Latest Posts

Friday, March 20, 2015

PERSEPSI AKTIVIS MAHASISWA TERHADAP PROGRAM ACARA APA KABAR INDONESIA di TVONE (Studi Deskriptif Pada Aktivis Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar)

DRAFT SKRIPSI


NAMA                        : ABD. RAUF
NIM                            : 50500106021
JURUSAN                  : JURNALISTIK
FAKULTAS               : DAKWAH & KOMUNIKASI UIN ALAUDDIN
MAKASSAR
ALAMAT                   : BTN PESONA MUTIARA PALLANGGA P7/13 GOWA
JUDUL SKRIPSI       : PERSEPSI AKTIVIS MAHASISWA TERHADAP
PROGRAM ACARA APA KABAR INDONESIA di TVONE (Studi Deskriptif Pada Aktivis Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar)

 


A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Seorang pakar komunikasi Amerika, Gerbner beserta para koleganya memulai argumentasinya dengan mengatakan televisi telah menjadi tangan budaya utama masyarakat Amerika. “Televisi telah menjadi anggota keluarga yang penting, anggota yang bercerita paling banyak dan paling sering” dan TV merupakan ”senjata budaya utama” budaya kita. (Tankard dan Severin 2005, 85 dan 91).
Sejak tahun 1964 komunikasi massa telah mencapai publik dunia secara langsung dan serentak. Melalui satelit komunikasi sekarang ini kita dimungkinkan untuk menyampaikan informasi (pesan) berupa data, gambar, maupun suara kepada jutaan manusia di seluruh dunia secara serentak. Perkembangan teknologi komunikasi/informasi yang bergerak cepat membawa kita menuju era masyarakat informasi, dimana hampir segala aspek kehidupan dipengaruhi oleh keberadaan media yang semakin jauh memasuki ruang kehidupan manusia. Wilbur Schramm menyatakan bahwa luas sempitnya ruang kehidupan seseorang, yang awalnya ditentukan pada kemampuan baca tulis, selanjutnya ditentukan oleh seberapa banyak ia bergaul dengan media massa. Artinya media memiliki pengaruh yang signifikan pada kehidupan manusia. (Communicateam.com 2009, 27 September 2011).
Keberadaan komunikasi massa telah membawa kita pada era globalisasi, sebuah zaman yang menawarkan ruang tak terbatas, membuang sekat-sekat antar negara dan mengintegrasikannya ke dalam satu persepsi sehingga informasi-informasi dapat kita ketahui secara cepat. Ini terjadi berkat revolusi informasi yang memasuki pelosok dunia lewat saluran media massa diantaranya adalah televisi dan internet. Melalui bantuan teknologi mutakhir ini pula kita dapat mengakses berbagai berita mulai dari kebijakan pemerintah, kenaikan harga di pasar, perseteruan antar pemilik saham, gosip selebritas, pemerkosaan, seks bebas, dan kriminalitas. (Taufik 2011, 10 November 2011).
Media massa adalah penyampai informasi sekaligus penafsir informasi. Dengan media massa kita memperoleh informasi tentang benda, orang, ruang atau waktu yang tidak kita alami secara langsung. Namun media pun melakukan seleksi terhadap realitas yang hendak ditampilkan, sehingga dampaknya adalah menimbulkan perubahan kognitif tertentu di antara individu-individu khalayaknya.
Pada dasarnya media massa merupakan sesuatu yang dapat digunakan oleh segala bentuk komunikasi, baik komunikasi personal, komunikasi kelompok dan komunikasi massa. Pada saat ini media masa telah menjadi suatu kebutuhan hampir pada seluruh masyarakat berbagai lapisan baik pada lapisan atas, tengah, dan bawah. Kebutuhan tersebut bertambah seiring dengan perkembangan informasi yang sedang berkembang pada saat ini.
Hal ini didukung pula oleh lahirnya kebebasan komunikasi massa dalam bentuk media massa cetak dan elektronik melalui Undang-Undang Penyiaran No. 32 tahun 2002 dan Undang-Undang Pers No. 40 tahun 1999 serta dibungkus dengan himpunan etika profesi wartawan (kode etik jurnalistik) bagi para pencari berita. Sehingga, tidak heran kalau dewasa ini, media massa cetak maupun elektronik berlomba untuk menayangkan variatif program untuk mendongkrak posisi rating mereka serta mendapatkan keuntungan sebesar - besarnya.
Televisi merupakan salah satu media massa yang dapat digunakan dalam proses komunikasi. Sebagai media massa, televisi merupakan media dari jaringan komunikasi dengan ciri-ciri yang dimiliki komunikasi massa, yakni berlangsung satu arah, kantornya melembaga, pesannya bersifat umum, dan komunikannya bersifat heterogen.
Televisi merupakan paduan audio dari segi penyiarannya dan video dari segi gambar geraknya. Sehingga memungkinkan kita untuk melihat sekaligus mendengar mengenai sesuatu atau siaran. Televisi juga mempunyai fungsi pendidikan dan hiburan. (Bungin 2005, 156).
Sebagaimana diketahui bahwa media televisi merupakan salah satu sarana komunikasi modern yang memiliki daya tarik luar biasa bagi masyarakat luas. Penyajian informasi yang dikembangkan dalam dengar-pandang atau lebih dikenal dengan tampilan audiovisual yang bersamaan, menjadikan televisi sebagai sarana informasi yang mampu mengungguli media massa lain. Sebagai sarana informasi dan hiburan, media televisi adalah media elektronik yang dapat menyampaikan pesan-pesan visual secara serentak. Pesan visual yang disampaikan televisi dapat berupa gambar diam atau gambar hidup. Gambar hidup bila disajikan secara kreatif dalam tata warna yang tepat, dan diiringi oleh pesan suara yang sesuai, akan dapat menyuguhkan realita yang ada. Oleh karena itu, televisi berhasil memikat lebih banyak khalayak daripada media massa lainnya. Televisi memiliki beberapa sifat yang sama dengan radio.
Pertama, televisi dapat mencapai khalayak yang besar, dan mereka yang tidak bisa membaca tetap dapat mengambil manfaat sekalipun tidak bisa membaca. Kedua, televisi dapat dipakai untuk mengajarkan banyaknya subyek dengan baik. Akan tetapi pengajaran itu akan lebih efektif  bila diikuti dengan diskusi dan aktivitas lain. Ketiga, televisi sama seperti radio dapat bersifat otoritatif dan bersahabat. Sifat-sifat televisi yang demikian itu menumbuhkan harapan baru pada banyak Negara berkembang, yang menghadapi masalah mendesak dalam pengembangan sumberdayamanusianya. Masalah ini perlu segera diatasi karena pembangunan ekonomi dan sosial yang sebenarnya bergantung pada pemecahannya. Negara-negara tersebut berharap bahwa teknologi komunikasi ini dapat secara lebih efektif dipakai dalam pembangunan sumber daya manusia, terutama yang ada daerah perdesaan. (Suryadi dan Akhmad 2007, 5).
Pemberitaan di media massa khususnya televisi, merupakan salah satu sarana untuk menyampaikan berita (pesan) yang paling diminati masyarakat pada umumnya. Penyampaian pesan yang disampaikan kepada penerima pesan (penonton) dengan cara yang lebih menarik yaitu dengan adanya tampilan audio visual sehingga terasa lebih hidup dan dapat menjangkau ruang lingkup yang sangat luas, sehingga hal ini merupakan salah satu nilai positif yang dimiliki media masa televisi.
Akan tetapi, hal tersebut tidak hannya memberikan dampak yang positif terhadap masyarakat (penonton). Jika pesan-pesan yang disampaikan oleh media masa televisi tidak sesuai dengan aturan-atuaran penyiaran yang telah ditetapkan dan dikemas dengan baik, maka hal tersebut akan memberikan implikasi yang negatif terhadap kehidupan masyarakat. Salah satu dampak yang ditimbulkan adalah peningkatan tindak kriminalitas yang terjadi di masyarakat.
Dampak media massa – kemampuan untuk menimbulkan perubahan kognitif di antara individu-individu – telah dijuluki sebagai fungsi agenda setting dari komunikasi massa. Di sinilah terletak efek komunikasi massa yang terpenting, kemampuan media untuk menstruktur dunia buat kita (McCombs dan Shaw, 1974 dalam Arkadia’s Blog 2011, 10 November 2011). Media massa mempengaruhi persepsi khalayak tentang apa yang dianggap penting. Media massa memang tidak menentukan “what to think”, tetapi mempengaruhi “what to think about”. Dengan memilih berita tertentu dan mengabaikan yang lain, dengan menonjolkan satu persoalan dan mengesampingkan yang lain, media membentuk citra atau gambaran dunia kita seperti yang disajikan dalam media massa.
Selain terbukti sanggup membentuk citra orang tentang lingkungan dengan menyampaikan informasi, kita juga dapat menduga media massa tertentu berperan juga dalam menyampaikan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang baik. Ini disebut efek prososial kognitif dari media, yaitu bagaimana media massa memberikan manfaat yang dikehendaki oleh masyarakat.
Penelitian yang dilakukan Communicateam (2009) mengatakan hampir seluruh mahasiswa yang wawancarai mengkonsumsi media sebagai hiburan. Fungsi informatif media terutama televisi hanya menempati posisi kedua. Sementara pengetahuan serta wawasan yang didapat dianggap sebagai “bonus” dari menonton televisi. Enam dari sepuluh orang memasukkan news sebagai salah satu acara yang ditonton setiap hari, selebihnya adalah acara hiburan seperti infotainment, musik, komedi, film, film kartun dan reality show. Seorang mahasiswa menyebutkan bahwa ia juga menonton acara talk show selain news dan hiburan.
Acara news dan talk show membantu mahasiswa untuk mengenali permasalahan atau peristiwa yang tengah terjadi di dunia atau minimal di dalam negeri. Enam orang rutin mengikuti acara news di televisi, sementara dua di antaranya juga aktif membaca surat kabar. Efek terhadap kognisi dari enam mahasiswa ini dapat diamati dari cara pandang mereka terhadap sesuatu. Dua orang yang membaca surat kabar serta menonton news di televisi relatif memiliki wawasan yang lebih luas di antara yang lainnya. Informasi yang disajikan televisi, khususnya saluran televisi berita terbukti berguna bagi dua orang yang merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. (Communicateam.com 2009, 27 September 2011).
Sesuai dengan teori agenda setting, media massa mempengaruhi persepsi khalayak tentang apa yang dianggap penting. Penonton berita memiliki pengetahuan dan ketertarikan yang sama tentang suatu persoalan yang sedang ditampilkan oleh media massa. Demikian pula yang terjadi pada pemirsa infotainment, bahan pembicaraan mereka berkisar seputar artis yang sedang gencar ditampilkan di acara infotainment.
Media massa memilih informasi yang dikehendaki dan berdasarkan informasi yang diterima, khalayak membentuk persepsinya tentang berbagai peristiwa. Dampaknya mahasiswa yang memilih media televisi memperoleh informasi secara tidak lengkap, karena media siaran merupakan media penyampai informasi yang handal namun bukan media penafsir informasi yang baik. Prinsip agenda setting semakin mengerucutkan informasi apa saja yang diterima dan mempengaruhi apa yang dipikirkan oleh khalayak. Informasi yang telah diseleksi dan tidak lengkap menimbulkan persepsi yang hampir seragam pada mahasiswa yang menonton televisi, yang terkadang keliru. Pengetahuan yang mereka perolehpun hanya sebatas permukaan bila dibandingkan orang yang mengkonsumsi media cetak seperti majalah, surat kabar atau buku.
Dengan bertambah banyaknya stasiun televisi, pihak-pihak pengusaha televisi menganggap tentunya hal ini akan memunculkan persaingan dan situasi yang kompetitif antar media elektronik untuk dapat merebut perhatian pemirsa dengan cara menyuguhkan acara-acara yang diperhitungkan akan disenangi oleh pemirsa. Untuk dapat menarik perhatian khalayak, paket acara yang ditawarkan dikemas semenarik mungkin. Berbagai paket acara yang disajikan diproduksi dengan memperhatikan unsur informasi, pendidikan serta hiburan. Namun, ketatnya persaingan justru menggeser paradigma pihak pengelola stasiun untuk menyajikan program acara yang hannya mementingkan ratting.
Program acara-acara yang sering muncul di layar kaca justru kurang memperhatikan unsur informasi, pendidikan, sosial budaya bahkan etika dan norma masyarakat. Salah satunya unsur kekerasan menjadi menu utama di berbagai jenis tayangan yang dikemas dalam film, sinetron, dan berita.
Lain halnya dengan tvOne, sebagai media yang fokus terhadap news. tvOne berusaha menyajikan pemberitaan dengan lengkap. Salah satu program acara tvOne yang dianggap khas, dan dengan durasi yang panjang, serta lebih lengkap dari yang lain adalah Apa Kabar Indonesia. Di sana disajikan berita-berita yang sedang hangat diperbincangkan dengan narasumber yang berkompoten, dengan diskusi-diskusi ringan. Disiarkan langsung di studio luar tvOne. Pemberitaannya mulai dari berita yang sedang hangat sampai pada pengaduan masyarakat dan agenda-agenda penting yang patut diketahui masyarakat luas.
Mahasiswa adalah ujung tombak sebuah bangsa. Terutama mahasiswa yang aktif di organisasi sosial kemasyarakatan. Dalam pengamatan sementara penulis, aktivis mahasiswa cenderung memilih menonton acara news di televisi. Sebagai penambah wawasan dan keilmuannya. Mereka cenderung senang mendengar komentar-komentar dari sebuah pemberitaan yang sedang hangat diperbincangkan. Terutama komentar dari para pakar yang berkompeten di bidangnya.
Mahasiswa fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar terbilang banyak yang aktif di berbagai lembaga kemahasiswaan. Mulai dari himpunan mahasiswa jurusan, badan eksekutif mahasiswa, sampai kepada organisasi ekstra yang berada pada fakultas tersebut.
Jika dicermati, mahasiswa cenderung lebih banyak mempergunakan televisi dibandingkan dengan media lainnya. Terutama acara-acara yang informative. Seperti acara talk show dan berita. Hal inilah yang mendorong penulis untuk meneliti seperti apakah persepsi mahasiswa setelah menonton program acara news atau berita di televisi.
Melihat pengaruh dunia pertelevisian khususnya acara yang menyajikan topik terhangat, maka peneliti tertarik untuk membahas dalam skripsi dengan judulPersepsi Mahasiswa Terhadap Program Acara Apa Kabar Indonesia Di Tvone (Studi Deskriptif Terhadap Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar)”.



