Daftar Mata Uang Online, Free

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.
Latest Posts

Tuesday, August 19, 2014

Jalan Tuhan


Seorang pejabat pernah bercerita kepada wartawan saat diwawancarai di salah satu stasiun televisi swasta tanah air. Pejabat itu mengaku, tak pernah berfikir waktu kecil akan menjadi seperti itu sekarang, yang punya kedudukan, harta, dan menjadi tokoh penting di Indonesia ini.

Ia mengaku hanya belajar dan kemudian bekerja secara sungguh-sungguh. Namun seiring waktu, ia kemudian dibawa ke jalan yang digelutinya sekarang, dan itulah yang membawanya seperti saat ini.

**********

Allah maha pemberi petunjuk. Maha tahu yang terbaik untuk hambanya. Kesusahan adalah jalan menuju kesenangan. Inna ma'al 'usri yusra. Kesempitan adalah jalan Tuhan yang ditunjukkan menuju yang terbaik untuk hambaNya yang dicintai. Musibah menjadi pengarah menuju jalan yang lebih baik.

Kita biasa mendengar orang, kerabat atau sahabat berujar, "saya tidak pernah menyangka akan menjadi seperti ini."

Terkadang kita biasa bingung mengapa sampai mengambil atau memilih jalan hidup dengan profesi yang sedang digeluti. Padahal sebelumnya tidak pernah berfikir akan seperti sekarang.

Manusia juga terkadang tanpa sengaja terjerumus ke jurang maksiat, namun begitu dirinya terjaga dan sadar akan apa yang dilakukannya, dia kemudian beralih dan ke jalan yang benar. Dalam kasus ini, kemungkinan ada hal yang ingin diperlihatkan Allah swt kepada hambaNya, sehingga dengan kejadian itu, sang hamba bisa berfikir dan memetik pelajaran.

Semua ada hikmah dibalik apa yang terjadi. Tak satupun kejadian yang menimpa umat manusia tanpa ada pelajaran di dalamnya. Hanya saja, sedikit orang yang mau mencari tahu.

Jalan-jalan Tuhan selalu dipenuhi dengan misteri. Manusia tak akan sanggup memecah misteri itu semuanya. Namun yang jelas, semua jalan yang ditampakkan Allah swt kepada manusia selalu ada yang ingin diberitahukannya. Itulah cara Tuhan berkomunikasi dengan hambanya.

Tugas kita adalah berdoa sambil bekerja. Mintalah yang terbaik bagi kita. Tuhanlah yang memberikan jalannya. Jika yang diberikan Tuhan tidak sesuai dengan yang diminta, itu karena Tuhan menilai hal itu bukan yang terbaik bagi hambaNya. Kita hanya harus berprasangka baik kepada Tuhan.

"Saya seperti yang disangkakan hambaKu." Begitu firman Allah. Jika kita ingin baik, maka berprasangka baiklah kepada Tuhan terhadap apa yang terjadi. Wallahu a'lam bisshawab. (*)
read more...

Tuesday, July 15, 2014

Melembut


Dikisahkan, seorang buta selalu mangkal di sudut pasar di Mekkah. Atas gosip yang didengarnya, orang buta ini kemudian sangat membenci Rasulullah saw.

Meski Rasulullah saw tahu kalau orang ini sangat membencinya, namun Nabi saw rutin mengunjungi orang ini untuk menyuapi makan. Suatu saat, saat Nabi saw meninggal, Nabi saw digantikan Abubakar, namun orang ini tahu kalau bukan orang yang biasa menyuapinya datang. Ia pun bertanya, kemana orang yang biasa menyuapinya.

"Kemana orang yang selalu menyuapi saya. Kelembutannya tidak sama seperti engkau," kata si buta kepada Abubakar.

Saat itu, khalifah Abubakar memberitahu jika orang yang selalu menyuapinya adalah Nabi Muhammad saw, orang yang selama ini dibenci dan dicacinya. Maka atas kelembutan hati Nabi, orang ini kemudian sadar dan akhirnya tersentuh oleh kelembutan hati dan sikap nabi dan si buta mengucapkan dua kalimat syahadat.

Lembut. Salah satu sifat Allah adalah maha lembut. Al-latif. Maha lemah lembut. Sifat Allah dalam asmaul husna lebih banyak menyebutkan masalah kelembutan. Seperti kasih sayang, pengasih dan penyayang, arrahman, arrahim, arrauf.

