah informasi. Media massa juga diharapkan mampu memberikan pengaruh yang sangat besar, didalam menyampaikan kampanye setiap pasangan calon. Serunya persaingan antara pasangan presiden yang satu dengan yang lain, pada pemilhan 8 juli, yang akan datang, media massa akan dijadikan arena konplik kepentingan, mengingat peranan media massa yang begitu kuat dalam mempengaruhi sikap dan perilaku khalayak.

Besarnya pengaruh yang diberikan oleh media, ditanggapi baik oleh pasangan Jusuf kalla, menurut Miranto : ’ Pers adalah memegang perenan pentiang dalam pemilihan presiden, 8 juli, yang akan datang bagi Indo esia yang didominasi masyakat trdisional, daya analitiknya rendah, sehingga ap yang disiarkan oleh media elektronik khususnya televili itulah yang diikuti.

Tidak hanya itu, Mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat ( MPRR ) Amin Rais menggambarkan : Posisi media sebagai Anjing penjaga, bisa dikendalikan pemilik, dan hanya menjadi ”sirkus” yang gampang dikendalikan oleh pihak yang punya kepentingan. Medi massa ikut-ikutan menjadi bagian dari kolusi pada Pilpres juli nanti, media massa tidak akan menghadapi kondisi semudah yang dibayangkan. Bisa dikatakan media massa digdaya.

Nampaknya apa yang diungkapkan Wiranto dan Amin Rais adalah sebuah kesadaran bahwa, media massa adalah lembaga yang dapat memainkan kendali didalam mempengaruhi khalayakuntuk menentukan pilihan para kandidat calon. Olehnya itu, media massa sebagai pilar keempat demokrasi setelah eksekutif, yudikatif, dan legislatif ditunt bersikap adil dan obyektif memberi ruang yang sama antara calon pada juli mendatang.

Tuntutan terhadp media agar dapat bersikap adil pada Pilpres pada 8 juli nanti. Diatur dalam undang-undang republik indonesia tahun 2008, mengenai pemberitaan kampanye pada pasal 91 ayat (2) yamg mengatakan, media massa cetak dan lembaga penyiaran yang menyediakan rubrik khusus untuk pemberitaan kampanye harus berlaku adil dan berimbang kepada seluruh peserta pemilu.

Persoalannya dapatkah media atau lembaga pers bersikap adil didalam porsi dan ruang pemberitaan yang sama pada setiap calon Presiden yang bertarung pada juli yang datang. Seperti yang tercantum dalam pasal 91 ayat (2) tahun 2008, mengingat media massa selain lembaga informasi juga sebagai lembaga bisnis, yang memiliki dimensi laten yakni dunia ideologis.

Menyimak apa yang diungkapkan oleh wartawan senior Kompas, Budiarto Shambazy, dalam diskusi undang-undang pemilu dalam kebebasan pers di gedung DPD senayang Jakarta, ”bahwa pers itu obyektif pemberitaannya tetapi sikap pers tidak bisa netral. Obyektifitas pers bukan berarti tidak memilih. Hal itu melatih media bersikap bersikap atas kepentingan parpol dan calon presiden pada pilpres 8 juli nanai”.

Apa yang diungkapkan Budiarto Shambazy mengisyaratkan bahwa pada pilpres 9 juli nanati , sulit memberikan jaminan kepada media massa untuk bersikap netral khususnya media penyiaran.selain itu media mssa juga dapat memberikan informasi yang mendidik masasyarakat agar tidak golput (golongan putih), juga supaya masyarakat tahu siapakah yang paling berkualitas diantara tiga kandidat calon presiden, baik itu Megawati, SBY, ataukah Jusuf Kalla.

Itu pulalah kenapa calon kepala daerah tidak hanya bisa mengandalkan iklan sebagai salah satu cara untuk mempopulerkan dirinya di tengah masyarakat. Saat ini masyarakat juga semakin rasional sehingga hubungan emosional dan psikologis bukan satu-satunya cara jitu untuk meraih simpati masyarakat. Misalnya, mentang-mentang seorang kandidat adalah pemuka keagamaan otomatis akan memudahkan dirinya menjadi kepala daerah. Itu belum merupakan garansi.

Satu strategi PR yang saat ini populer adalah media relations (hubungan media). Dalam komunikasi pemasaran, cara ini sedang digalakkan dan menjadi program cerdas perusahaan-perusahaan besar. Perusahaan kecil biasanya hanya mengandalkan iklan dengan isi yang persuasif tetapi penuh dengan tipu muslihat. Yang dijadikan orientasi hanya barangnya terkenal dan laku dijual. Mereka umumnya tidak mempertahankan loyalitas konsumen dan hubungan personal.

Calon kepala daerah ibarat sebuah merek yang perlu dijajakan ke masyarakat. Oleh karena itu, karena ia sebuah produk baru ia perlu dikenalkan ke masyarakat, diungkapkan kelebihan yang dimiliki. Tentunya, “perusahaan” yang mensponsorinya tidak hanya mengenalkan “merek” itu tanpa mengetahui atau menggaransi bahwa “barangnya” memang berkualitas.

Cara modern yang sedang menjadi program perusahaan adalah media relations di atas. Calon kepala daerah mau tidak mau harus melakukan strategi PR seperti halnya perusahaan itu.

Mengapa? Saat ini kita hidup dengan media massa (cetak dan elektronik). Apa yang kita pikir, kita perbuat, kita beli, kita sosialisasikan, kita ungkapkan tak lepas dari peran media massa itu. Bahkan bisa dikatakan media telah membentuk hidup kita sehari-hari. Jika kita mau jujur apa yang kita beli, kita pakai, kita kemukakan lebih banyak berdasar dari media massa. Ini realitas dari perkembangan masyarakat modern kita.

Akan arti pentingnya media massa Marshall McLuhan dalam buknya terkenal Understanding Media, The Extension of Man (1999) pernah mengatakan bahwa media adalah the extension of man (media adalah ekstensi/perluasan) manusia. Artinya, apa yang dipikirkan, diinginkan manusia bisa diperluas perwujudannya melalui media massa. Bahkan media massa berbuat lebih dari apa yang bisa dilakukan manusia.

Jika manusia hanya bisa berpidato dihadapan ribuan orang, media massa melakukannya ke jutaan orang. Akan berbeda dampaknya seandainya apa yang dipidatokan itu kemudian disiarkan media massa, meskipun hanya dihadapan puluhan orang saja. Sama artinya, buat apa demonstrasi besar-besaran tetapi media massa tidak menyiarkannya/memberitakannya? Lebih berdampak hebat jika demonstrasi kecil-kecilan tetapi bisa disiarkan media massa.

Begitu hebatnya media massa sampai Napoleon Bonaparte pernah mengatakan, “Jika media dibiarkan saja, saya tidak akan bisa berkuasa lebih dari tiga bulan”. Atau simak pendapat bapak kemerdekaan Amerika, Thomas Jefferson, “Seandainya saya harus memi­lih antara kehidupan pemerintahan tanpa surat kabar dengan adanya surat kabar tanpa pemerintahan, saya -- tidak ragu-ragu lagi -- akan memilih yang terakhir; ada surat kabar tanpa adanya pemerintah". Pernyataan Bonaparte atau Jefferson itu tentu bukan bualan seorang anak kecil di siang bolong semata, tetapi dipikir secara dalam karena hebatnya pengaruh media massa bagi masyarakat.

Bagaimana Dengan Kandidat?Calon kepala daerah bisa juga melakukan strategi media relations. Kita bisa mengambil contoh kasus kesuksesan presiden SBY dalam pemilihan presiden tahun lalu. Ia berhasil menuduki RI-1 tak lain karena kemampuannya membangun citra di media massa.

Untuk mewujudkan itu semua, para calon kepala daerah itu bisa melakukan kegiatan sebagai berikut; pertama, para calon harus menjalin hubungan dekat dengan media massa. Ini bisa dilakukan dengan kunjungan ke dapur redaksi media yang bersangkutan. Media, karena dikunjungi calon kepala daerah, ada kemungkinan besar untuk memberitakannya. Ini pulalah yang dahulu pernah dilakukan SBY dan Amien Rais untuk menyaingi kepopuleran Megawati karena kedudukannya sebagai presiden sudah menarik perhatian media massa.