B.     RUMUSAN MASALAH
Mengacu pada latar belakang di atas, maka penulis dapat menarik rumusan permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini, yakni:
  1. Bagaimana animo aktivis mahasiswa menonton program acara Apa Kabar Indonesia di tvOne?
2.      Bagaimana persepsi aktivis mahasiswa terhadap program acara Apa Kabar Indonesia di tvOne?

C.    DEFENISI OPERASIONAL DAN RUANG LINGKUP PENELITIAN
Untuk memberikan ruang pemaknaan yang lebih rinci dan tidak memunculkan multi  interperestasi pembaca serta kerancuan yang mengarah pada penafsiran ganda terhadap variable-variabel dan istilah-istilah yang terkandung dalam judul. Maka Peneliti memberikan batasan defenisi judul yang merupakan penjabaran dari isi yang di sederhanakan dalam bentuk defenisi operasional dan ruang lingkup penelitian yang peneliti kemukakan dalam draft skripsi ini. “Persepsi Mahasiswa Terhadap Program Acara Apa Kabar Indonesia di tvOne (Studi Deskriptif Pada Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar)”.


1.      Persepsi
Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia, persepsi adalah (1) tanggapan atau penerimaan langsung dari sesuatu. (2) proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca indranya. (Depdikbud 1989, 863).
Menurut Robert A. Baron dan Paul B. Paulus mengatakan persepsi adalah proses internal yang memungkinkan kita memilih, mengorganisasikan, dan menafsirkan rangsangan dari lingkungan kita, dan proses tersebut mempengaruhi perilaku kita. Persepsi ditentukan oleh faktor personal dan faktor situasional. Faktor lain yang sangat mempengaruhi persepsi adalah perhatian.
Jadi persepsi mahasiswa yang dimaksud dalam skripsi ini adalah komentar aktivis mahasiswa yang belajar di Fakultas Dakwah dan Kumunikasi UIN Alauddin Makassar terhadap program acara Apa Kabar Indonesia di tvOne.
2.      Aktivis Mahasiswa
Dalam Kamus Besar Bahassa Indonesia, mahasiswa  adalah orang yang belajar di perguruan tinggi (Depdikbud, 1989). Aktivis adalah orang yang aktif di sebuah lembaga. Dalam artikata.com, aktivis diartikan orang (terutama anggota organisasi politik, sosial, buruh, petani, pemuda, mahasiswa, wanita) yang bekerja aktif mendorong pelaksanaan sesuatu atau berbagai kegiatan dalam organisasinya (artikata.com 2011, 2 Desember 2011).
 Jadi yang di masksud aktivis mahasiswa dalam penelitian ini adalah  mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar yang aktif di lembaga kemahasiswaan sebagai pengurus inti (mencakup ketua, sekretaris, bendahara, dan ketua-ketua bidang dalam sebuah organisasi). Baik itu lembaga intra, seperti Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), dan lembaga-lembaga kemahasiswaan lain  yang mendapat SK (Surat Keputusan) langsung dari Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi dan Rektor UIN Alauddin Makassar. Maupun lembaga ekstra, seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), dan berbagai organisasi kemahasiswaan yang sifatnya ekstra kampus.
3.      Program Acara Apa Kabar Indonesia di tvOne
Program acara Apa Kabar Indonesia merupakan program informasi dalam bentuk diskusi ringan dengan topik-topik terhangat bersama para narasumber dan masyarakat, disiarkan secara langsung pada pagi hari dari studio luar tvOne. Apa Kabar Indonesia merupakan program acara yang khas yang disajikan tvOne.
tvOne adalah stasiun televisi swasta yang mengudara untuk pertama kalinya pada Tanggal 14 Februari 2008, pukul 19.30 WIB. Peresmiannya dilakukan oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. tvOne menjadi stasiun televisi pertama di Indonesia yang mendapatkan kesempatan untuk diresmikan dari Istana Presiden Republik Indonesia. tvOne berbadan hukum  PT. Lativi Mediakarya. Bertempat di  Jalan Rawa Terate II No.2 Kawasan Industri Pulo Gadung - Jakarta 13260, Indonesia. (tvone.co.id, 27 September 2011).
tvOne mempunyai visi mencerdaskan semua lapisan masyarakat yang pada akhirnya memajukan bangsa. Dengan misi menjadi stasiun TV Berita & Olahraga nomor satu. Menayangkan program News & Sport yang secara progresif mendidik pemirsa untuk berpikiran maju, positif dan cerdas. Memilih program News & Sport yang informatif dan inovatif dalam penyajian dan kemasan.
 Dengan motto “Terdepan Mengabarkan”, tvOne berkomitmen secara progresif untuk menginspirasi masyarakat Indonesia yang berusia 15 tahun ke atas agar berpikiran maju dan melakukan perbaikan bagi diri sendiri serta masyarakat sekitar melalui program News and Sports yang dimilikinya. 