Dengan melihat mayoritas sifat Allah yang lebih banyak bermakna lembut, ini mengisyaratkan umat manusia sebagai khalifatan fil ardh, harus mengandalkan sifat lembutnya dalam menjalankan perintah dan amanah yang diberikan Allah kepadanya.

Dalam kasus memimpin misalnya. Orang kebanyakan sering mengartikan, jika tegas itu berarti keras dalam memimpin. Padahal kalau dicermati lebih jauh, ketegasan itu bisa dalam wujud lembut. Tegas dalam arti komitmen terhadap aturan yang ada. Cara menegakkan aturan, bisa dengan cara menyentuh hati orang-orang. Menyentuh hati itu hanya bisa dilakukan dengan cara yang lembut. Seperti yang dicontohkan Nabi saw pada setiap kesempatan.

Mustahil orang yang disentuh dengan kekerasan mampu melakukan sesuatu dengan ikhlas. Mereka hanya melakukan karena takut dan sekedar menggugurkan kewajiban. Setelah rasa takut dan kewajibannya selesai, mereka akan berhenti di situ. Mereka tidak akan mau berbuat lebih.

Begitu juga dengan mendidik dengan kekerasan. Untuk itu, anak harus dididik dengan lembut. Anak punya hati yang masih sangat lembut, makanya harus disentuh dengan lembut. Jika mereka disentuh dengan kekerasan, maka hati yang lembut itu tidak akan menerimanya dengan baik. Akan sulit tercerna, dan akhirnya sang hati anak itu akan berubah keras. Dan pada gilirannya, hati itu akan berbalik kepada orang yang membentuknya menjadi keras. (*)

********************************

Berikut tulisan Prof Rhenald Kasali yang bisa menjadi salah satu contoh pentingnya kelembutan dalam mendidik..
BUDAYA PENJAJAHAN UNTUK BANGSA TERJAJAH
BUDAYA PARA PENJAJAH YANG TIDAK PERNAH DI TERAPKAN UNTUK ANAK-ANAK BANGSA MEREKA SENDIRI
BUDAYA MENGHUKUM DAN MENGHAKIMI PARA PENDIDIK DI INDONESIA
BUDAYA KEBODOHAN YANG MASIH TERUS DILESTARIKAN HINGGA HARI INI
-Mulai sejak SD hingga Perguruan Tinggi-
-Mulai dari guru dan dosen hingga para Senior ke Junior-

Ditulis oleh: Prof. Rhenald Kasali
(Guru Besar FE UI)

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.
Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.
Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”
“Dari Indonesia,” jawab saya.
Dia pun tersenyum.

BUDAYA MENGHUKUM

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.
“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.
“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.
Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.
Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.
Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.
Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.
Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.
Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

***

Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.

Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.

Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.

Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.

Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”

Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.

Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

MELAHIRKAN KEHEBATAN

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.

Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.

Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.

Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti. (*)
read more...