Kedua, undanglah media massa dimana calon itu melakukan kegiatan politik seperti kampanye, pidato politik, kebijakan yang akan diputuskan. Bisa jadi media tanpa diundangpun ingin meliputnya, tetapi mengundang mereka bukan pekerjaan yang mudah dan bisa dilakukan oleh semua calon.

Ini dimaksudkan agar setiap kegiatan yang dilakukan kandidat bisa diketahui masyarakat. Paling tidak, masyarakat tahu bahwa “seseorang” itu calon kepala daerah.

Ketiga, sering-seringlah membuat press release (siaran pers). Entah memang ada kebijakan atau keinginan yang ingin disampaikan ke masyarakat atau hal lain. Tetapi yang jelas, calon kepala daerah tidak boleh “menyakiti” pers. Atau membuat pernyataan yang membuat jengkel wartawan. Sebab, begitu sang kandidat membuat “kesalahan” seperti itu Anda mungkin tetap muncul di media massa tetapi dengan berita yang justru merugikan Anda sendiri. Termasuk di sini, menghindari untuk mengatakan “no comment”. Pernyataan seperti itu jelas tidak disukai oleh wartawan. Anda juga akan dicitrakan sebagai orang yang tertutup.

Tetapi ada satu hal lain yang harus dilakukan jika ia terpilih menjadi kepala daerah. Tetap menjaga hubungan baik dengan wartawan. Umumnya, para politisi kita pada awalnya berhubungan baik dengan wartawan, tetapi ketika sudah “mapan” ia lupa bahkan menghindar dari wartawan. Biasanya, politisi itu takut karena “dosanya” diketahui umum.

Maka, mengaja hubungan baik dengan media massa tidak saja akan memuluskan langkah sang calon menjadi kepala daerah tetapi juga akan menentukan “hidup matinya” pemerintahan daerah yang dipimpinnya nanti. Sudah saatnya, menempatkan media massa di depan dan bukan dipolitisir untuk tujuan yang mementingkan kepentingannya sendiri.

Media massa punya mata dan telinga. Sang kandidat akan diberitakan baik manakala ia baik, tetapi akan diberitakan jelek jika sebaliknya. Jadi, saat ini hidup matinya calon kepala daerah sangat mungkin ditentukan oleh media massa.

Yang menjadi pertanyaan dapatkah media massa bersikap adil didalam memberi ruang yang sama pada seriap calon, terhadap pemuatan berita dan iklan kampanye masing-masing calon?. Media massa penyiaran khususnya elektronik adalah sumber informasi yang memiliki daya minat masyarakat yang paling banyak, hapir setiap rumah memiliki televisi, sebagai wahana mendapatkan informasi.

B. Rumusn Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dalam penilitina ini, maka peneliti meeberi rumusan masalah :

1. Apakah pesan kampanye di media massa peyiaran khususnys Televisi, dapat memberikan pengaruh terhadap perubahan sikap khalayk di Makassar?
2. Bagaimana sikap khalayak setelah melihat kampanye politik di media Televisi

di Makassar?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

a. Penelitian bertujuan untuk :

1. Untuk mengetahui pesan kampanye di media Televisi dapat memberikan pengaruh besar terhadap perobahan sikap khalayak di Makassar
2. Untuk mengetahui sikap khalayak setelah melihat kampanye politik di media Telelevisi di Makassar

b. Adapun kegunaan penelitian adalah sebagai berikut :

1. Secara teoritis, diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi dalam pengembangan ilmu desain penelitian komunilasidan menjadi referensi terhadap seseorang yang ingin melakukan penelitian yang sama.

2. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada peneliti.

D. Kerangka Konseptual Penelitian

a. Analis isi

Analisi isi (content analisis) adalah penelitian yang bersifat pembahasan mendalam terhadap isi suatu informasi tertulis, tercetak atau pun media massa elektronik. Pelopor analisis isi adalah Harold D. Lasswell, yang memelopori teknik symbol coding, yaitu mencatat lambang atau pesan secara sistematis, kemudian diberi interprestasi.

Analisis isi dapat digunakan untuk menganalisis semua bentuk komunikasi. Baik itu surat kabar, berita radio, iklan televisi maupun semua bahan dokumentasi yang lain. Hampir semua disiplin ilmu sosial dapat menggunakan analisis isi sebagai teknik atau metode penelitian. Holsti menunjukkan tiga bidang yang banyak mempergunakan analisis isi yang besarnya hampir 75% dari keseluruhan studi empirik, yaitu yang meneliti sosioantropologis 27,7%, komunikasi umum 25,9%, dan ilmu politik 21,5%.

Sejalan dengan kemajuan teknologi, selain secara manual kini telah tersedi komputer mempermudah proses penelitian analisis isi, yang terdiri atas dua macam, yaitu berapa kali iklan politik tampilkan di televisi. Namun analisis isi tidak dapat diberlakukan pada semua penelitian sosial. Analisis isi dapat dipergunakan jika sesuai syarat berikut.

1. Data yang tersedia sebagian besar terdiri dari bahan-bahan yang terdokumenrasi dalam naskadan rekaman.

2. Ada keterangan perlengkapan atau kerangka teori tertentu yang menerangkan tentang dan sebagai metode pendekatan terhadap data tersebut.

3. Penelitian memiliki kemampuan teknis untuk mengelolah bahan-bahan atau data-data yang telah dikumpulkan karna sebagian dokumentasi tersebut sangat apesifik.

Terdapat tiga langkah strategis penelitian analisis isi.

1. Penetapan desain atau model penelitian. Disini ditetapkan beberapa media, analisis isi pesan media televisi, baik itu objeknya banyak atau sedikit.

2. Pencarian data pokok atau data primer, yaitu iklan itu sendiri. Sebagai analisis isi maka iklan politik merupakan objek yang terpokok. Pencarian dapat dilakukan dengan menggunakan lembar koresponden, yang sengaja dibuat untuk keperluan data dari khalayak.

3. Pencarian pengetahuan kontekstual agar penelitian yang dilakukan tidak berada diruang hampa, tetapi ada kaitannya dengan faktor-faktor lain.

Prosedur dasar pembuatan ranncangan penelitian dan pelaksanaan studi analisis isi terdiri enam langkah, yaitu:

1. Merumuskan pertanyaan penelitian dan hipotesisnya (bila ada).

2. Melakukan sampling terhadap sumber-sumber data yang telah dipilih.

3. Pembuatan kategori yang dipergunakan dalam analisis.

4. Pendataan setiap iklan yang ditayangkan di televisi dan melakukan pengkodean.

5. Pembutan skala dan item berdasarkan kriteria tertentu untuk mengumpulkan data.

6. Interpretsi atau penafsiran data yang di peroleh.

Urutan langkah tersebut harus tertib, tidak boleh dilompati atau dibalik. Langkah sebelumnya harus bersyaratuntuk menentukan langkah berikutnya. Permilaan penelitian itu adalah adanya rumusan masalah atau pertanyaan penelitian yang dinyatakan secara jelas, eksplisit, dan mengarah, serta dapat diukur dan untuk dijawab dengan usaha penelitian.

Penarikan sampel dilakukan melalui peetimbangan tertentu, disesuikan dengan rumusan masalah dan kemampuan peneliti. Pembuatan alat ukur atau kategori yang akan digunakan untuk analisis, didasarkan rumusan masalah atau pertatau pertanaan penelitian, dan acuan tertentu. Dengan indikator yang bersifat terukur, kemudian pengumpulan atau koding data, dilakukan denga menggunakan lembar pengkodean (coding sheet) yang sudah dipersiapkan. Setelah semua data diproses, kemudian diinterpretasikan maknanya.

b. Pilpres

Pilpres merupakan salah satu mekanisme demokratis untuk melakukan pergantian pemimpin. Sudah sembilan kali bangsa indonesia menyelenggarakan perhelatan demokrasi. Pemilu di indonesia pada awalnya ditunjukkan untuk memilih anggota lembaga perwakilan, yaitu DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota. Setelah amandemen keempat UUD 1945 pada tahun 2002, memilih presiden dan wakil presiden (pilpres), yang semulah dilakukan oleh MPR, disepakati untuk dilakukan langsung oleh rakyat sehingga pilpres pun dimasukkan kedalam rezim pemilu.