D.    KAJIAN PUSTAKA
1.      Persepsi
Manusia sebagai makhluk sosial yang sekaligus juga makhluk individual, maka terdapat perbedaan antara individu yang satu dengan yang lainnya. Adanya perbedaan inilah yang antara lain menyebabkan mengapa seseorang menyenangi suatu obyek, sedangkan orang lain tidak senang bahkan membenci obyek tersebut. Hal ini sangat tergantung bagaimana individu menanggapi obyek tersebut dengan persepsinya. Pada kenyataannya sebagian besar sikap, tingkah laku dan penyesuaian ditentukan oleh persepsinya.
Persepsi pada hakikatnya adalah merupakan proses penilaian seseorang terhadap obyek tertentu. Menurut Young (1956) persepsi merupakan aktivitas mengindera, mengintegrasikan dan memberikan penilaian pada obyek-obyek fisik maupun obyek sosial, dan penginderaan tersebut tergantung pada stimulus fisik dan stimulus sosial yang ada di lingkungannya. Sensasi-sensasi dari lingkungan akan diolah bersama-sama dengan hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya baik hal itu berupa harapan-harapan,nilai-nilai, sikap, ingatan dan lain-lain. Sedangkan menurut  Wagito (1981) seperti dikutip infoskripsi.com menyatakan bahwa persepsi merupakan proses psikologis dan hasil dari penginderaan serta proses terakhir dari kesadaran, sehingga membentuk proses berpikir.
Menurut Polak (1976) Di dalam proses persepsi individu dituntut untuk memberikan penilaian terhadap suatu obyek yang dapat bersifat positif/negatif, senang atau tidak senang dan sebagainya. Dengan adanya persepsi maka akan terbentuk sikap, yaitu suatu kecenderungan yang stabil untuk berlaku atau bertindak secara tertentu di dalam situasi yang tertentu pula. (infoskripsi.com, 10 November 2011).
Persepsi adalah suatu proses aktivitas seseorang dalam memberikan kesan, penilaian, pendapat, merasakan dan menginterpretasikan sesuatu berdasarkan informasi yang ditampilkan dari sumber lain (yang dipersepsi). Melalui persepsi kita dapat mengenali dunia sekitar kita, yaitu seluruh dunia yang terdiri dari benda serta manusia dengan segala kejadian-kejadiannya. (Meider, 1958). Dengan persepsi kita dapat berinteraksi dengan dunia sekeliling kita, khususnya antar manusia. Dalam kehidupan sosial di kelas tidak lepas dari interaksi antara mahasiswa dengan mahasiswa, antara mahasiswa dengan dosen. Adanya interaksi antar komponen yang ada di dalam kelas menjadikan masing-masing komponen (mahasiswa dan dosen) akan saling memberikan tanggapan, penilaian dan persepsinya. Adanya persepsi ini adalah penting agar dapat menumbuhkan komunikasi aktif, sehingga dapat meningkatkan kapasitas belajar di kelas.
Persepsi adalah suatu proses yang kompleks dimana kita menerima dan menyadap informasi dari lingkungan (Fleming & Levie, 1978). Persepsi juga merupakan proses psikologis sebagai hasil penginderaan serta proses terakhir dari kesadaran, sehingga membentuk proses berpikir. Persepsi seseorang akan mempengaruhi proses belajar (minat) dan mendorong mahasiswa untuk melaksanakan sesuatu (motivasi) belajar. Oleh karena itu menurut Walgito (1981), persepsi merupakan kesan yang pertama untuk mencapai suatu keberhasilan. (infoskripsi.com, 10 November 2011).
Persepsi seseorang dalam menangkap informasi dan peristiwa-peristiwa menurut Muhyadi (1989) dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu: 1) orang yang membentuk persepsi itu sendiri, khususnya kondisi intern (kebutuhan, kelelahan, sikap, minat, motivasi, harapan, pengalaman masa lalu dan kepribadian), 2) stimulus yang berupa obyek maupun peristiwa tertentu (benda, orang, proses dan lain-lain), 3) stimulus dimana pembentukan persepsi itu terjadi baik tempat, waktu, suasana (sedih, gembira dan lain-lain).
Dengan demikian persepsi merupakan suatu fungsi biologis (melalui organ-organ sensoris) yang memungkinkan individu menerima dan mengolah informasi dari lingkungan dan mengadakan perubahan-perubahan di lingkungannya. (Eytonck, 1972 dalam infoskripsi.com, 10 November 2011).
a.       Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi
1.      Faktor Yang Mempengaruhi Pengembangan Persepsi Seseorang
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan persepsi seseorang, antara lain:

a)      Psikologi
Persepsi seseorang mengenai segala sesuatu di alam dunia ini sangat dipengaruhi oleh keadaan psikologi. Contoh terbenamnya matahari di waktu senja yang indah temaram, akan dirasakan sebagai baying-bayang yang kelabu bagi seorang yang buta warna.
b)      Famili (keluarga)
Pengaruh yang paling besar terhadap anak-anak adalah familinya. Orang tua yang telah mengembangkan suatu cara yang khusus di dsalam memahami dan melihat kenyataan di dunia ini, banyak sikap dan persepsi-persepsi mereka yan diturunkan kepada anaknya. Contoh orang tua yang Muhammadiyah akan mempunyai anak-anak yang Muhammadiyah juga.
c)      Kebudayaan
Kebudayaan dan lingkungan masyarakat tertentu juga merupakan salah satu factor kuat didalam mempengaruhi sikap, nilai, dan cara seseorang memandang dan memahami keadaan di dunia ini. Contoh Orang Amerika yang bebas makan daging babi, tidak begitu halnya bagi masyarakat Indonesia.
2.      Faktor Dari Dalam dan Luar
Selain faktor yang mempengaruhi pengembangan persepsi, ada pula faktor yang mempengaruhi dalam pemilihan persepsi :
a)      Faktor-faktor perhatian dari luar
Faktor-faktor perhatian dari luar ini terdiri dari pengaruh-pengaruh lingkungan luar antara lain : intensitas, ukuran, keberlawanan, pengulangan, gerakan, dan hal-hal baru berikut ketidakasingan.
1)      Intensitas, prinsip intensitas dari suatu perhatian dapat dinyatakan bahwa semakin besar intensitas stimulus dari luar, layaknya semakin besar pula hal-hal itu dapat dipahami.
2)      Ukuran, faktor ini sangat dekat dengan prinsip intensitas. Faktor ini menyatakan bahwa semakin besar ukuran sesuatu objek, maka semakin mudah untuk bisa diketahui atau dipahami.
3)      Keberlawana atau kontras, prinsip keberlawanan ini menyatakan bahwa stimuli luar yang penampilannya berlawanan dengan latar belakngnya yang sama sekali di luar sangkaan orang banyak, akan menarik banyak perhatian.
4)      Pengulangan (repetition), dalam prinsip ini dikemukakan bahwa stimulus dari luar yang di ulang akan memberikan perhatian yang lebih besar dibandingkan dengan yang sekali dilihat .
5)      Gerakan (moving), Prinsip gerakan ini antaranya menyatakan bahwa orang akan memberikan banyak perhatian terhadap obyek yang bergerak dalam jangkauan pandangannya dibandingkan dengan obyek yang diam.
6)      Baru dan familier, prinsip ini menyatakan bahwa baik situasi eksternal yang baru maupun yang sudah dikenal dapat dipergunakan sebagai penarik perhatian.
b)      Faktor-faktor dari dalam (internal set factors)
1)      Belajar atau pemahaman learning dan persepsi, semua faktor-faktor dari dalam yang membentuk adanya perhatian kepada sesuatu objek sehingga menimbulkan adanya persepsi adlah didasarkan dari kekomplekan kejiwaan seperti yang diuraikan di muka.
2)      Motivasi dan persepsi, selain proses belajar dapat membentuk persepsi, faktor dari dalam lainnya yang juga menentukan terjadinya persepsi antara lain motivasi dan kepribadian.
3)      Kepribadian dan persepsi dalam membentuk persepsi unsur ini amat erat hubungannya dengan proses belajar dan motivasi, yang mempunyai akibat tentang apa yang dihadirkan dalam menghadiri suatu situasi.
b.      Sifat-Sifat Persepsi
1.      Persepsi Bersifat Dugaan
Oleh karena data yang kita peroleh mengenai objek lewat penginderaan tidak pernah lengkap, persepsi merupakan loncatan langsung pada kesimpulan. Seperti proses seleksi, langkah ini dianggap perlu karena kita tidak mungkin memperoleh seperangkat rincian yang lengkap lewat kelima indera kita.
Proses persepsi yang bersifat dugaan itu memungkinkan kita menafsirkan suatu objek dengan makna yang lebih lengkap dari suatu sudut pandang manapun. Oleh karena informasi yang lengkap tidak pernah tersedia, dugaan diperlukan untuk membuat suatu kesimpulan berdasarkan informasi yang tidak lengkap lewat penginderaan itu. Kita harus mengisi ruang yang kosong untuk melengkapi gambaran itu dan menyediakan informasi yang hilang.
Dengan demikian, persepsi juga adalah suatu proses mengorganisasikan informasi yang tersedia, menempatkan rincian yang kita ketahui dalam suatu skema organisasional tertentu yang memungkinkan kita memperolah suatu makna lebih umum.
2.      Persepsi Bersifat Evaluatif
Persepsi adalah suatu proses kognitif psikologis dalam diri kita yang mencerminkan sikap, kepercayaan, nilai, dan pengharapan yang kita gunakan untuk memaknai objek persepsi. Dengan demikian, persepsi bersifat pribadi dan subjektif. Menggunakan kata-kata Andrea L. Rich, “persepsi pada dasarnya memiliki keadaan fisik dan psikologis individu, alih-alih menunjukkan karakteristik dan kualitas mutlak objek yang dipersepsi”. Dengan ungkapan Carl Rogers, “individu bereaksi terhadap dunianya yang ia alami dan menafsirkannya dan dengan demikian dunia perseptual ini, bagi individu tersebut, adalah realitas”.
3.      Persepsi Bersifat Konstektual
Suatu rangsangan dari luar harus diorganisasikan. Dari semua pengaruh yang ada dalam persepsi kita, konteks merupakan salah satu pengaruh yang paling kuat. Konteks yang melingkungi kita ketika kita melihat seseorang, suatu objek atau suatu kejadian sangat mempengaruhi struktur kognitif, pengharapan dan juga persepsi kita.
Dalam mengorganisasikan suatu objek, yakni meletakkannya dalam suatu konteks tertentu, kita menggunakan prinsip-prinsip berikut:
a)      Prinsip pertama. Stuktur objek atau kejadian berdasarkan prinsip kemiripan atau kedekatan dan kelengkapannya.
b)      Prinsip kedua. Kita cenderung mempersepsi suatu rangsangan atau kejadian yang terdiri dari objek dan latar belakangnya
c.       Kekeliruan dan Kegagalan Persepsi
Persepsi kita sering tidak cermat. Salah satu penyebabnya adalah asumsi atau pengharapan kita. Beberapa bentuk kekeliruan dan kegagalan persepsi adalah sebagai berikut:
1)      Kesalahan Atribusi
Atribusi adalah proses internal dalam diri kita untuk memahami penyebab perilaku orang lain. Dalam usaha mengetahui orang lain, kita menggunakan beberapa sumber informasi. Misalnya, kita mengamati penampilan fisik seseorang, karena faktor seperti usia, gaya pakaian, dan daya tarik dapat memberikan isyarat mengenai sifat-sifat utama mereka.
Kesalahan atribusi bisa terjadi ketika kita salah menaksir makna pesan atau maksud perilaku si pembicara. Atribusi  kita juga keliru bila kita menyangka bahwa perilaku seseorang disebabkan oleh faktor internal, padahal justru faktor eksternallah yang menyebabkannya, atau sebaliknya kita menduga faktor eksternal yang menggerakkan seseorang, padahal faktor internallah yang membangkitkan perilakunya.
Salah satu sumber kesalahan atribusi lainnya adalah pesan yang dipersepsi tidak utuh atau tidak lengkap, sehingga kita berusaha menafsirkan pesan tersebut dengan menafsirkan sendiri kekurangannya, atau mengisi kesenjangan dan mempersepsi rangsangan atau pola yang tidak lengkap itu sebagai lengkap.
2)      Efek Halo
Kesalahan persepsi yang disebut efek halo (halo effects) merujuk pada fakta bahwa begitu kita membentuk suatu kesan menyeluruh mengenai seseorang, kesan yang menyeluruh ini cenderung menimbulkan efek yang kuat atas penilaian kita akan sifat-sifatnya yang spesifik. Efek halo ini memang lazim dan berpengaruh kuat sekali pada diri kita dalam menilai orang-orang yang bersangkutan. Bila kita sangat terkesan oleh seseorang, karena kepemimpinannya atau keahliannya dalam suatu bidang, kita cenderung memperluas kesan awal kita. Bila ia baik dalam satu hal, maka seolah-olah ia pun baik dalam hal lainnya.
Kesan menyeluruh itu sering kita peroleh dari kesan pertama, yang biasanya berpengaruh kuat dan sulit digoyahkan. Para pakar menyebut hal itu sebagai “hukum keprimaan” (law of primacy). Celakanya, kesan awal kita yang positif atas penampilan fisik seseorang sering mempengaruhi persepsi kita akan prospek hidupnya. Misalnya, orang yang berpenampilan lebih menarik dianggap berpeluang lebih besar dalam hidupnya (karir, perkawinan, dan sebagainya).
3)      Stereotif
Kesulitan komunikasi akan muncul dari penstereotipan (stereotyping), yakni menggeneralisasikan orang-orang berdasarkan sedikit informasi dan membentuk asumsi mengenai mereka berdasarakan keanggotaan mereka dalam suatu kelompok. Dengan kata lain, penstereotipan adalah proses menempatkan orang-orang dan objek-objek ke dalam kategori-kategori yang mapan, atau penilaian mengenai orang-orang atau objek-objek berdasarkan kategori-kategori yang dianggap sesuai, alih-alih berdasarkan karakteristik individual mereka.
Contoh stereotip ini banyak sekali, misalnya:
a)   Laki-laki berpikir logis;
b)   Wanita bersikap emosional;
c)   Orang berkulit hitam pencuri;
d)  Orang Meksiko pemalas;
e)   Orang Yahudi cerdas;
f)    Orang Prancis penggemar wanita, anggur, dan makanan enak;
g)   Orang Cina pandai memasak;
h)   Orang Batak kasar;
i)     Orang Padang pelit;
j)     Orang Jawa halus pembawaan;
k)   Lelaki Sunda suka kawin cerai dan pelit memberi uang belanja;
l)     Wanita Jawa tidak baik menikah dengan lelaki Sunda (karena suku Jawa dianggap lebih tua daripada suku Sunda);
m)  Orang Tasikmalaya tukang kredit;
n)    Orang berkaca mata minus jenius;
o)    Orang berjenggot fundamentalis (padahal kambing juga berjenggot), dll.
