Thursday, June 03, 2010

Perilaku Organisasi; Teori Motivasi dan Teknik Memotivasi


Manager yang berhasil adalah yang mampu menggerakkan bawahannya dengan menciptakan motivasi yang tepat bagi bawahannya
PEMBAGIAN TEORI MOTIVASI
TEORI ISI (Content Theory)
1. Teori Hirarki Kebutuhan ( A. Maslow)
2. Teori E-R-G ( Clayton Alderfer)
3. Teori Tiga Motif Sosial (D. McClelland)
4. Teori Dua Faktor (Frederick Herzberg)
TEORI PROSES ( Process Theory)
1. Equity Theory (S. Adams)
2. Expectancy Theory ( Victor Vroom)
3. Goal Setting Theory (Edwin Locke)
4. Reinforcement Theory ( B.F. Skinner)

Hierarchy of Needs Theory (Abraham Maslow; 1935)
Kebutuhan Manusia :
Physiological
Safety & Security
Social (Belongingness & Love)
Esteem
Self Actualization


ERG THEORY (Clayton Alderfer)
E (Existence)
R (Relatedness)
G (Growth)
Mekanisme Kebutuhan :
Frustration – Regression
Satisfaction - Progression

Trichotomy of Needs (David McClelland)
Achievement Motive (nAch): Motif untuk berprestasi
Affiliation Motive (nAff): Motif untuk bersahabat.
Power Motive (nPow) : Motif untuk berkuasa
Two Factor Theory (Frederick Herzberg)
Hygiene Factors Motivators
No
Dissatisfaction Dissatisfaction Satisfaction
---------------------------!----------------------------
Gaji Achievement
Rasa Aman Recognition
Status Responsibility
Kondisi Ling. Kerja Challenging Work
Hub.d/ Atasan,Rekan Advancement,Involvement
PERBANDINGAN EMPAT TEORI ISI
Maslow Alderfer McClelland Herzberg

Basic Existence
Security Hygiene
Social Relatedness nAff
Esteem Growth nAch Motivator
Self Act. nPow
KEBUTUHAN & INSTRUMEN ORGANISASI (I)
Physiological - Gaji
- Breakfast / Luch Program
- Rumah Dinas
Safety - Benefits plans
- Pensiun
- Gaji
Social - Coffee Breaks - Team Work
- Tim Olah Raga - Gaji
- Piknik Bersama
KEBUTUHAN & INTRUMEN ORGANISASI (II)
Esteem - Otonomi
- Tanggungjawab
- Gaji (as symbol of status)
Achievement - Tantangan dlm pekerjaan
- Gaji
Power - Leadership Positions
- Otoritas
Self Actualization – Challenge & Otonomi
EQUITY THEORY (Social Comparison Theory)
Pada dasarnya manusia menyenangi perlakuan yang adil / sebanding

Ind.Rewards Others Reward
Ind. Input Others Input
Felt Negatif / Positif

Motivates
BENTUK OUTCOME & INPUT
REWARDS : - Gaji
- Status / Jabatan
- Penilaian / Penghargaan
INPUT : - Pendidikan
- Pengalaman
- Umur
- Jenis kelamin
- Usaha / Produktivitas

EXPECTANCY THEORY (Victor Vroom)
Besar kecilnya usaha kerja yang akan diperlihatkan oleh seseorang, tergantung pada bagaimana orang tersebut memandang kemungkinan keberhasilan dari tingkah lakunya itu dalam mencapai tujuan yang diinginkan
Ind. Ind. Org. Ind.
Effort Performance Rewards Goals
M = E x I x V
GOAL SETTING THEORY (Edwin Locke)
Kuat lemahnya tingkah laku manusia ditentukan oleh sifat tujuan yang hendak dicapai.
Kecenderungan manusia untuk berjuang lebih keras mencapai suatu tujuan, apabila tujuan itu jelas, dipahami dan bermanfaat.
Makin kabur atau makin sulit dipahami suatu tujuan, akan makin besar keenganan untuk bertingkah laku.
REINFORCEMENT THEORY (Thorndike & B.F. Skinner)
Teori ini didasarkan atas “hukum pengaruh”
Tingkah laku dengan konsekuensi positif cenderung untuk diulang, sementara tingkah laku dengan konsekuensi negatif cenderung untuk tidak diulang.
Rangsangan Respon Konsekuensi

IMPLIKASI BAGI MANAJER
Recognize Individual Differences
Match People to Jobs
Use Goals
Ensure that goals are perceived as attainable
Individualized Rewards
Link Rewards to Performance
Check the System for Equity
Don’t Ignore Money
TEKNIK MEMOTIVASI (PENDEKATAN PEKERJA)
1. Pendekatan Tadisional ( “Be Strong”)
2. Pendekatan Human Relations (Be Good)
3. “Implicit Bargaining”
4. Kompetisi
5. Motivasi Internal
PENDEKATAN TRADISIONAL
Berangkat dari “TEORI X” Mc Gregor :
1. Orang itu tidak suka bekerja, malas dan sedapat mungkin menghindarinya.
2. Orang itu tidak jujur, tidak mau bertanggung jawab, dan lebih suka “cari selamat”
3. Orang itu tidak kreatif, ambisinya rendah, tidak mementingkan pekerjaan tetapi apa yang dia peroleh.
TEKNIK MEMOTIVASI “BE STRONG”
Pemaksaan
Pengawasan secara ketat.
Perilaku pekerja diarahkan dengan insentif dan ancaman hukuman
Tugas dibuat dalam operasi-operasi yang sederhana dan mudah dipelajari.

PENDEKATAN HUMAN RELATIONS
Berangkat dari “TEORI Y” Mc Gregor :
1. Orang itu rajin dan suka bekerja keras.
2. Orang itu jujur dan bertanggung jawab.
3. Orang itu kreatif, inovatif dan memiliki ambisi yang tinggi untuk berprestasi.