Tidak hanya itu, melalui UU 27 tahun 2007 pemilihan kepala daerah dimasukkan kedalam Rezim pemilu. Hanya sajaditengah masyarakat, istilah pemilu lebih sering merujuk kepada pemilu legislatif dan pemilu presiden dan wkila presiden yang diadakan setiap lima tahun sekali.

c. Iklan

Iklan adalah pesan untuk membujuk, mendorong kepada khalayak ramai tentang benda dan jasa yang ditawarkan, dan dipasang dalam media massaseperti surat kabar, majalah dan televisi. yang mudah diingat. "Hidup adalah perbuatan", "Generasi baru, harapan baru", dan "Lanjutkan!" merupakan contoh-contoh pendekatan iklan politik yang tidak terfokus dalam menggali emosi audiens. Terbukti, melalui berbagai survei, pengaruh iklan-iklan tersebut hingga saat ini tidak terlalu signifikan.

Sejauh ini, Gerindra menjadi satu-satunya partai yang membidik emosi publik dalam iklannya. "Gerindra…Gerindra…Gerindra!" adalah tiga kata yang diucapkan dengan intonasi meninggi oleh suara seorang wanita di akhir iklan politik Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Tiga kata tersebut berhasil menjadi sebuah mantra politik bagi Gerindra. Pasalnya, September lalu, popularitas Gerindra melejit sampai 65 persen menurut Lembaga Survei Nasional (LSN). Publik juga menyambut iklan Gerindra dengan sikap yang positif. Memori publik terhadap iklan Gerindra berada pada ambang yang tinggi menurut lembaga survei Indonesia (LSI), yaitu 51 persen. Sentimen empatik terhadap petani dan gambaran akan kebangkitan Indonesia menjadi sebuah stimuli yang berhasil mendorong optimisme publik.

Iklan "Gerindra!", sebagaimana "Yes we can" dari Obama, berpotensi menjadi sebuah mantra psikologis bagi audiens di Indonesia. Stimulus emosi dari iklan "Gerindra" disampaikan melalui visualisasi semangat kerja para petani dan pekerja pasar, hal itu berpengaruh terhadap ranah emosi harap audiens. Suara seorang wanita yang menyerukan dengan intonasi semangat "Gerindra!" menjadi stimulus verbal yang turut memperkuat rangsangan emosi harap dari iklan tersebut.

Para kompetitor Partai Gerindra perlu menyadari bahwa besarnya intensitas dan keindahan sebuah iklan tidak selalu berkorelasi dengan preferensi publik. Jargon yang puitis tidak menjamin “efek mantra” bagi psikologi publik. Di sisi lain, visualisasi yang sinematik juga tidak menjamin munculnya ketergugahan. Sebab, pesan yang membidik emosi audiens adalah mantra iklan politik yang sesungguhnya.

E. Metode penelitian

1. Tipe penelitian

Tipe penelitian ini bersifat kuantitatif, penelitian ini dilakukan pada isi iklan dan dapak atau berapa besar pengaruh iklan terhadap sikap pemilu. Tipe penelitian ini lebih kapada dapak iklan terhadap sikap pemilu.

Dalam penelitian kuantitatif, data utama dari peneliti sendiri, yang secara langsung mengumpulkan informasi yang didapa dari subjek penelitian. Dan ditambah dengan bantuan orang lain. Penelitian ini dilakukan secara efektif lewat observasi di lapangan, wawancara dengan nara sumber, dan melakukan analisis terhadap berb agai dongen lapangan.

2. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini tentu saja berpedoman pada kebutuhan analisa (peneliti). Adapun teknik pengumpulan data yan dilakukan dalah:

~ Penelitian pustaka (library research) atau studi literatur. Dengan jalan mempelajari dan mengkaji semua yang berhubungan dengan kelengkapan data.

v Pengamatan (observasi), dengan mengamati secara langsung kondisi yang terjadi di lapangan dan melihat semua iklan yang disiarkan d televisi, dan tentu saja memiliki relevansi dengan permasalahan yang dikaji.

v Wawancara mendalam (in-depth interviw), teknik ini pada msyarakat yang terlibat langsung degan objek peneliti ini, serta sumber yang dianggap kababilitas dengan materi penelitian ini.

v Dokumentasi, pengumpulan hasil rekaman, foto, vidio, dan audiovisul lainnya yang ada di televisi di makassar.

3. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan berlangsung di makassar. Waktu penelitian akan berlangsung dari bulan Mei-juni 2009.

4. Teknik Analisis Data

Penelitian ini menggunakan analisis isi dari Harold D. Lasswell dengan teknik symbol coding yaitu mencatat lambang atau pesan secara sistematis kemudian dianalisis.

Dalam menganalisis, penulis melakukan dua tahapan analisis;

v Deskripsi konotasi dengan jalan memahami, menguraikan kemudian memamaparkan makna-makna konotasi dalam sebuah iklan politik.

v Melakukan analisis replektif terhadap data-data yang telah dikumpulkan dari makna konotasi, observasi di lapangan dan wawancara.

2. Definisi Operasional

Untuk menghindari kesalahpahaman dalam menginterpretasi judul penelitian ini, sekaligus memudahkan pemahaman dan menyamakan presepsi antara pembaca dan penulisterhadap judul panelitian ini, maka peneliti terlebih dahulu mengemukakan pengertian yang sesuai dengan variabel judul skripsi ini, sehingga tidak menimbulkan kesimpansiurandalam pembahasan selanjutnya.

Adapun pengertian judul dalam penelitian ini adalah :

a. Pengaruh adalah hal yang membuat berubahnya sesuatu dari objek tertentu.

b. Iklan adalah pesan untuk membujuk, mendorong kepada khalayak ramai tentang benda dan jasa yang ditawarkan, dan dipasang dalam media massaseperti surat kabar, majalah dan televisi .

c. Politik adalah ilmu kenegaraan sebagai kata kolektif yang menunjukkan pemikiranyang bertujuan untuk mendapatkan kekuasaan.Televisi adalah pesawat yang menyiarkan gambar dengan pertolongan gelombang.

d. Pilpres adalah pemilihan presiden secara demokrasi, langsung,umum bebas, rahasia, jujur dan adil dalam kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan pancasila dan Undang-Undsng Dasar (UUD) Negara Republik (RI) tahun 1945.

e. Perilaku adalah tindakan, perbuatan atau sikap

f. Pemilih adalah orang yang mempunyai hak suara dalam pemilu


DAFTAR PUSTAKA

Budiman, Kris. 2004. Semiotika Visual. Yogayakarta: Buku Baik & Seni Cemeti.

Cangara, Hafied. 2003. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Mulyana, Deddy. 2001. Ilmu Komunikasi; Suatu Pengantar. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Tafsir Sosial atas Kenyataan: Risalah Tentang Sosiologi Pengetahuan. Jakarta: LP3ES

Panuju, Redi. 2002. Relasi kuasa negara, media massa, dan publik: pertarungan memenangkan opini publik dan peran dalam transformasi social. Pustaka Pelajar

Pius A Partanto dan M. Dahlan Al Barri.2001. Kamus Ilmia Populer. Surabaya. Arkola

Rakhmat, Jalaluddin dan Rakhmat , Miftah F. 1997. Catatan Kang Jalal: Visi Media, Politik dan Pendidikan. Bandung. Remaja Rosdakarya..

Sobur, Alex. 2001. Analisis teks media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik dan Analisis Framing. Bandung. Remaja Rosdakarya.

Suyanto, Bagong dan Sutina. Cetakan ke-3,September. 2007. Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternatif Pendekatan. Jakarta. Kencana.

Triatmojo, Sofyan. Kamus Lengkap, Bahasa Idonesia Popular. Surakarta. Nusantara
Utomo, Mochtar W. 2003. Perbandingan Content Analysis, Framing Analysis, Discourse Analysis, dan |Semiotic Analysis. Makalah. Surabaya: Universitas dr. Sotomo.

di Susun Oleh : Saifullah (50500106046)

JURUSAN JURNALISTIK FAKULTAS DAKWAH & KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2009



read more...