Pada umumnya, stereotip bersifat negatif. Stereotip ini tidaklah berbahaya sejauh kita simpan dalam kepala kita. Akan tetapi bahayanya sangat nyata bila stereotip ini diaktifkan dalam hubungan manusia. Apa yang anda persepsi sangat dipengaruhi oleh apa yang anda harapkan. Ketika anda mengharapkan orang lain berperilaku tertentu, anda mungkin mengkomunikasikan pengharapan anda kepada mereka dengan cara-cara yang sangat halus, sehingga meningkatkan kemungkinan bahwa mereka akan berperilaku sesuai dengan yang anda harapkan.
4)      Prasangka
Suatu kekeliruan persepsi terhadap orang yang berbeda adalah prasangka, suatu konsep yang sangat dekat dengan stereotip. Beberapa pakar cenderung menganggap bahwa stereotip itu identik dengan prasangka, seperti Donald Edgar dan Joe R. Fagin. Dapat dikatakan bahwa stereotip merupakan komponen kognitif (kepercayaan) dari prasangka, sedangkan prasangka juga berdimensi perilaku. Jadi prasangka ini konsekuensi dari stereotip, dan lebih teramati daripada stereotip. Menurut Ian Robertson, pikiran berprasangka selalu menggunakan citra mental yang kaku yang meringkas apapun yang dipercayai sebagai khas suatu kelompok. Citra demikian disebut stereotip.
Meskipun kita cenderung menganggap prasangka berdasarkan suatu dekotomi, yakni berprasangka atau tidak berprasangka, lebih bermanfaat untuk menganggap prasangka ini sebagai bervariasi dalam suatu rentang dari tingkat rendah hingga tingkat tinggi. Sebagaimana stereotip, prasangka ini alamiah dan tidak terhindarkan. Pengguanaan prasangka memungkinkan kita mereespon lingkungan secara umum, sehingga terlalu menyederhanakan masalah.
5)      Gegar Budaya
Menurut Kalvero Oberg, gegar budaya ditimbulkan oleh kecemasan karena hilangnya tanda-tanda yang sudah dikenal dan simbol-simbol hubungan sosial. Lundstedt mengatakan bahwa gegar budaya adalah suatu bentuk ketidakmamapuan menyesuaikan diri (personality mal-adjustment) yang merupakan suatu reaksi terhadap upaya sementara yang gagal untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan orang-orang baru. Sedangkan menurut P. Harris dan R. Moran, gegar budaya adalah suatu trauma umum yang dialami seseorang dalam suatu budaya yang baru dan berbeda karena harus belajar dan mengatasi begitu banyak nilai budaya dan pengharapan baru, sementara nilai budaya dan pengharapan budaya lama tidak lagi sesuai.
Kita tidak langsung mengalami gegar budaya ketika kita memasuki lingkungan budaya yang baru. Fenomena itu dapat digambarkan dalam beberapa tahap. Peter S. Adler mengemukakan lima tahap dalam pengalaman transisional ini, yaitu:
a)      Tahap kontak. Ditandai dengan kesenangan, keheranan, dan kekagetan, karena kita melihat hal-hal yang eksotik, unik, dan luar biasa.
b)      Tahap disintegrasi. Terjadi ketika perilaku, nilai, dan sikap yang berbeda mengganggu realitas perseptual kita.
c)      Tahap reintegrasi. Ditandai dengan penolakan atas budaya, kita menolak kemiripan dan perbedaan budaya melalui penstereotipan, generalisasi, evaluasi, perilaku, dan sikap yang sserba menilai.
d)     Tahap otonomi. Ditandai dengan kepekaan budaya dan keluwesan pribadi yang meningkat, pemahaman atas budaya baru, dan kemampuan menyesuaikan diri dengan budaya baru kita.
e)      Tahap independensi. Ditandai dengan kita mulai menghargai kemiripan dan perbedaan budaya, bahkan menikmatinya.
Gegar budaya ini dalam berbagai bentuknya adalah fenomena yang alamiah saja. Intensitasnya dipengaruhi oleh berbagai faktor, yang pada dasarnya terbagi dua, yaitu: faktor internal (cirri-ciri kepribadian orang yang bersangkutan), dan faktor eksternal (kerumitan budaya atau lingkungan budaya baru yang dimasuki). Tidak ada kepastian kapan gegar budaya ini akan muncul dihitung sejak kita memasuki suatu budaya lain.
d.      Hubungan Persepsi dalam Komunikasi
Sering kita temukan istilah “menyamakan persepsi.” kadang ada yang pas, namun seringnya tidak pas digunakan. Hal itu sama saja jika sering kita dengar atau ucapkan: “kalau menyikat gigi, harus menggunakan odol,” atau ada yang berkata “jangan sering-sering makan indomie, nanti bisa iritasi usus,” atau ada pula yang berkata “kalau makan bakso, jangan gunakan sasa,” dan sebagainya. Mungkin yang dimaksud dengan “odol” adalah “pasta gigi” padahal Odol adalah salah satu merk dagang pasta gigi, demikian juga dengan indomie, mau merknya apa saja (misalkan Super Mie, Sarimie, atau apapun), menyebutnya dengan Indomie, begitu juga dengan Sasa, sebagai merk dagang bumbu penyedap rasa (MSG). Itulah hebatnya orang-orang yang bergerak di bidang pemasaran, khususnya brand image, yang mampu menanamkan nama produk di benak para konsumennya hingga turun-temurun.
Persepsi adalah kata yang berhubungan dengan waktu, yang dalam bahasa Inggrisnya berhubungan dengan past-present, atau masa lalu hingga saat ini, atau berhubungan dengan pengalaman. Amat sulit tugas untuk “menyamakan persepsi,” karena setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Sehingga persepsinya pun berbeda.
2.       Media Massa Televisi
Media dalam kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai (1) alat (2) alat (sarana) komunikasi seperti Koran, majalah, radio, televisi, film, poster, da spanduk. Media massa diartikan sebagai sarana dan saluran resmi sebagai alat komunikasi untuk menyebarkan berita dan pesan kepada masyarakat. Dan media media elektronik adalah sarana media massa yang menggunakan alat-alat elektronik modern. Misalnya, televisi, radio, dan film. (Depdikbud, 1990).
Dalam kamus komunikasi, televisi terdiri dari dua kata. Tele berarti jauh. Vision berarti melihat/penglihatan. Jadi, televisi diartikan sebagai media komunikasi jarak jauh dengan penayangan gambar dan mendengar suara, baik melalui kawat maupun melaui elektro magnetic tanpa kawat. (Efendy 1989, 563).
Sedangkan dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, televisi diartikan pesawat system penyiaran gambar objek yang bergerak yang disertai dengan bunyi (suara) melalui kabel atau angkasa dengan menggunakan alat cahaya (gambar) dan bunyi (suara) menjadi gelombang-gelombang listrik dan mengubahnya kembali menjadi berkas cahaya yag dapat dilihat da bunyi yang dapat didengar, digunakan untuk penyiaran pertunjukan, berita, dan lain-lain. (Depdikbud, 1990).
Menurut Skornis, televisi merupakan gabungan dari media dengar dan gambar yang bisa bersifat politis. Televisi menciptakan suasana tertentu, yaitu para pemirsanya dapat melihat sambil duduk santai tanpa kesenganjaan untuk menyaksikannya. Penyampaian isi pesan seolah-olah langsung antara komunikator dan komunikan. Informasi yang disampaikan oleh televisi mudah dimengerti karena jelas terdengar secara audio dan terlihat secara visual. (Suryadi dan Akhmad 2007, 11).
Televisi sebuah kotak ajaib yang diletakkan begitu khusus di salah satu sudut ruang rumah kita, hal ini menjelma sebuah “dunia” atau dengan makna dan nilai kehidupan yang baru.
Pada dasarnya televisi lahir karena perkembangan teknologi. Awalnya di mulai ketika di temukannya telegraph  oleh seorang amerika bernama S. Morse pada tahun 1835. Teknologi ini memungkinkan pengiriman isyarat jarak jauh. (Wikipedia, 11 Maret 2011).
Kemajuan dan temuan-temuan tersebut menimbulkan harapan untuk melihat sesuatu yang jauh. Harapan tersebut mendekati kenyataan ketika Vledemir. K. Sworikin pada tahun 1928 berhasil menemukan Iconoscope atau Tabung Kamera. Para ahli dan ilmuwan yang mengembangkan teknologi penemuan televisi, sebelumnya telah menemukan alat eletrische teleskop yakni sebuah alat yang mampu mengirim gambar dari suatu ke tempat ke tempat lain melalui udara. Gagasan itu dilontarkan oleh Paul Nipkov seorang mahasiswa dari berlin timur yang kemudian diangkat sebagai “bapak televisi”. (Yunus 2007, 32).
Dampak positif dari tayangan televisi yaitu :
a.       Sumber ilmu pengetahuan
Dari sekian program televisi yang ada, televisi juga ada program yang menambah ilmu pengetahuan. Kita lihat seperti program acara yang bernuansa islami, program acara discovery (penemuan), program acara pengobatan dan kesehatan. Ada juga peristiwa kejadian alam dan berita dunia sebagai wawasan pengetahuan
b.      Alat komunikasi
Kita bisa menginformasikan apa yang kita miliki. Sumber daya alam budaya yang khas dan produk-produk yang dihasilkan masyarakat desa (home industri) yang dimilki oleh suatu masyarakat dapat ditawarkan (diiklankan) melalui media televisi kepada masyarakat luar atau dunia luar. Dengan demikian, kekayaan alam dan budaya bisa sebagai pendapatan asli daerah (PAD).
c.       Hiburan
Televisi selain sebagai sarana informasi juga sebagai hiburan. Dalam televisi ditampilkan acara, seperti music, film, komedi, olahraga, dan lainnya yang membuat penonton merasa terhibur. Selepas bekerja atau sambil menunggu reda keringat dengan segelas air teh atau bening, duduk menikmati acara televisi. Masyarakat desa dengan santai menikmati hiburan yang jarang di pertunjukkan di daerahnya.
Menonton televisi bisa meredakan masalah-masalah yang sedang dihadapi. Namun, acara yang ditonton hanya sebatas merilekskan pikiran, tidak dijadikan kebiasaan untuk menikmati acara. Selain itu, acara yang dipilih tidak membuat penasaran.