TEKNIK MEMOTIVASI “BE GOOD”
Otonomi
Tanggungjawab.
Keterlibatan
Pemberdayaan
Kesempatan untuk berkembang
Meaningful & Challenging Works
IMPLICIT BARGAINING
Berangkat dari kesadaran adanya kelemahan dan kelebihan dari kedua pendekatan sebelumnya.
Merupakan kombinasi pendekatan tradisional dan pendekatan human relations.
Dalam pendekatan ini selain adanya aturan formal menyangkut pekerja juga adanya perjanjian yang tidak tertulis antara pekerja dan pihak pimpinan mengenai hal-hal apa yang menjadi tugas dan yang harus dikerjakan oleh pekerja.
KOMPETISI
Asumsi dari pendekatan ini sederhana saja, yaitu bahwasanya dengan menciptakan situasi persaingan diharapkan motivasi kerja akan bertambah besar.
Dalam menciptakan situasi persaingan digunakan Insentif.
Insentif : Faktor-faktor eksternal yang oleh individu dipandang dapat memenuhi atau memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang dirasakannya.
MOTIVASI INTERNAL
Self-Motivation, Self-Management
Dalam pendekatan ini motivasi pekerja diupayakan bangkit dari dalam diri pekerja sendiri (Kesadaran).
Pendekatan ini relatif lebih sulit, namun lebih effektif jika mampu dilakukan.
Proses pembelajaran dan Effektivitas peran atasan sangat menentukan keberhasilan pendekatan ini.
TEKNIK MEMOTIVASI (PENDEKATAN PEKERJAAN)
Job Enlargement
Job Rotation
Job Enrichment
Goal Setting
Job Engineering
Sociotechnical Approach
JOB ENLARGEMENT
Pendekatan ini berangkat dari asumsi bahwa waktu siklus yang pendek, dan pekerjaan yang monoton akan membuat pekerja cepat merasa bosan, yang akan berakibat pada rendahnya produktivitas.
Treatmentnya : Horizontal Job Loading (Quantity)
Semakin banyak kegiatan yang harus dilakukan akan memperpanjang waktu siklus, akan menghindari cepat munculnya rasa bosan.
JOB ROTATION
Pendekatan inipun bertujuan untuk menghindari tumbuhnya rasa bosan dalam diri pekerja.
Cara yang ditempuh adalah melakukan perputaran (rotasi) kerja.
Teknik memotivasi ini terkait dengan pengelolaan fungsi SDM yaitu Placement / Kebijakan Karir.
JOB ENRICHMENT
Berbeda dengan pendekatan “Job Enlargement”.
Treatmentnya : Vertical Job Loading
Yang ditambahkan unsur kualitas dari isi pekerjaan.
Isi pekerjaan adalah unsur-unsur “Motivator” yang dikemukakan oleh HERZBERG.
GOAL SETTING
Pendekatan ini berangkat dari asumsi bahwa motivasi kerja akan meningkat bilamana apa yang menjadi sasaran kerjanya jelas.
Motivasi akan lebih meningkat lagi, bilamana dalam penetapan sasaran kerja ini para karyawan turut dilibatkan.
Dua faktor penting : Challenging Work & Involvement.
JOB ENGINEERING
Dasar dari pendekatan ini adalah memperhatikan faktor-faktor teknis pelaksanaan pekerjaan.
Termasuk disini adalah memperhatikan :
- teknik tata cara / metoda kerja
- desain peralatan kerja
- kondisi fisik lingkungan kerja
SOCIOTECHNICAL APPROACH
Dasar dari pendekatan ini adalah melihat organisasi sebagai suatu sistem yang terdiri dari komponen sosial dan teknologik.
Pendekatan ini memperhatikan interface antara sistem teknologik dan sistem sosial.

FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN MEMOTIVASI
Effektivitas Teknik yang digunakan
Karakteristik Bawahan
Situasi
Atribut Manajer :
- Position Power
- Personal Power
- Critical Skills

(Dirangkum dari meteri-materi pelatihan)
read more...

Pengaruh Komunikasi Massa Terhadap Masyarakat dan Budaya


Teori Agenda Setting (Shaw dan McCombs)
Teori Kultivasi (Cultivation theory)
Spiral of Silence (Spiral keheningan)

Teori Agenda Setting (Shaw dan McCombs)
Asumsi:
Media mengatakan kepada kita apa yang penting dan apa yang tidak
media menyusun prioritas topik dan topik ini mempengaruhi perhatian audience, topik mana yang dianggap lebih penting dari topik lainnya.
menyusun agenda pemberitaan media akan memberikan efek (fungsi belajar )pada audience meskipun hanya sampai pada tataran kognitif.
Contoh agenda setting
agenda kampanye yang ditetapkan media
Pentingnya isu yang diangkat oleh partai
Penekanan yang diberikan terhadap isu

Perubahan kognisi audience
Audience memilih kandidat partai yang kompeten menangani isu yang diangkat media.