Saturday, July 05, 2014

Keutamaan Tauhid dan Bahaya Syirik

Oleh: Alahuddin, S.Fil.I., M.Pd.I.
* Pendidik di MAN Palopo

Pada kesempatan kali ini tak lupa saya wasiatkan kepada diri saya pribadi dan kepada kamu muslimin semuanya, agar kita selalu meningkatkan kualitas iman dan taqwa kita, karena iman dan taqwa adalah sebaik-baik bekal untuk menuju kehidupan di akhirat kelak.
Telah banyak penjelasan yang menerangkan makna taqwa. Di antaranya adalah pernyataan Thalq bin Habib: “Apabila terjadi fitnah, maka padamkanlah dengan taqwa”. Mereka bertanya: “Apakah taqwa itu?” Beliau menjawab: “Hendak-nya engkau melaksanakan ketaatan kepada Allah, di atas cahaya Allah, (dengan) mengharap keridhaan-Nya; dan hendaknya engkau meninggalkan kemaksiatan terhadap Allah, di atas cahaya Allah, (karena) takut kepada siksaNya”.
Ketaatan terbesar yang wajib kita laksanakan adalah tauhid, sebagaimana kemaksiatan terbesar yang mesti kita hindari adalah syirik. Sesungguhnya tauhid yang murni dan bersih adalah inti ajaran dari semua risalah samawiyah yang diturunkan Allah Ta’ala.
Tauhid adalah tiang penopang yang menegakkan bangunan Islam. Tauhid adalah syi’ar Islam yang terbesar yang tak dapat terpisahkan dari Islam itu sendiri. Inilah pesan utama Allah kepada Rasulnya yang diutus kepada ummat manusia.
Allah swt. berfirman: “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap ummat seorang rasul (untuk menyampaikan): Sembahlah (oleh kalian) akan Allah dan jauhilah thaghut.” (Q.S. An-Nahl: 36)
Itulah misi utama para Rasul, menegakkan penyembahan dan penghambaan hanya kepada Allah swt. serta menafikan dan menjauhi segala bentuk thaghut. Dan yang dimaksud dengan thaghut adalah segala sesuatu yang menyebabkan seorang hamba melampaui batas-batas yang seharusnya tak boleh ia langgar, baik berupa sesembahan, panutan dan ikutan.
Sehingga thaghut setiap kaum/komunitas adalah siapapun yang mereka jadikan sumber dasar hukum selain Allah dan RasulNya, yang mereka jadikan Tuhan selain Allah swt. yang mereka ta’ati meskipun dimurkai dan tidak diridloi Allah Ta’ala.
Allah swt. berfirman, “Tidakkah engkau melihat kepada orang-orang yang menyangka bahwa mereka telah beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu dan yang diturunkan sebelummu, (padahal) mereka ingin bertahkim (mengambil hukum) dari thaghut padahal sungguh mereka telah diperintah untuk kafir kepadanya.” (Q.S. An-Nisa: 60)
Di atas kalimat Tauhid yang murni dan mulia itulah Rasulullah saw. membangun ummatnya dengan landasan yang kokoh. Dari situlah beliau menegakkan generasi yang hanya meng-Esa-kan Allah swt. dan membebaskan diri mereka dari cengkraman makhluk-makhluk lain yang dianggap sekutu bagi Allah Ta’ala.
Dan ketika seorang muwahhid (orang-orang yang menjaga tauhid) mengucapkan dan melantunkan kalimat Tauhid itu, maka seharusnya ia meyakini dua hal yang menjadi tujuan dari kalimat suci tersebut.
Apa dua tujuan itu? Tujuan pertama adalah menegakkan yang haq dan membersihkan yang bathil. Sebab, makna yang sesungguhnya dari kalimat la ilah Illallah itu adalah tidak ada yang berhak untuk disembah selain Allah. Sehingga, segala sesuatu selain Allah adalah bathil dan tidak berhak mendapatkan hak-hak ilahiyyah (hak-hak untuk disembah).
Lihatlah bagaimana Rasulullah saw. membersihkan Jazirah Arab dari kotoran-kotoran dan kekuasaan thoghut dan patung-patung sesembahan. Ingatlah bagaimana batu besar saat itu yang bernama Hubal yang dikelilingi 360 berhala dihancurkan oleh Rasulullah saw. dengan tangan beliau yang mulia pada saat beliau memasuki kota Makkah dengan penuh kemenangan, seraya mengulang-ulang firman Allah:“Dan Katakanlah (wahai Muhammad) telah datang Al-Haq dan hancurlah yang bathil. Sesungguhnya yang bathil itu pasti hancur.” (Q.S. Al-Isra’: 81)
Tujuan yang kedua adalah untuk mengatur dan meluruskan perilaku manusia agar selalu dalam lingkaran Tauhid yang murni kepada Allah yang terpancar dari kalimat Tauhid. Agar semua tindak-tanduk manusia dilandasi oleh keyakinan bahwa Allah-lah satu-satunya Tuhan Yang Maha Kuasa.
Agar kalimat Tauhid itu dapat “berhasil guna” dalam mengatur perilaku manusia maka ada tujuh syarat yang harus dipenuhi, yaitu: al-’ilm (mengetahui) maknanya yang benar, al-yaqin (meyakini) kandungan-nya tanpa ada keraguan, al-ikhlas (ikhlas) tanpa ternodai oleh syirik, ash-shidq (membenarkan) tanpa mendustakannya, al-qabul (menerimanya) dengan penuh kerelaan tanpa menolaknya, tunduk pada konsekwensi kalimat Tauhid (al-inqiyad), dan semua itu harus dilandasi dengan al-mahabbah (cinta) kepada Allah swt.
Bila ketujuh syarat tersebut telah terpenuhi maka insya’Allah seluruh ibadah dan amal kita akan selalu terhiasi dan diterangi oleh kemurnian Tauhid.
Sehingga, semuanya dikerjakan hanya karena Allah, tidak ada lagi permintaan tolong selain kepada Allah, tidak ada lagi tawakkal kecuali kepada Allah, tidak ada lagi pengharapan dan rasa takut selain kepada Allah, tidak ada lagi kekuatan selain pertolongan Allah swt. Dari sinilah, seorang muwahhid akan merasakan dari lubuk hatinya yang terdalam bahwa segala sesuatu selain Allah adalah lemah dan tidak berdaya.