d.      Dakwah
Televisi sebagai sarana mimbar dakwah, penyampaian ilmu-ilmu keagamaan, serta penambah iman dan ketaqwaan. Terutama pada waktu hari-hari besar agama atau waktu ritual keagamaan, televisi menanyangkan program-program keagamaan, baik film, sinetron, music, dan ceramah-ceramah yang telah berkolaborasi dengan iklan keagamaan atau acara lain. (Suryadi dan Akhmad 2007, 41-42).
Dampak negatif tayangan televisi yaitu :
a.     Menyia-nyiakan waktu
Mengingat waktu terbatas, maka menonton televisi dapat dikategorikan menyia-nyiakan waktu dan umur, bila acara yang mereka tonton terus menerus bersifat hiburan di dalamnya tanpa ada sisi edukasinya sama sekali.
b.      Melalaikan tugas dan kewajiban
Kenyataan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, juga sudah menunjukkan dengan jelas dan tegas bahwa menonton televisi dengan acara yang memikat dan menarik seringkali membawa  kita pada kelalaian.



c.       Menumbuhkan sikap yang konsumtif
Ajaran sikap dan pola konsumtif biasanya terkemas dalam bentuk iklan di mana banyak iklan yang bernampilan buruk yang sama sekali tidak mendidik masyarakat kearah yang lebih baik.
d.      Menggangu kesehatan
Terlalu sering dan terlalu lama memaku diri dihadapan televisi untuk menikmati berbagai acara yang ditayangkan cepat atau lambat akan menimbulkan gangguan kesehatan mata pada pemirsa. Misalnya : kesehatan mata. (Yunus 2007, 66-70).
Sebagai media massa yang muncul belakangan, televisi berperan selama tiga puluh tahun dan radio selama enam puluh tahun, televisi dan radio lahir setelah adanya beberapa penemuan teknologi-telepon, telegraph, fotografi (yang bergerak dan yang tidak bergerak), dan rekaman suara. Terlepas dari adanya perbedaan jelas, yang dewasaini meliputi baik segi isi maupun segi penggunaannya, radio dan televisi dapat dibahas bersamaan. Menurut Raymond Williams “berbeda dengan jenis teknologi komunikasi terdahulu, radio dan televisi merupakan sistem yang dirancang terutama untuk kepentingan transmisi dan penerimaan yang merupakan proses abstrak, yang batasan isinya sangat terbatas atau bahkan tidak ada”. Televisi pada mulanya dipandang sebagai barang mainan atau sesuatu yang baru daripada sebagai suatu penemuan serius atau sesuatu yang memberikan sumbangan terhadap kehidupan sosial. (Suryadi dan Akhmad 2007, 46).
Barang kali inovasi terpenting yang terdapatpada radio dan televisi ialah kemempuan menyajikan komentar atau pengamatan langsung pada saat suatu kejadian berlangsung. Namun demikian, karena banyak peristiwa yang perlu diketahui oleh publik telah direncanakan sebelumnya, maka penambahan kadar aktualitas yang sebelumnya sudah disuguhkan oleh komentar tertulis dan film juga terbatas. Hal penting kedua dalam sejarah radio dan televisi ketatnya peraturan, pengendalian atau pemberian izin yang dilakukan oleh pihak penguasa. Semula keadaan demikian disadari oleh pertimbangan menyangkut kepentingan teknis, tidak lama kemudian oleh alasan demokratis, kepentingan Negara, kemudahan pembiayaan dan akhirnya oleh pertimbangan kebiasaan melembaga belaka. Hal penting ketiga adalah pola distribusi siaran radio dan televisi  yang berpusat dan keterkaitan televisi nasional dengan kehidupan politik serta pusat kekuasaan dalam masyarakat. Hal tersebut terjadi karena televisi telah berfungsi politis dan semakin memasyrakat. Terlepas dari kenyataan eratnya hubungan radio dan televisi dengan pihak penguasa (atau barangkali justru karena adanya kenyataan tersebut), di wilayah manapun radio dan televisi boleh dikatakan tidak dapat menikmati kebebasan atau hak-hak untuk menyatakan pendapat dan bertindak tanpa ketergantungan politis.
Pengaruh Televisi dalam Kehidupan Manusia antara lain:
Menurut Zulkarimein Nasution (1993) bahwa dampak yang dapat ditimbulkan akibat menonton televisi di antaranya:
1.         Sikap.
a)         Ingin mendapatkan dan mencapai sesuatu selekas mungkin (instantly). Di layar TV, segala sesuatu berjalan cepat. Gaya televisi memang mengharuskan kecepatan itu. Segalanya serba seketika. Hitungan yang berlaku dalam tayangan televisi adalah detik. Jadi, semua tampak cepat.
b)        Kurang menghargai proses. Sebagai lanjutan dari ingin cepat mencapai sesuatu, anak-anak jadi kurang menghargai, bahkan di sana-sini ingin mengabaikan, kalau bisa bahwa segala sesuatu ada jalannya. Ada awal, ada proses, baru kemudian ada hasil. Akibat dari kurang menghargai proses ini, timbul kecenderungan ingin mendapatkan sesuatu lewat jalan pintas.
c)        Kurang dapat membedakan khayalan dengan kenyataan. Dengan kemampuan berpikir yang masih amat sederhana, dapat dimaklumi jika anak-anak cenderung menganggap apa saja yang ada di layar televisi adalah sesuatu hal yang nyata.


2.         Perilaku
Peniruan perbuatan kekerasan. Sudah sejak lama hal ini menjadi keprihatinan, bahkan dapat dikatakan yang paling menonjol di kalangan para pendidik, psikolog, dan pemimpin agama. Dikhawatirkan, dengan melahap secara rutin aneka bentuk kekerasan yang tampil dalam berbagai format acara televisi, terutama film anak-anak kemungkinan besar anak-anak akan meniru dalam keseharian mereka.
3.         Pendidikan
a)        Menyita waktu. Banyaknya waktu yang dihabiskan anak untuk menonton televisi, berarti pengurangan terhadap waktu yang seharusnya diperuntukan bagi aktivitas lain. Anak-anak yang asyik menonton televisi berlama-lama, akan berkurang waktunya untuk bermain dengan sesamanya, mengerjakan tugas rumah, membantu orang tua dan sebagainya.
b)        Mengurangi perhatian dan minat pelajaran. Dengan sendirinya keasyikan pada televisi akan berpengaruh pada minat dan perhatian anak pada pelajaran di sekolah. Pengaruh itu antara lain dapat mengganggu konsentrasi.
c)        Menyaingi minat membaca dan terhadap media lain. Baik secara fisik (kelelahan mata) maupun mental (tuntutan untuk memproses informasi), keasyikan pada televisi berpengaruh terhadap minat membaca.
4.         Nilai dan Agama
a)        Mengaburkan nilai-nilai agama dan sosial dalam hal respek, kesopanan, susila. Karena banyak sajian televisi berasal dari Negara yang menganut nilai-nilai dan norma yang berbeda dengan kita. Isi yang ditayangkan sering kali tidak cocok atau bahkan bertentangan dengan yang berlaku di tengah masyarakat.     
b)        Mengorbankan semangat keduniaan. Sudah menjadi sifat televisi sebagai suatu medium menuntut penampilan tokoh dan watak yang umumnya mencerminkan hal-hal yang menjadi obsesi pemirsa (yang indah rupawan, ganteng, bahagia, dan sebagainya). Perangkat dan aksesori lain yang ditampilkan pun, terutama untuk sajian berbentuk iklan, umumnya mencerminkan kehidupan duniawi.
5.         Budaya
Mendorong kekaguman yang berlebih pada kebudayaan barat. Karena yang menjadi sumber utama isi siaran televisi adalah program yang dihasilkan di negara-negara Barat, tidak heran jika timbul kekaguman kepada apa saja yang tampil di layar kaca. Meskipun tidak semua yang disajikan itu hal yang buruk. Perlu upaya untuk mencegah kekaguman yang bersifat membabi buta. Mengurangi perhatian terhadap identitas nasional. Sehingga penghargaan atau apresiasi terhadap warisan budaya sendiri, atau sesuatu yang menjadi jati diri bangsa menjadi berkurang. Dampak televisi yang begitu meluas, tidak menjadi alasan kita untuk tidak menggunakan televisi. Banyak program televisi yang bernilai positif, jika kita ada keinginan untuk selektif dalam memilih tayangan.
Ada pendapat lain yang pantas untuk dikemukakan disini tentang dampak atau pengaruh televisi, sebagaimana yang dikemukakan oleh Fuad Ghani dalam Zulkarimein Nasution (1993) dengan mengemukakan beberapa pendapat. Dari berbagai pendapat yang dikutipnya maka dapat dipaparkan disini sebagaimana yang dikemukakan oleh A Joseph Bursteln, Zumrotin K. Susilo dan Azhar Arsyad bahwa televisi dapat memberi efek positif yakni :
a.       Dapat membantu memperluas kosa kata,
b.      Merangsang perhatian terhadap hal-hal baru,
c.       Menjadi sasaran pendidikan dalam meningkatkan rasa dahaga akan     pengetahuan. (Nasution 1993, 27-33).
Sedangkan menurut Zumrotin K. Susilo juga mengemukakan pendapat masih dalam Zulkarimein Nasution (1993) bahwa televisi dapat memberikan pengaruh positif pada penontonnya yaitu:
a.         Televisi sebagai saranan yang efektif dalam menyampaikan informasi.
b.         Mempercepat memperoleh informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi,
c.         Melalui televisi mempermudah pemerintah dalam menyampikan hasil pembangunan,
d.        Mengenalkan produk-produk Negara. (Nasution 1993, 33).
Adapun pendapat yang dikemukakan oleh  Azhar Arsyad tentang manfaat media televisi yaitu :
a.         Televisi dapat memancarkan berbagai jenis bahan audio visual termasuk gambar diam, film, obyek dan drama.
b.         Televisi dapat menyajikan model dan contoh-contoh yang baik bagi siswa
c.         Televisi dapat membawa dunia nyata ke rumah dan kelas-kelas, seperti; orang-orang, tempat-tempat, peristiwa-peristiwa, melalui penyiaran langsung atau rekaman,
d.        Televisi dapat memberikan kepada siswa peluang untuk melihat dan mendengar diri sendiri,
e.         Televisi dapat menyajikan program-program yang dapat dipahami oleh siswa dengan usia dan tingkatan pendidikan yang berbeda-beda. (Nasution, 1993).
Disamping ada sisi positif televisi juga ada sisi negatifnya sebagaimana yang dikemukakan oleh Abd. Karim Nashir dalam Muhammadiyah Yunus (2007) yaitu:
a.         Membuang-buang waktu dan menyia-nyiakan umur,
b.        Membuat seorang lalai melakukan kewajiban utamanya,
c.         Berperan dalam memutuskan ikatan hubungan antara manusia,
d.        Merusak keutuhan rumah tangga,
e.         Membawa perilaku aneh dan menyimpang ke dalam masyarakat,
f.          Mengajarkan pergaulan bebas antar lawan jenis, memperlihatkan contoh-contoh akhlak yang buruk yang menurunkan derajat manusia. (Yunus 2007, 66-70).

E.     METODE PENELITIAN
  1. Lokasi dan Objek Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar, objek penelitiannya adalah aktivis mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar terkait persepsi mereka terhadap program acara Apa Kabar Indonesia pada stasiun televisi swasta, tvOne.


  1. Tipe Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Dimana data yang digambarkan secara obyektif berdasarkan data atau fakta yang ditemukan.
Secara harfiah penelitian deskriptif adalah penelitian yang bermaksud untuk membuat pencandraan (deskripsi) mengenai situasi-situasi atau kejadian-kejadian. Dalam arti ini penelitian deskriptif itu adalah akumulasi data dasar dalam cara deskriptif semata-mata tidak perlu mencari atau menerangkan saling hubungan, mentest hipotesis, membuat ramalan, atau menerangkan atau mendapatkan makna implikasi, walaupun penelitian bertujuan untuk menemukan hal-hal tersebut dapat mencakup juga metode-metode deskriptif. (Sumadi 2007, 75).
Penelitian deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterpretasi objek sesuai dengan apa adanya. Penelitian ini juga sering disebut non eksperimen, karena pada penelitian ini penelitian tidak melakukan kontrol dan manipulasi variabel penelitian. Dengan metode deskriptif, penelitian memungkinkan untuk melakukan hubungan antar variabel, menguji hipotesis, mengembangkan generalisasi, dan mengembangkan teori yang memiliki validitas universal.
Di samping itu, penelitian deskriptif juga merupakan penelitian, dimana pengumpulan data untuk mengetes pertanyaan penelitian atau hipotesis yang berkaitan dengan keadaan dan kejadian sekarang. Mereka melaporkan keadaan objek atau subjek yang diteliti sesuai dengan apa adanya.Penelitian deskriptif pada umumnya dilakukan dengan tujuan utama, yaitu menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek dan sobjek yang diteliti secara tepat.
Selain itu, penelitian ini mengutamakan adanya kelengkapan informasi yang dikumpulkan sehingga memudahkan untuk memahami fenomena sosial yang diamati dengan bersumber pada data dari lembaga pendukung/terkait, dan studi kepustakaan.
Berdasarkan uraian di atas, yang dimaksud penelitian kualitatif di sini adalah hasil penelitian yang mendeskripsikan objek secara ilmiah, faktual dan sistematis, yaitu mengenai persepsi mahasiswa dari program acara Apa Kabar Indonesia di tvOne.