Metodologi Bible dalam Study Alqur'an

Dalam Ebook ini berisi tentang;

Bab Pertama di dalam buku ini akan mengungkap hujatan tokoh-tokoh Kristen terkemuka kepada Al-Qur'an. Hujatan tersebut yang dilontarkan sejak abad ke-8 M, muncul karena mereka meyakini Bibel sebagai God's word. Menurut mereka, jika Al-Qur'an mengkritik Bibel, maka Al-Qur'an adalah karya setan. Bibel dijadikan tolak ukur menilai Al-Qur'an. Apa saja yang bertentangan dengan Bibel, maka Al-Qur'an yang salah.

Pada abad ke-17 M, studi kritis Perjanjian Baru mulai berkembang di Barat. Setelah mengkaji kritis Perjanjian Baru, para teolog Kristen menemukan sejumlah permasalahan yang sangat mendasar. Ternyata Perjanjian Baru telah mengalami berbagai penyimpangan (tahrif). Akhimya, Perjanjian Baru yang selama ini dijadikan textus receptus ditolak secara total pada tahun 1881.Kajian kritis Bibel (biblical criticism) menghasilkan berbagai metode analisa teks. Para sarjana Barat menjadikan berbagai metode Bibel tersebut sebagai kerangka dasar untuk membingkai studi Al-Qur'an. Filsafat her­meneutika yang berkembang dari studi Bibel ikut diadopsi oleh beberapa sarjana Muslim kontemporer seperti Moham­med Arkoun dan Nasr Hamid untuk diserap ke dalam studi Al-Qur'an. Ini yang menjadi pembahasan pada Bab Kedua.

Bab Ketiga akan membahas dan menjawab kritikan para orientalis modern dan kontemporer yang menggunakan metodologi Bibel untuk mengkritik Al-Qur’an. Mereka me­nyimpulkan Al-Qur'an Mushaf 'Uthmani telah mengalami berbagai tahrif Oleh sebab itu, Al-Qur'an edisi kritis diper­lukan.

Bab Keempat akan memaparkan kajian yang dilakukan sarjana Yahudi-Kristen mengenai kosa-kata asing di dalam Al-Qur’an. Mereka memformulasi "teori pengaruh" untuk menyimpulkan Muhammad bukanlah seorang yang buta huruf Muhammad bisa menulis dan membaca. Kesimpulan tersebut dibuat untuk menjustifikasi pendapat sepanjang zaman kalangan Yahudi-Kristen, bahwa Al-Qur’an adalah karangan Muhammad. Sebagai pengarang Al-Qur'an, Muhammad mesti mengetahui bacatulis. Jadi. Muhammad bukan seorang ummi.

Download Ebooknya
read more...

Tuesday, September 08, 2009

Ilmu dan Penelitian Ilmiah

Dalam materi ini akan dibahas tentang beberapa persoalan; perbedaan anggapan umum dengan ilmu, asumsi-asumsi dasar ilmu, tujuan ilmu, teori ilmiah, proses ilmu dan hubungannya dengan penelitian ilmiah.

Anggapan umum dan ilmu

· Anggapan umum : Informasi-informasi yang sudah biasa diterima kebenarannya tanpa dipersoalkan lagi

- petani melihat bintang

- dukun membuat daun menjadi obat

· Merupakan pendahulu dari ilmu.

- masalah ekonomi berasal dari persoalan rumah tangga

- biologi berasal dari persoalan mengatasi kesehatan manusia

· Biasa disebut juga sebagai common sense


Banyak pembahas ilmu yang terkesan dengan pertalian antara anggapan umum dan ilmu sehingga menyatakan bahwa ilmu tidak lain daripada anggapan umum yang diorganisasikan dan diklasifikasikan (Nagel, 1961:3).

Tapi ilmu bukanlah pendapat umum. Tentu ada perbedaan antara ilmu dengan pendapat umum, setidaknya ada lima yang bisa dikemukakan (Rakhmat, 1998:2) :

1. Informasi anggapan umum biasanya tidak disertai dengan penjelasan mengapa itu terjadi.

Ø Ilmu mengorganisasikan dan mengklasifikasikan pengetahuan berdasarkan penjelasan

Ø Ilmu berusaha menemukan dan merumuskan kondisi-kondisi yang menentukan terjadinya berbagai peristiwa

Ø Pernyataan tentang kondisi-kondisi penentu inilah yang disebut penjelasan ilmiah.

2. Informasi dalam anggapan umum mengandung konsep-konsep yang pengertiannya luas atau kabur

- luas dalam arti bahwa makna atau kelompok hal yang ditunjukkan oleh istilah tidak dibatasi secara jelas dan tajam

- kabur dalam arti hubungan di antara konsep-konsep itu tidak dirumuskan secara khusus dan cermat

Ø Ilmu menjelaskan cakupan atau batasan istilah yang dipergunakan dan memperjelas secara khusus hubungan di antara istilah-istilah itu

Ø Kecermatan ilmu diungkapkan dalam bentuk kuantifikasi, pemberian nilai bilangan pada gejala yang diteliti

Si Fulan, misalnya, dianggap lebih cerdas daripada si Anu. Itu anggapan umum. Ilmuwan atau psikolog, dapat menunjukkan kecerdasan tersebut berdasarkan jumlah skor IQ di antara keduanya.

3. Anggapan umum diterima tanpa diuji kebenarannya.

Ø Ilmu secara sistematis dan empiris menguji teori dan hipotesis yang dinyatakan.

Ø Ilmuwan sosial, amat berhati-hati dalam memelihara penelitiannya dari pandangan yang bersifat sepihak

Ø Testabilitas, atau hal yang dapat diuji, adalah ciri pokok ilmu dibandingkan dengan metode-metode pengetahuan lain.

Ø Pengujian dalam ilmu juga dibatasi dengan tiga ketentuan: sistematis, terkontrol, dan empiris.

4. Anggapan umum tidak pernah mempersoalkan kontrol.

Ø Dalam pengertian ilmiah, kontrol berarti bahwa ilmuwan secara sistematis berusaha menghilangkan ikut-sertanya variabel-variabel lain yang menjadi sebab terjadinya peristiwa tertentu selain variabel yang dihipotesiskan sebagai penyebab.

Ø Hanya variabel yang tertentu saja yang dapat dijadikan patokan diantara beberapa variabel yang dibuat.

5. Erat kaitannya dengan pengujian dan kontrol, ilmu, dalam menjelaskan gejala yang diamatinya, selalu berusaha menghindari menjelaskan metafisis.

Ø Pertimbangan-pertimbangan yang sifatnya tidak dapat diuji kebenarannya, bukan kewajiban ilmiah untuk membuktikannya.


Kaidah-kaidah Ilmu

Ilmu ditegakkan di atas kaidah: orde, determinisme, parsimoni, dan empirisme. Tanpa mempercayai keempat kaidah ini, penelitian ilmiah tidak dapat dilakukan.

1. Orde.

Ilmu percaya bahwa alam ini teratur, tidak serampangan. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di muka bumi ini mengikuti aturan yang teratur dalam suatu pola yang tertentu, dalam suatu orde (tatanan). Gerhana bulan pada saat tertentu dapat diramalkan karena bulan beredar dalam pola edar yang tertentu. Jadwal shalat dan penentuan bulan qamariah dapat diketahui jauh sebelumnya, karena peredaran planet-planet sudah tetap.

Ilmu kedokteran, tidak akan berjalan dengan baik kalau masing-masing tubuh manusia berjalan sendiri-sendiri tanpa aturan. Pendeknya, tanpa orde, ilmu tidak dapat menemukan hukum-hukum yang berlaku umum (generalisasi).

2. Determinisme.

Ilmu percaya bahwa setiap peristiwa mempunyai sebab, determinan, atau anteseden (pendahulu) yang dapat diselidiki. Hubungan antara di antara berbagai peristiwa dapat ditemukan.