kesimpulan
Dasar pemikiran agenda setting :
diantara berbagai topik yang di muat media massa, topik yang mendapat lebih banyak perhatian dari media akan menjadi lebih akrab bagi pembacanya dan akan dianggap penting dalam suatu periode waktu tertentu, dan akan terjadi sebaliknya bagi topik yang kurang mendapat perhatian media
Teori Kultivasi (Cultivation theory) George Gerbner
Asumsi dasar
Televisi merupakan media yang unik dengan karakter TV yang bersifat verpasive, acessible, dan coherent
Semakin banyak seseorang menghabiskan waktu untuk menonton televisi, semakin kuat kecenderungan orang menyamakan realitas televisi dengan realitas sosial
;
Asumsi dasar
Light viewers (penonton ringan) cenderung menggunakan jenis media dan sumber informasi yang lebih bervariasi. Sementara Heavy viewers (penonton berat) cenderung mengandalkan televisi sebagai sumber informasi mereka
Terpaan pesan televisi yang terus menerus menyebabkan pesan tersebut diterima khalayak sebagai pandangan konsensus masyarakat
Asumsi dasar
Televisi membentuk mainstreaming (penyeragaman) dan resonance (penguatan) karna pengaruh pesan media tertanam dalam persepsi
Perkembangan teknologi baru memperkuat pengaruh televisi.
Spiral of Silence (Spiral keheningan)
sebagian besar individu mencoba menghindari isolasi, dalam pengertian sendirian mempertahankan kepercayaan atau sikap tertentu.
seseorang memperhatikan lingkungannya dalam rangka mempelajari pandangan-pandangan mana yang semakin kuat dan yang mana yang semakin tidak populer
Proses spiral diawali dari kecendrungan seseoirang mengemukakan pendapat dan orang lain diam dan meningkatkan kemampanan pendapat sebagai pendapat umum
Sumber kekuatan kemampanan dalam spiral if silence
Persepsi individu : opini
Media massa :karna media memberikan pandangan dominan pada waktu tertentu
Dukungan orang lain dalam lingkungannya
Media membentuk persepsi terhadap pendapat mayoritas berhubungan dengan pengungkapan pendapat pribadi, kecendrungan dalam isi media dan pendapat jurnalis akan menghasilkan spiral of silence
Audience Dan Pengaruhnya Terhadap Komunikasi Massa
Uses and Gratifications
kegunaan isi media untuk memperoleh gratifikasi atau penemuan kebutuhan.
Tingkah laku audiens secara garis besarnya dianggap sebagai kebutuhan-kebutuhan dan kepentingan-kepentingan individu
Kategori gratification berasal dari penggunaan media



pendekatan uses and gratification menyajikan alternatif lain dalam memandang hubungan antara isi media dengan audiens, dan dalam pengkategorian isi media – menurut “fungsi”




Asumsi dasar

The audience active and its media use goal oriented
Initiative linking need gratification to a specific medium choice with audience member
Media compete with other sources for need satisfaction
People have enough self-awareness of their media use, interest, and motives to be able to provide researchers with an accurate picture of that use
Value judgments of media content can only be assessed by audience
Audience yang aktif
Utility (menggunakan media karena tugas )
Intentionality ( prioritas pada penyebab menggunakan media)
Selectivity ( mengggunakan media kalau medianya menarik)
Imperviousness to influence(mengkonstruksi makan isi mediayang mempengaruhi cara berpikirnya
Aktivity konsumen media (pemahaman)
Activeness: yang menjadikan media hanya untuk mengisi kekosongan
hal utama yang mendorong munculnya pendekatan “uses”
McQuail (1979):
Oposisi terhadap pandangan deterministis tentang efek media.
keinginan untuk lepas dari debat yang berkepanjangan tentang selera media massa
hubungan antara isi media dengan audiens, dan dalam pengkategorian isi media – menurut “fungsi” dan bukan menurut “tingkat selera”.

Riset Uses dan gratifikasi
Herzog (1944) yang membahas pencarian dan perolehan gratifikasi oleh pendengar-pendengar opera di radio
Suchman (1942) tentang motif mendengarkan musik klasik di radio.
Barelson (1949) tentang hal apa yang dianggap hilang oleh pembaca surat kabar di New York ketika terjadi pemogokan surat kabar.
Katz dan Gurevith (1977) menggunakan riset uses and gratification untuk menjelaskan persamaan dan perbedaan berbagai media dilihat dari fungsi dan karakteristik-karakteristik lainnya
Brown (1976) penggunaan televisi oleh anak-anak, memperlihatkan pentingnya media itu dalam sifatnya yang multi fungsio dan kemampuannya memberikan kepuasan yang bervariasi kepada sebagian besar anak-anak,
Fungsi uses and gratification
dirancang untuk menggambarkan proses penerimaan dalam komunikasi massa dan menjelaskan penggunaan media oleh individu atau kelompok.
Tugas !!!! Buat Small Research tentang Fenomena komunikasi massa (TV, Radio,Majalah,Surat Kabar) Analisis dengan teori komunikasi massa

(Dirangkum dari Perkuliahan Komunkasi ANTAR Budaya Jurusan Jurnalistik UIN Alauddin Makassar)

read more...

Pikiran Sebagai Isi Pesan Komunikasi


Introduction
Komunikasi = Penyampaian pesan dari komunikator ke komunikan.
Pesan komunikasi terdiri atas: Isi pesan (content of the message), dan lambang (symbol).
Isi pesan adalah pikiran, lambang adalah bahasa.
Bahasa melekat pada pikiran oleh karena itu tidak dapat dilepaskan dari pikiran
1. Intensitas Berpikir
Fungsi berpikir: meliputi “wissen” (mengetahui), dan “verstehen” (mengerti secara mendalam).