3.      Sumber Data
A.    Data Primer
             Data primer adalah semua data yang diperoleh langsung di lokasi penelitian berupa hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dengan demikian, data dan informasi  yang diperoleh adalah data yang validitasnya dapat dipertanggung jawabkan. Penelitian ini tidak menggunakan populasi, namun demikian penulis menggunakan istilah social situation atau situasi sosial sebagai objek penelitian yang terdiri dari tiga elemen, yaitu : tempat (place), pelaku (actors), dan aktifitas (activity), yang berinteraksi secara sinergi (Sugiono 2008, 297) Situasi sosial dalam penelitian tediri dari tiga elemen yaitu: pertama, tempat yakni Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar. kedua aktivis mahasiswa yang kuliah di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar. Ketiga, aktivitas aktivis mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar yang menonton Apa Kabar Indonesia di tvOne. Penelitian ini difokuskan pada aktivis mahasiswa yang aktif pada organisasi sebagai pengurus inti (mencakup ketua, sekretaris, bendahara dan ketua-ketua bidang).
B.     Data Sekunder
             Data sekunder adalah data yang mendukung data primer, yakni data yang diperoleh dari literatur seperti buku-buku, majalah, dokumen, maupun referensi yang berkaitan dengan penelitian ini khususnya yang relevan dengan petunjuk membina anak yang sering melakukan perilaku menyimpang.

4.    Instrumen penelitian
Upaya untuk memperoleh data informasi yang sesuai dengan sasaran penelitian menjadikan kehadiran peniliti dalam setting penelitian merupakan hal penting karena sekaligus melakukan proses empiris. Hal tersebut disebabkan karena intrumen utama dalam penelitian kualitatif adalah si peneliti sendiri sehingga peneliti secara langsung melihat dengan mata kepala sendiri apa yang terjadi dan mendengarka dengan telinga sendiri.
           Kehadiran peneliti dalam setting sebagai instrumen utama, mengingat data informasi yang akan digali dalam sebuah proses ditinjau dari berbagai dimensi dan dinamika yang ikut mewarnai perjalanan tersebut. Kehadiran penelitian dalam setting berperan sebagai instrumen utama dimaksudkan, untuk menjaga objektivitas dan akurasi data yang dibahas.
           Instrumen artinya sesuatu yang digunakan untuk mengerjakan sesuatu(al-Barry dan Sofyan 2003, 32) instrumen yang digunakan adalah peneliti sendiri atau human instrumen, yaitu penelitian yang menjadi instrumen, (Sugiono 2008, 15). Kemudian peneliti mengembangkan instrumen tersebut menjadi wawancara dan dokumentasi.
           Adapun instrumen penelitian yang digunakan sesuai dengan metode pengumpulan data:
a.       Observasi yaitu instrumen penelitian yang digunakan oleh penulis dengan jalan turun langsung kelapangan mengamati objek secara langsung guna mendapatkan data yang jelas.
b.      Interview yaitu penulis mendatangi informan yang telah ditetapkan diwawancara dengan mengemukakan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan pembahasan dalam skripsi ini yang telah dipersiapkan penulis sebelum turun kelapangan.
c.      Dokumentasi yaitu suatu instrumen penelitian yang penulis pergunakan untuk mendapat data-data yang ada mengenai  Persepsi Mahasiswa Terhadap Program Acara Apa Kabar Indonesia Di Tvone (Studi Deskriptif Terhadap Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar).
d.      Library Research, yaitu suatu metode dimana penulis mengumpulkan data dari berbagai macam buku atau berbagai sumber lainnya yang ada kaitanya dengan pembahasan dalam tesis ini kemudian mengambil kesimpulan yang sifatnya teoritis  dengan menggunakan teknik sebagai berikut:
1)      Kutipan langsung, yaitu penulis mengutip langsung suatu pendapat yang terdapat dalam buku atau sumber lainnya tanpa perubahan sediktpun, baik redaksi, tanda baca maupun makna yang terkandng dalamnya.
2)      Kutipan tidak langsung yaitu mengutip suatu kutipan karya ilmiah atau buku dengan menambah atau mengubah redaksinya tetapi makna yang dikandung tetap sama tanpa mengurangi esensi dari kutipan tersebut.
e.       Field Research, yaitu dengan menganadakan penelitian secara langsung dilokasi penelitian di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar untuk meneliti suatu objek yang dijadikan sasaran penelitian, dengan meneliti langsung kejadian-kejadian yang berkaitan dengan pembahasan dalam skripsi ini.

5.     Teknik Pengolahan dan Analisa Data
Analisa dilakukan selama penlitian (Analysis during data collection) dimaksud agar fokus penelitian (konsep utama) tetap diberi perhatian khusus melalui wawancara mendalam (diolah dan ditulis dalam catatan). Hal senada juga dikemukakan oleh Rusdi Muhtar bahwa peneliti yang melakukan penelitian kualitatif sudah harus memulai penulisan laporan penelitian sejak berada di lapangan, karena proses analisis dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data, maka kecil kemungkinannya terjadi kekurangan data karena peneliti akan dengan mudah terlihat unsur-unsur analisis yang hilang atau tidak dibicarakan dengan informan pada saat penggunaan metode wawancara dan pengamatan berlangsung (Muhtar 2007, 45).
Selanjutnya, seluruh data analisis secara kualiatif untuk menjelaskan proses perubahan sosial dengan unit analisis struktur sosial, ekosistem, dan kultur sesuai fakta yang ada. Langka berikutnya adalah melakukan analisis intreaktif dengan memadu datasecara menyeluruh (komprenshif)



6Teknik Analisis Data
Untuk memperoleh sejumlah data yang diperlukan dalam penelitian ini, maka diperlukan objek penelitian yang disebut populasi. Menurut Suharsimi Arikunto “Populasi adalah keseluruhan objek penelitian” (Arikunto 2002, 108). Sedangkan menurut Sugiono populasi adalah wilayah generasi yang terdiri dari objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karateristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik (Sugiono 2010, 61).    
a.       Instrumen Penelitian
Alat yang dipakai oleh peneliti dalam mengumpulkan data yang akan dipakai antara lain seperti Tape Recorder (Alat perekam) untuk wawancara langsung, kamera, data-data yang diperoleh dari sekolah meliputi daftar siswa yang akan diteliti dan yang lain-lain, serta data-data dari internet dan komputer atau FD yang dipakai untuk menyimpan data yang diperoleh.
b.      Teknik Pengumpulan Data
           Dalam penelitian ini, penulis menggunakan dua teknik pengumpulan data, yaitu :
1)      Library Research (riset kepustakaan) yaitu dengan mengumpulkan data yang diperoleh melalui studi kepustakaan, dengan cara mengumpulkan data-data atau dokumen-dokumen perusahaan maupun literature-literatur yang erat kaitannya dengan penelitian
2)      Field Research, yaitu mengumpulkan data melalui penelitian lapangan, dengan menggunakan metode sebagai berikut :
a.       Metode Observasi
Observasi merupakan alat pengumpulan data yang dilakukan  dengan cara mengamati dan mencatat, menganalisa secara sistematis terhadap gejala/ fenomena/ objek yang akan diteliti (Achmadi dan Narbuko Cholid 2007, 70)
Dalam penelitian ini hal yang menjadi objek penelitian adalah siswa SMA 10 Makassar. Pengamatan ini dilakukan dengan cara observasi partisipan, dengan menggunakan alat bantu seperti alat tulis-menulis, dan sebagainya.
b.      Metode  Wawancara/ Interview
Wawancara adalah percakapan antara periset (seseorang yang berharap mendapatkan informasi) dan informan (seseorang yang diasumsikan mempunyai informasi penting tentang suatu objek). (Berger 2000, 111).
 Wawancara atau interview merupakan metode pengumpulan data untuk mendapatkan keterangan lisan melalui tanya jawab dan berhadapan langsung dengan orang yang dapat memberikan keterangan.
Wawancara dilakukan dengan bahasa yang dikuasai oleh informan. Dalam wawancara, penulis perlu menetapkan narasumber atau informan yang dianggap memahami permasalahan untuk kepentingan penulis, untuk itu ditetapkan sejumlah informan dan merupakan data primer.
3)  Dokumentasi; adalah pengumpulan data dengan cara melakukan analisis terhadap dokumen-dokumen yang berisi data yang menunjang analisis dalam penelitian.
4)   Teknik analisis data
Metode analisi data yang dianggap relevan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yaitu mengadakan analisis data secara induktif dan bersifat deskriptif dengan mengungkapkan fakta (menguraikan data) yang ada di lapangan, untuk memberikan gambaran tentang permasalahan yang dibahas dalam penelitian serta dikembangkan berdasarkan teori yang ada.
Proses analisis data penelitian ini dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu wawancara, pengamatan, yang sudah ditulis dalam catatan lapangan, dokumen-dokumen pribadi, dokumen resmi, dan sebagainya.
Metode penelitian ini dimaksudkan bahwa data yang diperlukan dalam penelitian ini bersifat kualitatif, karena untuk menemukan apa yang diinginkan oleh penulis pengelolaan data selanjutnya diinterpretasikan dalam bentuk konsep yang dapat mendukung objek pembahasan dengan menarik seluruh kesimpulan.