Maka ia tidak lagi takut kebengisan dan kekuatan para makhluq, tidak lagi terpedaya oleh kilau duniawi, dan baginya tidak mungkin ada yang dapat manandingi Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apapun yang dikehendaki Allah swt. Sehingga baginya bergantung kepada selain Allah adalah suatu kelemahan dan berharap kepada selain Allah adalah sebuah kesesatan: “Dan bagi Allah-lah segala hal ghaib yang ada di langit dan di bumi, dan kepadaNya-lah segala perkara dikembalikan.” (Q.S. Hud: 123).
Dari sini jelaslah perbedaan yang sangat jauh antara seorang muwahhid  dengan seorang musyrik. Seorang muwahhid adalah orang yang mengetahui Dzat yang menciptakannya sehingga ia pun beribadah dan menghamba padaNya dengan sebenar-benarnya.
Sebaliknya seorang musyrik adalah orang yang buta mata hatinya, kehilangan arah dan jauh meninggalkan Dzat yang melimpahkan ni’mat padanya. Na’udzu billah min dzalik.
Sejak dahulu hingga sekarang, begitu banyak manusia yang tersesatkan oleh keyakinan berbilang “tuhan” yang disembah, yang dapat dimintai pertolongan, yang dapat dijadikan sumber hukum dan yang berhak mendapatkan kekhususan-kekhususan ilahiyah.
Dan keyakinan ini adalah sebuah kesesatan yang nyata yang telah diperangi oleh Islam dengan keras. Sehingga, tidaklah mengherankan bila Tauhid yang murni kemudian menjadi syi’ar terpenting Islam yang selalu ada dalam aspek I’tiqad dan amaliyah.
Dan sesungguhnya kemunduran dan musibah-musibah yang selama ini menimpa umat Islam adalah disebabkan mereka tidak lagi memperhatikan syi’ar yang penting ini. Lemahnya ikatan tauhid dalam jiwa-jiwa mereka adalah sebab utama dari berbagai kekalahan kaum muslimin dan kemenangan musuh-musuh mereka yang kita saksikan dalam kurun waktu yang cukup lama.
Banyak di antara kaum muslimin yang tenggelam dalam kebodohan terhadap tauhid ini, sehingga mereka mendatangi penghuni-penghuni kubur, berdoa didepan batu-batu nisannya, meminta pertolongan penghuninya saat susah dan sedih. Bahkan lebih dari itu, seringkali mereka memuji dan mengagungkan panghuni kubur itu dengan ungkapan-ungkapan yang hanya pantas diberikan kepada Allah Rabbul ’alamin.
Dikarenakan lemahnya keyakinan akan pertolongan Allah, banyak di antara kaum muslimin yang kemudian menggunakan jimat dengan menggantungkan di tubuh mereka karena yakin hal itu akan mendatangkan keselamatan dan menghindarkannya dari marabahaya.
Padahal Allah telah menegaskan: “Dan jika Allah menimpakan musibah atasmu maka tidak ada yang dapat menyingkapnya selain Ia, dan jika Ia memberikan kebaikan padamu maka Ia Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.” (Q.S. Al-An’am: 17).
Nabi Muhammad saw. pernah melihat lelaki yang mengenakan jimat di tangannya, lalu beliau berkata: “Cabutlah (benda itu) karena ia hanya akan semakin membuatmu lemah/takut. Karena sesungguhnya jika engkau mati dalam keadaan memakainya maka engkau tidak akan beruntung selamanya.” (HR. Ahmad dengan sanad “la ba’sa bih”). Juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, bahwa Rasulullah saw. Bersabda: “Barangsiapa yang menggantungkan tamimah (jimat) maka sungguh ia telah berbuat syirik.”
Di antara kaum muslimin juga terdapat orang yang terfitnah oleh para tukang sihir dan peramal yang katanya dapat meramal masa depan, padahal Nabi Muhammad saw. yang mulia telah menyatakan: “Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan pada Muhammad.” (HR. Abu Dawwud, An-Nasai, At-Tirmidzy, Ibnu Majah dan Al-Hakim).
Semua yang disebutkan di atas adalah sekedar contoh terhadap model-model kesyirikan yang dilakukan sebagian kaum muslimin. Dalam kenyataan sehari-hari kita akan menemukan model-model lain dari perilaku syirik itu dalam berbagai aspek kehidupan kaum muslimin, yang kemudian disadari atau tidak menyebabkan lemahnya keyakinan mereka terhadap kemahabesaran, kemahakuasaan, kemahaperkasaan Allah.
Karena Tauhid mereka lemah, maka merekapun tidak begitu yakin lagi dengan pertolongan Allah, sehingga dengan amat sangat mudahnya musuh-musuh mereka menyebarkan rasa takut lalu mengalahkan mereka.
Dengan demikian telah jelaslah, bahwa rahasia kejayaan kaum muslimin terletak pada sejauh mana mereka menegakkan Tauhid yang murni dalam segala kehidupan mereka. Bukankah kejayaan dan kemengangan itu telah diraih oleh generasi pendahulu ummat ini, ketika mereka telah terlebih dahulu menghujam nilai-nilai Tauhid tersebut ke dalam kalbu mereka?
Bukankah kejayaan dan kecemerlangan itu mereka dapatkan ketika mereka meyakini bahwa misi utama mereka adalah mengeluarkan ummat manusia dari penghambaan kepada sesama makhluk menuju penghambaan hanya kepada Sang khaliq?
Oleh sebab itu, bila kita sekalian bertekad mengulang kembali kesuksesan dan kejayaan generasi As-Salaf Ash-Shaleh itu, maka tidak ada jalan lain selain menapaki jejak mereka; menegakkan kemurnian Tauhid dalam pribadi kita masing-masing. Imam Malik: “Generasi akhir ummat ini tak akan baik kecuali dengan (jalan hidup) yang telah menjadikan baik generasi pendahulunya.”
Akhirnya, semoga kita sekalian terpanggil untuk mengembalikan kejayaan dan kehormatan ummat Islam. Semoga kita sekalian tergugah untuk menebarkan rahmat Islam yang dibangun di atas kemurnian Tauhid ke seluruh penjuru dunia, sehingga terwujudlah kehidupan yang diridhoi oleh Allah saw. Amin ya Rabbal’Alamin. (*)
read more...