Berpikir mengenai realitas sosial terdiri atas: Berpikir secara horizontal (sensitivo rasional), dan secara vertical (metarasional)
2. Sistematika Berpikir (Berdasarkan dr. Marseto Donoseputro)
Berpikir Deduktif (Deductive thinking), berasal dari Plato, Aristoteles. Dari satu rumus umum dapat ditarik berbagai kesimpulan.
Berpikir Induktif (Inductive Thinking), menarik suatu kesimpulan umum dari berbagai data atau kejadian yang ada disekitarya.
Berpikir Memecahkan Masalah: (Problem Solving Thinking), prosesnya secara chronologis sbb: Analysis, Synthesis, Evaluation, Selection.
2. Sistematika Berpikir 2 (Berdasarkan dr. Marseto Donoseputro) 2
Berpikir Kausatif (Causative Thinking) emphasizes the shaping of future events and achievements instead of waiting for destiny to decide them (G. Terry Principles of Management)
Berpikir Kreatif (Creative Thinking) : Kesanggupan seseorang menciptakan suatu ide baru yang berfaedah; Perpaduan antara science and imagination
Berpikir Filsafati (Philosophical Thinking), Perenungan, meragukan, mengajukan pertanyaan untuk mengusahakan kejelasan, keruntutan, dan keadaan memadainya pengetahuan untuk pemahaman.
3. Pertimbangan Nilai
Sebelum Komunikasi berlangsung terjadi proses internalisasi (Pembatinan), (implicit/explicit).
Dalam filsafat ada 3 nilai yang menjadi bahasan (etika, logika, estetika).
Dalam komunikasi istilah objective/ subjective.
Objective descriptive (tanpa pertimbangan nilai, tetapi dengan pertimbangan factual)
Subjective (sarat nilai)
Pengertian Nilai
Nilai = pandangan, cita-cita, adat kebiasaan, dll. yang menimbulkan tanggapan emosional bagi seseorang atau masyarakat.
R.Pramono, Nilai= penghargaan (appreciation) dan perhatian yang disertai pertimbangan2 yang layak oleh subjek terhadap suatu obyek.
Nilai = bersifat empiris, contextual, dan situational, eg. Dalam peristiwa komunikasi
Kenneth Anderson “Introduction to Communication Theory and Practices” Value is a special kind of attitude which is so general and so pervasive that is relevant to a large number of issues, responses, activities)
Nilai = kekuatan central yang membimbing/memandu perilaku seseorang, cenderung berlaku abadi.
Pengertian Nilai 2
Keith Davis, “Human Behavior at Work” (Nilai ekonomi dan nilai manusiawi)
Nilai ekonomi (allocative), spt alokasi sumber
Nilai Manusiawi (incremental), timbul sendiri, meningkat, tercipta dalam diri atau kelompok.
Lihat persamaan/perbedaan uang dan gagasan. (Davis)
Ciri Nilai (Charles F. Andrain “Political life and Social Change)
Amat umum dan abstrak
Conseptual, tidak konkrit
Menunjukkan dimensi keharusan
Menunjukkan perbedaan antara nilai pribadi dan nilai sosial,
Menunjukkan ketidak ajegan (kadang menimbulkan konflict sosial)
Bersifat mapan
Dalam komunikasi (Lambang biasa bersifat denotative dan connotative)
Nilai Logika,Etika, dan Estetika dalam Komunikasi
Logika
Deals with the study of the principles and methods of correct reasoning.
Logis = seleksi antara fakta dan opini, disusun menjadi kesatuan yang utuh, tidak kontradiktif antara satu dan yang lain.
M. Sommer, “Logika” bicara atau menulis dengan tepat memperhitungkan hukum Grammatika; berpikir tepat, memperhitungkan hukum Logika
Sommer “Logika”
Ilmu Pengetahuan = keseluruhan dari hal-hal yang diketahui dan dibuktikan dengan prinssip-prinsip (ilmu)
Karya-karya akal budi (pemikiran, putusan dan pengertian) sebagai objek material
Memiliki aturan-aturan sebagai obyek formal (hukum-hukum yang mengatur akal budi) untuk menunjukkan kebenaran.

Contoh Hubungan Pemikiran,putusan, dan pengertian dg Logika
Ilmu Pengetahuan patut di sukai
Filsafat adalah Ilmu Pengetahuan
Jadi Filsafat patut disukai

Setiap manusia adalah adil
Judas adalah manusia
Jadi Judas adalah adil

Ilmu Pengetahuan patut disukai
Filsafat adalah ilmu pengetahuan
Jadi Yudas Menjadi penghianat

Pemikiran yang sahih
Putusan-putusan harus benar
Ada hubungan antara putusan yang satu dengan putusan yang lain, memungkinkan kesimpulan yang tepat
Forma dan materi Pemikiran
Format pemikiran = logika memandang pemikiran dari segi ketepatan (bentuk Pemikiran) Logika formal
Materi pemikiran = memandang pemikiran hanya dari segi benar atau tidak. (Bahan Pemikiran) Logika material
Pemikiran Francis Bacon (dalam Novum Organum)
The idols of the cave, Katak dalam tempurung, akibat pemikiran yang sempit.
The Idols of the tribe, kesesatan akibat merasa hanya bagian dari suku tertentu.
The idols of the forum, kesalahan disebabkan kurangnya penguasaan bahasa.
The idols of the market place, kesalahan karena terlalu tegar mengidentifikasikan dirinya pada adat istiadat dan norma-norma sosial.
Etika
Estetika
KOMUNIKASI SEBAGAI PROSES INTERAKSI SIMBOLIK
TELAAH FILSAFATI TERHADAP TEKNOLOGI MEDIA
MAZHAB FRANKFURT VS MAZHAB CHICAGO.

Oleh: Muh. Nadjib
(Dirangkum dari Perkuliahan Teori Komunkasi Jurusan Jurnalistik UIN Alauddin Makassar)

read more...