Misalnya, psikolog, percaya bahwa tingkah laku manusia ditentukan oleh pengalamannya terdahulu. Ahli komunikasi percaya bahwa pemberian arti pada suatu pernyataan yang ditentukan oleh proses decoding (mengalih sandi) dalam diri penerima.

3. Parsimoni (kesederhanaan).

Kaidah parsimoni menunjukkan bahwa ilmu lebih menyukai penjelasan yang sederhana daripada penjelasan yang kompleks bila kedua-duanya sama-sama menjelaskan fakta.

Ilmu juga menyukai penjelasan yang mencakup lebih banyak fenomena daripada penjelasan yang terbatas pada fenomena tertentu.

Parsimoni erat kaitannya dengan generalisasi penemuan ilmiah. Beberapa disiplin ilmu, seperti ilmu-ilmu alam (natural sciences), lebih memenuhi kaidah parsimoni. Ilmu-ilmu sosial lebih berhati-hati dalam melakukan generalisasi.


4. Empirisme.

Empirisme menunjukkan kepercayaan pada observasi atau eksperimen. Kesimpulan-kesimpulan ilmu haruslah didasarkan pada pengalaman yang dapat diamati, pada peristiwa yang empiris. Observasi ilmiah dapat bersifat langsung atau tidak langsung. Empirisme juga berarti bahwa observasi tidak boleh subjektif, tetapi harus bersifat publik.

Peristiwa yang diamati harus terjadi pada tempat, waktu, dan cara yang memungkinkan observasi orang lain. Erat kaitannya dengan objektivitas, observasi ilmiah harus dapat diulang.

- Replikasi – atau pengulangan observasi ilmiah oleh pengamat-pengamat lain – menjamin adanya observasi yang dapat dipercaya.

- Pengalaman-pengalaman mistis tidak dapat dikatakan ilmiah karena sifatnya yang individual dan sukar diulangi oleh orang lain pada tempat, waktu, dan cara yang sama.

- Empirisme memungkinkan ilmu selalu diuji, diulangi, sehingga komunikabilitas dan akumulasi informasi dapat dilakukan secara sistematis.


Tujuan Ilmu

Tujuan pokok ilmu adalah memahami gejala-gejala alam. Ada berbagai tahap pemahaman:

1. Deskripsi gejala secara cermat. Misalnya, dalam memahami apa yang disebut kecerdasan, ilmuwan lebih dahulu menentukan apakah ada gejala kecerdasan. Kalau ada, unsur-unsur apa yang merupakan komponen kecerdasan.

2. Penjelasan. Kita dapat menjelaskan suatu gejala bila dapat menjabarkan kondisi-kondisi yang menentukan timbulnya gejala tersebut. Kecermatan penjelasan ditentukan oleh sejumlah faktor yang dipergunakan untuk menerangkan timbulnya gejala. Makin sedikit faktor yang dijabarkan, makin cermat penjelasan. Bila berbagai faktor menjadi alasan timbulnya gejala, kita belum memahami gejala itu.

Penjelasan erat kaitannya dengan prediksi (ramalan). Makin spesifik suatu penjelasan, makin cermat kita melakukan prediksi.

3. Mengorganisasikan secara sistematis semua bukti empiris yang ada dalam suatu satuan pengetahuan. Bila suatu penjelasan telah diuji berkali-kali dan terbukti benar, penjelasan itu menjadi fakta ilmiah. Fakta-fakta ilmiah, bila diorganisasikan secara sistematis, serta metode yang digunakan untuk sampai kepada fakta-fakta tersebut, merupakan pengetahuan ilmiah.


Teori Ilmiah

Tujuan utama ilmu, adalah penjelasan gejala alam secara cermat sehingga dapat melakukan prediksi. Bila penjelasan ini telah diuji berkali-kali dan terbukti benar, penjelasan ini dinamakan teori. “Teori adalah himpunan konstruk (konsep), definisi, dan proposisi yang mengemukakan pandangan sistematis tentang gejala dengan menjabarkan relasi di antara variabel, untuk menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut” (Kerlinger, dalam Rakhmat, 1998 : 6).

Secara terinci teori ilmiah ditandai oleh hal-hal sebagai berikut :

1. Teori terdiri dari proposisi-proposisi. Proposisi adalah hubungan yang terbukti di antara berbagai variabel. Proposisi ini biasanya dinyatakan dalam bentuk “jika, maka”.

2. Konsep-konsep dalam proposisi telah dibatasi pengertiannya secara jelas. Pembatasan konsep ini menghubungkan abstraksi dengan dunia empiris.

3. Teori mungkin harus bisa diuji, diterima atau ditolak kebenarannya. Pembatasan pengertian konsep yang dipergunakan menyiratkan kemungkinan pengujian teori.

4. Teori harus dapat melakukan prediksi. Teori agresi dapat meramalkan bahwa bila guru selalu menghambat tingkah laku anak, frekuensi agresi akan bertambah. Teori disonansi kognitif, dapat meramalkan bahwa dalam suasana disonansi, orang akan mencari pembenaran (justifikasi) terhadap perilakunya.

5. Teori harus dapat melahirkan proposisi-proposisi tambahan yang semula tidak diduga.


Fungsi teori:

· Teori merupakan alat untuk mencapai satuan pengetahuan yang dinamis. Teori penting sekali dalam memperjelas pengetahuan sebagai dasar organisasi pemikiran.

· Teori pembimbing penelitian. Dari teori dapat dijabarkan hipotesis baru. Bila ada teori yang berlawanan, penelitian dapat menguji mana di antara teori itu yang benar.

read more...

Monday, July 27, 2009

KUMPULAN BUKU KARYA HARTONO AHMAD JAIZ


KUMPULAN BUKU KARYA HARTONO AHMAD JAIZ


Ada Tiga Judul buku dalam Ebook ini, adalah:


- ADA PEMURTADAN di IAIN

Buku ini Berusaha menguak bagaimana pemurtadan di perguruan-perguruan tinggi Islam.


- BILA KIYAI MENJADI TUHAN Buku ini menggambarkan bagaimana Kiai seakan dianggap dan 'mentuhankan' dirinya.

- BAHAYA ISLAM LIBERAL Buku ini menjelaskan bagaimana Islam Liberal yang berkedok sang Pembaharu menjadi pahlawan yang hendak mematikan Islam secara hakiki.

- TASAWUF BELITAN IBLIS
Menggambarkan bagaimana tasawuf itu menjadi salah satu yang membuat manusia berada pada jalan yang tidak diridhai Tuhan.

- TASAWUF, PLURALISME, & PEMURTADAN
Ketiga kata itu sering menjadi sumber malapetaka yang mampu menghacurkan iman dan aqidah Ummat Islam..

Download Ebooknya
read more...

Friday, July 10, 2009

Mengenal Teori Shannon-Weaver

Upaya membahas fenomena informasi secara ilmiah sudah mulai dipikirkan oleh para ilmuwan sejak tahun 1920an. Namun upaya tersebut baru benar-benar menarik perhatian kalangan akademisi dan industri ketika Claude Shannon menulis “A Mathematical Theory of Communication” tahun 1948 di jurnal Bell System Technical Journal. Shannon adalah seorang ilmuwan matematik yang memang bekerja untuk laboratorium Bell, membantu perusahaan ini mengembangkan teknologi telekomunikasi.

Sebagai peneliti untuk perusahaan telekomunikasi, Shannon tentu saja terutama tertarik terhadap efisiensi mengirim infomasi melalui saluran telegram dan telepon yang waktu itu belum berkembang seperti saat ini. Untuk itu, Shannon perlu memandang informasi sebagai simbol-simbol yang dipertukarkan dalam komunikasi antar manusia. Secara khusus, dia harus menjelaskan bagaimana alat dan saluran komunikasi mengirim simbol-simbol itu dari satu titik di suatu tempat ke titik lain di tempat lainnya. Ini dikenal sebagai transmisi informasi.

Bagi laboratorium Bell tempat Shannon bekerja, kapasitas, efisisiensi, dan efektivitas transmisi ini menjadi amat penting untuk pengembangan jaringan telepon. Shannon lalu menggunakan pendekatan matematik yang memudahkan manusia mereduksi gejala rumit agar mudah dipahami, dan kemudian menghitung atau mengukur gejala tersebut untuk mencapai efisiensi teknologi.