Toko Raja Oleh-oleh Palopo; Panen Saat Musim Mudik

Toko Raja Oleh-oleh Palopo

Oleh-oleh sepertinya menjadi menu wajib bagi setiap orang yang akan mudik. Hal inilah membuat toko yang menyediakan oleh-oleh khas Palopo panen pembeli saat musim mudik tiba. Seperti Toko Raja Oleh-oleh yang ada di Jalan Rambutan Kota Palopo.

Laporan: Resky Nur Amaliah Muchlis

Toko oleh-oleh yang terletak tepat di depan perwakilan PO Bintang Prima dan beberapa kantor perwakilan bus angkutan kota dalam provinsi ini menyiapkan beragam oleh-oleh khas Palopo. Mulai dari bagea, souvenir, sampai baju yang berciri khas Palopo dan Tana Luwu.
"Keuntungan penjualan dari oleh-oleh khas ini akan sangat terasa saat musim mudik tiba. Banyak orang yang mau pulang kampung, pasti membawa oleh-oleh untuk keluarganya. Salah satu yang paling banyak laku adalah kue khas Palopo yang terbuat dari sagu, yakni bagea," ujar owner Raja Oleh-oleh Palopo, Jumat 4 Juli 2014.
Untuk awal bulan suci Ramadan ini, omset penjualan toko oleh-oleh ini cenderung berkurang dibandingkan dua pekan lalu, saat menjelang Ramadan tiba. Hal itu dikarenakan masyarakat jarang bepergian, sebab saat ini dalam suasana bulan Ramadan.
"Diperkirakan nanti akan kembali ramai saat hendak lebaran tiba," tandasnya.
Ia mengungkapkan, omset yang didapatkan pada hari pertama Ramadan cenderung berkurang dari dua pekan menjelang Ramadan.
"Berbeda saat awal dua pekan menjelang Ramadan, masyarakat berbondong-bondong bepergian, sehingga mereka membeli kenang-kenangan atau oleh-oleh khas Palopo," ujarnya.
Ditambahkannya, barang-barang banyak diminati masyarakat pada dua pekan menjelang Ramadan, ialah oleh-oleh khas Palopo, berupa bagea', roti, dan baju kaos khas Palopo, utamanya yang bertuliskan Palopo Kota Idaman.
Pada awal berdirinya Toko Raja Oleh-oleh ini sekitar dua tahun lalu, sampai waktu menjelang bulan Ramadan lalu, sangat banyak diminati masyarakat yang ingin mudik, disebabkan terdapat beberapa makanan dan baju yang sulit mereka dapatkan di daerah lain.
Keberhasilannya membangun Toko Raja Oleh-oleh ini juga ditunjang dengan pelatihan kewirausahaan yang telah diikutinya di Bandung sekitar tiga pekan lalu. Sehingga pelatihan itu membuat keterampilan dan kemampuan pemilik toko menjadi lebih berkembang dari sebelumnya.
"Saya mengucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada bapak Wali Kota Palopo dan Kadis Koperindag atas kepercayaannya memberikan pelatihan demi pengembangan usaha yang dimiliknya," ujarnya. (*)
read more...