Tuesday, May 25, 2010

Risalah Pergerakan dan Politik

Ila Ayyi Syain Nad'un-nas
Abstraksi:
Risalah ini ditulis oleh Imam syahid Hasan Al-Banna pada tahun 1936. Berintikan hakikat dakwah Ikhwan, karakter dan tujuan. Sebagaimana risalah ini berisi penjelasan tentang permasalahan umat masa kini dan terapi yang ditawarkan Ikhwan. Di samping terdapat pesan-pesan da’awi dan tarbawi untuk para kader Ikhwan, agar tetap tegar di jalan Dakwah ilallah.
Ila Ayyi Syain Nad’un-Naas
Dakwah Ikhwan, Dakwah Islamiyah
Dakwah Ikhwan adalah dakwah Islamiyah murni;
Dasar perjuangannya, inti dakwahnya, cara dan sarananya tidak lepas dari norma dan nilai-nilai Islam, karena Ikhwan yakin benar, bahwa Islam adalah agama yang menghantarkan umat manusia kepada kesejahteraan, ketenteraman dan kebahagiaan hidup.

Islamiyah Dakwah Ikhwah dapat dicermati dari beberapa indikasi sebagai berikut:

Ikhwan menjadikan Alquran sebagai tolak ukur dan sumber kejelasan langkah Dakwah Ikhwan yang meliputi metode dan sarana yang digunakan. Alquran sebagai tolak ukur dan sumber pergerakan, karena Alquran bak “lautan dari mana kita meraup mutiara kecemerlangan dan referensi kepada mana kita menentukan hukum. Alquran adalah kitab sempurna yang padanya Allah memadukan dasar-dasar kepercayaan, kaidah-kaidah perbaikan sosial, prinsip-prinsip umum hukum keduniaan, serta sederet perintah dan larangan”.

Ikhwan yakin seyakin-yakinnya, bahwa Allah adalah tempat bersandar, hanya Allah sebagai pelindung orang-orang beriman, Dia sebagai penolong orang-orang yang berbuat kebaikan, Pembela orang-orang tertindas, yang diperangi di negeri mereka sendiri bahkan diusir dari negeri mereka. Baca dan renungkanlah ayat-ayat berikut:
Baca Selanjutnya......... dan Download Eboknya....
read more...

Wednesday, February 17, 2010

Pentingnya Rayuan Gombal dan Basa-Basi Dalam Berkomunikasi


“Ah…. Gombal lhu… basa-basi…”

Kalimat itu sering terpantul dari gendang telinga kita, tatkala kalimat pujian kita lemparkan pada seseorang.

Kalimat gombal sering kita menganggap adalah ucapan sia-sia. Tak ada gunanya. Namun perlu disadari ketika rayuan yang berupa pujian diberikan pada kita, pada saat itupula ada energy baru yang tumbuh dalam jiwa. Coba kita bandingkan ketika mendapat pujian dengan teguran. Ada energy yang hilang tatkala ditegur dengan cara yang kurang halus. Bagai putri malu ketika mendapat sentuhan lembut dari tangan kasar anda. Lesu, down.

Gombal dalam pengertian saya, merupakan kalimat pujian yang diperuntukkan oleh seseorang. Pujian itu terkadang tanpa dasar kongkrit. Karena kalimat gombal biasanya lebih pada sifat dan postur tubuh seseorang. Sifat dan postur tubuh itu penilaiannya sangat subjektif. Tergantung pada siapa yang menilai. Olehnya itu, ketika orang lain memberikan kalimat gombal dan basa-basinya, boleh anda percaya. Karena boleh jadi benar apa yang diucapakan dalam pandangannya. Tapi jangan terlalu “kePeDean”. Karena itu subjektif. Belum tentu orang lain memandangnya seperti itu. Ambil sajalah sisi positifnya. Biarkan energy baru tumbuh dalam jiwa anda ketika mendapat pujian. Rasakan The Power of Gombalisme dan Basa-Basi. J

Dalam kehidupan rill kita. Manusia yang paling senang mendapat pujian adalah kaum hawa. Ini singkron dengan kaum adam yang senang memuji. Berbeda dengan masalah cinta. Kaum hawa terkadang lebih senang belajar mencintai. Bukan belajar dicintai. Kaum adam terkadang selalu ingin dicintai. Tanpa belajar mencintai. Erich Fromm mengatakan, inilah penyakit kaum modern. Selalu ingin dicintai. Tanpa belajar mencintai. Padahal kita seharusnya belajar mencintai. Karena ketika hanya ingin dicintai, maka hasilnya, KEKECEWAAN-KEKECEWAAN. Sebab kebahagiaan kita gantungkan pada sesuatu, DICINTAI. Bukan pada diri kita sendiri, MENCINTAI.

Kita kembali pada persoalan gombal. Dalam sejarah, Nabi SAW pun sering menggombal istri-istrinya. Misalnya dikatakan engkaulah istri saya yang paling saya kagumi. Lalu bagaimana dengan istri yang lain? Nabi pun mengatakan hal yang sama, namun bahasa yang berbeda. Misalnya ketika ditanya mengenai istri-istrinya. Yang manakah yang Nabi paling cintai antara Aisyah dan Khadijah. Nabi SAW. Menjawab aku sangat mencintai Aisyah. Lalu bagaimana dengan Khadijah? Aku tak mampu lepas dari ikatan cintaku padanya. Kira-kira begitu bahasanya.

Dalam kasus lain misalnya, terkadang istri minta cerai atau pacar minta putus karena pasangannya tak pernah memberikannya kata basa-basi dan kalimat gombal. Tak pernah terlontarkan dari mulutnya yang mungil kalimat I LOVE YOU. Atau aku sayang kamu sampai titik penghabisanku. Atau kata-kata yang lebih puitis, Aku tak mampu lagi mencari cinta lain, karena sayap-sayapku telah patah karenamu. Cobalah berikan kalimat pada pasangan anda yang menyenangkan hatinya. Perempuan itu senangnya digombal. Lelakipun juga tak ketinggalan.