Setahun setelah Shannon mengajukan pemikiran matematisnya di jurnal perusahaan Bell, teori ini dikembangkan lebih jauh bersama seorang rekannya, Warren Weaver, untuk menjadi buku. Di dalam buku inilah mereka menegaskan bahwa untuk memahami informasi, kita perlu berasumsi bahwa semua tujuan komunikasi adalah mengatasi ketidakpastian (uncertainty). Teori yang dikembangkan Shannon dan Weaver menyederhanakan persoalan komunikasi ini dengan memakai pemikiran-pemikiran probabilitas (kemungkinan).

Jika kita melakukan undian dengan melempar sebuah uang logam, hasil undian itu dianggap bernilai satu bit informasi karena mengandung dua kemungkinan dan setiap kemungkinan mengandung nilai 0,5 alias sama besar dari segi kesempatan undian. Dari pemikiran dasar yang sederhana ini, Shannon dan Weaver menyatakan bahwa semua sumber informasi bersifat stochastic alias probabilistik (bersifat kemungkinan). Jika kemungkinan tersebut bersifat tidak mudah diduga, maka derajat ketidakmudahan ini disebut sebagai entropy.

Melalui pernyataan-pernyataan matematis, Shannon (dan lalu juga Weaver) menunjukkan hubungan antara elemen sistem teknologi komunikasi, yaitu sumber, saluran, dan sasaran. Setiap sumber dalam gambaran Shannon memiliki tenaga atau daya untuk menghasilkan sinyal. Dengan kata lain, pesan apa pun yang ingin disampaikan melalui komunikasi, perlu diubah menjadi sinyal, dalam sebuah proses kerja yang disebut encoding atau pengkodean. Sinyal yang sudah berupa kode ini kemudian dipancarkan melalui saluran yang memiliki kapasistas tertentu. Saluran ini dianggap selalu mengalami gangguan (noise) yang mempengaruhi kualitas sinyal. Memakai hitung-hitungan probabilitas, teori informasi mengembangkan cara menghitung kapasitas saluran dan kemungkinan pengurangan kualitas sinyal. Sesampainya di sasaran, sinyal ini mengalami proses pengubahan dari kode menjadi pesan, atau disebut juga sebagai proses decoding.

Teori informasi Shannon juga menganggap bahwa informasi dapat dihitung jumlahnya, dan bahwa informasi bersumber atau bermula dari suatu kejadian. Jumlah informasi yang dapat dikaitkan, atau dihasilkan oleh, sebuah keadaan atau kejadian merupakan tingkat pengurangan (reduksi) ketidakpastian, atau pilihan kemungkinan, yang dapat muncul dari keadaan atau kejadian tersebut. Dengan kata yang lebih sederhana, teori ini berasumsi bahwa kita memperoleh informasi jika kita memperoleh kepastian tentang suatu kejadian atau suatu hal tertentu.

Keunggulan teori Shannon-Weaver terletak pada kemampuannya membuat persoalan komunikasi informasi menjadi persoalan kuantitas, sehingga sangat cocok untuk mengembangkan teknologi informasi. Kritik terhadap teori mereka datang dari kaum yang mencoba mengaitkan informasi dengan makna dan kandungan nilai sosial-budaya di dalam informasi. Sampai sekarang, perdebatan tentang apakah informasi adalah sesuatu yang kuantitatif atau kualitatif masih terus berlangsung. Ada yang mencoba mengambil kebaikan dari kedua pihak dengan mengatakan bahwa informasi adalah sesuatu yang berwujud dan sekaligus bersifat abstrak.

Jasa Shannon-Weaver terletak pada kepioniran mereka memperkenalkan diskusi dan aplikasi informasi ke dalam kehidupan manusia. Apa yang sekarang kita alami dan nikmati, adalah hasil perkembangan dari pemikiran mereka juga.

Beberapa defenisi komunikasi massa.

  • Komunikasi massa adalah proses di mana informasi diciptakan dan disebarkan oleh organisasi untuk dikonsumsi oleh khalayak (Ruben, 1992)
  • Komunikasi massa adalah pesan-pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah orang. (Bittner, 1980)
  • Komunikasi massa adalah suatu proses dalam mana komunikator-komunikator menggunakan media untuk menyebarkan pesan-pesan secara luas, dan secara terus menerus menciptakan makna-makna yang diharapkan dapat mempengaruhi khalayak yang besar dan berbeda-beda dengan melalui berbagai cara. (DeFleur dan Denis, 1985)
Ditulis oleh putubuku di/pada April 9, 2008
read more...