Friday, July 04, 2014

Air dan Cinta


Air dan Cinta. Air, sifat dasarnya adalah mengalir dan mencari tempat terendah. Jika air itu tidak punya sumber mata air yang jelas, atau air itu hanya berasal dari botol yang ditumpahkan, maka ia akan habis dan kering dalam perjalanannya.

Namun jika air itu berasal dari mata air, maka perjalanannya akan lama dan kemungkinan akan terus mengalir sampai membentuk lautan sekalipun, dan akan menciptakan lebih banyak mata air. Sehingga nyaris tidak akan kering sampai semuanya dikeringkan atas keinginan Tuhan dengan berbagai sebab. Bisa seperti menimpakan kemarau panjang sehingga semua kering oleh teriknya mentari.

Begitupun dengan cinta. Jika kita analogikan seperti air, maka cinta yang datangnya dari nafsu, maka waktunya hanya sebentar, hingga dalam perjalanannya akan kering dengan sendirinya oleh panasnya nafsu.

Namun jika cinta itu berangkat dari hati yang tulus tanpa ada keinginan macam-macam, atau sumbernya dari mata air kehidupan, maka cinta itu akan sulit kering dan nyaris tidak akan bisa kering sampai ajal memisahkan. Sebab cinta itu akan mengalir terus menerus sampai membentuk cinta dalam wujud lain.

Maka dari itu, jika merasa mencintai, kenalilah dari mana asal cinta itu. Jika cinta timbul dari ketertarikan fisik, maka boleh jadi itu hanya air yang tumpah dan kemungkinan akan kering saat fisik sang yang dicinta mulai pudar.

Namun jika cintanya bersumber dari hal yang sulit dimengerti, maka bisa jadi itu cinta dari mata air yang akan terus mengalir sampai waktu yang panjang, sampai Tuhan mencabutnya dengan berbagai sebab. Bisa mengeringkannya dengan tidak adanya perhatian, atau cinta itu mengalir ke tempat lain. Namun satu hal yang pasti, air tempat mengalir pertama tidak akan terlupakan begitu saja.

Cinta itu juga tidak selamanya harus memiliki. Cinta itu tidak stagnan. Selalu keluar masuk. Saat diminum, maka akan keluar dalam wajah lain. (*)

For someone...

Balandai, Jumat, 4 Juli 2014, 6 Ramadan 1435 H
read more...

Thursday, July 03, 2014

Melirik Pedagang Buah Musiman di Bulan Ramadan; Disuplai dari Luar, Raih Keuntungan Lumayan

Penjual buah di PNP

Seperti tahun-tahun sebelumnya, bulan suci Ramadan selalu diramaikan oleh para pedagang musiman. Mereka menjamur di sekitaran pasar dan pinggir jalan yang ramai dilewati masyarakat. Keutungan para pedagang ini pun termasuk menggiurkan.