Coba kita membuka Alqur’an, ketika melihat ayat pertama dari semua surah dalam Alqur’an, kecuali At-Taubah. Terlihat kalimat pujian kepada Allah sebelum memasuki inti-intinya, Bismillahirrahmanirrahim. Itu artinya apa, sebelum kita memasuki pembicaraan dianjurkan membuka pembicaraan dengan kalimat basa-basi, atau gombal dululah kalau orangnya agak cemberut. Dalam istilah yang agak akademis, ada kalimat pembuka ketika hendak membicarakan sesuatu. Dalam pidato atau ceramah misalnya. Ada basa-basi sebelum masuk intinya.

Tapi ingat saudara..!!!

Kalimat basa-basi dan gombal jangan terlalu banyak. Karena ketika itu terjadi kalimat itu tak kan berdampak positif lagi. Boleh jadi mereka tidak lagi butuh itu. Gombal dan basa-basilah tapi jangan terlalu berlebihan. Allah pun melarang hambaNya berlebih-lebihan. Karena segala yang berlebih-lebihan itu adalah perbuatan yang tercela. Melampuai batas kewajaran. Wallahu A’lam… (*r*a*u*f*). ditulis di Makassar, 17 February 2010.
read more...

Saturday, February 06, 2010

Tiga Ujung Yang Paling Sakti di Dunia


Lembek secara fisik. Namun keras dari sisi mudharat. Itulah mungkin gambaran awal dari ujung yang dikenal sakti sepanjang hidup manusia. Ujung itu adalah ujung lidah, ujung pena dan ujung penis. Yang kemudian saya sebut sebagai Ujung LPP. LPP yang saya maksud bukan Lembaga Penyelenggara Pemilma dalam pemilu mahasiswa.

Ujung lidah. Nabi Muhammad SAW dalam hadisnya telah memperingatkan umat manusia bahwa jika kalian ingin selamat peliharalah lidah kalian. Orang sering bilang daging tanpa tulang itu lebih berbahaya dari ujung pedang nagapuspa, atau ujung badiknya orang Makassar, atau kerisnya Empu Gandring dalam dunia cerita.

Olehnya itu, agama mengajarkan kita agar selalu mempergunakan lidah kita kea rah yang baik. Karena dengan ucapan merubah dari yang tidak suka menjadi cinta. Dari kafir menjadi beriman.

Coba kita renungkan, betapun marahnya dalam hati, ketika terdengar elusan suara sang kekasih yang begitu lembut menyapa. Saat itupun tak ada daya untuk marah. Segala potensi nafsu syaithan segera hilang. Sebagai contoh dalam kasus lain. Betapapun lelaki tak ada niat syahwat saat berdua dengan lawan jenisnya, ketika terdengar desahan nafas dan suara rayuan sang perempuan. Maka saat itu juga gairah seks meninggi. Itulah kekuatan lidah yang mampu membalikkan fakta. Merubah yang salah menjadi benar. Merubah indah menjadi kacau.

Mari kita ingat kasus Prita dan Balqis, dalam kacamata saya, andaikan media tidak membatu mengumpulkan koin keadilan untuk Prita dan koin cinta untuk Balqis maka mereka sulit mendapatkan koin sebanyak itu. Itu semua berkat hasil cuap-cuap para presenter untuk mereka.

Ujung kedua adlah ujung pena. Seorang penulis pernah bilang, Yang tertulis kan mengabadi, yang terucap kan berlalu terbawa angin. Itulah kekuatan tulisan.

Membuka lembaran sejarah para nabi, Nabi Sulaiman AS mampu mebuat ratu Balqis jatuh cinta padanya adalh berawal dari sepucuk surat. Nabi Muhammad SAW. Ketika hendak datang kepada sang Raja beragama Yahudi didahului dengan sebuah surat damai. Dan semuanya diterima dengan senang hati. Itulah kesaktian ujung pena para nabi terdahulu.

Namun dengan ujung pena juga mampu membuat orang celaka. Kasus Prita dengan tulisannya di surat elektronik membuatnya terjerat kasus pencemaran nama baik Rumah sakit Omni International. Kasus para jurnalis orde baru, mereka keluar masuk penjara karena tulisannya yang tidak pro pemerintah. Bahkan diculik entah dibuang ke mana. Atau bahkan nyawa melayang dengan tulisan yang dianggap mengancam stabilitas Negara terancam.

Dengan penanya, pelukis dihargai. Dengan penanya, nama Kahlil Gibran megabadi dengan sajak-sajak cintanya. Dengan pena orang menjadi diperhitungkan. Namun dengan pena juga orang bisa sensara.

Islam mengajarkan dalam Alqur’an bahwa jika kamu melakukan kesepakatan dengan seseorang maka tulislah, sebagai bukti di kemudian hari.

Ujung yang terakhir adalah ujung penis. Manusia, hewan dan binatang terlahir akibat kenakalan ujung yang satu ini. Pertemuan yang begitu hikmat melahirkan makhluk-makhluk baru yang terlahir ke dunia ini. Tak dapat dipungkiri begitu berjasanya sang penis sebagai pahlawan penyelamat. Mungkin terlalu berlebih kalau dikatakan andaikan tak ada tuhan penislah yang penggantinya. Mediator sang perajin menghasilkan manusia baru. Berkat dialah lahir sang Fatimah sebagai lambang kecantikan kaum muslimin. Karena persoalan itu pula Hawa diciptakan Allah untuk Adam. Dan juga karena itu pula Habil dan Qabil berkelahi, dan akhirnya terjadilah peristiwa kematian manusia yang pertama di muka bumi ini.

Karena penis adalah pahlawan yang suci. Sehingga kita tidak boleh mengotorinya dengan menggunakannya di tempat yang belum halal. Sebagai bentuk penghormatan kepada sejenisnya, kaum lelaki sepantasnya mencarikan pasangannya tatkala ia sudah memenuhi syarat untuk memiliki pasangan.