Al-Gazali dan Abraham Maslow dalam Teori Motivasi

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG.
Salah satu cara memahami hakekat manusia adalah dengan pendekatan yang lebih mengarah kepada teori tentang kepribadian manusia. Dewasa ini telah banyak hasil yang dicapai oleh para ahli psikologi dalam usaha untuk menyusun teori kepribadian . Pembahasan tentang kepribadian ini berkaitan erat dengan perilaku manusia yang salah satu determinannya adalah motivasi.
Berdasarkan penggolongan determinan perilaku manusia itulah para ahli psikologi mengemukakan teori-teorinya tentang motivasi. Di antara teori motivasi yang dikemukakan adalah teori aktualisasi diri yang pertama kali dikemukakan oleh Carl Rogers dan kemudian dikembangkan oleh Abraham H. Maslow. Abraham H. Maslow ini dianggap sebagai tokoh madzhab ketiga dari aliran psikologi yang melakukan penelitan dengan cara meneliti orang-orang yang sehat sebagai obyeknya.
Di sisi lain, Al-Ghazâli melalui pendekatan tasawufnya banyak mengungkap hakikat dan perilaku manusia. Dari pemikiran-pemikiran Al-Ghazâli yang fenomenal ini banyak terlahir pemikir-pemikir baru di bidang psikologi Islam. Diantara pemikiran Al-Ghazâli adalah konsepnya tentang fitrah yang dikenal dengan sebutan al-Nafs al-Rabbâniyyah. Konsep fitrah Al-Ghazâli berkaitan erat dengan pembahasan tentang motivasi. Untuk menjelaskan motivasi perilaku manusia, Al-Ghazâli menyuguhkan konsep syahwat sebagai motivasi mendekat (al-sabab al-dâkhili) dan ghadlab sebagai motivasi menjauh (al-sabab al-khâriji).
Pemahaman terhadap hakekat manusia menurut Al-Ghazâli melalui Pendekatan Tasawuf dan Maslow melalui Pendekatan Ilmiah tampaknya memiliki pandangan yang sama, yaitu memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi-potensi baik dan mampu diaktualisasikan sehingga mencapai manusia sempurna (al-insân al-kamîl). Namun tentu saja perbedaan-perbedaan antara mereka berdua tentang teori motivasi pasti ada. Atas dasar itu penelitian mendalam terhadap pemikiran-pemikiran Al-Ghazâli dan Maslow tampaknya perlu dilakukan. Maka mengungkap pemikiran keduanya melalui sebuah studi komparatif laik untuk dilakukan.
B. RUMUSAN MASALAH.
1. Identifikasi Masalah
Pembahasan tentang motivasi berkaitan erat dengan kepribadian manusia yang unik dan multikompleks. Teori motivasi berupaya menjelaskan sebuah perilaku serta stimulus kepada individu untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Tujuan-tujuan tersebut dapat digolongkan kepada subyek-subyek tertentu, misalnya dibidang psikoterapi, manajemen, sosial kemasyarakatan, dan pendidikan.
2. Pembatasan Masalah
Isi makalah dibatasi pada komparasi pemikiran Al-Ghazâli dan Maslow tentang motivasi ditinjau dari sudut pandang implikasinya terhadap pendidikan.
3. Perumusan Masalah
Masalah dalam makalah ini dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, apakah teori motivasi menurut Al-Ghazâli dan Maslow cenderung menghasilkan pendidikan yang beraliran nativisme dan empirisme ?
C. Tujuan dan Manfaat
Pembahasan dalam makalah ini bertujuan untuk mengetahui apakah teori motivasi menurut Al-Ghazâli dan Maslow cenderung menghasilkan pendidikan yang beraliran nativisme dan empirisme? Makalah ini pun memiliki manfaat untuk mengungkapkan pemikiran kedua tokoh tersebut tentang motivasi dan memberikan inspirasi baru dalam menemukan teori-teori pendidikan humanistik menurut Islam.
D. Ruang Lingkup Pembahasan
Ruang lingkup pembahasan meliputi
1. Hakekat manusia
2. Psikoterapi
3. Aktualisasi diri
4. Pendidikan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. KERANGKA TEORI
1. HAKIKAT MANUSIA
Pembahasan tentang hakekat manusia dapat dilihat dari tiga perspektif sebagai berikut:
a. Pandangan filsafat tentang manusia
Dalam filsafat terdapat empat aliran dalam memandang manusia, yaitu materialisem monism yang memandang bahwa hakekat manusia adalah sebuah materi. Kedua, aliran filsafat spiritualisme yang memandang bahwa hakekat manusia adalah ruh dan jiwa. Ketiga, aliran filsafat idealisme yang memandang bahwa manusia adalah perpaduan badan yang material dan jiwa yang tidak material . dan keempat aliaran filsafat dualisme yang beranggapan bahwa hakekat manusia adalah jasmani dan ruh yang keduanya merupakan sesuatu yang saling berbeda.
b. Pandangan psikologi tentang manusia
Ada empat aliran psikologi yang dijadikan rujukan dalam merumuskan teori tentang manusia, yaitu psikoanalisa, behavioristik, humanistik, dan transpersonal.
Aliran psikoanalisa yang dipelopori oleh Sigmund Freud (1856-1939) menyatakan bahwa kepribadian manusia terdiri atas tiga system dan tiga strata kesadaran. Tiga sistem adalah id (das es), ego (das ich), dan super ego (uber ich). Sedangkan tiga strata kesadaran adalah alam sadar (the preconscious), alam sadar (the conscious), dan alam tak sadar (the unconscious).
Aliran Behavioristik yang dipelopori John Broadus Watson (1878-1958) memandang manusia dengan konsep stimulus respon (S-R). Perilaku manusia terbentuk melalui pembiasaan klasik (classical conditioning), hokum akibat (law of effect), pembiasaan operant (operant conditioning), dan peneladanan (modeling).
Sementara aliran Humanistik yang dipelopori Abraham H. Maslow memandang manusia memiliki potensi yang baik dan makhluk bermartabat, bertanggung jawab, dan mampu merealisasikan potensi-potensinya sesuai dengan jati dirinya sehingga mencapai aktualisasi diri.
Adapun dalam pandangan aliran Transpersonal manusia memiliki kebutuhan paling tinggi yaitu kebutuhan spiritual yang membuat mampu mencapai posisi transendensi diri melewati batas kesadaran biasa yang pada suatu saat mampu mencapai tingkat penghayatan mistis, penyatuan diri dengan Tuhan yang Maha Besar.
c. Pandangan Islam tentang Manusia
Ada tiga kata kunci dalam memahami konsep Islam tentang manusia, yaitu basyar, insân, fitrah, dan nafs, dan ruh. Konsep basyar menunjukkan posisi manusia sebagai makhluk biologis yang memerlukan kebutuhan dasar (physiological needs). Sedangkan konsep insân menunjukkan bahwa manusia adalah totalitas yang memiliki fisik dan psikis, badaniah dan ruhaniah, individualistik, khas, unik, berbeda antara manusia satu dengan yang laiinya.
Sementara nafs dan ruh merupakan tentara hati manusia (junûd al-qalb). Hati manusia ini telah memiliki potensi yang disebut fitrah. Demikian penjelasan Al-Ghazâli.
2. TEORI MOTIVASI
Berdasarkan pengelompokkan motivasi ke dalam 4 kategori, yaitu motivasi biologis, motivasi sosial, motivasi personal, dan tingkat tinggi, muncullah 6 teori motivasi.
· Pertama, teori instink yang beranggapan bahwa sebagian besar perilaku manusia ditentukan oleh instink.
· Kedua, teori kognitif yang menjelaskan bahwa manusia memiliki kebebasan untuk memilih berdasarkan rasio.
· Ketiga, teori hedonistik yang menyebutkan bahwa perilaku manusia pada dasarnya memiki tujuan untuk mencari hal-hal yang menyenangkan dan menghindari hal yang sebaliknya.
· Keempat, teori Homeostatis yang menyatakan bahwa timbulnya sebuah motivasi merupakan akibat dari kondisi manusia yang tidak seimbang (disequilibrium) yang mendorongnya untuk kembali kepada keseimbangan (equilibrium).
· Kelima, teori Harapan yang dipelopori Victor E. Vroom. Menurutnya motivasi merupakan kombinasi antara besarnya keinginan, kemungkinan, dan keyakinan.
· Dan yang keenam adalah teori Aktualisasi Diri yang berpendapat bahwa dorongan tertinggi manusia adalah pencapaian aktualisasi diri.
3. ALIRAN-ALIRAN PENDIDIKAN
Terdapat empat aliran pendidikan yang sudah popular, yaitu nativisme, empirisme, naturalism dan konvergensi. Nativisme yang dipelopori Schopenhauer berpendapat bahwa bayi terlahir sudah dengan pembawaan sifat baik dan buruk. Empirisme melalui John Locke (1704-1832) menyatakan bahwa pembentukan kepribadian manusia sangat ditentukan oleh rangsangan dari lingkungan luar. Naturalisme yang dimunculkan oleh J.J. Rousseau (1712-1778) menyatakan bahwa semua anak yang baru dilahirkan mempunyai pembawaan buruk. Dan Konvergensi yang dipelopori William Stern menyebutkan bahwa keberhasilan pendidikan sangat tergantung dari pembawaan dan lingkungan.
B. RIWAYAT HIDUP AL-GHAZALI & TEORI MOTIVASINYA