Laporan: Resky Nur Amalia Muchlis

Para pedagang ini tampak terlihat menghiasi sekitaran Pusat Niaga Palopo (PNP), Pasar Tradisional Andi Tadda, dan di pinggir jalan. Dagangan pun beragam yang ditawarkan. Seperti macam-macam buah, jualan takjil, dan pakaian muslim.
Khusus untuk penjual buah musiman, yang banyak adalah buah kelapa, kurma, dan pepaya. Semua buah ini kebanyakan didatangkan dari luar Kota Palopo. Untuk kelapa muda, banyak didatangkan dari Padangsappa, untuk buah pepaya ada yang didatangkan dari Belopa. Sementara untuk kurma, diambil dari Pulau Jawa.
Beragam buah ini dijajakan untuk digunakan masyarakat santapan saat berbuka puasa. Para pedagang ini muncul saat bulan Ramadan.
Salah seorang pedagang buah kelapa yang mangkal di Jalan Mangga, Samsuddin, Rabu 2 Juli 2014, mengatakan, buah kelapan yang dia dagangkan diambil dari Padangsappa. Setiap harinya laku sekitar 60 buah per hari.
Samsuddin menambahkan, buah kelapanya itu dijual seharga Rp5 ribu per biji, dan keuntungan yang diraih pun termasuk menggiukan, sampai sekitar Rp70 ribu per hari.
Sementara seorang pedagang kurma, Umi, mengatakan, kurma dagangannya disuplai dari Pulau Jawa, dengan dijual seharga Rp50 ribu per kilonya. "Kalau masalah keuntungan, yah lumayan," ujarnya.
Pedagang musiman lainnya, yang menjual buah pepaya, Murni, yang menjajakan dagannya di Jalan Mangga, mengatakan, buah pepaya miliknya berasal dari Kota Belopa. "Lumayan per hari laku sekitar 5-10 biji perhari. Keuntungannya bisa sampai Rp50 ribu," tandasnya. (*)
read more...

Wednesday, July 02, 2014

Kota Palopo di Tahun ke-12

Aswar Hasan

Oleh: Aswar Hasan
Ketua KIP Sulsel, Wija To Luwu
(Spesial Hari Jadi Kota Palopo ke-12)

Tidak terasa, usia kepemimpinan Walikota Palopo HM Judas Amir dan Wakil Walikota Akhmad Syarifuddin telah memasuki bulan ke-12 bersamaan dengan ulang tahun Kota Palopo yang ke-12. Adakah ini sebagai sesuatu yang kebetulan? Sebagai orang beriman, kita tentu meyakini, bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi begitu saja, tanpa sepengetahuan dan seizin sang Maha Pencipta.

Karenanya, kita sejatinya memahami bahwa tidak ada kejadian di alam semesta ini yang terjadi secara kebetulan, karena semuanya terjadi tidak dengan sendirinya, Kecuali atas seizin Tuhan Sang Pencipta yang Maha Pemelihara. Bahkan telah digariskan, bahwa dedaunan pohon takkan jatuh selembar pun, tanpa seizin sang Maha Pencipta. Hanya saja memang, semuanya terjadi melalui sebuah sebab. Penyebab sebuah sebab (cuaca prima) inilah yang menjadi misteri.
Angka 12 mengandung makna yang dalam. Meski pun, misterinya tidak seheboh dengan angka 13 yang oleh masyarakat umum dianggap sebagai angka sial yang selalu dihindari. Padahal, bagi kaum Paganis, terutama bagi Aktifis Premasonry sekte politik militan kaum Yahudi, angka 13  justru dijadikan sebagai angka sakral.
Lantas bagaimana halnya dengan angka 12 dalam kajian semiotik  simbolisme dan makna misterinya? Diantara makna simbol angka 12 adalah dinisbahkan pada jumlah sahabat setia dan pembela Nabi Isa yang disebut kaum Hawariyun.
Kita diberi waktu yang sama, yaitu 12 jam siang hari dan 12 jam malam hari, dan 12 bulan dalam setahun. Dalam sistem pencernaan, kita pun masing-masing memiliki sebuah istilah yang sama, yaitu usus 12. fungsinya, menyalurkan makanan ke usus halus. Dinding usus 12 jari tersusun atas lapisan-lapisan sel yang yang sangat tipis yang membentuk mukosa otot.
Angka 12 juga terdapat dalam sastra Melayu yaitu Gurindam 12. Gurindam 12 merupakan karya sastra Raja Ali Haji, seorang sastrawan yang melegenda asal Melayu yang ternyata nenek moyang keturunannya, berasal dari Tanah Luwu. Ada yang menyebut Gurindam 12 merupakan cikal bakal bahasa Indonesia.
Jadi, secara semiotika komunikasi, angka 12 membawa makna pesan yang penting dan positif. Dengan demikian, Ulang Tahun Kota Palopo yang memasuki tahun ke 12 di bawah kepemimpinan Wali Kota HM Judas Amir dan Wakil Wali Kota Akhmad Syarifuddin yang juga memasuki bulan ke 12, sejatinya dimaknai secara optimis dengan tidak lupa melakukan refleksi atas apa yang telah dilakukan untuk melakukan apa yang belum dilakukan.