Jagalah dia dari perbuatan yang tidak diridhai Allah SWT. Ingatlah pesan Qur’an, janganlah engkau mendekati zina. Karena zina adalah perbuatan yang tercela. Wallahu A’lam (***). – Gowa, 6 February 2010.

read more...

Friday, December 04, 2009

Nama Organisasi Wartawan dan Organisasi Perusahaan Pers Indonesia


Nama organisasi wartawan dan organisasi perusahaan pers Indonesia:
  1. Aliansi Jurnalis Independen (AJI)-Abdul Manan
  2. Aliansi Wartawan Independen (AWI)-Alex Sutejo
  3. Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI)-Uni Z Lubis
  4. Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia (AWDI)-OK. Syahyan Budiwahyu
  5. Asosiasi Wartawan Kota (AWK)-Dasmir Ali Malayoe
  6. Federasi Serikat Pewarta-Masfendi
  7. Gabungan Wartawan Indonesia (GWI)-Fowa’a Hia
  8. Himpunan Penulis dan Wartawan Indonesia (HIPWI)-RE Hermawan S
  9. Himpunan Insan Pers Seluruh Indonesia (HIPSI)-Syahril
  10. Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI)-Bekti Nugroho
  11. Ikatan Jurnalis Penegak Harkat dan Martabat Bangsa (IJAB HAMBA)-Boyke M. Nainggolan
  12. Ikatan Pers dan Penulis Indonesia (IPPI)-Kasmarios SmHk
  13. Kesatuan Wartawan Demokrasi Indonesia (KEWADI)-M. Suprapto
  14. Komite Wartawan Reformasi Indonesia (KWRI)-Sakata Barus
  15. Komite Wartawan Indonesia (KWI)-Herman Sanggam
  16. Komite Nasional Wartawan Indonesia (KOMNAS-WI)-A.M. Syarifuddin
  17. Komite Wartawan Pelacak Profesional Indonesia (KOWAPPI)-Hans Max Kawengian
  18. Korp Wartawan Republik Indonesia (KOWRI)-Hasnul Amar
  19. Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI)-Ismed hasan Potro
  20. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)-Wina Armada Sukardi
  21. Persatuan Wartawan Pelacak Indonesia (PEWARPI)-Andi A. Mallarangan
  22. Persatuan Wartawan Reaksi Cepat Pelacak Kasus (PWRCPK)-Jaja Suparja Ramli
  23. Persatuan Wartawan Independen Reformasi Indonesia (PWIRI)-Ramses Ramona S.
  24. Perkumpulan Jurnalis Nasrani Indonesia (PJNI)-Ev. Robinson Togap Siagian-
  25. Persatuan Wartawan Nasional Indonesia (PWNI)-Rusli
  26. Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Pusat- Mahtum Mastoem
  27. Serikat Pers Reformasi Nasional (SEPERNAS)-Laode Hazirun
  28. Serikat Wartawan Indonesia (SWI)-Daniel Chandra
  29. Serikat Wartawan Independen Indonesia (SWII)-Gunarso Kusumodiningrat.
read more...

Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah oleh Michael H. Hart


Dalam bukunya Tentang Sastra Inggris, Voltaire --tatkala berada di negeri itu tahun 1726-- mendengar ada diskusi di kalangan cendikiawan perihal: siapa manusia paling jempolan. Caesar? Alexander? Tamerlane? atau Cromwell? Salah seorang peserta bilang, tak syak lagi pastilah Sir Isaac Newton jago bin jagonya. Voltaire akur dengan pilihan ini dengan pertimbangan, "Memang dialah yang membimbing kita punya pikiran dengan kekuatan kebenaran, bukan membelenggunya dengan kekerasan. Karena itu sepatutnya kita menaruh hormat dan salam ta'zim dan berhutang budi tak terperikan."

Apa betul Voltaire yakin Sir Isaac Newton manusia terjempol di jagad, ataukah sekedar mencoba, menampilkan permasalahan filosofis karena penunjukan itu akan memancing pertanyaan-pertanyaan susulan: dari sekian milyar manusia yang pernah lahir di dunia, siapa diantara mereka yang punya Pengaruh terhadap jalannya sejarah?

Buku ini merupakan jawaban saya. Ada seratus anak manusia dalam daftar yang saya susun dan saya yakin keseratus orang itu menentukan arah jalannya sejarah. Perlu saya tegaskan, mereka itu bukanlah manusia-manusia dalam artian "terbesar," melainkan dalam arti paling berpengaruh dalam sejarah. Misalnya, saya cantumkan Stalin dalam daftar, karena pengaruhnya dalam sejarah, tak peduli dia itu bengis dan jahanam. Di lain pihak, orang suci dan keramat seperti Bunda Carini, tidak.

Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah
Michael H. Hart, 1978
Terjemahan H. Mahbub Djunaidi, 1982
PT. Dunia Pustaka Jaya
Jln. Kramat II, No. 31A
Jakarta Pusat
Daftar Urutan Nama-nama tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah dunia... 01. Nabi Muhammad 02. Isaac Newton 03. Nabi Isa 04. Buddha 05. Kong Hu Cu 06. St. Paul 07. Ts'ai Lun 08. Johann Gutenberg 09. Christopher Columbus 10. Albert Einstein 11. Karl Marx 12. Louis Pasteur 13. Galileo Galilei 14. Aristoteles 15. Lenin 16. Nabi Musa 17. Charles Darwin 18. Shih Huang Ti 19. Augustus Caesar 20. Mao Tse-Tung 21. Jengis Khan 22. Euclid 23. Martin Luther 24. Nicolaus Copernicus 25. James Watt 26. Constantine Yang Agung 27. George Washington 28. Michael Faraday 29. James Clerk Maxwell 30. Orville Wright & Wilbur Wright 31. Antone Laurent Lavoisier 32. Sigmund Freud 33. Alexander Yang Agung 34. Napoleon Bonaparte 35. Adolf Hitler 36. William Shakespeare 37. Adam Smith 38. Thomas Edison 39. Antony Van Leeuwenhoek 40. Plato 41. Guglielmo Marconi 42. Ludwig Van Beethoven 43. Werner Heisenberg 44. Alexander Graham Bell 45. Alexander Fleming 46. Simon Bolivar 47. Oliver Cromwell 48. John Locke 49. Michelangelo 50. Pope Urban II 51. Umar Ibn Al-Khattab 52. Asoka 53. St. Augustine 54. Max Planck 55. John Calvin 56. William T.G.Morton 57. William Harvey 58. Antoine Henri Becquerel 59. Gregor Mendel 60. Joseph Lister 61. Nikolaus August Otto 62. Louis Daguerre 63. Joseph Stalin 64. Rene Descartes 65. Julius Caesar 66. Francisco Pizarro 67. Hernando Cortes 68. Ratu Isabella I 69. William Sang Penakluk 70. Thomas Jefferson 71. Jean-Jacques Rousseau 72. Edward Jenner 73. Wilhelm Conrad Rontgen 74. Johann Sebastian Bach 75. Lao Tse 76. Enrico Fermi 77. Thomas Malthus 78. Francis Bacon 79. Voltaire 80. John F. Kennedy 81. Gregory Pincus 82. Sui Wen Ti 83. Mani 84. Vasco Da Gama 85. Charlemagne 86. Cyrus Yang Agung 87. Leonhard Euler 88. Niccolo Machiavelli 89. Zoroaster 90. Menes 91. Peter Yang Agung 92. Meng-Tse (Mencius) 93. John Dalton 94. Homer 95. Ratu Elizabeth I 96. Justinian I 97. Johannes Kepler 98. Pablo Picasso 99. Mahavira 100. Neils Bohr Tokoh Terhormat Tertinggal St. Thomas Aquinas Archimedes Charles Babbage Khufu (Cheops) Marie Curie Benjamin Franklin Mohandas Gandhi Abraham Lincoln Ferdinand Magellan Leonardo Da Vinci Pendapat Akhir: A, B, C
read more...

KODE ETIK WARTAWAN INDONESIA

KODE ETIK WARTAWAN INDONESIA

Kemerdekaan berpendapat, berekspresi, dan pers adalah hak asasi manusia yang dilindungi Pancasila, ndang-Undang Dasar 1945, dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB. Kemerdekaan pers adalah sarana masyarakat untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi, guna memenuhi kebutuhan hakiki dan meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Dalam mewujudkan kemerdekaan pers itu, wartawan Indonesia juga menyadari adanya kepentingan bangsa, tanggung jawab sosial, keberagaman masyarakat, dan norma-norma agama.

Dalam melaksanakan fungsi, hak, kewajiban dan peranannya, pers menghormati hak asasi setiap orang, karena itu pers dituntut profesional dan terbuka untuk dikontrol oleh masyarakat.

Untuk menjamin kemerdekaan pers dan memenuhi hak publik untuk memperoleh informasi yang benar, wartawan Indonesia memerlukan landasan moral dan etika profesi sebagai pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas serta profesionalisme. Atas dasar itu, wartawan Indonesia menetapkan dan menaati Kode Etik Jurnalistik:

Pasal 1

Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.

Penafsiran

a. Independen berarti memberitakan peristiwa atau fakta sesuai dengan suara hati nurani tanpa campur tangan, paksaan, dan intervensi dari pihak lain termasuk pemilik perusahaan pers.

b. Akurat berarti dipercaya benar sesuai keadaan objektif ketika peristiwa terjadi.

c. Berimbang berarti semua pihak mendapat kesempatan setara.

d. Tidak beritikad buruk berarti tidak ada niat secara sengaja dan semata-mata untuk menimbulkan kerugian pihak lain.


Download Selanjutnya............

read more...

Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999

UU 40/1999: PERS

HOP Itjen Dep. Kimpraswil 1/11

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 40 TAHUN 1999
TENTANG
P E R S
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Menimbang :

a. bahwa kemerdekaan pers merupakan salah satu wujud kedaulatanrakyat dan menjadi unsur yang sangat penting untuk menciptakan kehidupanbermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang demokratis, sehingga kemerdekaan mengeluarkan pikiran dan pendapat sebagaimana tercantum dalam Pasal 28 Undang-undang Dasar 1945 harus dijamin;

b. bahwa dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang demokratis, kemerdekaan menyatakan pikiran dan pendapat sesuai dengan hati nurani dan hak memperoleh informasi, merupakan hak asasi manusia yang sangat hakiki, yang diperlukan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, memajukan kesejateraan umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa;

c. bahwa pers nasional sebagai wahana komunikasi massa, penyebar informasi, dan pembentuk opini harus dapat melaksanakan asas, fungsi, hak, kewajiban, dan peranannya dengan sebaik-baiknya berdasarkan kemerdekaan pers yang profesional, sehingga harus mendapat jaminan dan perlindungan hukum, serta bebas dari campur tangan dan paksaan dari manapun;

d. bahwa pers nasional berperan ikut menjaga ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial;

e. bahwa Undang-undang Nomor 11 Tahun 1966 tentang Ketentuan- ketentuan Pokok Pers sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1967 dan diubah dengan Undang-undang Nomor 21 Tahun 1982 sudah tidak sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman;

f. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b, c, d, dan e, perlu dibentuk Undang-undang tentang Pers;

Mengingat :

1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), Pasal 27, dan Pasal 28 Undangundang Dasar 1945;

2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia.


Download Selengkapnya........

read more...