Nama lengkap Al-Ghazali adalah Abu Hamid Muhamad bin Muhamad at-Thusi Al-Ghazali. Ia lahir di kota Thus Khurasan pada tahun 450 H atau 1058 M. Pendidikan Al-Ghazali dimulai dari Sang Ayah yang mengajarinya Al-Qur’an. Kemudian ia berguru kepada Ahmad bin Muhamad ar-Razikani dan Imam al-Haramain al-Juwaini di madrasah Nizamiyah. Al-Ghazali wafat pada tahun 505 H/1111 M dalam usia ke-55 dan dimakamkan di kota kelahirannya. Adapun konsep teori motifasinya :
1. Struktur Jiwa
Menurut Al-Ghazali manusia terbagi ke dalam tiga dimensi, yaitu dimensi materi, dimensi nabati, dimensi hewani, dan dimensi kemanusiaan. Dalam tiga dimensi itu struktur jiwa manusia terdiri atas al-qalb, al-ruh, al-nafs, dan al-aql. Unsur yang empat ini mengerucut pada satu makna yakni latifah atau al-ruh al-rabbaniyyah yang merupakan esensi manusia yang memiliki daya cerap, mengetahui dan mengenal, dan sekaligus menjadi obyek pertanggungjawaban atas perbuatan yang dilakukannya.
2. Junud al-Qalb sebagai Unsur Motivasi
Menurut Al-Ghazali sebuah perilaku terjadi karena peran dari Junud al-Qalb atau tentara hati. Dalam diri manusia terdapat dua kelompok Junud al-Qalb, yaitu yang bersifat fisik berupa anggota tubuh yang berperan sebagia alat dan yang bersifat psikis. Yang bersifat psikis mewujud dalam dua hal yaitu syhawat dan ghadlab yang berfungsi sebagai pendorong (iradah). Syahwat mendorong untuk melakukan sesuatu (motif mendekat) dan ghadlab mendorong untuk menghindar dari sesuatu (motif menjauh). Adapun tujuan dari perilaku tersebut adalah untuk sampai kepada Allah. Tetapi dalam praktiknya perilaku ini terbagi ke dalam hirariki motivasi Ammarah (hedonistik), motivasi Lawwamah (skeptik), dan motivasi Muthmainnah (spiritualistic).
C. RIWAYAT HIDUP ABRAHAM H. MASLOW & TEORI MOTIVASINYA
Nama lengkapnya adalah Abraham Harold Maslow. Ia lahir pada tanggal 1April 1908 di Brooklyn New York Amerika Serikat dari tujuh bersaudara. Ia belajar di City College of New York, Cornel University, dan Universitas Wisconsin. Gelar Ph.D di bidang psikologi ia raih pada tahun 1934. Ia bekerja di Brooklyn College selama 14 tahun, kemudian di Laughlin Foundation di Menlo Park sampai akhir hayatnya. Maslow meninggal pada tanggal 8 Juni 1970. adapun konsep teorinya :
1. Hakikat Manusia
Tentang hakekat manusia Maslow berpendapat bahwa manusia memiliki satu kesatuan jiwa dan raga yang bernilai baik, dan memiliki potensi-potensi. Yang dimaksud baik itu adalah yang mengakibatkan perkembangan kea rah aktualisasi diri.
2. Kebutuhan Pokok Manusia
Manusia memiliki kebutuhan dasar yang akan selalu menjadi motivasi perilakunya, yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan keselamatan, kebutuhan akan memiliki dan rasa cinta, kebutuhan akan harga diri, dan kebutuhan akan aktualisasi diri. Untuk dapat sampai pada tingkat aktualisasi diri semua kebutuhan-kebutuhan pokok manusia pada tingkat sebelumnya harus terpenuhi. Selain kebutuhan pokok tersebut yang disebut basic needs manusia juga memiliki metaneeds sebagai kebutuhan pertumbuhan seperti keadilan, keindahan, keteraturan, dan kesatuan.
3. Kebutuhan Pokok sebagai Unsur Motivasi
Teori Motivasi Maslow dibentuk atas dasar teori hirarki kebutuhan pokok. Dengan kata lain pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokok inilah yang memotivasi manusia berbuat sesuatu. Teori ini tidak sekedar bersifat homeostatis tetapi juga homeostatis psikologis. Bahkan pada tingkat puncak kebutuhan yang disusun Maslow mengarah kepada mistisisme.
D. HASIL PERBANDINGAN
1. Fitrah Manusia
Secara umum Al-Ghazali dan Maslow memandang fitrah sebagai potensi dasar dari manusia adalah positif dan baik. Perbedaannya terletak pada kriteria baik. Menurut Al-Ghazali nilai-nilai yang baik adalah yang didasarkan atas unsur-unsur ilahiyah yang ditiupkan Allah pada proses penciptaan manusia. Sedangkan menurut Maslow nilai-nilai yang baik adalah yang dapat mengantarkan manusia memenuhi kebutuhan pokoknya dan mencapai aktualisasi diri.
2. Kebutuhan Manusia
Bila Maslow mengelompakan kebutuhan manusia ke dalam lima macam secara hirarkis, maka kita dapat membaginya menjadi dua, yaitu kebutuhan mutlak yang bersifat vertikal, dan kebutuhan terikat yang bersifat horizontal. Kebutuhan horizontal merupakan media dan sarana untuk memenuhi kebutuhan vertikal yakni mencapai kedekatan dengan Allah SWT. Klasifikasi kebutuhan dalam teori Al-Ghazali ini didasarkan kepada etika dan moral. Sedangkan Maslow mendasarkannya pada kepuasan yang relatif. Sekalipun dengan istilah yang berbeda, tujuan dari kebutuhan-kebutuhan tersebut baik menurut keduanya adalah untuk mencapai pengalaman puncak (peak experience).
3. Psikoterapi
a. Emosi
Menurut Al-Ghazali emosi pada dasarnya adalah gejolak dalam hati yang cenderung mengarah kepada dendam. Emosi ini harus senantiasa berada dalam posisi seimbang. Training untuk menyeimbangkan emosi adalah melalui riyadhah al-nafs.
Adapun Maslow berpandangan bahwa emosi cenderung bersifat positif. Emosi ini harus dikembangkan sehingga manusia mampu mengaktualisasikan segenap potensinya. Bukan bukan untuk dijauhi dan dikecam.
b. Konflik dan Macam-macamnya
Dalam pengertian Al-Ghazali konflik adalah suatu kondisi di saat hati berlawanan dengan kebaikan. Konflik ini terjadi ketika muncul dorongan ke arah kehidupan duniawi di satu sisi dan dorongan kehidupan akhirat di sisi lain. Sedangkan Maslow membagi konflik ke dalam kelompok, yaitu konflik yang bersifat ancaman dan yang bukan ancaman. Hanya konflik yang menimbulkan ancamanlah yang dianggap sebagai penyakit hati (psipatologis).
c. Upaya Memecahkan Konflik
Al-Ghazali mengajukan 10 langkah untuk memecahkan konflik, yaitu :
(1) Konsistensi dan ketulusan niat
(2) Ikhlas
(3) Penyesuain diri dengan kehendak Allah
(4) Tidak melakukan bid’ah
(5) Cita-cita yang tinggi
(6) Merasa lemah di hadapan Tuhan
(7) Memiliki sifat takut dan berharap
(8) Melakukan wirid
(9) Muraqabah dan
(10) Berdo’a.
Sementara bagi Maslow ada tujuh cara memecahkan konflik, yaitu :
(1) Melalui Pengungkapan
(2) Pemuasan Kebutuhan Pokok
(3) Meniadakan Ancaman
(4) Peningkatan Pemahaman
(5) Saran Dan Wewenang, Dan
(7) Perwujudan Diri.
4. Aktualisasi Diri
a. Ciri-ciri Aktualisasi Diri
Al-Ghazali berpendapat bahwa orang yang telah mencapai aktualisasi diri adalah orang-orang yang senantiasa mentaati kaedah-kaedah agama dan memenuhi kewajiban baik dalam hubungan dengan Allah maupun dengan sesama makhluk Allah. Sedangkan menurut Maslow ciri orang yang beraktualisasi diri adalah bersifat universal yakni menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan universal dalam berhubungan dengan sesama. Tetapi tidak bermuatan agama.
b. Upaya Pencapaian Aktualisasi Diri
Menurut Al-Ghazali aktualisasi diri dapat dicapai melaui riyadlah al-nafs (pengendalian nafsu), tathahhur (penyucian jiwa), tahaqquq (kristalisasi), takhalluq (peneladanan terhadap sifat Allah), dan ‘uzlah (pengasingan diri). Berbeda dengan itu, Maslow menyebutkan cara-cara yang dilakukan untuk mencapai aktualisasi diri adalah pemuasan kebutuhan-kebutuhan pokok, meditasi, dan pengasingan diri.
5. Pendidikan dan Nilai-nilainya
Pandangan Al-Ghazali tentang pendidikan tercermin dalam pendapatnya tentang hakikat, klasifikasi, tujuan dan cara mencapat ilmu. Ilmu adalah suatu proses untuk mendekatkan diri dan menghubungkan hamba dengan Tuhannya. Ilmu ada yang bersifat hudluri (perolehan) dan ladunni (pemberian). Ilmu juga ada bersifat fardlu ‘ain dan ada yang fardlu kifayah. Dari segi kegunaan ilmu ada yang terpuji, tercela, dan netral. Semua ilmu itu tujuannya adalah mengenal Allah. Untuk mendapatkannya harus dibangun pendidikan yang sarat dengan nilai-nilai akhlak mulia.
Sementara itu Maslow menyodorkan konsep pendidikan humanistik yang bertujuan mengembangkan potensi-potensi manusia sehingga dapat mencapai aktualisasi diri. Pendidikan yang ideal adalah yang memberi kebebasan belajar sesuai keinginan, dapat dicapai oleh siapapun selama ia dapat memperbaiki dan belajar, dan memberikan kesempatan kepada siswa menemukan apa yang disukai dan diinginkannya. Tujuan pendidikan adalah menemukan identitias diri sebagai dasar mencapai tujuan hidup. Maslow mendukung pendidikan yang bermoral dan mencela yang sebaliknya (value free education).

Disusun Oleh: Dinul & Rauf (Jurnalistik UIN Alauddin Makassar 2008)
read more...