TANTANGAN KOTA IDAMAN
Kota Palopo adalah kota yang bersejarah dan budaya dengan potensi ekonomi kreatif berupa home industri, jasa, kuliner,  agro industri, serta atmosfir yang mendukung sebagai kota pendidikan dengan nuansa religius. Kesemuanya itu, memerlukan sentuhan kepemimpinan yang transformatif dengan partisipasi masyarakat untuk maju bersama.
Di samping itu, Kota Palopo berada dalam posisi strategis yang menjadi perlintasan jalur antar kota dan antar provinsi di jalur trans Sulawesi. Penduduknya Multi kultur dalam kohesi budaya yang menjungjung tinggi harmoni dalam keragaman.
Kesemuanya itu, menjadi kekayaan bawaan yang sejatinya menjadi modal dasar yang potensial untuk dikembangkan memajukan masyarakat Palopo untuk lebih sejahtera dan beradab.
Namun, saat ini, masyarakat Kota Palopo bukannya tidak mengalami sejumlah tantangan yang menjadi problematika yang serius untuk segera diatasi. Sebagaimana halnya kota lainnya dalam perkembangannya,  Palopo juga sedang dilanda sejumlah patologi sosial, efek samping  kemajuan pembangunan ekonomi, penyakit birokrasi yang menunggu kesempatan menggerogoti organisasi pemerintahan secara sistematis, serta masyarakat yang gampang tersulut secara anarki karena sudah muak atas dipertontonnya ketidakadilan secara kasat mata. Kesemuanya itu, menjadi tantangan menyata untuk kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Palopo dalam rentang waktu pasca 12 bulan ke depan.
Dalam pada itu, maka ke depan, masyarakat Kota Palopo patut berharap untuk menikmati sebuah kota yang yang menjamin penghuninya bisa hidup secara nyaman, baik di ruang privat maupun di ruang publik.
Standar kenyamanan adalah menyangkut tiga hal, yaitu: nyaman secara psikologi, sosial, dan privasi. Kenyamanan secara sosial berhubungan dengan ruang-ruang di kota, seperti jalanan, fasilitas publik, dan sebagainya. Unsur privasi ada pada ranah rumah tinggal masing-masing tanpa merasa terancam atau terusik dari lingkungannya.
Hal lainnya yang juga secara mendasar harus hadir bagi masyarakat Kota Palopo, adalah rasa aman dari gangguan keamanan baik datangnya dari manusia maupun alam. Khusus ancaman dari alam, adalah masih menghantuinya langganan banjir tahunan yang merendam Kota Palopo, yang membuat masyarakatnya tidak bisa berbuat apa-apa, selain pasrah dan tawakkal. Dalam hal ini, mungkin Pemerintah Kota Palopo tak perlu malu dan sungkan untuk belajar ke Pemkab Bantaeng yang sukses mengamankan dan menyamankan warganya dari langganan banjir bandang. Hal tersebut, telah pernah penulis sampaikan secara langsung ke Wali Kota HM. Judas Amir, Mengingat hal tersebut telah pernah penulis diskusikan dengan Bupati Bantaeng, mengingat posisi Kota Palopo memiliki kemiripan dengan Kota Bantaeng.
Hal lainnya yang juga patut untuk mendapat perhatian serius, adalah dengan menjadikan Kota Palopo sebagai Kota Pendidikan. Untuk itu, Kota Palopo perlu Icon perguruan tinggi yang patut dibanggakan dan menjadi Icon pendidikan Kota Palopo. Dalam hal ini, maka relevan untuk mendorong proses penegerian Universitas Andi Djemma.
Hal terakhir, adalah pentingnya keterlibatan Pemerintah Kota dalam merevitalisasi makna dan fungsi Istana Kedatuan sebagi simbol budaya warisan leluhur. Istana Kedatuan hendaknya tidak hanya menjadi simbol wahana seremoni budaya tanpa makna dan wibawa.
Masih banyak hal yang perlu dibenahi untuk menjadikan Kota Palopo sebagai Kota Idaman. Diperlukan kerja keras sekaligus kerja cerdas. Tetapi tidak kalah pentingnya, adalah bagaimana mensyukuri yang sudah ada, dengan memeliharanya, dan meningkatkannya dengan cara bekerja sambil berdoa dengan senantiasa melibatkan serta masyarakat sebagai pemangku kepentingan utama.Kata tetua kita, Resopa temmangnginggi, namalomo naletei pammase Dewata. Selamat Ulang Tahun Kota Kelahiranku, selamat menyongsong masa depan yang lebih baik. Semoga. (*)
read more...