F.     TUJUAN DAN KEGUNAAN
1.      Tujuan Penelitian
a.       Untuk mengetahui bagaimana animo aktivis mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar dalam menonton program acara Apa Kabar Indonesia di tvOne.
b.      Untuk mengetahui bagaimana persepsi aktivis mahasiswa terhadap program acara Apa Kabar Indonesia di tvOne.
2.      Kegunaan Penelitian
a.       Kegunaan Teoritis
1)      Untuk menambah khazanah ilmu komunikasi, khususnya yang berhubungan dengan fungsi media massa, dalam hal ini media massa televisi.
2)      Untuk menjadi bahan referensi dan suplai pengetahuan bagi peneliti lainnya.



b.      Kegunaan Praktis
1)      Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk memberikan pengetahuan bagaimana proses pembentukan persepsi dan pengaruhnya terhadap khalayak mengenai tayangan televisi.
2)      Untuk memberikan rangsangan dan sebagai referensi bagi peneliti yang berkaitan dengan judul penelitian ini.
c.       Kegunaan Praktis
1)      Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk memberikan pengetahuan bagaimana proses pembentukan persepsi dan pengaruhnya terhadap khalayak mengenai tayangan televisi.
2)      Untuk memberikan rangsangan dan sebagai referensi bagi peneliti yang berkaitan dengan judul penelitian ini.

G.    GARIS-GARIS BESAR ISI
Pembahasan skripsi ini, secara rinci  akan diuraikan berdasarkan garis besar dan disajikan ke dalam  lima bab yakni:
1.      Pada bab pertama, yaitu bab Pendahuluan, dalam bab ini akan dijelaskan secara rinci pokok pikiran yang melatarbelakangi timbulnya suatu masalah, rumusan masalah, pengertian judul, tujuan dan kegunaan penelitian serta garis – garis besar dari isi skripsi ini.
2.      Bab kedua, yaitu kajian Pustaka, pada bab ini akan dibahas mengenai bagimana persepsi mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Alauddin Makassar terhadap program acara Apa Kabar Indonesia di tvOne.
3.      Bab tiga, akan di kemukakan secara rinci tentang metode penelitian dari tipe penelitian, teknik pengumpulan data, dan bagaimana teknik analisis data.
4.      Pada bab empat, berupa hasil penelitian bagimana persepsi mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Alauddin Makassar terhadap program acara Apa Kabar Indonesia di tvOne. Dalam bab ini pula dijabarkan mengenai profil tvOne dan FDK UIN Alauddin Makassar.
5.      Bab lima, adalah penutup yang merumuskan  isi pokok  dan kandungan dalam sebuah kesimpulan skripsi, impliksi dari penelitian dan saran-saran yang terjabarkan pula didalamnya.

H.    DAFTAR PUSTAKA

Al-Barry, M. Dahlan Y. dan L. Sofyan Yacob. 2003. Kamus Induk Ilmiah Seri Intelektual. Cet.I; Surabaya: Targe Press.

Achmadi, Abu dan Narbuko Cholid. 2007. Metodologi Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara.

Arikunto, Suharsimi.  2000. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktik. PT. Cipta: Jakarta.

Arkadia, Anisa. 2011. Teori Agenda Setting. Arkadia’s Blog. http://anisa-arkadia.blogspot.com/2011/06/teori-agenda-setting.html. (10 November 2011).

Berger, Arthur Asa. 2000. Media and Communication Research Method. London: Sage Publications.

Bungin, Burhan. 2001. Metode Penelitian Format-format Kuantitatif dan Kualitatif. Airlangga: Surabaya.

_____________. 2005. Sosiologi Media. Konstruksi Sosial Teknologi Telematika Dan Perayaan Seks di Media Masssa. Cet. I. Prenada Media: Jakarta

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka: Jakarta.

Cangara, Hafied. 2007. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Communicateam. 2009. Pengaruh Media Massa Televisi Terhadap Mahasiswa. http://www.communicateam.com/Pengaruh-Media-Massa-Televisi-Terhadap-Mahasiswa.html/ (27 September 2011).

Effendy, Onong Uchjana. 2007.  Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

_______________ 2007. Ilmu, Teori dan Filsafat  Komunikasi. Bandung: PT. Cipta Aditya Bakti

_______________ 1989. Kamus Komunikasi. Cet. III.  Bandung: Mandar Maju.

Gerungan, WA. 1985. Psikologi Perkembangan Rentang Sepanjang Kehidupan. Cet. III. Eresco : Bandung.

Irwanto. 2002. Psikologi Umum. PT. Prenhallindo: Jakarta.

Infoskripsi.com. 2010. Pengertian Persepsi.  http://www.infoskripsi.com/Article/Pengertian-Persepsi.html (10 November 2011).

Jahja, Rusfadia Sakyanti & Muhammad Irvan. 2006. Menilai Tanggung Jawab Sosial Televisi. Paramedia: Depok

Kuswandi, Wawan. 1996. Komunikasi Massa, Sebuah Analisis Madia Televisi. PT. Rineka Cipta: Jakarta.

Komisi Penyiaran Indonesia. 2009. Panduan Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia Nomor 03 Tahun 2009 Tentang Standar Program Siaran. Jakarta: KPI

Mulyana, Deddy. 2002. Ilmu Komunikasi, Suatu Pengantar. PT. Remaja Rosdakarya: Bandung.

______________.  2007. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Mcquail, Denis. 2000. Mass Comunication Theory, London: Sage Publication.

Mueller, Daniel J. 1992. Mengukur Sikap Sosial. Bumi Aksara: Jakarta.

Muhtar, Rusdi. 2007. Teknik Penulisan Ilmiah (Bidag IPS): Modul Diklat Fungsional Tingkat Pertama. Cibnong: Pusat pembinaan Pendidikan dan pelatiahan peneliti lembaga ilmupengetahuan Indonesi.

Moleong, J, Lexy. 2002.  Metode Penelitian Kualitatif. PT. Remaja Rosdakarya: Bandung.

Nasution, Zulkarimein. 1993. Sosiologi Komunikasi Massa. Jakarta: Universitas Terbuka.

Rakhmat, Jalaluddin. 2005. Metode Penelitian  Komunikasi. PT. Remaja Rosdakarya: Bandung

Romli, Asep Syamsul M.  2003. Jurnalistik Praktis.  PT. Remaja Rosdakarya: Bandung

Singarimbun, Masri. 1987. Metode Penelitian Survey. LP3ES: Yogyakarta.

Sugiyono. 1992. Metode Penelitian Administrasi. Alfabeta: Bandung.

________. 2008. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Cet. VI: Alfabeta: Bandung.

Sumadi, Suryabrata. 2007. Metode Penelitian. Yogyakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Sutisna. 2001.  Perilaku Konsumen dan Komunikasi Pemasaran. PT. Remaja Rosdakarya: Bandung.

Sutrisna, Hadi. 2001. Metodologi Research I. Fakultas Psikologi UGM: Yogyakarta.

Suryadi, Maman & Akhmad M. 2007. Peranan Media Pada Masyarakat Desa. Bandung: PT. Pribumi Mekar.

tvOne. 2010. Tentang tvOne. Situs Resmi tvOne. www.tvone.co.id (27 September 2011)

Tankard, W. Janes dan Severin J Werner. 2005. Teori Komunikasi, Sejarah, Metode, dan Terapan Di Dalam Media Massa. Jakarta: Kencana.

Taufik, Muhammad. 4 Februari 2010. Media Massa Televisi Merupakan Senjata Budaya Penghancur Generasi Muda Indonesia. Sosbud.Kompasiana.Com. http://sosbud.kompasiana.com/2010/02/04/media-massa-televisi-merupakan-senjata-budaya-penghancur-generasi-muda-indonesia/ (10 November 2011).

Universitas Islam Negeri Alauddin. 2009. Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah: Makalah, Skripsi, Tesis, dan Disertasi. Makassar: Alauddin Press.

_________________. 2010. Profil FDK. Situs Resmi UIN Alauddin. http://fdk.uin-alauddin.ac.id/media.php?module=profil. (27 September 2011).

Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. 2008. Skripsi 2008. http://www.library.upnvj.ac.id/pdf/s1fisip08/204612013/bab2.pdf. (10 November 2011).

Vivian, Jhon. 2008. Teori Komunikasi Massa. Kencana Prenada Media Group: Jakarta.

Walgito, Bimo S. 2003. Psikologi Sosial. ANDI: Yogyakarta.

Wikipedia. 2011. Film Televisi Dunia. Ensiklopedia Bebas. http://id.wikipedia.org/wiki/film televisi/sejah televisi/film televisi dunia. (11 Maret 2011).

Wirodono, Sunardian. 2005. Matikan TV-Mu. Resist Book: Yogyakarta.

Yunus, Muhammadiyah. 2007. Jangan Terhipnotis Televisi. Makassar: CV. Heksa Utama.


Zulkifli. 1992. Psikologi Perkembangan. Bandung: Rosdakarya.
read more...